Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Yang saya tahu saya perlu belajar menjadi pembelajar

Begitu banyak pengalaman tak enak (jengkel) ketika berbagi pikiran dan ide ide yang menurut saya kreatif karena ada salah satu atau beberapa teman yang tak sepemikiran, atau menentangnya. Memang pepatah yang saya pegang adalah: “hargai pendapat orang lain”. Namun pada kenyataan yang saya jalani sebagai prinsip adalah “hargai saya dulu, karena bagimu, saya adalah orang lain, kan?”.

Cerita kali ini berbicara tentang kekeliruan pemahaman, dan percobaan berbagi pemahaman baru tentang menjadi pembelajar. Latar belakangnya adalah karena arogansi saya yang mendapuk diri sendiri sebagai “pembelajar” padahal state-of-realities-nya saya masih jauh, masih tingkat kroco (precil, atau masih kecil, jauh dari tingkat atas). Apalagi ternyata niat saya hanya ingin cap itu.

Saya perlu belajar lagi bagaimana menjadi pembelajar, dan setelah beberapa kali baca artikel dan pendapat para ahli (ahli benar, Insyallah), saya mendapat kesimpulan ini:

Pembelajar tak pernah menganggap dirinya pembelajar.

Ia menganggap dirinya selalu menjadi orang yang miskin, kekurangan, dan haus akan hal baru, perspektif berbeda, kesimpulan baru, perubahan dan kebenaran yang lebih dari prakiraan pikirannya, yang mana ia benar-benar sibuk mengurusi semua hal itu, sehingga klaim atas “saya adalah pembelajar” tak pernah mereka gaungkan.

Memang jika tak lihai, kita banyak menemukan diluar sana sudah terlalu banyak orang arogan (knower-sok tahu-sotoi) yang berkali-kali mengklaim diri mereka sebagai pembelajar. Kita seringkali tertipu, dan mereka yang benar-benar pembelajar-pun tak risau dengan hal itu.

Karena sang pembelajar akan selalu menemukan muara kebesaran Yang Maha Bijaksana, yang itu lebih nikmat dari pengakuan manusia.

Sungguh nikmat ketika membayangkan mereka berkali kali mendapat “nikmat” yang tak terkira sebagai pembelajar.

Nikmat yang saya dambakan, walau masih menjadi pembayang, tapi karena saya tahu, saya masih perlu belajar menjadi pembelajar (agar merasakan “nikmat” itu juga), maka lebih baik dan memang seharusnya, mari bersama-sama belajar menjadi pembelajar.

Mari, maksud saya benar-benar mari (bukan dalam Bahasa Jawa).

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Zona Belajar

Dua minggu dengan pekerjaan baru, atmosfer yang ada benar-benar keren. Maksud saya banyak hal yang bisa (harus) saya pelajari, yang telah lama saya tunggu ke-tidak-datangan-nya. Benar kata Pak Dahlan Iskan: “Jika membenci sesuatu yang bencinya ndak biasa, suatu saat malah jadi makanan sehari-hari”.

Saya membenci hal hal yang berhubungan dengan sosialisasi, kenalan dengan orang baru, mengajak dan memberdayakan mereka. Klise ! sangat klise saya katakan ini adalah keinginan banyak manusia. Saya juga membenci proses jadi wirausaha (karena inginnya cuma tiba-tiba jadi pengusaha sukses wahaha). Semua itu, saya punya kebencian yang tidak biasa.

Sekarang malah pekerjaan saya sangat erat dengan hal itu. Stress, mangkel, dan untungnya saya hanya melihat satu jawaban, yaitu:

Jawabannya di paragaraf bawah sendiri, biar kalian baca sampai habis.

Lanjut contoh nyata yang saya alami:

Saya masih ingat ketika saya secara tak sengaja jadi relawan Yayasan Peduli Kasih ABK karena mangkel dengan kontak person pendaftaran relawan yang tak bisa bisa saya hubungi.

Saya malah jadi ketua relawan disitu (setelah dijebak teman yang seharusnya bisa saya percaya). Sebenernya jauh sebelum itu saya adalah orang yang meremehkan relawan. Mereka itu titik-titik.*

*Karena sekarang saya pro relawan, jadi kejengkelan dulu saya sensor menjadi titik-titik.

