Stories

Hidup pada usia 20-an

Banyak bukit-bukit yang harus kita capai pada kehidupan ini. Entah itu bukit yang benar-benar anda impikan, atau anda terpaksa menaiki puncaknya, karena keinginan orang lain. Bukit karir, cinta, kekayaan, kebahagiaan, menikah, punya anak, cucu, dan bukit-bukit lain yang setiap orang mungkin punya referensi bukit berbeda yang ingin dituju.

Banyak dari kita yang percaya dengan asumsi “di usia 30-an lah kita akan menaiki bukit-bukit itu”. Tanpa menunjukkan rasa memihak secara sepihak, karena yang dikatakan bu Meg Jay adalah fakta, bahwa “usia 30-an anda bukan sebaru usia 20-an”. Artinya, masa penting dalam hidup anda adalah di usia 20-an > untuk menemukan jati diri siapa sebenarnya anda, dan bukit mana yang memang anda sangat ingin capai.

Cobalah hal baru, lihat dan rasakan berada dalam luar lingkaran “pakem” anda, alami pengalaman diatas perkiraan anda, kegagalan yang banyak akan menuntun anda lebih mudah belajar > untuk menemukan diri anda pada kehidupan 30-an, 40-an, 50-an, 60-an, dan seterusnya masa depan anda.

20-an bukanlah usia untuk bagaimana melewatkan masa ini untuk bersenang-senang. Semua tergantung anda. Saya sendiri menyadari banyak hal yang belum saya coba dan lakukan dengan 100% bernyali hati penasaran dan yakin. Saya akan menggunakan sisa delapan tahun di usia 20-an ini untuk benar-benar menemukan siapa diri saya. Semua tergantung saya.

Karena usia 30-an yang diperkirakan akan menjadi awal hidup ini, bukanlah hal sebaru pada usia 20-an.

Uncategorized

Akhirnya kau hilang

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di mana-mana. Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa-bahasa jauh. Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela rumah berbulan-bulan tidak dibersihkan atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah.

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di jalan-jalan yang lengang atau bangku-bangku taman yang kosong. Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota seperti perpustakaan raksasa yang meleleh. Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara, dan aroma makanan yang kurang atau terlalu matang.

Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong saat aku pulang dengan kamera dan kepala berisi orang-orang murung yang tidak kukenal. Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar. Buku cerita yang belum kelar kau baca telungkup bagai bayi tidur di dadamu. Tidak sopan, katamu, mengerjakan hal lain sambil menyimak kesedihan dinyanyikan.

Akhirnya kau hilang. Kau meninggalkan aku — dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa.

Puisi Akhirnya Kau Hilang – oleh Aan Mansyur

Uncategorized

Ozymandias

I met a traveler from an antique land
Who said: “Two vast and trunkless legs of stone
Stand in the desert . . . Near them, on the sand,
Half sunk, a shattered visage lies, whose frown,
And wrinkled lip, and sneer of cold command,
Tell that its sculptor well those passions read
Which yet survive, stamped on these lifeless things,
The hand that mocked them, and the heart that fed:
And on the pedestal these words appear:
‘My name is Ozymandias, king of kings:
Look on my works, ye Mighty, and despair!’
Nothing beside remains. Round the decay
Of that colossal wreck, boundless and bare
The lone and level sands stretch far away.”

Puisi “Ozymandias” – Percy Bysshe Shelley

Stories

Amal

*مِنْ عَلَا مَاتِ الْإِعْتِمَادِعَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَوُجُوْدِ الزَّلَلِ.*

“Diantara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya adalah merosotnya rasa harap (kepada rahmat Allah) manakala mengalami kegagalan”.

*-Ibnu Athoillah As Sakandari-*

Stories

Komunikasi dengan hati

Pengalaman awal menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK dapat ku gambarkan unik.

Pertama berkunjung ke yayasan, dipertemukan dan berinteraksi dengan anak-anak spesial–bahkan dalam paket jumbo. Lima anak sekaligus!. Aku waktu itu hanya sendiri, satu ruangan dengan mereka.

