Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Yang saya tahu saya perlu belajar menjadi pembelajar

Begitu banyak pengalaman tak enak (jengkel) ketika berbagi pikiran dan ide ide yang menurut saya kreatif karena ada salah satu atau beberapa teman yang tak sepemikiran, atau menentangnya. Memang pepatah yang saya pegang adalah: “hargai pendapat orang lain”. Namun pada kenyataan yang saya jalani sebagai prinsip adalah “hargai saya dulu, karena bagimu, saya adalah orang lain, kan?”.

Cerita kali ini berbicara tentang kekeliruan pemahaman, dan percobaan berbagi pemahaman baru tentang menjadi pembelajar. Latar belakangnya adalah karena arogansi saya yang mendapuk diri sendiri sebagai “pembelajar” padahal state-of-realities-nya saya masih jauh, masih tingkat kroco (precil, atau masih kecil, jauh dari tingkat atas). Apalagi ternyata niat saya hanya ingin cap itu.

Saya perlu belajar lagi bagaimana menjadi pembelajar, dan setelah beberapa kali baca artikel dan pendapat para ahli (ahli benar, Insyallah), saya mendapat kesimpulan ini:

Pembelajar tak pernah menganggap dirinya pembelajar.

Ia menganggap dirinya selalu menjadi orang yang miskin, kekurangan, dan haus akan hal baru, perspektif berbeda, kesimpulan baru, perubahan dan kebenaran yang lebih dari prakiraan pikirannya, yang mana ia benar-benar sibuk mengurusi semua hal itu, sehingga klaim atas “saya adalah pembelajar” tak pernah mereka gaungkan.

Memang jika tak lihai, kita banyak menemukan diluar sana sudah terlalu banyak orang arogan (knower-sok tahu-sotoi) yang berkali-kali mengklaim diri mereka sebagai pembelajar. Kita seringkali tertipu, dan mereka yang benar-benar pembelajar-pun tak risau dengan hal itu.

Karena sang pembelajar akan selalu menemukan muara kebesaran Yang Maha Bijaksana, yang itu lebih nikmat dari pengakuan manusia.

Sungguh nikmat ketika membayangkan mereka berkali kali mendapat “nikmat” yang tak terkira sebagai pembelajar.

Nikmat yang saya dambakan, walau masih menjadi pembayang, tapi karena saya tahu, saya masih perlu belajar menjadi pembelajar (agar merasakan “nikmat” itu juga), maka lebih baik dan memang seharusnya, mari bersama-sama belajar menjadi pembelajar.

Mari, maksud saya benar-benar mari (bukan dalam Bahasa Jawa).

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Zona Belajar

Dua minggu dengan pekerjaan baru, atmosfer yang ada benar-benar keren. Maksud saya banyak hal yang bisa (harus) saya pelajari, yang telah lama saya tunggu ke-tidak-datangan-nya. Benar kata Pak Dahlan Iskan: “Jika membenci sesuatu yang bencinya ndak biasa, suatu saat malah jadi makanan sehari-hari”.

Saya membenci hal hal yang berhubungan dengan sosialisasi, kenalan dengan orang baru, mengajak dan memberdayakan mereka. Klise ! sangat klise saya katakan ini adalah keinginan banyak manusia. Saya juga membenci proses jadi wirausaha (karena inginnya cuma tiba-tiba jadi pengusaha sukses wahaha). Semua itu, saya punya kebencian yang tidak biasa.

Sekarang malah pekerjaan saya sangat erat dengan hal itu. Stress, mangkel, dan untungnya saya hanya melihat satu jawaban, yaitu:

Jawabannya di paragaraf bawah sendiri, biar kalian baca sampai habis.

Lanjut contoh nyata yang saya alami:

Saya masih ingat ketika saya secara tak sengaja jadi relawan Yayasan Peduli Kasih ABK karena mangkel dengan kontak person pendaftaran relawan yang tak bisa bisa saya hubungi.

Saya malah jadi ketua relawan disitu (setelah dijebak teman yang seharusnya bisa saya percaya). Sebenernya jauh sebelum itu saya adalah orang yang meremehkan relawan. Mereka itu titik-titik.*

*Karena sekarang saya pro relawan, jadi kejengkelan dulu saya sensor menjadi titik-titik.

Masih sadar diri, saya sangat benci dengan hal yang berhubungan kesehatan. Jurusan Kedokteran adalah yang paling saya hindari waktu mau lulus SMA. Alasan alibi saya adalah karena itu jurusannya orang-orang pintar, dan karena saya adalah orang bias-asa. Alasan sebenarnya adalah saya tidak melihat kebaikan dokter ketika sudah pegang jarum suntik.

Tapi malah saya dapat pengalaman kerja yang mana atasan saya, rekan kerja, teman-teman relawan, yang buanyak dari jurusan itu.

Khawatir juga nanti kalau-kalau, kalau semisal, misalkan saja, kalau misal saja ternyata pendamping hidup saya juga dari lulusan kedokteran. Ok, tidak, itu berat, entah Dilan berpikiran seperti itu juga atau tidak, tapi entah kalau Tuhan berkehendak.

Yang jelas entah ini karma, tes, atau ujian dari Allah SWT yang selalu membuat saya semleho dengan tantangan “dihadapkan dengan apa apa yang saya benci secara tampak dan mak jleb di depan mata”, hanya satu jawaban yang ada:

“Jalani kesulitan ini dengan baik, walau sampai merubahmu menjadi manusia setengah dewa”

Karena menghindari bukan hal yang tak mungkin, tapi sudah terlalu sering saya lakukan, selama berduapuluh tahun lalu lamanya.

Saya selalu menghindar, lari, putar balik–dan karena teman saya pernah bilang kalau putar balik itu bukan laki, makanya sekarang saya percaya kalau ini adalah zona belajar yang ditakdirkan Allah SWT untuk hambanya yang mempunyai kelebihan malas dan kekurangan berat badan ini.

Eit, untuk mengobati kalian stress membaca tulisan saya yang njelimet, sila tonton video yang menginspirasi saya menulias cerita ini:

Uncategorized

Hasil menabung selama 3 tahun

Niatnya karena iri lihat si Ipin membedah tabungan recehannya dalam botol aqua kecil, mulai hari itu saya mengikuti langkahnya. 

Tapi gengsi lah kalau hanya nabung dalam aqua kecil. 

Kebetulan ada bekas botol Big Cola guede hasil pesta hura-hura bersama si Ardy, Adit, dan Hatta yang saya jadikan sebagai wadah, sekaligus target nabung recehan disitu. Biar nanti ganti si Ipin yang iri ngeliat saya pesta koin recehan yang lebih keren darinya. Biar dia nanti saya kasih sangu 100 x 100 rupiah.

*Ipin adalah teman kamar sebelah. Nama aslinya Barmawi Arifin. Hal paling menarik dari kita adalah: ketika saya dibonceng sepeda motor sama dia. Kaya angka 0 dan 1. Dia terlalu gemuk, dan saya terlalu kurus. Bahkan tangan saya tak sampai saling ketemu ketika nyabuk pas dibonceng. 

Waktu itu masih semester 4, juli 2014, koin pertama masuk dan saya begitu senangnya. Kemudian hari-hari berikutnya keadaan tetap menyenangkan, setiap kali habis dari indom*ret dapat susuk, langsung saya ceburkan dalam botol.

Ya… begitulah…

Dan hari-hari berlalu, hingga tiga bulan kemudian, hmm… saya merasakan betul perihnya pepatah sedikit demi sedikit lama lama… lama lama… lamaaa sekali… dan bahkan belum menjadi bukit, recehan dalam botol Big Cola pun separo tak terpenuhi.

Ada sih niat jahat menukar uang kertas dengan recehan, supaya lebih cepet. Tapi itu (hampir saja) saya lakukan. Untungnya keadaan saat itu saya fakir harta, menukar jatah makan untuk ditabung sama saja dengan harakiri.

Dendam saya, nanti kalau sudah terkumpul banyak, akan saya gunakan sebagai modal nikah, jalan-jalan, beli laptop gaming, beli hp anti air, beli tamiya dengan dinamo lilitan sendiri, dengan hanya sebotol Big Cola guede yang penuh recehan.

Mulai lagi berkhayal yang aneh-aneh, dan saya mulai lupa masalah nabung recehan ini, karena beban skripsi dan kawan-kawannya. 

Tapi setiap ada gemericik koin di saku, masih saya cemplungkan ke botol ~ yang kemudian saya juluki botol lubang hitam ~ karena setiap kali recehan masuk, saya amati tak naik-naik para koin dalam botol itu. 

Hingga tak terasa tiga tahun lebih, bulan Januari 2018, saya bedah botol yang sudah terisi penuh. Bedahnya pakai teknik el nido, haha, gausah lebar-lebar yang penting bisa buat keluar uang recehnya. Karena itu botol sakti, betapapun menyebalkannya, dia lah yang menjaga uang tabungan saya. Jadi selanjutnya akan saya pakai lagi untuk menabung yang batch 2, periode 2018-2021.

Jadi panen recehan ini ternyata sangat membuat saya senang. Ya… khayalana aneh2 (buat modal nikah atau apalah itu) sudah saya hiraukan. Berapapun hasilnya saya syukuri, dan tercatat 512.640 ribu rupiah*.

*Karena banyak kepingan seratus dan dua ratusnya.

Jadi tugas selanjutnya adalah menukar recehan itu di Indom*ret untum dapat uang kertas yang akan saya tabung di Jenius!. 

Saya memilih indom*ret, karena saya sering belanja disitu, dan dapat uang receh paling banyak juha dari situ. Jadi nanti mungkin… mungkin ya… nanti kalau dapat susuk, mungkin… itu adalah uang receh lama saya.

Photography

Fotografi fantastis #5

Jumat minggu ini saya menemukan foto unik hasil jepretan Raghav Sethi dari India. Walau saya tak begitu mengerti seluk beluk cara menilai foto kategori street photography ini, namun sepintas hasil karya Sethi seperti foto-foto mainstream di jalanan New York atau Tokyo. Gemerlap malamnya sama, namun makna-nya berbeda. Manusia yang terjepit diantara mobil yang berjubel bak semrawutnya kemacetan malam menjadi khas bahwa ini India!

Official Entry: Street Photography Awards 2017: Raghav Sethi – India

Stories

Pentol penantian

Penantian pentol tak dapat dielak kan dan penjual pentol masih bertebaran.

Mereka menjamur daripada jajanan jamur. Masih dan bahkan ketemu salah satunya di gang kuburan.

Penantian pentol tak dapat dielak kan dan rasa pentol masih penuh kenikmatan.

Melihat bagaimana mereka dibuat ala trasidi kepalan tangan. Masih dan bahkan kenikmatan pentol semakin terasa rasa angan.

Penantian pentol tak dapat dielak kan dan harga pentol masih jauh terjangkau jangkauan.

Setiap anak kecil yang minta uang saku pada ayahnya untuk beli pentol pasti diberikan. Masih dan bahkan setiap orang dewasa beli pentol dengan anggapan harga ringan.

Penantian pentol tak dapat dielak kan dan bukan karena keadaan di atas yang menyebabkan.

Karena bagaimanapun, pentol yang dibelikan adalah idaman, lebih dari sekedar fakta penjual pentol yang bertebaran, kenikmatannya, atau murahnya harga mereka, karena dibelikan menaikkan rasa akan segalanya, sampai akhirnya, penantian saya sudah terlalu lama, seperti bait terakhir ini yang terlalu panjang, hingga penantian pentol berubah nestapa menjadi pentol penantian.

Pentol penantian – puisi untuk seorang yang menantikan pentol dengan harapan dibelikan.

Stories · Tantangan 30 Hari

Tantangan 30 hari: nadzar sholat subuh

Sebelumnya, meleset dari perkiraan awal, baru tanggal 2 saya memutuskan untuk menjalankan tantangan 30 hari kedua, yaitu sholat subuh. Mengapa? karena itu sholat yang paling keteteran bagi saya (dan mungkin banyak khalayak yang juga seperti itu). 

Dengan niatan sekaligus, yaitu ingin memperbaiki sholat subuh saya, juga ingin membuktikan keberkahan dari solat subuh  Karena ibu saya sering menasehati: subuhan itu penting bagi orang muslim, untuk membentuk karakter, dan biar tidak lumuh (malas berlebihan yang tidak jelas penyebabya> dan sering dilabelkan pada saya -_-).

Saya ingin berubah… mumpung dalam momen tahun baru, karena semangat saya terdorong oleh kehangatan nasi goreng. 

Tantangan 30 hari kedua ini saya rasa lebih berat, karena tantangannya adalah waktu. Saya akan terbiasa bangun subuh…. yeah! 

Semoga anda juga dapat berubah lebih keren dari saya, dan semoga tantangan ini tidak menjadikan riya’ (karena soal kesombongan, saya adalah pribadi yang beusaha sombong sampai sombing). Benar lagi kata ibu saya, kalau batuk itu harus dikeluarkan riyak-nya biar cepet sembuh, begitu juga kalau beribadah, harus dikeluarkan riya’ nya biar cepet tumbuh (istiqomahnya).

Amin….

Stories

Segelas air galon terakhir dari tahun 2017

Pergantian tahun beberapa jam yang lalu dapat saya simpulkan dengan tiga kejadian: 1) kembang api dimana-mana, 2) instastory, dan 3) minum-minum.

Satu: Kembang api selalu menjadi komposisi wajib dalam merayakan tahun baru. Banyak disana sini kembang api dan yang paling membuat saya tahu itu kembang api adalah dari suaranya. 

Memang yang indah adalah nyala warni cahayanya. Namun suara duarr-nya yang terlampau nyaring menganggaung di gang kos pada pukul 23.50 sampai 00.15 membuat hati ini sedikit mangkel dan mata ini terbelalak terjaga dari tidur.

Dua: Momen tahun baru tentu jadi ajang update instastory siapapun, dengan pesan apapun. Saya juga ikutan, tapi dengan story berbeda. Bukan tentang momen tahun baru ala bakar bakar dan kumpul bersama yang dicinta. Story saya memang tentang cinta, tapi sangat murni tentang konsep cinta, tidak ada tokoh orang didalamnya.

Bukan saya jadi baper karena hanya di kos, dan sendirian… (anggap saja sendirian). Namun kebetulan saja sedang baca artikel dan eh nemu quote itu.

Tiga: Minum-minum. Mungkin ini yang menjadi pembeda peristiwa tahun baru kali ini. Saya kira anda semua tahu lah kalau seorang lagi minum-minum, berarti dia memang sedang minum-minum. Saya ingin menjernihkan makna ini dari kemabukan, karena minum adalah salah satu tindakan dasar dari manusia untuk melanjutkan hidup. 

Saya tidak mengatakan juga bahwa minum-minum pada pergantian tahun inu adalah cara saya merayakan tahun baru. Benar, hanya kebetulan saja haus saat itu, dan keadaannya, kebetulan yang tersisa hanya segelas air galon yang kemudian saya minum dan masih menyisakan dahaga ditenggorokan. 

Seperti iklan yakult, saat itu saya ingin minum dua (gelas). Tapi tersisa dicerek hanya cukup menampung satu gelas (itu pun tidak penuh), sehingga kejadian minum-minum pada pukul 00.02 di tanggal 1 januari 2018 membuat saya teringat betapa pentingnya air untuk minum-minum, tak terkecuali di malam tahun baru.

Photography

Fotografi fantastis #4

Mengakhiri tahun 2017, foto yang menjadi cerita ini adalah kerumunan orang-orang dalam konser Massive Attack di kota Pula, Kroasia. 

Latar merah menjadi khas keadaan saat itu, dan photo yang diambil pada tahun 2016 ini berusaha menunjukkan cerita “exist” –munculnya budaya selfie yang mempengaruhi selera kita dan menunjukkan pada dunia, bahwa kita ada, melakukan sesuatu, saat itu, di tempat itu.

©-Jelena-Janković-Winner-Serbia-National-Award-2017-Sony-World-Photography-Awards

Uncategorized

Ketika konsep berubah jenuh menjadi konslet

Saya percaya membuat konsep itu bukan pekerjaan yang mudah. Tujuan tuk buat konsep memang hakikinya untuk mempermudah menemukan solusi. Tapi saya rasa prosesnya memperberat saya berpikir, menjadikan otak saya mode overclock, yang riskan panas dan mudah konslet.

Pembuatan konsep adalah dari proposisi yang terdiri dari variabel. Kalau variabelnya jelas variannya, ya tak terlalu sulit diracik proposisi dan dibuat konsepnya. Sayangnya banyak variabel dalam lingkungan kita yang variannya tidak jelas. Kalaupun jelas, variannya jelas-jelas abu-abu. Hmm… abu-abu.

Benar, saya tak mengada-ada. Membuat konsep itu bukan pekerjaan mudah, dan seperti di atas, anda pasti paham. Tapi kalau anda belum paham? Jadi begini, Konsepnya adalah….

Stories

Yeah akhirnya…

Hari ini… setelah sekian lama menunggu, akhirnya saya terbebas dari “harus menulis setiap hari…yeah!”, hati jahat saya berkata seperti itu. Tapi sebelum menyadarinya–mengapa saya tetap menulis ini? mengapa tak dipikirkan saja, tanpa ditulis? Sungguh hari ini seharusnya saya tak menulis.

– bukan kutipan –

Stories

(Bukan) perayaan tantangan 30 hari

Cerita pemikiran sejenak edisi ke 3 kemarin adalah hari terakhir dari serangkaian perjalanan menulis dalam tantangan 30 hari yang saya deklarasikan. Memang tak terasa sudah, dan tantangan ini akhirnya selesai.

Ini yang saya rasakan:

  1. Bahagia? ehm… ya bisa, ya tidak. Karena selama ini saya memang bukan penulis, dan dipaksa menulis selama 30 hari adalah sesuatu yang gado-gado. Kadang bersemangat, menyenangkan, menjenuhkan, menyedihkan, dan akhirnya membiasakan.
  2. Terbiasa? ehm… ya mungkin. Karena saat ini saya merasa lebih percaya diri (lebih tepatnya tidak mikir terlalu mbulet) apa-apa yang akan saya tulis.
  3. Penulisan? ehm… tidak cukup peduli. Hehe, saya tidak peduli apapun tulisan saya, sejelek atau sebagus apapun, dan haruskah ikut peraturan harus fokus pada satu topik, aturan SEO penulisan atau yang semacam kawan-kawannya? saya memakai plugin Yoast SEO yang menilai hampir setiap tulisan saya adalah: Readibility: Not Good; SEO: Not available > gak tak pikirin.
  4. Tergugah? ehm… baru terbangun. Karena kemudian saya menjadi lebih suka untuk menuangkan pemikiran dan cerita dalam tulisan, yang sebelumnya saya tuangkan dalam dialog-dialog imajinasi pikiran saya.
  5. Terus? ehm… Insyallah. Karena ke depan saya akan tetap menulis, tapi ya nggak setiap hari lah ya. Setidaknya akan lebih sering dari apa-apa yang saya tulis pada sebelum tantangan ini.

Lima poin di atas adalah yang saya rasakan selama menjalani tantangan menulis 30 hari ini. Walau masih banyak dari standar kebagusan menulis yang belum tercapai. Karena standar itu sangat subyektif, jikalau saya boleh membela diri hehe. Tapi yang terpenting adalah dampaknya.

Dampak awal yang saya harapkan adalah agar saya tidak berpikir berlebihan, lebih konsisten, dan persisten.

Dampak nyata yang saya terima adalah “Alhamdulillah”, yang artinya ada kemajuan pada tiga harapan tersebut.

Yang paling utama adalah: pada pikiran saya semakin terarah. Menulis memperkosa pikiran saya agar tidak ngelantur dan bergumam negatif kemana-mana. Menulis membuat saya mudah fokus untuk mencurahkan isi dari pikiran ini. Dan selama 30 hari ini, saya belajar konsisten dengan segala cara (entah menulis lewat laptop, hp, atau tulisan tangan…, yang penting setiap hari menulis).