Masih sadar diri, saya sangat benci dengan hal yang berhubungan kesehatan. Jurusan Kedokteran adalah yang paling saya hindari waktu mau lulus SMA. Alasan alibi saya adalah karena itu jurusannya orang-orang pintar, dan karena saya adalah orang bias-asa. Alasan sebenarnya adalah saya tidak melihat kebaikan dokter ketika sudah pegang jarum suntik.

Tapi malah saya dapat pengalaman kerja yang mana atasan saya, rekan kerja, teman-teman relawan, yang buanyak dari jurusan itu.

Khawatir juga nanti kalau-kalau, kalau semisal, misalkan saja, kalau misal saja ternyata pendamping hidup saya juga dari lulusan kedokteran. Ok, tidak, itu berat, entah Dilan berpikiran seperti itu juga atau tidak, tapi entah kalau Tuhan berkehendak.

Yang jelas entah ini karma, tes, atau ujian dari Allah SWT yang selalu membuat saya semleho dengan tantangan “dihadapkan dengan apa apa yang saya benci secara tampak dan mak jleb di depan mata”, hanya satu jawaban yang ada:

“Jalani kesulitan ini dengan baik, walau sampai merubahmu menjadi manusia setengah dewa”

Karena menghindari bukan hal yang tak mungkin, tapi sudah terlalu sering saya lakukan, selama berduapuluh tahun lalu lamanya.

Saya selalu menghindar, lari, putar balik–dan karena teman saya pernah bilang kalau putar balik itu bukan laki, makanya sekarang saya percaya kalau ini adalah zona belajar yang ditakdirkan Allah SWT untuk hambanya yang mempunyai kelebihan malas dan kekurangan berat badan ini.

Eit, untuk mengobati kalian stress membaca tulisan saya yang njelimet, sila tonton video yang menginspirasi saya menulias cerita ini:

Awesome Stories & Inspirations · Stories

Akan tiba saatnya…

Kalau saya saat ini sedang merasa suntuk dengan beban pekerjaan yang menumpuk. Itu bukan salah keadaan yang seakan memojokkan kesempatan saya untuk bahagia.

Kalau saya saat ini sedang kurang sehat dengan tubuh ringkih yang mudah terserang flu pancaroba. Itu bukan salah saya yang kurang olahraga, atau malah karena saya memaksakan untuk berolahraga.

Kalau saya saat ini sedang mudah galau dengan tingkat suasana hati yang tak menentu. Itu bukan salah mereka yang menarik hati ini dan membawa pahit bercampur dengan manis kedatangan-pergi dia.

Mengapa saya berpikiran seperti ini, karena akan tiba saatnya, masa dimana hidup saya akan bahagia berkepanjangan dan mulai bosan karena terlalu bahagia. Berharap dan merindukan keadaan-keadaan saat ini, kapankah akan terulang kembali?

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Mulai keteteran…

Cerita ini terkait tantangan 30 hari yang telah saya deklarasikan. Keadaan sekarang telah memasuki 10 hari terakhir dan saya merasa keteteran.

Keteteran membuat saya menjadi pesimis.

Mereka bilang apapun hal yang kita lalukan, tahap lepas landasnya adalah yang tersulit. Saya pikir prakiraan selanjutnya, ketika sudah lepas landas dan mulai membiasakan menulis setiap hari akan semakin mudah, dan eh, ternyata semakin sulit dan kebangetan.

Saya menjadi mulai berpikiran bahwa hal mudah mungkin hanyalah ilusi yang diperagakan demo produk pembersih lantai dan iklan lima detik di youtube. Kenyataannya, ketika menemui hal sulit, tahap selanjutnya akan semakin sulit, sulit kebangetan, dan mendekati mustahil. Akhirnya lambat atau cepat  “door!”… film pun berhenti–mati ditengah jalan karena listrik padam.

Tersirat niatan tidak menyerah…. tapi saya berpikir: bagaimana membuat film tetap berjalan walau listrik padam, dan kita tak punya genset atau bahkan aki?

Nah…. itu dia! Aha ha!

Jawabannya: walau proses tantangan menulis ini semakin sulit, kebangetan, atau nanti mendekati mustahil untuk ditaklukkan, bahkan nanti ada firasat mustahil sekalipun? jika saya tetap menulis saya akan tetap menaikkan presentase untuk menyelesaikan tantangan 30 hari ini.

