Book Reviews

Don’t make me think

Salah satu buku desain web, khususnya untuk hal ‘kebergunaan’ web yang saya sukai. Don’t Make Me Think: Panduan praktis membangun web yang logis karya Steve Kurg memang sangat mudah dipahami. Penjelasan web yang membosankan tidak terjadi di dalam buku ini. Kreativitas Kurg terlihat dari banyaknya penyambungan filosofi kebergunaan pada kutipan-kutipan novel yang telah ia baca (walau kadang ada yang tidak begitu nyambung). Namun hal ini tidak mengurangi sedikitpun ketajaman analisisnya terhadap bagaimana membangun suatu web yang benar-benar dibutuhkan dan tidak membingungkan penggunanya.

dont-make-me-think-steve-kurg

Salah satu pendapat (istrinya) Kurg yang saya sukai mengenai web (juga) dapat digunakan sebagai filososi untuk semua hal adalah: “Jika saya kesulitan menggunakan sesuatu, maka saya akan jarang-jarang menggunakannya”. Sederhana tapi menyeluruh terhadap pemikiran pengguna web.

Pendesain web seringkali berpikir salah tentang apa yang akan dilakukan oleh pengguna web ketika berkunjung ke suatu laman. Mereka beranggapan bahwa pengguna web akan membaca dengan runtut, teliti dan seksama pada laman itu, namun tidak.

Para pengguna web seringnya adalah membaca laman dengan tergesa-gesa. Geser ke bawah, ke atas, dan dengan acak menyeleksi apa yang kita pikir paling penting, dan mudah sekali bingung jika desain web yang ada terlalu kompleks. Ya, kita memang membedakan membaca web dengan membaca buku, dan itu yang terpenting yang harus dipahami para pendesain web.

Walaupun buku ini terdiri dari 12 Bab, namun saya rasa tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membacanya. Panduan-panduan yang mudah dan tidak kaku akan tetapi sangat esensial bagi kalian yang khususnya ingin atau sedang menekuni dunia web desain dan UX.

Book Reviews

The art dealing with people

Buku karya Les Giblin satu ini merupakan bacaan yang mudah dipahami yang mengandung nasehat-nasehat penting bagaimana kita seharusnya berhubungan dengan orang lain sebagaimana seharusnya, seperti yang benar-benar kita harapkan.

Pikiran saya ketika pertama kali melihat buku ini adalah ‘kecil, tipis, dan ringkas’. Oke, ini enteng.

Buku ini memang berukuran kecil, dan mempunyai 88 halaman. Namun isinya ditulis dengan rapi, padat, dan memperhatikan apa yang benar-benar ada penting.

The Art of Dealing with People

The Art of Dealing with People menurut saya sangat bagus untuk mengubah cara pandang untuk memenangkan hati diri sendiri dan orang lain. Hal yang sangat saya suka dari karya Giblin yang ringkas ini adalah tidak ada satu nasehat pun yang diberikan Giblin agar kita menggunakan cara ‘dahsyat’, untuk memanipulasi hubungan kita dengan orang lain. Semua nasehat yang diberikan merupakan langkah yang bersifat jangka panjang, tidak ada jalan pintas untuk memberi kita kemampuan mahir dalam bersosial.

Inti dari buku ini menjabarkan secara logis mengenai bagaimana berparadigma terhadap kebutuhan manusia mendasar mengenai ‘berhubungan sosial dengan orang lain’. Banyak nasehat yang ada berdasarkan pendapat ahli, seperti Sigmund Freud yang menjabarkan mengenai sifat dasar perilaku manusia, yakni id, ego, dan super ego. Memahami hal ini memberikan perspektif baru, yakni sejatinya kita semua ingin berhubungan baik dengan sesama, namun seringkali cara yang kita lakukan tidak tepat, terjadi kesalahan pandangan antar masing-masing aktor disini.

Sekali lagi, buku ini merupakan bacaan yang ringkas, dan kalian bisa menghabiskannya salam sekejap saja. Namun saya tidak menyetujui praktek membaca kilat, membaca cepat, atau istilah lain itu, yang kalian terapkan untuk membaca buku ini, atau pun buku-buku jenis lainnya. Seni membaca menurut saya adalah bagaimana kita menyelam ke dalam dunia yang kita mencari harta tersembunyi, dengan kesabaran dan perasaan senang, penuh pemaknaan sebagai bekal berharga sepanjang masa. Oleh karena itu, saya sangat menganjurkan membaca buku ini dengan santai, dan memberi jarak, yakni selesaikan satu bab. Cobalah praktekkan.

