Stories

Sudah kuputuskan dengan payah

Menjaga jarak adalah jalanku
menjaga hati
supaya bahagia
dengan kehendak-Nya
dan kehendaknya,
semoga aku
Untuk-Mu ku berpasrah
doa tentang perasaan dan
kebingungan yang menjalar sampai
nanti menjadi baik
Aku adalah lelaki yang
setia memelukku sampai pahit lidah,
dan asin keringat
kurasakan untuk
menemukan manismu
Keridhaan yang baik
dari-Nya
untukku padamu
Stories

Kisah cinta

Kisah cinta ini menunggu bertahun-tahun memendam rasa, dengan terus memantaskan diri karena bukan siapa-siapa. Hanyalah pemuda yang memperbaiki akhlaknya, sedang kekayaan bukanlah miliknya.

Bertahun-tahun menunggu, walau sudah saling menahu, kalau cintanya juga mencintainya. Namun kisah cinta ini telah siap untuk akhir yang pasrah. Beberapa kali mencoba mengikhlaskan, jikalau memang dia bukan pendampingnya.

Kisah cinta ini bukanlah saling diam memendam rasa, tanpa mengadukan pada yang Kuasa. Benar, sungguh mereka telah dinikahkan di langit, sebelum akhirnya dipersatukan di bumi.

Rasulullah SAW pun tersenyum bahagia, menunggu keponakannya datang, untuk meminang putrinya.

Inilah sepenggal kisah cinta Sayyidina Ali dan Fatimah Az-Zahra.

Stories

The Paradoxical Commandments

People are illogical, unreasonable, and self-centered.
Love them anyway.

If you do good, people will accuse you of selfish ulterior motives.
Do good anyway.

If you are successful, you will win false friends and true enemies.
Succeed anyway.

The good you do today will be forgotten tomorrow.
Do good anyway.

Honesty and frankness make you vulnerable.
Be honest and frank anyway.

The biggest men and women with the biggest ideas can be shot down by the smallest men and women with the smallest minds.
Think big anyway.

People favor underdogs but follow only top dogs.
Fight for a few underdogs anyway.

What you spend years building may be destroyed overnight.
Build anyway.

People really need help but may attack you if you do help them.
Help people anyway.

Give the world the best you have and you’ll get kicked in the teeth.
Give the world the best you have anyway.”
Kent M. Keith

Stories

Jerman dan mittelstand-nya

Dulu negara ini mendapat perlawanan dari negara-negara eropa dan Amerika Serikat karena ideologi nazi-nya yang melahirkan perang dunia ke-dua. Sekarang negara ini mendapat tekanan dari negara yang sama gara-gara perkembangan perekonomiannya yang sangat baik dan dituduh terlalu kuat untuk uni eropa.

Terlepas dari jadi buruk dimusuhi dan jadi baik membuat iri, memang Jerman merupakan negara yang keren karena keunikan dan the-german-ways nya yang selalu membuat iri seluruh dunia.

Mereka menyebutnya model bisnis mittelstand. Walau pengertian dari istilah ini masih banyak menimbulkan kebingungan karena terlalu khas Jerman baik nama dan cara prakteknya. Dalam negara kita, model mittelstand ini dapat dikatakan UKM (Usaha Kecil dan Menengah).

Memang dari dulu jenis usaha ini yang diprediksi paling mampu membawa kemajuan perekonomian suatu negara. Dan sekarang terbukti.

Karena aku tidak punya pengetahuan mendalam tentang bisnis (tapi sangat tertarik dengannya), maka cerita ini akan lebih berbagi cerita dari ulasan yang menurut ku dapat dipercaya (Harian Telegraph, The Economist, Harvard Business Review 1 dan 2). Sila anda baca.

Untuk yang lebih tertarik melihat video, ada dua yang ku pilih:

 

Stories

Yang ku tahu aku perlu belajar menjadi pembelajar

Begitu banyak pengalaman tak enak (jengkel) ketika berbagi pikiran dan ide ide yang menurut ku kreatif karena ada salah satu atau beberapa teman yang tak sepemikiran, atau menentangnya. Memang pepatahnya adalah: “hargai pendapat orang lain”. Namun pada kenyataannya “hargai aku dulu, karena bagimu, aku adalah orang lain, kan?”.