Gak ngurus entah setiap hari semakin setress, dan berapa kali trik simpan cerita–untuk publikasi diwaktu malas, atau trik-trik berlabel abu-abu lainnya yang telah saya lakukan. Asalkan pada dasarnya saya tetap menulis untuk menyelesaikan tantangan ini! karena tidak ada cara lain untuk menyelesaikannya, selain menulis!.

Karena tantangan 30 hari edisi ini adalah menulis, dan untuk pertanyaan bagaimana membuat film tetap berjalan walau listrik padam, dan kita tak punya genset atau bahkan aki? sudahlah bin… kenapa menggunakan analogi itu? hmm…

 

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters

Pemikiran sejenak #2

Banyak khalayak bilang perubahan itu hal konstan di era ini, dan padahal faktanya adalah iya. Saya mengiyakan karena perubahan itu pagi-siang-sore-malam. Maksud saya: sekalipun kita mau atau tidak mau berubah, sekitar kita selalu berubah dengan konstannya.

Tinggal kita mau berubah, atau terpaksa berubah. Namun ketika saya terpaksa berubah, latar “terpaksanya” itu membuat suasana menjadi tidak keren.

Menerima perubahan seakan memiliki lawan arti dari memaksa untuk berubah. Kontradiksinya “terpaksa menerima” untuk berubah.

Saya tidak tahu, tapi yakin. Banyak alasan yang  dijelaskan dengan mudah untuk menjawab “apa yang membuatmu berubah?”, namun lebih banyak alasan yang penjelasannya rumit.

Dan ada alasan yang tidak masuk akal.

Sejenak berpikir, mengulas balik dari pengalaman saya:

Sering dalam keadaan-keadaan yang jarang, kebosanan adalah pendorong terkuat saya untuk berubah. Tapi sesekali, saya berubah… dan berubah… menjadi bosan untuk berubah.

Karena semua adalah perubahan, saya menyadari tidak ada jalan lari dari perubahan. Saya tidak memiliki kendali, dan sesekali hanya merasa menerima kendali untuk menolak terkendali.

Quotes

Akhirnya kau hilang

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di mana-mana. Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa-bahasa jauh. Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela rumah berbulan-bulan tidak dibersihkan atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah.

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di jalan-jalan yang lengang atau bangku-bangku taman yang kosong. Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota seperti perpustakaan raksasa yang meleleh. Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara, dan aroma makanan yang kurang atau terlalu matang.

Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong saat aku pulang dengan kamera dan kepala berisi orang-orang murung yang tidak kukenal. Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar. Buku cerita yang belum kelar kau baca telungkup bagai bayi tidur di dadamu. Tidak sopan, katamu, mengerjakan hal lain sambil menyimak kesedihan dinyanyikan.

Akhirnya kau hilang. Kau meninggalkan aku — dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa.

Puisi Akhirnya Kau Hilang – oleh Aan Mansyur

Awesome Stories & Inspirations

Allah adalah Dzat Maha Penolong

Saya kira, kita selalu dirundung masalah… dan masalahnya bukan itu. Akan tetapi masalahnya, kita sering larinya ke arah yang salah. Sering curhat ke semua teman, mengeluh disana sini, dan apa yang saya rasakan justru tambah melebar-lebar permasalahan hidup saya.

Itu karena saya sering lupa bahwa Allah adalah Maha Penolong… Allah tidak pernah lupa.

Akhirnya, melihat diri saya dengan segenap kefakiran, kehinaan, kerendahan diri, cela pikiran dan kemunafikan yang bertahun-tahun saya pelihara. Hanya satu jalan kembali, yaitu dengan meminta pertolongan-Nya.

Semoga saya, dan anda semua semakin dekat dan menyadari betapa hakikinya pertolongan itu hanya dari Allah SWT.

Wallahu A’lam Bishawab….

Awesome Stories & Inspirations · Photography

Fotografi fantastis #2

Foto pada malam ini adalah salah satu dari sekian banyak foto mengagumkan dari proyek National Geographic yang berjudul “Out of Eden Walk”.

Mengapa proyek dari salah satu yayasan terbesar pada bidang non-profit scientific and educational institutions dinamakan demikian, memang karena latar belakang foto-foto yang diambil adalah hasil dari tapak tilas perjalanan Paul Salopek mulai tahun 2013 (dia sekarang sampai kota Jeddah, Saudi Arabia).