Ada dua anak yang anteng duduk, dengan meja kecil dihadapannya lengkap dengan kertas dan crayon–tapi dia bingung mau gambar apa. Ada yang sedang merangkai puzzle di lantai. Ada juga yang suka main plorotan dan terus… plorotan dan terus… plorotan dan terus… Lalu ada yang muter-muter sambil bawa mainan bola-bola kecil. Nah, yang paling keren itu ada yang muter-muter, tidak bawa mainan apa-apa, tapi dia seneng banget naik meja loncat dari kursi ke kursi, ke meja lagi… ke kursi lagi… hmmm.

Aku gugup dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Yaudahlah yang penting niat pedekate ke mereka.

Dan hasilnya sudah terduga. Aku yang jarang pedekate ke cewek (*tidak ada keterangan lebih lanjut) sekarang mencoba pedekate ke anak, anak spesial. Hasilnya dicuekin.

Tapi… ya… , awalnya mereka cuek dan saya tidak menyerah. Terbukti lama kelamaan aku dapat menjalin komunikasi. Walaupun tidak intens.

Tapi jangan dibayangkan komunikasi dengan mereka layaknya gaya ke anak biasa. Aku masih ingat pada waktu itu adalah pengalaman pertama bisa belajar memahami komunikasi sejati. Dalam pengertian yang lebih luas, komunikasi dengan hati–kita menyebutnya.

Komunikasi dengan hati ini bukan berarti membuat  baper ya. Tidak dibutuhkan baper dalam cerita ini.

Menurutku berinteraksi dengan anak-anak spesial ini membuat ku terlatih untuk terbiasa dengan kenuikan gaya mereka. Hal lain adalah membuat ku berlatih fokus, karena makna pesan yang diberikan tidak melulu pada verbal yang mereka utarakan, namun juga melalui indera mereka, seperti gerakan tangan, sentuhan, ekspresi wajah, tindakan, dan lainnya.

Dari ini, aku belajar bahwa sebesar apapun hambatan kita berkomunikasi, kalau memang niatnya dari hati, akan bermakna dan akan sampai pesannya. Berbeda dengan keadaan dimana sekecil apapun hambatan kita berkomunkasi, kalau memang niatnya tidak dari hati, akan tidak bermakna. Tidak akan sampai pesannya.

Aku sering dapat wejangan–“ikuti dunia mereka”, “jangan disambi”. Nasehat yang ku dapat dalam maksud lain adalah–“jadilah pendengar dan pengamat yang baik”, “jangan setengah-setengah dalam memahami mereka”.

Prinsip ini aku kira sangat bisa diterapkan dalam lingkup lebih luas. Kepada anak-anak spesial ini, orang tua mereka, teman kolega, teman relawan, teman pendamping hidup (pasti ada!), dan teman-teman yang lain. Prinsip ini juga bisa diterapkan pada musuh atau orang yang membenci kita. Kalau gak percaya coba lakuin aja, nanti cerita ke aku ya hasilnya kaya gimana.

Berinteraksi dengan anak-anak spesial ini menurut saya malah mereka yang memberikan pelajaran berharga. Aku dapat pelajaran cara berkomunikasi dengan benar-benar berkomunikasi.

Sedangkan bertemu dengan mereka, orang tuanya, serta teman-teman relawan dan staff di lingkungan ini memberi pengalaman yang tidak aku harapkan ada–di kehidupan aku yang datar-datar saja.

Karena pengalaman ini sangat mengagumkan, menjadi relawan ternyata lebih luas manfaatnya daripada persepsi pikiran aku.

Stories

Aku, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Pak Ading bilang menulis adalah hal yang mudah. Pak Ading adalah seorang blogger, childhood trainer, dan mentor kami (di yayasan saya bekerja) yang keren menurutku.

Ardy bilang menulis, meskipun di blog, itu sulit. Lebih mudah mengungkapkan pemikiran lewat video, katanya. Ardy adalah seorang teman nangkringku di giras yang punya minat bikin video keren tentang apapun (walaupun masih proses, katanya).

Aku bilang di dalam hati, “alah mbuh ah” (maaf, bahasa di dalam hati yang sering aku pakai adalah bahasa jawa, terjemahannya adalah “ah saya nggak tahu”).

Aku adalah orang biasa, yang merasa anti mainstream di tengah orang-orang luar biasa. Aku adalah orang bias, yang mengenal asa. Dibilang suka menulis juga enggak, jago menulis…?hmm apalagi. Punya blog juga amatiran, bukan seorang trainer, atau bahkan mentor seperti Pak Ading, dan saya tidak suka membuat video seperti Ardy.

Aku hanya seorang yang terlalu mikir, dan ku pikir menulis adalah relatif.

Relatif mudah, kalau menulis pengalaman yang indah. Relatif sulit, menulis hal yang kita sukai–tapi berbelit-belit, karena topik itu belum terkuasai. Relatif enggan, tentang pengalaman pahit dan angan-angan balikan. Relatif bosan, tentang cerita sehari-hari–dan yang lainnya adalah relatif malas….(kalau ini memang yang saya alami, apapun, tidak hanya persoalan menulis). Akhirnya kesimpulan saya: relatif bingung untuk menyimpulkan ke-relatif-an menulis.

Hah, sudah kuduga kalau, aku, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Stories

Curiga

Kita hidup di masa yang penuh kecurigaan dan, saya pikir, itu perangkap besar yang bisa membuat kita tidak mampu berbuat apa-apa untuk orang lain. Kita cuma mau melakukan hal-hal tertentu demi kepentingan diri sendiri.

— Aan mansyur —

Stories

Spesial

Melihat pada cerita awal blog ini, kalau dikenang-kenang memang tidak ada yang kebetulan. Aku menemukan titik nyambung, dari membaca buku sampai berkesempatan berbagi dan berperan untuk mereka yang spesial–yang sampai saat ini masih tak menyangka.

Mengapa buku Life Without Limit karya Nick Vujinic terbaca oleh saya, kemudian saya tulis cerita tentang Nick dan copypaste puisinya: Unicorn Bersayap Plastik. Seperti kenyambungan, karena beberapa bulan setelah itu, saya masuk dalam lingkungan dimana anak-anak spesial berada.

Yang aku maksud spesial adalah mereka, anak kebutuhan khusus. Seperti autis, down syndrome, cerebral palsy, tuna grahita, gangguan pendengaran, tuna visual, dan lainnya. Penggunaan representasi kata yang tepat selain “berkebutuhan khusus” memang sulit dilakukan, karena pilihan kata lainnya adalah disabilitas, cacat, kurang mampu, yang menurutku sendiri kurang berkenan di hati.

Sebenarnya ada kata “difabel” yang saya masih ingat disarankan oleh Mas Bayu (psikolog kami, dan orang keren yang sering mengucap kata yuhuuu). Difabel atau different ability kemudian yang saya pahami memang mirip-mirip lah dengan berkebutuhkan khusus.

Hmm….memang sampai saat ini pun penggunaan pemilihan kata masih belum ada yang fiks. Baik yang dipakai kita (yayasan), pemerintah, dan UNESCO.

Tapi tak usah ambil bingung, intinya saat itu saya bersyukur dapat bergabung menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK, tepatnya pada September 2016.

Titik awal inilah yang menghadirkan cerita-cerita diluar “biasa” pada selama setahun berikutnya, pada kehidupanku.

Stories

Akan tiba saatnya…

Kalau aku saat ini sedang merasa suntuk dengan beban pekerjaan yang menumpuk. Itu bukan salah keadaan yang seakan memojokkan kesempatan aku untuk bahagia.

Kalau aku saat ini sedang kurang sehat dengan tubuh ringkih yang mudah terserang flu pancaroba. Itu bukan salah aku yang kurang olahraga, atau malah karena aku memaksakan untuk berolahraga.

Kalau aku saat ini sedang mudah galau dengan tingkat suasana hati yang tak menentu. Itu bukan salah mereka yang menarik hati ini dan membawa pahit bercampur dengan manis kedatangan-pergi dia.

Mengapa aku berpikiran seperti ini, karena akan tiba saatnya, masa dimana hidup ku akan bahagia berkepanjangan dan mulai bosan karena terlalu bahagia. Berharap dan merindukan keadaan-keadaan saat ini, kapankah akan terulang kembali?

Stories

You have to do it yourself

Nobody is going to do your life for you. You have to do it yourself, whether you’re rich or poor, out of money or making it, the beneficiary of ridiculous fortune or terrible injustice. And you have to do it no matter what is true. No matter what is hard. No matter what is unjust, sad, sucky things befall you. Self pity is a dead end road. You can make the choice to drive down it. It’s up to you to decide to stay parked there or to turn around and drive out – Cheryl Stryed.

Stories

Auto pilot

Thinking is a high energy activity; is takes a lot of energy to think. So whenever we think, we try to think as short as possible, and then we return to auto pilot. Over 95% of our life, we run on auto pilot.  – Paul Rulkens –

Cerita kali ini lebih berbagi video TEDx Maastricht tentang bagaimana menjadi mayoritas itu adalah baik dan membuat kita “normal”. Pesan yang ingin disampaikan oleh Rulkens adalah betapa banyak orang normal yang membentuk norma mereka sendiri di dunia ini.

Kita menjadi berpikir di dalam kotak, yang bahkan kotak itu sangat kecil, tanpa kita sadari, sehingga banyak dari hidup kita ternyata berlajan dengan mode auto pilot. Mode ini diibaratkan bahwa kita seperti tidak memegang kendali penuh dalam hidup kita sendiri.

Jadi…

Jadilah seperti yang kalian inginkan. Jadilah dari bagian kaum 97% yang “normal” atau memilih kaum 3% yang tidak normal, yaitu mereka yang benar-benar diluar kotak.

Stories

Charity

For me, charity is practical. It’s sometimes easy, more often inconvenient, but always necessary. It’s the ability to use one’s position of influence, relative wealth and power to affect lives for the better. charity is singular and achievable.

There’s a biblical parable about a man beaten near death by robbers. He’s stripped naked and lying roadside. Most people pass him by, but one man stops. He picks him up and bandages his wounds. He puts him on his horse and walks alongside until they reach an inn. He checks him in and throws down his Amex. “Whatever he needs until he gets better.”

Because he could.

– Scott Harrison – from charity:water

Stories

Saling mendoakan

Alhamdulillah, aku merasakan benar menanti datangnya bulan Ramadhan tahun ini. Rasa yang berbeda, melihat lebih mudahnya kita merenung, memikirkan betapa indahnya susana pagi, siang, sore, dan malam yang penuh syahdu iman.

Yang biasanya aku, dengan mudahnya melalaikan setiap detik bersama Tuhan, menjadi lebih sulit, dan semakin sering terngiang. Tapi aku bersyukur melihat perubahan hati ini. Walaupun masih ada niatan “jika saja keminuman es teh mantap di siang hari”. Ya tapi… semoga (kemungkinan terjadi masih ada, dan Amin…), karena barangkali akan menambah rasa syukur aku dengan cara yang berbeda, sebagai seorang yang berusaha puasa (tapi semoga juga tidak keblinger).

Yang biasanya aku, dengan mudahnya melihat masjid sebagai tempat yang hanya lewat, sekarang semakin banyak orang yang mengerumuni. Hati ini menjadi iri sekaligus sungkan, apakah masih layak berkerumun?. Tapi nafsu baik jangan dilawan, dan entah apa kata nafsu yang lain, entah apa nafsu dari orang lain.

Memang keberkahan Ramadhan hanya Tuhan yang Maha Tahu, sedang manusia menerka-nerka. Apa keberkahan —  dan siapa yang dapat? Sayang sekali lagi mereka hanya menerka dan seringnya hanya menerka orang lain, apakah kamu mendapat — apa keberkahan?