Cerita kali ini berbicara tentang kekeliruan pemahaman, dan percobaan berbagi pemahaman baru tentang menjadi pembelajar. Latar belakangnya adalah karena arogansi ku yang mendapuk diri sendiri sebagai “pembelajar”. Padahal state-of-realities-nya masih jauh, masih tingkat kroco dan precil.

Pembelajar tak pernah menganggap dirinya pembelajar.

Pembelajar menganggap dirinya selalu menjadi orang yang miskin, kekurangan, dan haus akan hal baru, perspektif berbeda, kesimpulan baru, perubahan dan kebenaran yang lebih dari prakiraan pikirannya, yang mana ia benar-benar sibuk mengurusi semua hal itu, sehingga klaim atas “aku adalah pembelajar” tak pernah mereka gaungkan.

Memang jika tak lihai, kita banyak menemukan diluar sana sudah terlalu banyak orang arogan (knower-sok tahu-sotoi) yang berkali-kali mengklaim diri mereka sebagai pembelajar. Kita seringkali tertipu, dan mereka yang benar-benar pembelajar-pun tak risau dengan hal itu.

Karena sang pembelajar akan selalu menemukan muara kebesaran Yang Maha Bijaksana, yang itu lebih nikmat dari pengakuan manusia.

Sungguh nikmat ketika membayangkan mereka berkali kali mendapat “nikmat” yang tak terkira sebagai pembelajar.

Nikmat yang ku dambakan, walau masih menjadi pembayang, tapi karena aku tahu, aku masih perlu belajar menjadi pembelajar (agar merasakan “nikmat” itu juga), maka lebih baik dan memang seharusnya, mari bersama-sama belajar menjadi pembelajar.

Stories

Zona Belajar

Dua minggu dengan pekerjaan baru, atmosfer yang ada benar-benar keren. Maksud aku banyak hal yang bisa (harus) saya pelajari, yang telah lama aku tunggu ke-tidak-datangan-nya. Benar kata Pak Dahlan Iskan: “Jika membenci sesuatu yang bencinya ndak biasa, suatu saat malah jadi makanan sehari-hari”.

Aku membenci hal hal yang berhubungan dengan sosialisasi, kenalan dengan orang baru, mengajak dan memberdayakan mereka. Klise ! sangat klise aku katakan ini adalah keinginan banyak manusia. Aku juga membenci proses jadi wirausaha (karena inginnya cuma tiba-tiba jadi pengusaha sukses wahaha). Semua itu, aku punya kebencian yang tidak biasa.

Sekarang malah pekerjaan aku sangat erat dengan hal itu. Stress, mangkel, dan untungnya aku hanya melihat satu jawaban, yaitu:

Jawabannya di paragaraf bawah sendiri, biar kalian baca sampai habis.

Aku masih ingat ketika saya secara tak sengaja jadi relawan Yayasan Peduli Kasih ABK karena mangkel dengan kontak person pendaftaran relawan yang tak bisa bisa aku hubungi.

Aku malah jadi ketua relawan disitu (setelah dijebak teman yang seharusnya bisa ku percaya). Sebenernya jauh sebelum itu aku adalah orang yang meremehkan relawan. Mereka itu titik-titik.*

*Karena sekarang aku pro relawan, jadi kejengkelan dulu di sensor menjadi titik-titik.

Masih sadar diri, aku sangat benci dengan hal yang berhubungan kesehatan. Jurusan Kedokteran adalah yang paling ku hindari waktu mau lulus SMA. Alasannya adalah karena itu jurusannya orang-orang pintar, dan karena aku adalah orang bias-asa. Alasan sebenarnya adalah aku tidak melihat kebaikan dokter ketika sudah pegang jarum suntik.