Kisah Paul menemukan cerita tentang alur migrasi nenek moyang manusia ini merupakan yang pertama paling lama dan mendalam, karena perjalanan paul menyusuri sejarah ini adalah dengan metode slow journalism, yaitu dengan berjalan kaki, dari Ethiopia sampai ujung paling selatan Chile, sepanjang 21.000 mil.

Belum tahu kapankah dia akan menyelesaikan perjalannya. Namun, beberapa cerita berkesan tentu telah didapatkan. Salah satunya adalah foto berikut:

Searching for Signals

Foto yang di atas adalah salah satu karya John Stanmeyer dari rangkaian foto-fotonya yang mengagumkan menangkap perjalanan Paul di kota Djibouti City. Beberapa orang yang merupakan imigran dari Afrika ini terlihat mengangkat tangan mereka yang memegani ponsel, untuk mencari sinyal yang dari negara tetangga mereka, yaitu Somalia. Tujuan mereka mendapat sinyal adalah untuk berhubungan dengan sanak kerabat mereka yang tinggal di negara itu.

Memang selama lebih dari 60.000 tahun manusia telah menjalin hubungan sosial yang erat untuk menjaga keberlangsungan mereka, bagaimanapun metode komunikasi yang digunakan telah berkembang.

Quotes

Ozymandias

I met a traveler from an antique land
Who said: “Two vast and trunkless legs of stone
Stand in the desert . . . Near them, on the sand,
Half sunk, a shattered visage lies, whose frown,
And wrinkled lip, and sneer of cold command,
Tell that its sculptor well those passions read
Which yet survive, stamped on these lifeless things,
The hand that mocked them, and the heart that fed:
And on the pedestal these words appear:
‘My name is Ozymandias, king of kings:
Look on my works, ye Mighty, and despair!’
Nothing beside remains. Round the decay
Of that colossal wreck, boundless and bare
The lone and level sands stretch far away.”

Puisi “Ozymandias” – Percy Bysshe Shelley

Quotes

The Paradoxical Commandments

People are illogical, unreasonable, and self-centered.
Love them anyway.

If you do good, people will accuse you of selfish ulterior motives.
Do good anyway.

If you are successful, you will win false friends and true enemies.
Succeed anyway.

The good you do today will be forgotten tomorrow.
Do good anyway.

Honesty and frankness make you vulnerable.
Be honest and frank anyway.

The biggest men and women with the biggest ideas can be shot down by the smallest men and women with the smallest minds.
Think big anyway.

People favor underdogs but follow only top dogs.
Fight for a few underdogs anyway.

What you spend years building may be destroyed overnight.
Build anyway.

People really need help but may attack you if you do help them.
Help people anyway.

Give the world the best you have and you’ll get kicked in the teeth.
Give the world the best you have anyway.”
Kent M. Keith

Quotes

Amal

*مِنْ عَلَا مَاتِ الْإِعْتِمَادِعَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَوُجُوْدِ الزَّلَلِ.*

“Diantara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya adalah merosotnya rasa harap (kepada rahmat Allah) manakala mengalami kegagalan”.

*-Ibnu Athoillah As Sakandari-*

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Menulis bukan terapi, tapi membuatku tidak berpikir berlebihan

Berpikir itu sulit, melelahkan, rumit, dan menjenuhkan. Berpikir dapat menguras energi dari hasil susah payah saya menambah porsi makan. Bagi saya, menambah porsi makan adalah salah satu dari tujuh penderitaan nyata di dunia (selain rasa sakit luka kena alkohol yang membuat saya tidak malu untuk menangis). Sedangkan lima penderitaan lainnya, jika kalian ingin tahu, jujur saya belum tahu juga karena saya memutuskan tujuh penderitaan ini ketika teringat tujuh keajaiaban dunia. Biar sama-sama tujuh-nya, udah gitu aja.

*… tadi sebenarnya ceritanya baru sampai menambah porsi makan ya? maaf keblabasan nambahin keterangan tidak penting.

Jadi lanjut dari nambah porsi makan. Hmm… saya (kalau anda ingin tahu) juga memaksa diri minum susu, karena nasehat (lebih pada paksaan) dari beberapa orang untuk minum susu 2 kali sehari, harus susu instant, kalau bisa yang full cream.*

*Beberapa orang tersebut yang dapat saya pastikan pada peringkat pertama adalah ibu saya (nanti ada cerita mengapa ibu saya selalu dalam peringkat pertama untuk masalah ini). Sedangkan pada peringkat kedua, dia adalah seorang yang sedang diet (katanya sih…), kepinginnya gak semakin gemuk (katanya lagi sih…), terus kalau makan ga banyak biar kurusan dikit (hahahahaha….). Mungkin dia… sudahlah. Peringkat ketiga dan seterusnya terisi orang-orang yang saling memperebutkan peringkat ketiga.

Maaf sekali lagi karena masih melanjutkan pada keterangan tidak penting. Tapi hal ini menunjukkan betapa mbuletnya saya dan gara-gara ini saya berpikir berlebihan. Huffh… pantas saja badan saya tetap kurus. Seyogyanya tidak ada suplai energi tambahan untuk berat badan, baik dari tambahan porsi makan atau susu, karena semuanya upaya itu terkuras untuk aktivitas saya berpikir (baik pada hal penting dan terutama pada hal remeh-remeh).

Memang, beberapa orang merasa tidak bisa mengontrol dirinya untuk memikirkan hal-hal sederhana dengan sangat rumit. Sedangkan beberapa yang lain secara woles mengatakan pada beberapa orang itu “santai…ndak usah dipikirin semuanya, wes ta….”.

Itu adalah nasehat yang sangat menyamankan.*

*tidak ada sangkalan dari saya bahwa nasehat itu memang menyamankan. Tapi karena terlalu sering mendengarnya menjadikan saya sendiri merasa kebal dan tidak berefek baik.

Beruntung ketika saya berjuang keras untuk berpikir senormalnya saja (yang sebenernya kata “ketika” masa waktunya adalah “ketika sedari duluuuu banget”), akhirnya saya menemukan jawaban bagus. Jawaban ini saya katakan bagus karena saya bisa mempraktekkannya. Saya tidak memungkiri banyak jawaban luar biasa yang membantu saya untuk tidak berpikir berlebihan. Tapi karena jawaban itu luar biasa… dan setelah berpikir berlebihan… hanya jawaban bagus lah yang saya cari.

***

Dalam bukunya yang berjudul Option B, Sheryl Shanberg menceritakan kegalauannya, kesedihan-kehilangannya, dan solusi mengatasinya–ketika suaminya tercinta Dave, meninggal dunia secara tiba-tiba.

Bagaimana tidak, pagi itu ketika mereka berwisata ke sebuah tempat wisata, bu Sheryl mencari-cari pak Dave untuk mengajaknya makan bersama. Setelah beberapa mencari, ia menemukan suaminya tercinta telah beristirahat selamanya (meninggal) dan bu Sheryl sontak kaget. Ketika itu ditempat latihan gym, dan diduga pak Dave meninggal karena… jawabannya ada di Buku Optioin B, sila cari di seluk-beluk halaman bukunya hehe.

Kehilangan seseorang yang kita cintai, betapa prosesnya yang tiba-tiba atau telah kita ketahui prediksinya sama-sama menyakitkan. Apalagi untuk seseorang yang ditinggalkannya adalah seorang yang berpikir berlebihan.

Termasuk saya.

Saya ketika ditinggal nenek (yang kami sangat dekat) baru menerima sepenuhnya kalau nenek saya telah tiada, setelah satu tahun saya ingat-lupa beliau telah tiada. Memang saya sadar kalau nenek telah meninggal, tapi sering seketika nenek hadir dalam pikiran saya, lebih jelasnya seperti “ada” pas saat saya ke rumahnya, pas ada acara hajatan, atau sekedar kumpul keluarga. Secara samar saya menganggap nenek ada.

Bu Sheryl juga merasakan demikian. Ia sering melihat pak Dave dalam pikirannya. Bahkan semacam ada augment reality suaminya, ketika dia dikantor, dirumah, dan pas di tempat-tempat dimana mereka menghabiskan waktu bersama.

Tapi beruntung bu Sheryl menemukan jawaban untuk masalah ini. Jawabannya dari cerita bu Chaterine.