Book Reviews

Life without limits

Life Without Limits merupakan buku non fiksi yang mengambarkan perjalanan hidup Nick Vujicic, seorang yang berkebutuhan khusus, yang mengubah kekurangannya, bayang-bayangnya akan keputusasaan menjadi sebuah harapan dan kegilaan yang luar biasa. Nick merupakan seorang yang terlahir tidak mempunyai lengan dan tungkai, namun begitu, ia merupakan seorang yang aktif. Ia bahkan dapat berenang, berselancar, bersepak bola, melakukan pekerjaannya secara mandiri dan yang lebih hebat lagi, ia menjadi inspirator dunia yang telah mengunjungi berpuluh-puluh negara, termasuk Indonesia.

life whitout limits

Ketika saya membaca bagian awal dari buku ini, terdapat penekanan pesan semangat berjuang, pantang menyerah, dan tidak kenal putus asa dari seorang Nick, yang kemudian terus menjadi inti dari beberapa bab selanjutnya.

Perjalanan cerita dimulai dengan menggambarkan Nick kecil yang ketika lahir sudah menjadi tantangan yang luar biasa bagi orang tuanya. Hal ini memang sudah sewajarnya terjadi. Orang tua manapun akan memerlukan waktu untuk menerima anak yang tidak se’normal’ anak biasanya. Namun beruntung bahwa orang tua Nick merupakan seorang yang religius, sehingga berbekal kekuatan ini, mereka bersedia menerima, dan mencoba memahami maksud Tuhannya akan keadaan yang mereka terima ini kedepannya.

Kemudian cerita mulai berubah sudut pandang ke dalam diri Nick, yang mulai menyadari ke’aneh’an dirinya. Ia bergulat dengan perasaan-perasaan takut berlebihan, yang datang dari dirinya sendiri maupun lingkungannya. Setiap orang yang kuat pasti pernah mengalami titik nadir dimana ia hampir saja putus asa. Tidak ada orang yang kuat dan selalu bisa menampis segala permasalahan dengan penerimaan yang penuh, bahkan para Nabi sekalipun. Saya mengingat Nabi Muhammad pun pernah bersedih yang mendalam akan kematian istrinya Khadjihan r.a. tercinta dan pamannya Abu Thalib yang selalu memberikan perlindungan dan kasih sayang yang luar biasa. Namun yang membedakan dari semua itu, yakni orang yang kuat bertahan dan orang yang menyerah adalah bagaimana tindakan-tindakan penting (kecil maupun besar) yang ia lakukan ketika berada dalam titik kritis kehidupan. Nabi Muhammad secara sadar melakukan pendekatan diri yang lebih mendalam kepada Allah SWT, sehingga muncul tindakan untuk lebih giat lagi memberi dakwah Islam kepada kaum musyrikin, dengan prinsip bahwa ini adalah kehendak Allah yang memberi hikmah luar biasa dibaliknya. Sedangkan Nick ketika berada dalam titik ktirisnya, ia mencoba untuk bunuh diri, akan tetapi pada saat itu juga, ia secara sadar memikirkan konsekuensi jangka panjangnya, hikmah yang ada dibalik apa yang terjadi pada dirinya, dan kenangan buruk dari keluarga, teman-temannya dan orang yang pernah mengenalnya, apabila ia mengakhiri hidupnya dengan berputus asa, dengan bunuh diri.

Ketiadaan lengan dan tungkai merupakan anugerah tersembunyi yang secara perlahan ia dapat terima dan pahami. Ia menjadikan kekurangannya sebagai sumber inspirasi, terutama bagi orang lain yang mengalami kesedihan dan penderitaan. Nick dalam perjalanan hidup yang lebih jauh lagi, menemukan bahwa penderitaan setiap manusia itu telah diukur batas wajarnya sesuai kemampuan diri setiap manusia oleh Tuhan.Ketika melihat berbagai penderitaan yang lebih luar biasa, yang dialami oleh kaum miskin dan penderita penyakit AIDS di Afrika membuatnya semakin teguh dan lebih bersyukur.

Ketika kita berada dalam situasi terburuk dari permasalahan, seringkali kita enggan keluar dari perspektif diri sendiri, yang seringkali keliru.

Menghadapi permasalahan, seberat apapun, dengan berpandangan luas, bahwa ada sesuatu dibaliknya, maka kita akan lebih terbuka, lebih mampu untuk memahami, dan hal ini membuat kita hidup lebih bermakna.

Kita menjadi lebih sering peka dan perhatian terhadap penderitaan orang lain di dunia, dan hal ini memunculkan semangat untuk saling membantu…yang demikian itu, merupakan hal yang meringankan masalah kita sendiri.

Kira-kira seperti itulah review singkat dari isi buku Life Without Limits yang saya baca secara slow (kalem) ini. Saya berharap kalian juga membaca buku ini, karena saya ingin kalian juga merasakan perasaan yang memberi dampak baik bagi kehidupan kalian sendiri. Saya bersyukur karena telah membaca buku ini.

Jika diantara para pembaca ada yang sedang, atau sudah pernah membaca buku  Life Without Limits, ayo kita berdiskusi, membuat sesuatu yang lebih dari sekedar membaca.

Saya sangat senang menerima pendapat anda sekalian, siapapun anda, bahkan jika umur anda masih belum menginjak fase 20 tahunan.