Book Reviews

Perjalanan mengagumi sampai menjadi ayah

Siapa yang mengenal Andrea Hirata, bolehlah curiga, dari sekian novel laris manisnya mungkin terdapat bumbu ajian tertentu tuk buat kalut para pembacanya. Sehingga tersenyum, lalu termurung, kemudian tertawa– di dalam kereta, di dalam bis malam, di pinggir taman yang penuh sesak orang pacaran, di perpustakaan balai kota yang ramai gara-gara suara staffnya yang terlalu nyaring dan sering untuk memaksa pengunjungnya supaya diam senyap.

Book Reviews Ayah

Aku membaca novel Ayah karena menarik. Menarik dari covernya yang elegan penuh kasih dan wibawa. Entah beberapa novel dan buku yang punya cover bagus cenderung lebih menarik untuk dibaca, menurutku. Selain itu, novel ini tak begitu tebal, walau yang lalu-lalu seperti Laskar Pelangi dan Padang Bulan, diakali dengan seriesnya: dwi, tri, tetra-logi-nya. Tapi Ayah tidak, atau setidaknya aku tak tahu. Cover menarik dan tak begitu tebal, cukuplah untuk dihabiskan sehari saja. Sehari untuk jadi orang senyum, murung, dan tertawa sendiri. Dan jangan sampai menangis.

Masih mempertahankan khas, cerita yang disuguhkan berasal dari kisah nyata, dialami oleh orang  lokal (belitong), disajikan apa adanya namun apik, mudah dipahami, dengan micin pemikiran modern dan nuansa mendidik, yang seakan semua tokohnya punya hasrat tinggi akan pengetahuan. Satu lagi, kelucuan dan keluguan para tokoh tetap jadi primadona untuk membuat para pembaca tak jenuh.

Ayah, awalnya aku kira akan menampilkan sisi ayah dengan segala prahara ceritanya, dan ternyata benar. Iyalah, yang benar saja, kesimpulan macam ini semua anak negeri akhirat pun tahu. Maafkan. Tapi, sisi ayah dinaikkan, sisi ibu sedikit diturunkan. Sedikit (biar tak dikira durhaka), atau setidaknya tak banyak diceritakan. Tersirat juga beberapa sisi jahat si Ibu pada sebagian kecilnya. Bagian besarnya sila kalian cari tahu, yang jelas tak ada prahara dengan ibu (dengan istri, mungkin), karena yang jelas memang fokusnya di ayah. Ayah, dan hubungannya dengan anak-nya tersayang.

Jadi, siapa sebenarnya Ayah yang dimaksud dalam novel ini? (sedikit spoiler), ia adalah Sabari. Tapi ia juga Insyafi, Markoni, Amirza, Jonpijareli, Manikam, Tukang Vespa, Tukang antar surat, dan Toharun setelah punya tiga anak. Ayah juga adalah semua ayah di belitong dan seluruh Indonesia, serta dunia semesta, yang mempunyai kasih dan sayang pada mereka yang bernama anak. Jadi itu Ayah yang dimaksud dalam novel ini.

Haha. Maafkan. Jawaban itu terinspirasi dari salah satu paragraf serupa dalam novel ini. Maka bacalah, dan kamu akan tahu adegan-adegan yang membuatmu tersenyum, termurung, dan tertawa. Kamu juga disuguhkan dengan laga para puisi dan beberapa istilah asing yang kegunaannya jelas, serta plesetan-nya yang cukup memutar perut. Rasa ketika baca novel ini, seperti dikisahkan Amiru kepada Andrea Hirata.

Stories

Mempelajari manusia

Keindahan wujud, intuisi, dan pikiran; kemampuan adaptasi, berinteraksi, dan membangun peradaban; kebutuhan religiusitas, altruisme, dan harapan. Semua itu adalah sedikit dari apa yang dimaksud manusia. Sedangkan per individu menjalaninya dengan sangat berbeda-beda — menjadikannya manusia, lebih manusia, atau kurang manusia. Membuatku tertarik mempelajari manusia.

William Barnhart 

Percampuran kebingungan dan penasaran. Semua hal bisa dikaitkan dengan manusia (setidaknya, semua hal yang aku tahu). Semua hal seakan untuk manusia. Kenyataannya begitu. Dari hal yang bermaterial maupun gaib. Tuhan menciptakan spesies ini dan menunjukkan kepedulian terhebat-Nya (pun juga kemurkaan terbesar-Nya).

Proses mempelajari manusia tak ada habisnya. Proses menyatukan pemahaman tentang manusia pun tak ada batasnya. Perlu segenap kolaborasi keilmuan, pengalaman, penelitian, dan obrolan berfaedah di warung kopi sampai seminar bergengsi. Aku menemukan diriku sendiri, ketika mempelajari diriku, sebagai manusia.

Sedangkan telah aku sadari betapa banyak jalan untuk mempelajari manusia, jalan paling menarik adalah memahami sifat alami manusia. Karena bagaimanapun, sifat alami ini seperti telah dikodratkan Tuhan. Mempelajarinya seperti menemukan kembali nilai sebenarnya menjadi manusia. Dalam pikiran bawah sadar, dalam kompleksitas, seperti pernyataan Edward O Wilson dalam bukunya On Human Nature: 

“Innate censors and motivators exist in the brain that deeply and unconsciously affect our ethical premises; from these roots, morality evolved as instinct. If that perception is correct, science may soon be in a position to investigate the very origin and meaning of human values, from which all ethical pronouncements and much of political practice flow.”