Tapi malah aku dapat pengalaman kerja yang mana atasan ku, rekan kerja, teman-teman relawan, yang buanyak dari jurusan itu.

Khawatir juga nanti kalau-kalau, kalau semisal, misalkan saja, kalau misal saja ternyata pendamping hidupku | sudahlah.

Yang jelas entah ini karma, tes, atau ujian dari Allah SWT yang selalu membuatku semleho dengan tantangan ini, tapi:

“Jalani kesulitan ini dengan baik, walau sampai merubahmu menjadi manusia setengah dewa”

Aku dulu selalu menghindar, lari, putar balik–dan karena temanku pernah bilang kalau putar balik itu bukan laki, makanya sekarang saya percaya kalau ini adalah zona belajar yang ditakdirkan Allah SWT untuk hambanya yang mempunyai kelebihan malas dan kekurangan berat badan ini.

Stories

Gintama

Dari kamu yang sudah kenyang dengan suguhan anime satu ini, pasti tahu betapa campur aduk antara serius-lelucon-vulgar-kehidupan menjadikan anime gintama adalah salah satu anime terbaik sepanjang masa.

Aku sendiri sangat suka dengan pernyataan tokoh utama Sakata Gintoki kalau anime ini tidak punya tujuan akhir yang jelas.

Sebenarnya banyak dari pernyataan tokoh utama ini yang saya kagumi, karena ketidak-dan-kejelasannya.

Sudahlah….

Bagi kalian yang belum kenyang atau yang masih mencoba dan mencicip-cicipi anime ini, mohon segera mawas diri. Karena resiko untuk menontonnya lebih lanjut dalam jangka pendek dan panjang sangat nyata bagi diri anda.

Rasakan twist dampak baik dan buruk dari anime ini.

Yang penting don~dake!

Stories

Ketika konsep berubah jenuh menjadi konslet

Aku percaya membuat konsep itu bukan pekerjaan yang mudah. Tujuan tuk buat konsep memang hakikinya untuk mempermudah menemukan solusi. Tapi ku rasa prosesnya memperberat berpikir, menjadikan otak mode overclock, yang riskan panas dan mudah konslet.

Pembuatan konsep adalah dari proposisi yang terdiri dari variabel. Kalau variabelnya jelas variannya, ya tak terlalu sulit diracik proposisi dan dibuat konsepnya. Sayangnya banyak variabel dalam lingkungan kita yang variannya tidak jelas. Kalaupun jelas, variannya jelas-jelas abu-abu. Hmm… abu-abu.

Benar, aku tak mengada-ada. Membuat konsep itu bukan pekerjaan mudah, dan seperti di atas, anda pasti paham. Tapi kalau anda belum paham? Jadi begini, Konsepnya adalah….

Stories

Hidup pada usia 20-an

Banyak bukit-bukit yang harus kita capai pada kehidupan ini. Entah itu bukit yang benar-benar anda impikan, atau anda terpaksa menaiki puncaknya, karena keinginan orang lain. Bukit karir, cinta, kekayaan, kebahagiaan, menikah, punya anak, cucu, dan bukit-bukit lain yang setiap orang mungkin punya referensi bukit berbeda yang ingin dituju.

Banyak dari kita yang percaya dengan asumsi “di usia 30-an lah kita akan menaiki bukit-bukit itu”. Tanpa menunjukkan rasa memihak secara sepihak, karena yang dikatakan bu Meg Jay adalah fakta, bahwa “usia 30-an anda bukan sebaru usia 20-an”. Artinya, masa penting dalam hidup anda adalah di usia 20-an > untuk menemukan jati diri siapa sebenarnya anda, dan bukit mana yang memang anda sangat ingin capai.

Cobalah hal baru, lihat dan rasakan berada dalam luar lingkaran “pakem” anda, alami pengalaman diatas perkiraan anda, kegagalan yang banyak akan menuntun anda lebih mudah belajar > untuk menemukan diri anda pada kehidupan 30-an, 40-an, 50-an, 60-an, dan seterusnya masa depan anda.

