Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Badhan Idul Fitri

Badhan — saya tidak terlalu yakin penulisannya benar, tapi kata ini bermakna “Hari Raya” yang sering digunakan di masyarakat desa saya.

Tradisi Badhan Idul Fitri, di dalamnya ada berbagai kegiatan; seperti sholat ied, penerbangan balon raksasa, mainan petasan, dan yang wajib adalah silaturahim atau biasa disebut “nglencer” ke tetangga dan saudara seantero desa.

Silaturahim atau nglencer inilah yang  menurut saya kecil sangat menyenangkan, karena jadi ajang dan ladang pekerjaan baru selama 7 hari berturut-turut, sekedar untuk pembuktian banyak-banyakan pesangon dari rumah ke rumah. Yang paling banyak dapat, dinobatkan menjadi “Raja Badhan tahun ini” – penghargaan paling bergengsi bagi kalangan anak-anak waktu itu.

Saya berjuang mati-matian dari rumah ke rumah, biar dapat terbanyak sangu-nya. Karena ini kompetisi antar individu, teman-teman saya pun sebenarnya adalah saingan. Pengasahan dan praktek strategi yang mantap berpengaruh besar pada hasil akhir. Banyak dari kami yang berkoalisi, membentuk grup “pasukan golek duek” yang terdiri dari dua sampai lima anak.

Lima menjadi jumlah rata-rata anggota grup, karena di atas lima justru tidak memberi untung, mengakibatkan rata-rata pesangon yang diberikan menurun.

Misal: jika ada empat anak dalam suatu grup, masing-masing bisa dapat Rp. 5000 per rumah, penurunan akan terjadi jika enam anak yang nglencer – dengan perolehan masing-masing dapat Rp. 4000 atau bahkan hanya Rp. 2000. Hal ini terjadi berdasarkan alokasi anggaran tuan rumah rata-rata yang dikeluarkan untuk sangu per grup nglencer adalah Rp. 20.000 – 25.000 (munculnya angka ini berdasarkan hasil wawancara narasumber, yang mana itu adalah teman-teman saya dan temannya teman di berbagai dusun; serta melihat juga inflasi rata-rata per-rumah tangga untuk tahun ini & tren persentase anggaran pesangon dengan anggaran lain yang bisa mempengaruhi, seperti anggaran untuk renovasi rumah, beli ornamen, cat, dan petasan untuk menyambut hari raya).

Melihat analisis di atas, saya selalu ketat dalam mengatur jumlah anggota grup agar tetap sehat dan memberi produktivitas maksimal. Namun ternyata, selain jumlah anggota grup, ada hal lain yang mempengaruhi – yaitu timing atau waktu nglencer yang pas, networking atau luasnya pertemanan, serta seberapa kita mengenal tuan rumah yang dikunjungi.

Dalam hal ini, strategi terbaik yang sering berhasil saya terapkan adalah “quality over quantity” – saat itu saya tidak pakai istilah seribet ini sih. Jumlah anggota grup selalu dibatasi maksimal lima anak. Siasat nglencer pada pagi menjelang siang, karena tuan rumah masih mudah memberi sangu pada jam-jam itu. Sedangkan melihat perlunya jejaring dan mengenal tuan rumah, hal yang perlu diperhatikan sebenarnya hanyalah “siapa saja yang ada di dalam grup saya?”.

Jika anggota grup adalah anak para tokoh atau orang yang cukup dikenal di desa, maka berbagai keberuntungan bisa kami peroleh. Tidak usah susah payah perkenalan diri, cukup jawab “nggih” ketika ditanya “oalah, kamu ini anaknya pak…. ini to, ya ya ya… wes guede ya…?”. Tidak usah berpikir terlalu dalam tentang obrolan apa yang paling menarik bagi tuan rumah, cukup diam sopan dan makan jajan seperlunya, cukup sekitar lima menit bertamunya, pamitan dan pasti dapat sangu.

Bertahun-tahun selama masih jadi anak-anak, saya terapkan strategi ini dan pas akhir lebaran, setidaknya nama saya selalu jadi pembicaraan hangat di kalangan rumpi anak-anak. Namun untuk jadi juara Raja Badhan memang tidak mudah. Meskipun berbagai upaya yang telah saya terapkan, begitu juga perubahan dan inovasi strategi; masih saja sulit menembus juara satu. Banyak faktor tidak terduga, dan yang paling berpengaruh adalah pesangon dari saudara atau dari tuan rumah yang “tidak biasa”, yang bahkan bisa memberi nominal fantastis. Tapi pengalaman ini mengajarkan saya yang masih anak-anak untuk lebih tawakkal dan qanaah dalam model belajar yang agak aneh memang. Yah…. paling tidak masuk sepuluh besar lah setiap tahunnya, lipur saya.

Ceritanya sudah cukup panjang lebar, yang kurang hanya isinya mungkin. Tapi cerita ringan ini, saya yakin pengalaman lalu ini adalah pengalaman bersama yang pasti anda pernah alami juga. Memang kalau dipikir-pikir tradisi hari raya bermacam-macam di Indonesia,  dan Badhan Idul Fitri di masyarakat jawa adalah tradisi khas yang unik – memberi pesangon pada anak kecil yang notabene sering dikaitkan dengan budaya materialistis yang kok sudah diajarkan pada anak kecil memang dapat jadi kritik.

Ambil hikmahnya saja kalau begitu, daripada memenuhi pikiran dengan prasangka. Kalau saya sendiri yakin budaya ini lebih banyak manfaatnya. Bagi tuan rumah sebagai sarana sedekah, bagi anak-anak sebagai sarana hadiah. Memang ada sensitifitas mengapa kok harus pakai uang, dan tapi, disitulah peran kita yang sudah tidak anak-anak lagi sangat penting.

Kita mempunyai peran meluruskan tujuan mulia tradisi ini. Sangu sering menjadi pemicu utama eratnya silaturahim, karena berbagai cerita lucu yang dapat kita lontarkan pas waktu dewasa bertemu kembali dengan sanak saudara. Kita pun dapat semakin memperindahnnya. Kita sudah (ada yg hampir) memerankan menjadi “tuan rumah” yang memberi sangu.

Ketika anak-anak kita kasih sangu, baiknya kita sambil bisikan “ini nak nanti untuk sedekah atau buat beli buku ya…”,  “ini buat bantu ayahmu beli seragam sekolah ya” “ini buat kamu tabung biar bisa beli apaa saja yang baik, yang kamu inginkan ya…”, “ini buat ditabung beli hp, tapi hpnya buat bantu kamu belajar, oke!” atau kita bisa pakai cara kreatif lain. Untuk anak yang masih balita, kita bisikannya ke orang tuanya.

Kelihatannya sepele, tapi saya selalu ingat pesan bisikan ini ketika di beri uang sangu. Memang kalau pas bahagia kan kita lebih ingat detil apa yang kita rasakan, yang kita alami, termasuk nasehat yang kita terima. Tapi banyak bisikan yang saya terima adalah “ini nanti buat beli permen ya…”, “buat beli bakso”, “buat nanti beli minum di jalan” dan yang mirip-mirip.

Saya tidak suka membenarkan sepihak. Tapi saya mencoba nggedabrus, bersaran sesuai pengalaman ini, yaitu sebenarnya jika kita melakukan sedikit saja perubahan dalam tradisi Badhan ini (membubuhi nasehat atau saran yang baik pas ngasih sangu itu), saya yakin dampaknya akan luar biasa, bahkan sampai anak-anak itu nanti tidak jadi lagi anak-anak.

Apapun cerita ini, saya tidak memungkiri ada sisi negatif dari tradisi Badhan, terutama ketika saya kecil, motivasi biar dapat sangu banyak, biar jadi Raja Badhan selalu ada. Apapun pandangan anda juga, saya sangat menghargainya, dan yang jelas… saya sangat bersyukur dan bahagia mempunyai pengalaman seperti ini dulu, terlepas dari berbagai sisi positif dan negatifnya, sekarang saya lebih bisa belajar kembali, menjadi bagian untuk membuat tradisi ini lestari, semakin baik, dan barokahnya yang saya harapkan adalah tidak terputusnya tali silaturahim, bahkan sampai saya tua kelak, dan semoga anda pun juga… Allahumma Amin…

Uncategorized

Auto pilot

Thinking is a high energy activity; is takes a lot of energy to think. So whenever we think, we try to think as short as possible, and then we return to auto pilot. Over 95% of our life, we run on auto pilot.  – Paul Rulkens –

Cerita kali ini lebih berbagi video TEDx Maastricht tentang bagaimana menjadi mayoritas itu adalah baik dan membuat kita “normal”. Pesan yang ingin disampaikan oleh Pak Rulkens adalah betapa banyak orang normal yang membentuk norma mereka sendiri di dunia ini.

Kita menjadi berpikir di dalam kotak, yang bahkan kotak itu sangat kecil, tanpa kita sadari, sehingga banyak dari hidup kita ternyata berlajan dengan mode auto pilot. Mode ini diibaratkan bahwa kita seperti tidak memegang kendali penuh dalam hidup kita sendiri.

Jadi…

Jadilah seperti yang kalian inginkan. Jadilah dari bagian kaum 97% yang “normal” atau memilih kaum 3% yang tidak normal, yaitu mereka yang benar-benar diluar kotak.

Tidak ada jawaban benar dan salah, karena ini adalah opini. Dan tidak ada doktrin dalam cerita ini (^_^), karena yang berhak mempercayainya adalah kalian — ini tentang pilihan kalian, lebih tepatnya tentang pilihan akan apa yang kalian lakukan dalam waktu terbanyak hidup kalian. Jadi setelah ini, kalian memilih mempercayakan pada auto pilot, atau lebih mau bersusah payah berpikir?.

Sebenarnya video ini adalah jamu dari kepenatan minggu-minggu ini.