Larilah dari terkaan. Hayati penuh Ramadhan ini, dan mari saling mendoakan. Karena itu merupakan anugerah terindah, cinta manusia dari mencintai pencipta-Nya.

Allahumma Ya Allah… berikanlah keberkahan dan keridhaan yang baik, dari bulan Ramadhan-Mu yang indah ini. Berikanlah kepada kami semua, orang tua kami, saudara kami, dan umat muslim di seluruh dunia.

Amin.

Stories

Storylistening

Beberapa hari ini, aku mencoba lebih kritis terhadap pribadi ini untuk kemajuan, karena merasa semakin berkurangnya orang yang menjengkelkan di dekatku (atau sebenarnya aku sudah terbiasa dengan mereka), sehingga kelenaan ini membuat jembatan menuju kebosanan dan pembenaran terhadap pribadi sudah terlalu berlebihan.

Ya, akhirnya hari ini aku menemukan sesuatu yang mencerahkan (sedikit banyak) karena sudah lama tak melihat dan mendengar gaya bicaranya Bapak Maeda yang kharismatik (unik dan mengintimidasi, namun tidak radikal dengan kelucuan alami mimik wajah dan gestur beliau).

“From Storytelling to Storylistening” mengingatkan aku untuk lebih melihat — bahkan lebih — memahami kelebihan “superioritas” setiap orang yang aku temui, sehingga aku akan lebih menerapkan storylistening, yang memang sangat berguna untuk mengkritisi diri aku, yang kemudian berguna bagi perkembangan “belajar lebih banyak” dan “bertindak lebih baik”.

 

Stories

Isu

Hai Isu.. bagaimana tanggapan atas benturan keyakinan dan keadaanmu sekarang? Sudahlah, jangan terlalu serius. Jadilah penganut ide baru dengan pemahaman ideologi lama. Jadilah orang biasa yang mengagumi seni, dan tanyakan apakah kamu bisa memikirkan sesuatu yang tidak bisa kamu pikirkan? Sudahlah jangan terlalu serius, ini hanya cerita isu.

Stories

2th ICSEN

Aku bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk turut serta dalam 2th International Conference on Special Educational Needs di Univesitas Pendidikan Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih pada Yayasan Peduli Kasih ABK karena telah mewadahi A-Z kebutuhan dan dukungan selama ini.

Terima kasih pada dokter Taat Tigore, dengan kerendahaan hati beliau dan bantuan berlimpah yang beliau berikan pada saya, juga pada Pak Iwan dan Bu Ernie Siregar. Tak lupa terima kasih saya pada mas dan bapak ojek online yang selalu setia menemai saya berduaan di sepanjang jalan Kota Bandung,.

Pengalaman ini sungguh luar biasa.

Seminar ini mengundang pembicara inti Prof. Kawaii dari Hiroshima University, Dr. Bari dari SEAMO SEN, dan Dr. Seto Mulyadi (Kak Seto-nya kita).

Beliau-beliau ini membawakan materi yang menarik, mengusung fokus pada: 1) pendidikan untuk ABK dengan metode peer-to-peer, 2) bagaimana ABK juga mempunyai kesempatan yang sama dalam dunia kerja, dan 3) bagaimana membuat ABK tumbuh subur, mengeluarkan potensinya yang unik dalam lingkungan yang ramah. Hemat saya, memang sesi simposium ini memberikan pencerahan, penyemangat, dan merilekskan, tanpa menghilangkan kenyataan bahwa betapapun kompleksnya masalah ABK, kita tidak sendiri. Banyak dari kita yang peduli.

Aku dan rekan-rekan (terima kasih pada mbak Yaya, mas Bayu, dan Dr. Sawitri) turut serta dalam seminar ini dalam rangka menyampaikan hasil awal PKABM (Program Peduli Kasih ABK Berbasis Masyarakat) melalui paper yang berjudul “Penerimaan Orang Tua sebagai bagian dari Penanganan ABK Melalui Kerjasama Orang Tua, Keluarga, dan Masyarakat Sekitar”.*

*ingin tahu lebih lanjut sila kunjungi web yayasan.