20-an bukanlah usia untuk bagaimana melewatkan masa ini untuk bersenang-senang. Semua tergantung anda. Saya sendiri menyadari banyak hal yang belum saya coba dan lakukan dengan 100% bernyali hati penasaran dan yakin. Saya akan menggunakan sisa delapan tahun di usia 20-an ini untuk benar-benar menemukan siapa diri saya. Semua tergantung saya.

Karena usia 30-an yang diperkirakan akan menjadi awal hidup ini, bukanlah hal sebaru pada usia 20-an.

Uncategorized

Akhirnya kau hilang

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di mana-mana. Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa-bahasa jauh. Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela rumah berbulan-bulan tidak dibersihkan atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah.

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di jalan-jalan yang lengang atau bangku-bangku taman yang kosong. Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota seperti perpustakaan raksasa yang meleleh. Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara, dan aroma makanan yang kurang atau terlalu matang.

Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong saat aku pulang dengan kamera dan kepala berisi orang-orang murung yang tidak kukenal. Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar. Buku cerita yang belum kelar kau baca telungkup bagai bayi tidur di dadamu. Tidak sopan, katamu, mengerjakan hal lain sambil menyimak kesedihan dinyanyikan.

Akhirnya kau hilang. Kau meninggalkan aku — dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa.

Puisi Akhirnya Kau Hilang – oleh Aan Mansyur

Uncategorized

Ozymandias

I met a traveler from an antique land
Who said: “Two vast and trunkless legs of stone
Stand in the desert . . . Near them, on the sand,
Half sunk, a shattered visage lies, whose frown,
And wrinkled lip, and sneer of cold command,
Tell that its sculptor well those passions read
Which yet survive, stamped on these lifeless things,
The hand that mocked them, and the heart that fed:
And on the pedestal these words appear:
‘My name is Ozymandias, king of kings:
Look on my works, ye Mighty, and despair!’
Nothing beside remains. Round the decay
Of that colossal wreck, boundless and bare
The lone and level sands stretch far away.”

Puisi “Ozymandias” – Percy Bysshe Shelley

Stories

Amal

*مِنْ عَلَا مَاتِ الْإِعْتِمَادِعَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَوُجُوْدِ الزَّلَلِ.*

“Diantara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya adalah merosotnya rasa harap (kepada rahmat Allah) manakala mengalami kegagalan”.

*-Ibnu Athoillah As Sakandari-*

Stories

Komunikasi dengan hati

Pengalaman awal menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK dapat ku gambarkan unik.

Pertama berkunjung ke yayasan, dipertemukan dan berinteraksi dengan anak-anak spesial–bahkan dalam paket jumbo. Lima anak sekaligus!. Aku waktu itu hanya sendiri, satu ruangan dengan mereka.

Ada dua anak yang anteng duduk, dengan meja kecil dihadapannya lengkap dengan kertas dan crayon–tapi dia bingung mau gambar apa. Ada yang sedang merangkai puzzle di lantai. Ada juga yang suka main plorotan dan terus… plorotan dan terus… plorotan dan terus… Lalu ada yang muter-muter sambil bawa mainan bola-bola kecil. Nah, yang paling keren itu ada yang muter-muter, tidak bawa mainan apa-apa, tapi dia seneng banget naik meja loncat dari kursi ke kursi, ke meja lagi… ke kursi lagi… hmmm.

Aku gugup dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Yaudahlah yang penting niat pedekate ke mereka.

Dan hasilnya sudah terduga. Aku yang jarang pedekate ke cewek (*tidak ada keterangan lebih lanjut) sekarang mencoba pedekate ke anak, anak spesial. Hasilnya dicuekin.

Tapi… ya… , awalnya mereka cuek dan saya tidak menyerah. Terbukti lama kelamaan aku dapat menjalin komunikasi. Walaupun tidak intens.

Tapi jangan dibayangkan komunikasi dengan mereka layaknya gaya ke anak biasa. Aku masih ingat pada waktu itu adalah pengalaman pertama bisa belajar memahami komunikasi sejati. Dalam pengertian yang lebih luas, komunikasi dengan hati–kita menyebutnya.

