Book Reviews · Stories

Bung CT: si anak singkong

Mereka yang tumbuh dengan keras, di lingkungan keras, terpental keras, pun malah semakin keras untuk menjalani hidup ini dengan semangat. Tapi (kerja) keras saja tak cukup. Perlu kecerdasaan supaya yang ditonjolkan tak cuma kekerasan. Perlu tekad kuat, walau berasal dari anak singkong, tapi yakin bisa membuat ladang emas.

bung-ct

Kedewasaan, sikap matang, tanggung jawab, dan pembawaan alami seorang pebisnis yang sekaligus bisa mencabut gigimu yang kerowak parah, supaya tak jadi alasan ma-ga-but mu yang berlebihan. Ialah Chairul Tanjung, yang mana, sudah taulah kamu, siapa beliau. 

Buku Si Anak Singkong ini bukan biografi bak Wikipedia yang kalau mengulas seseorang dalam satu laman, selalu ada track record karir dan pendidikan dan minim cerita-cerita perjalanan hidup yang menarik tuk didetilkan. Laman Wikipedia memang bukan buku, jadi merujuk pada buku-buku tetap jadi petuah yang harus digalakkan, diera pembaca judul nan jadul, saat ini. Di era pemakan mie instan yang terlalu malas tuk merebusnya.

Si Anak Singkong: berusaha sebaik mungkin menggambarkan Bung CT sebagai seorang yang benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Tak lazim dizaman sekarang ada seorang seperti itu. Aku pun jarang (dan semoga semakin sering) melakukan apa yang kukatakan. Kalian juga, mungkin. 

Perjalanan 15-ribu pertama pas bisnis fotokopi saat kuliah, karena sudah bersikukuh tak mau menerima uang lagi dari ibunya, alias harus mandiri. Bung CT memang berasal dari keluarga yang tak wah, tapi kejengkelannya pada kemiskinan menjadikannya Bung CT seperti sekarang.

Berawal dari kecil-kecilan, menjaga kepercayaan dan meluaskan jaringan, kemudian usahanya berkembang dari bidang A, B, C, yang D gagal dan buat lagi E, F, G,, H gagal, I gagal, dan gagal,. dan lain-lain sampai besar jaring yang ia bentangkan. Sungguh menarik cerita perjalannya, bacalah.

Kerja keras, fokus, dan jangan cengeng, itu pesan Bung CT. Kalau gagal, cukup sederhanakan saja, selebihnya biar ditanggung Tuhan, dan maju lagi, cari akal sambil minum kopi dan makan gorengan hangat di warung langgangan. Asal jangan biasakan berhutang.

Yang menurut saya unik, Bung CT seperti tak pernah kehabisan energi. Ia adalah pelari marathon, sedangkan banyak dari kita yang terpukau dengan para pelari sprint (yang karena kita lagi-lagi ingin serba instan, maunya lihat dan bermimpi mengalami sukses satu malam).

Fokus untuk memberi yang lebih baik, walau harus kerja larut malam. Tak ada jalan pintas. Kalau mau cepat pantaskan diri supaya menemukan jalan tol.

Tapi saranku, jangan baca cepat-cepat, karena petuah/cerita yang ada di dalam buku ini, akan muncul sebagai pengingat kala kamu bergulat dengan keadaan yang sok bikin baper. Aku sendiri merasakannya.

Gaya cerita yang disusun Tjahja Gunawan Diredja tak menghilangkan keharidan Bung CT yang seakan-akan bercerita dengan mulutnya sendiri pada para pembaca. Aku menghabiskan buku ini selama 2 bulan lebih. Buku ini aku baca ketika di pinggir jalan, istirahat di masjid, di bawah meja kantor (karena di atas meja-nya sudah penuh masalah haha), dan di pasar-pasar sambil meihat masalah para orang-orangan yang mencari uang.

Satu bab, beberapa cerita, lalu cukupkan dulu. Hayati, dan pakai sebagai bahan bakar semangat atas beban kerja kalian. Karena dampak terbaik dari buku ini adalah penularan sikap optimis, realistis, dan berani bermimpi besar yang disertai sikap tak lupa singkong (asal kita dulu).

Bung CT tetap seorang yang sederhana, dan tentu punya kesalahan dan sisi lain, yang menurutku tak usah diperdebatkan, terutama menyangkut bidang politik. 

Cukup kalau mau baca buku ini, ambilah teladan Bung CT sebagai seorang pebisnis yang berhati singkong, asli Indonesia.

Note: kabar baik bagi kamu yg belum baca buku ini, sekarang harganya murah sekali. Sekitar Rp. 20.000-an.