Yang paling seru adalah: menulis, atau saya katakan secara luas tantangan 30 hari membiasakan hal baik ini membuat saya mendapat pengalaman tak terduga sebelumnya. Seperti menata paving dalam jalanan yang lebar nan panjang, tantangan 30 hari membuat saya semakin pede untuk mencapai hal-hal besar, dengan langkah-langkah kecil.

Namun, permainan baru dimulai. Pada akhirnya ini adalah awalan. Tantangan 30 hari akan saya jalani kembali dengan membiasakan hal baik lain. Saya akan deklarasikan lagi tanggal 1 Januari 2018. Ya… mengapa harus menunggu tanggal itu? biar dikata punya resolusi tahun baru lah. gitu.

Sebagai penutup, menulis tentu akan tetap menjadi kebiasaan saya. Ibarat 30 hari adalah masa roket lepas landas, nanti akan ada cerita “Kebiasaan 60 hari” sebagai masa roket menembus langit, sebagai lanjutannya.

Jadi, Alhamdulillah…

Stories

Pemikiran sejenak #3

Cerita ini berbeda dengan pemikiran sejenak sebelumnya. Karena ini berasal dari beberapa orang yang menurut saya telah mempunyai pengalaman yang pantas untuk mengatakannya.

Ini adalah kutipan yang saya peroleh dari artikel ataupun video dari mereka.

Terpilih tiga kutipan yang saya bagikan kali ini, dan berasal dari latar yang berbeda-beda. Dari pemikiran sejenak orang tua (yang sekaligus menjadi peneliti orang tua) anak-anak berkebutuhan khusus; dari pemikir dua arah yang bijak lagi energik; dan dari penulis bestseller yang berbagi pengalamannya tentang boss.

You lose touch with what is ideal and start accepting what is, for better or worse. – Seth Meyers

People might hear what you say, but they always remember what you do.- Seth Godin

Let’s never forget … that whatever brilliant ideas you have or hear, that the opposite may also be true. – Derek Sivers

*link rujukan untuk membaca lebih lanjut dapat anda klik pada tautan nama beliau-beliau di atas.

Awesome Stories & Inspirations · Stories

Akan tiba saatnya…

Kalau saya saat ini sedang merasa suntuk dengan beban pekerjaan yang menumpuk. Itu bukan salah keadaan yang seakan memojokkan kesempatan saya untuk bahagia.

Kalau saya saat ini sedang kurang sehat dengan tubuh ringkih yang mudah terserang flu pancaroba. Itu bukan salah saya yang kurang olahraga, atau malah karena saya memaksakan untuk berolahraga.

Kalau saya saat ini sedang mudah galau dengan tingkat suasana hati yang tak menentu. Itu bukan salah mereka yang menarik hati ini dan membawa pahit bercampur dengan manis kedatangan-pergi dia.

Mengapa saya berpikiran seperti ini, karena akan tiba saatnya, masa dimana hidup saya akan bahagia berkepanjangan dan mulai bosan karena terlalu bahagia. Berharap dan merindukan keadaan-keadaan saat ini, kapankah akan terulang kembali?

Uncategorized

Aliran suasana hati

Jangan memaksakan yang seharusnya. Lepaskan kegundahan tentang segala hal…. dan sudahlah. Jangan memprediksi semua perkataan dan setting adegan dalam seperdetik masa depan hidup ini. Bahkan jangan memikirkan bagaimana semut-semut itu dapat menyebrang jalanan protokol di perkotaan.

Jikalau memang keadaan semakin menyeramkan tanpa intervensi pikiran saya, maka biarkanlah (saya mengatakan pada diri sendiri “biarkanlah”). Karena bukan intervensi yang sebenarnya selama ini telah saya lakukan. Hanya pencegahan ala ala traumatik yang menghancurkan.

Membuat keputusan, kebiasaan, dan kedewasaan butuh ketenangan. Memberi ruang pada pikiran untuk menerima aliran pada keadaan disetiap detik hidup ini, membuat suasana hati semakin tenang. Bukan karena tenang tak ada ombak, tapi tenang karena saya telah tahu, banyak dukungan yang saya dapat untuk hidup bersama ombak itu.

Aliran suasana hati ini, saat ini dan nanti, semoga semakin tenang, dengan menikmati aliran hidup ini.