Komunikasi dengan hati ini bukan berarti membuat  baper ya. Tidak dibutuhkan baper dalam cerita ini.

Menurutku berinteraksi dengan anak-anak spesial ini membuat ku terlatih untuk terbiasa dengan kenuikan gaya mereka. Hal lain adalah membuat ku berlatih fokus, karena makna pesan yang diberikan tidak melulu pada verbal yang mereka utarakan, namun juga melalui indera mereka, seperti gerakan tangan, sentuhan, ekspresi wajah, tindakan, dan lainnya.

Dari ini, aku belajar bahwa sebesar apapun hambatan kita berkomunikasi, kalau memang niatnya dari hati, akan bermakna dan akan sampai pesannya. Berbeda dengan keadaan dimana sekecil apapun hambatan kita berkomunkasi, kalau memang niatnya tidak dari hati, akan tidak bermakna. Tidak akan sampai pesannya.

Aku sering dapat wejangan–“ikuti dunia mereka”, “jangan disambi”. Nasehat yang ku dapat dalam maksud lain adalah–“jadilah pendengar dan pengamat yang baik”, “jangan setengah-setengah dalam memahami mereka”.

Prinsip ini aku kira sangat bisa diterapkan dalam lingkup lebih luas. Kepada anak-anak spesial ini, orang tua mereka, teman kolega, teman relawan, teman pendamping hidup (pasti ada!), dan teman-teman yang lain. Prinsip ini juga bisa diterapkan pada musuh atau orang yang membenci kita. Kalau gak percaya coba lakuin aja, nanti cerita ke aku ya hasilnya kaya gimana.

Berinteraksi dengan anak-anak spesial ini menurut saya malah mereka yang memberikan pelajaran berharga. Aku dapat pelajaran cara berkomunikasi dengan benar-benar berkomunikasi.

Sedangkan bertemu dengan mereka, orang tuanya, serta teman-teman relawan dan staff di lingkungan ini memberi pengalaman yang tidak aku harapkan ada–di kehidupan aku yang datar-datar saja.

Karena pengalaman ini sangat mengagumkan, menjadi relawan ternyata lebih luas manfaatnya daripada persepsi pikiran aku.

Stories

Aku, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Pak Ading bilang menulis adalah hal yang mudah. Pak Ading adalah seorang blogger, childhood trainer, dan mentor kami (di yayasan saya bekerja) yang keren menurutku.

Ardy bilang menulis, meskipun di blog, itu sulit. Lebih mudah mengungkapkan pemikiran lewat video, katanya. Ardy adalah seorang teman nangkringku di giras yang punya minat bikin video keren tentang apapun (walaupun masih proses, katanya).

Aku bilang di dalam hati, “alah mbuh ah” (maaf, bahasa di dalam hati yang sering aku pakai adalah bahasa jawa, terjemahannya adalah “ah saya nggak tahu”).

Aku adalah orang biasa, yang merasa anti mainstream di tengah orang-orang luar biasa. Aku adalah orang bias, yang mengenal asa. Dibilang suka menulis juga enggak, jago menulis…?hmm apalagi. Punya blog juga amatiran, bukan seorang trainer, atau bahkan mentor seperti Pak Ading, dan saya tidak suka membuat video seperti Ardy.

Aku hanya seorang yang terlalu mikir, dan ku pikir menulis adalah relatif.

Relatif mudah, kalau menulis pengalaman yang indah. Relatif sulit, menulis hal yang kita sukai–tapi berbelit-belit, karena topik itu belum terkuasai. Relatif enggan, tentang pengalaman pahit dan angan-angan balikan. Relatif bosan, tentang cerita sehari-hari–dan yang lainnya adalah relatif malas….(kalau ini memang yang saya alami, apapun, tidak hanya persoalan menulis). Akhirnya kesimpulan saya: relatif bingung untuk menyimpulkan ke-relatif-an menulis.

Hah, sudah kuduga kalau, aku, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.