Book Reviews · Stories

Bung CT: si anak singkong

Seorang yang punya perjalanan hidup keras. Terdidik keras. Di lingkungan yang sangat keras. Terpental keras. Tapi tak henti kerja keras. Memutar otak supaya tak keras. Melembutkan hati dengan berbagi. Dulu ia anak singkong, sekarang ia buka ladang emas.

bung-ct

Kedewasaan sikap,  tanggung jawab, dan kepandaian seorang pebisnis yang sekaligus bisa mencabut gigimu yang kerowak. Ialah Chairul Tanjung.

Buku Si Anak Singkong ini bukan biografi bak Wikipedia, yang mengulas seseorang dalam satu laman,  lengkap jejak karir dan pendidikan, tapi minim cerita-cerita menarik. Laman Wikipedia memang bukan buku, jadi merujuk pada buku tetap jadi petuah yang harus digalakkan. Di era pembaca judul nan jadul. Di era pemakan mie instan yang terlalu malas tuk merebusnya.

Si Anak Singkong: berusaha sebaik mungkin menggambarkan Bung CT, sebagai seorang yang dari tak ada apa-apa menjadi apa-apa ada. Ia benci kemiskinan. Ia akan menjadi kaya dan benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Tak lazim dizaman sekarang ada seorang seperti itu. Aku pun jarang (dan semoga semakin sering) melakukan apa yang kukatakan. Kalian juga.

Perjalanan 15-ribu pertama dari bisnis fotokopi saat kuliah adalah momen a-ha dari bakat bisnisnya. Karena sudah bersikukuh tak mau menerima uang lagi dari ibunya, alias harus mandiri. Perjalanan selanjutnya lebih menarik. Tak dipungkiri ia berada dalam dua pilihan yang prestis, menjadi pebisnis atau menjadi dokter gigi. Ia menjadi dua-duanya. 

Berawal dari bisnis fotokopi kecil-kecilan, berlanjut pada menjaga kepercayaan dan meluaskan jaringan, kemudian usahanya berkembang dari bidang A, B, C, D, sampai huruf-huruf berikutnya. Sampai besar jaring yang ia bentangkan. Sungguh menarik cerita perjalannya, bacalah.

Mimpi besar, kerja keras, fokus, dan jangan cengeng. Menjadi wirausaha memang seharusnya seperti itu, seharusnya seperti Bung CT. Kalau gagal tak apa, belajar, dan coba lagi. Kalau gagal lagi tak apa, belajar lagi, dan coba terus. Sampai keberhasilan Bung CT mampu menutupi sederet kegagalannya. 

Yang menurut saya unik, Bung CT seperti tak pernah kehabisan energi. Ia adalah pelari marathon yang tangguh. Sedangkan banyak dari kita yang terpukau dengan para pelari sprint (yang karena kita, lagi-lagi ingin serba instan, maunya lihat, amati, dan berilusi mengalami sukses satu malam). Fokus untuk memberi yang lebih baik, walau harus kerja larut malam. Tak ada jalan pintas. Kalau mau cepat pantaskan diri supaya menemukan jalan tol.

Buku ini lebih tepat jika dibaca baca tak terlalu cepat. Karena petuah/cerita yang ada di dalam buku ini akan muncul sebagai pengingat kala kamu bergulat dengan keadaan yang sok bikin baper. Aku sendiri merasakannya.

Menurutku, membacanya lebih baik jangan di perpustakaan. Buku ini aku baca ketika di pinggir jalan, di warung kopi, di pelataran masjid, di bawah meja kantor, dan di pasar-pasar tradisional, sambil melihat lalu lalang orang-orangan yang mencari uang.

Satu bab atau satu cerita, lalu cukupkan dulu. Hayati, renungi pelajarannya, dan pakai sebagai bahan bakar semangat atas beban hidupmu. Karena dampak terbaik dari buku ini adalah: penularan sikap optimis, realistis, dan berani bermimpi besar yang disertai sikap tak lupa singkong (asal kita) seperti Bung CT.

Jangan khawatir soal penulis buku ini yang bukan Bung CT sendiri. Penyusun Tjahja Gunawan Diredja, sahabat dekat Bung CT, mampu menghadirkan sosok Bung CT (yang seakan-akan bercerita dengan mulutnya sendiri) langsung pada para pembaca. Sederhana, menarik, dan bersahaja. Tulisannya tak membuat bingung.

***

Bung CT tetaplah seorang yang sederhana. Sebagai lulusan dokter gigi, pebisnis, ketua PBSI, atau jabatan lainnya, yang utamanya Bung CT sebagai manusia, pasti punya sisi lain dan kekurangan. Menurutku tak usah diperbedatkan, terutama menyangkut bidang politik. Mengapa ada buku ini, aku berprasangka baik saja, tentunya untuk berbagi inspirasi pada Indonesia.

Note: kabar baik bagi kamu yang mau beli buku Si Anak Singkong, sekarang harganya murah sekali. Sekitar Rp. 20.000-an.