Book Reviews

Ayah yang kaya (memang) mengajarimu jadi kaya

Pertama lihat buku ini di perpustakaan, awalnya tak begitu tertarik, karena di covernya terpampang seorang Robert Kiyosaki. Aku tak begitu suka dengan cover buku yang ada foto orangnya. Mending karikatur atau setidaknya desain abstrak lebih ok. Karena foto si pengarang pun dapat dan lebih bagus ditempatkan di lembar akhir saja.

Memang subyektif menilai buku dari covernya. Tapi pembelaanku sah saja. Cover menarik membuatu berprasangka baik terhadap isinya. Walau tak 100% valid, tapi setidaknya banyak yang selaras, sepengalamanku. Kalau mengikuti pepatah “jangan hakimi dari covernya”, sebenarnya, pun banyak yang lebih parah, bahkan tak hanya buku, seluruh kehidupan orang lain banyak kok yang ter-nilai dari covernya. 

Lalu, setelah aku skip di perpustakaan, beberapa bulan kemudian, takdir berkata lain. Waktu bersih-bersih lemari ruang tamu di rumah nenek, aku menemukan buku ini dalam versi cetakan lawas, tak ada gambar Robert-nya. Hanya tulisan “Rich dad, Poor dad”, dengan desain simple berlatar putih. Ya, begini ini yang seharusnya, kan?, jadi aku tak sungkan melihatnya, tipis-tipis melihat halaman-halamannya secara acak dan batinku, ah…, pantaslah kalau jadi bacaan selingan diwaktu senggang.

Book Review Rich Dad Poor Dad

 

Pertama baca, hal menarik yang aku dapat adalah alur ceritanya. Tentang masa lalu Robert. Aku suka buku yang bercerita tentang pengalaman nyata, walau dipoles atau apalah, itu lebih baik daripada teorika kurang nyata, walau itu juga baik, tapi kurang saja. Gaya penceritaan apa adanya, tak dilebihkan, walau terkesan kepercayaan diri Robet agaknya membuat dia tampak selalu benar dan sombong haha.

Masa kecil Robert di Hawaii penuh pemberontakan. Ia pintar dan kebanyakan orang pintar memang pemberontak. Ia sering bersilang pendapat dengan ayahnya yang miskin. Lihat, ia berani mengatakan ayahnya sebagai ayah miskin (bukan karena kekurang-kaya-nya–tetapi karena cara pandang ayahnya terhadap kekayaan tak sejalan dengan Robert).

Ayahnya yang miskin menganggap seorang anak harus melalui pendidikan yang berkualitas, dibangku sekolah berkualitas, sehingga nanti dapat kerjaan yang berkualitas, hidup berkualitas. Robert menganggap jalan seperti itu tak ada menariknya. Tetap saja ayahnya yang sudah bergelar doktor, harus pusing dengan beberapa pinjaman dan pajak yang kian hari kian tinggi. Robert pun diam-diam membandingkan ayahnya yang miskin itu dengan ayahnya temannya (seorang wirausahan top di Hawaii). Robert banyak belajar ilmu dan pengalaman tentang kepandaian finansial dari ayah temannya ini. Tak hanya itu, ia sering mendapat pemikiran-pemikiran yang luar biasa diluar ortodoks. Diam-diam ia sangat mengagumi ayah temannya itu, dan secara terang-terangan menganggap ayah temannya itu, sebagai ayahnya yang kaya. Ya, ia punya dua ayah, ayah kandungnya yang ia anggap ayah miskin, ayahnya temannya yang ia anggap ayah kaya.

Buku ini tak mengajarkanmu supaya durhaka pada ayah (kandung) mu. Membacanya lebih melihat kepada kejadian yang benar terjadi, konsekuensi, pola pikir, dan apa yang kamu inginkan, dari curahan pengalaman, dan doktrin dari Robert Kiyosaki ini. Tetap ia berhubungan baik dengan ayah kandungnya dan ayahnya temannya yang ia spesialkan itu. Tetap tak ada riuh keluarga, malah yang ada pembelajaran luar biasa. Kamu akan mengerti setelah membaca buku ini. 

Buku ini punya nilai-nilai keren. Seperti review dan banyaknya pujian yang diberikan, sampai-sampai ada yang menobatkannya sebagai salah satu buku pendidikan finansial terbaik. Prinsip jangan konsumtif, bedakan kebutuhan dan keinginan, pintar ketika membeli, jangan mau dibodohi oleh pajak dan doktrin umum tentang kekayaan, biarlah uang bekerja untukmu, tabur benih yang bagus dan berpanenlah sebanyak-banyaknya, dan jadilah orang kaya yang baik–setidaknya tanpa menyusahkan orang-orang yang kamu cintai, walau kamu tahu mereka baik.

Nasehat yang diberikan bukan dari Robert (langsung) untuk para pembaca. Melainkan dari Robert untuk Robert, untuk keluarganya, dan baru pembaca. Banyak contoh adalah dari dirinya, atau istrinya, dan sedikit dari orang lain. Aku suka contoh yang seperti ini, karena banyak buku lain yang juga bestseller sekalipun, di dalamnya hanyalah sekumpulan contoh-contoh dari orang lain, dibumbui tulisan-tulisan yang hiper, yang membuat kita termotivasi bak anget-anget nasi goreng.

Jadi, hematku, membaca buku ini membuatmu jadi manusia yang lebih bijak. Terutama dalam pandangan kerja, supaya terhindar dari lingkaran kerja bagai kuda, dengan gaji tak seberapa, tanggal satu foya-foya, tanggal dua terasa tua. Mulai harus lebih pintar dan bijak tentang finansial! (tanda seru itu, khususnya nasehatku untukku). Harus lebih menerapkan kebiasaan finansial yang baik, lewat cara-cara praktikal, yang bisa dimulai setiap hari, oleh setiap kamu, dari wejangan Robert tentang ayahnya yang kaya dan miskin, meski dia bukan ayahmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *