Stories

Saya, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Pak Ading bilang menulis adalah hal yang mudah. Pak Ading adalah seorang blogger, childhood trainer, dan mentor kami (di yayasan saya bekerja) yang keren menurut saya.

Ardy bilang menulis, meskipun di blog, itu sulit. Lebih mudah mengungkapkan pemikiran lewat video, katanya. Ardy adalah seorang teman nangkring saya di giras yang punya minat bikin video keren tentang apapun (walaupun masih proses, katanya).

Saya bilang di dalam hati, “alah mbuh ah” (maaf, bahasa di dalam hati yang sering saya pakai adalah bahasa jawa, terjemahannya adalah “ah saya nggak tahu”).

Saya adalah orang biasa, yang merasa anti mainstream di tengah orang-orang luar biasa. Saya adalah orang bias, yang mengenal asa. Dibilang suka menulis juga enggak, jago menulis…?hmm apalagi. Punya blog juga amatiran, bukan seorang trainer, atau bahkan mentor seperti Pak Ading, dan saya tidak suka membuat video seperti Ardy.

Saya hanya seorang yang terlalu mikir, dan saya pikir menulis adalah relatif.

Relatif mudah, kalau menulis pengalaman yang indah. Relatif sulit, menulis hal yang kita sukai–tapi berbelit-belit, karena topik itu belum terkuasai. Relatif enggan, tentang pengalaman pahit dan angan-angan balikan. Relatif bosan, tentang cerita sehari-hari–dan yang lainnya adalah relatif malas….(kalau ini memang yang saya alami, apapun, tidak hanya persoalan menulis). Akhirnya kesimpulan saya: relatif bingung untuk menyimpulkan ke-relatif-an menulis.

Hah, sudah kuduga kalau, saya, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Stories

Ketika berpikir atau terpikir, tulis !

Bepikir atau terpikir…

Saya lebih senang berpikir, dan lebih sering terpikirkan, terbesit suatu gabungan premis tentang kejadian apapun. Di sekitar saya ketika bersepeda motor ria. Saat menunggu hujan reda. Saat berjalan. Saat adzan (bahkan), karena opini saya, kita dimampukan multi-berpikir dalam satu saat itu.

Inilah anugrah terindah dari Allah SWT.

Sedang anugrah lain yang tak kalah indah adalah menulis. Kita tahu betapa hebatnya kekuatan menulis… dan apa-apa yang tertulis. Sebut saja perihal hukum, tentu lebih kuat yang tertulis, e.g: konstituensi, undang-undang, perjanjian tertulis. Perihal sastra dan yang enak dibaca, e.g: mahakarya novelis tersohor seperti Andrea Hirata, J.K Rowling, Dan Brown. Dan perihal utang-mengutang, tentu lebih kuat tertagih utang saya yang tertulis.

Dua anugrah berpikir dan menulis, tapi peleburan keduanya, justru yang terjadi adalah (malas) berpikir (apalagi) menulis.

Saya tahu, mengalami, dan anda juga, mungkin.

Solusi yang coba saya terapkan adalah: “Ketika berpikir atau terpikir, tulis !” dimanapun, kapanpun, nulisnya lewat apapun. Dan lagi, tambahan buat saya adalah #tantangan30hari menulis, yang telah saya deklarasi pada cerita sebelumnya. Saya tidak begitu menyukai paksaan, namun mencoba mengalami “jatuh cinta karena terpaksa” atau yang wong jowo bilang “witing tresno jalaran soko dipekso” (*dengan sedikit editan dari saya)

#tantangan30hari #ke-1 #tercapai #huyeh

Stories · Tantangan 30 Hari

Tantangan 30 hari: persisten menulis

Terinspirasi dari Paklik Matt Cuts, dalam cerita singkatnya tentang pengalaman susahnya menaklukan 30 hari melakukan sesuatu baru dan unik, namun menyenangkan karena ternyata buaanyaak yang kita bisa lakukan.

Bismillah….

Saya akan menulis setiap hari, selama 30 hari ke depan, tentang apapun, sesedikitpun rangakian kata-katanya, dan sejelek apapun cerita yang tertulis.

#tantangan30hari

Quotes

Curiga

Kita hidup di masa yang penuh kecurigaan dan, saya pikir, itu perangkap besar yang bisa membuat kita tidak mampu berbuat apa-apa untuk orang lain. Kita cuma mau melakukan hal-hal tertentu demi kepentingan diri sendiri.

— Aan mansyur —

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Spesial

Melihat pada cerita awal blog ini, kalau dikenang-kenang memang tidak ada yang kebetulan. Saya menemukan titik nyambung, dari membaca buku sampai berkesempatan berbagi dan berperan untuk mereka yang spesial–yang sampai saat ini masih tak menyangka.

Mengapa buku Life Without Limit karya Nick Vujinic terbaca oleh saya, kemudian saya tulis cerita tentang Nick dan copypaste puisinya: Unicorn Bersayap Plastik. Seperti kenyambungan, karena beberapa bulan setelah itu, saya masuk dalam lingkungan dimana anak-anak spesial berada.

Yang saya maksud spesial adalah mereka, anak kebutuhan khusus. Seperti autis, down syndrome, cerebral palsy, tuna grahita, gangguan pendengaran, tuna visual, dan lainnya. Penggunaan representasi kata yang tepat selain “berkebutuhan khusus” memang sulit dilakukan, karena pilihan kata lainnya adalah disabilitas, cacat, kurang mampu, yang menurut saya sendiri kurang berkenan di hati.

Sebenarnya ada kata “difabel” yang saya masih ingat disarankan oleh Mas Bayu (psikolog kami, dan orang keren yang sering mengucap kata yuhuuu). Difabel atau different ability kemudian yang saya pahami memang mirip-mirip lah dengan berkebutuhkan khusus.

Hmm….memang sampai saat ini pun penggunaan pemilihan kata masih belum ada yang fiks. Baik yang dipakai kita (yayasan), pemerintah, dan UNESCO.

Tapi tak usah ambil bingung, intinya saat itu saya bersyukur dapat bergabung menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK, tepatnya pada September 2016.

Titik awal inilah yang menghadirkan cerita-cerita diluar “biasa” pada selama setahun berikutnya, pada kehidupan saya.