Bu Chaterine sempat mengalami kehilangan dirinya ketika dia diceraikan suaminya. Keadaan sulit yang tak diterimanya ini kemudian membawanya terlibat masalah, karena menjalin hubungan (intim) dengan relawannya (yang adalah mantan narapidana) sebagai pelampiasan. Masalah ini menyebabkan ia mendapat larangan dari pemerintah untuk kegiatan yayasannya, tidak dipercaya publik, dan koran lokal sempat memuat berita hangat “skandal seks di penjara” yang berisi ceritanya.

Karena bu Chaterine adalah seorang yang berkeyakinan bahwa segala kesalahan hidup itu bisa dimaafkan dan sekarang ia mengalaminya sendiri. Ia yang mengajak orang pada jalan baik, tapi sekarang ia malah menuju jurang yang dikhawatirkannya. Kepercayaan terhadap dirinya hilang. Ia yang mengajak orang keluar dari dosa-dosanya masa lalu, tapi ketika ia mengalaminya, bu Chaterine merasakan perbedaanya.

Bu Chaterine kehilangan dirinya, dan pada masa-masa itu, kegiatan yang membuatnya secara kebetulan “meneruskan hidupnya” (karena sempat beberapa kali coba bunuh diri) hanya menulis jurnal yang berisi tentang kegalauannya. Ia menulis jurnal hampir setiap hari, dan secara tidak sadar kebiasaannya itu mampu mengontrol pikirannya.

Kebiasaannya itu pula yang membuat dirinya kemudian berani menulis jujur tentang masalahnya. Ia membuat tulisan curahan hatinya, yang ditujukan pada relawan di yayasannya dan seluruh publik. Ia menulis permohonan maaf dan terima kasihnya. Ia juga menulis tentang bagaimana keadaannya saat ini dan ketidaktahuan tentang–apa yang akan (dan sebaiknya) ia lakukan untuk dapat memaafkan dirinya.

Dari keberanian menulis itu, perlahan empati pun muncul. Bu Chaterine sedikit-demi-sedikit mendapat empati dari relawannya kembali. Berkembang dan berkembang, ia mendapat kepercayaan publik. Dari dukungan itu, ia mencoba berkomitmen untuk memaafkan dirinya. Ia memulai perjuangannya yang baru, yaitu membentuk Defy Ventures, sebuah usaha untuk mewadahi pembentukan para wirausaha dari mereka yang termarjinalkan.

Beberapa tahun kemudian, bu Chaterine berhasil kembali pada dirinya yang ia harapkan. Perusahannya mampu meluluskan 1700 wirausahawan, mendanai 160 starup, dan membantu mereka yang kesulitan mendapat pekerjaan, dengan kesuksesan 95% “mendapat pekerjaan”. Tambahan manis di akhir, ia mendapatkan suaminya kembali. Bukan mantan suaminya, tapi ia mendapat suami yang benar-benar ia cintai, yaitu pak Charles Hoke.

Inspirasi bu Chaterine ini lah yang ditirukan bu Sheryl. Dalam membiasakan menulis ini, bu Sherly mendapat manfaat yang sama luar biasanya. Sederhanya saja, ia hanya menulis curahan hatinya lewat jurnal, hampir setiap hari selama enam bulan kepergian suaminya.

Dampak dari kebiasaan itu pada awalnya membuat ia percaya diri untuk melangkah ke depan secara mandiri (tanpa berandai-andai jika suaminya masih ada). Kemudian ia berkomitmen menjadi seorang yang lebih baik, dan berbagi pengalamannya kepada mereka yang mengalami pengalaman serupa. Hasil nyata kemudian, kebiasaannya menulis ini membawa ia mampu mempublikasikan buku-bukunya yang best seller; seperti: Lean in dan Option B, dan membagikan pengalamannya pada konferensi paling keren, yaitu TED Conference!.

Cerita dampak menulis dari bu Chaterine dan bu Sheryl diatas, yang saya baca dari buku Option B, juga akan saya tularkan pada diri sendiri. Saya akan membiasakan menulis. Langkah sederhana yang saya laukan adalah menulis hampir setiap hari. Saya mengambil target 30 hari ke depan, dan nanti jikalau telah selesai, akan saya ceritakan dampak apa yang terjadi pada diri saya nanti.

Baik…. diakhir cerita ini saya simpulkan:

Jadi, jawaban untuk mengatasi terlalu berpikir adalah jawaban turun-temurun. Dari pengalaman bu Chaterine ke bu Sheryl, ke buku Option B, yang kebetulan saya baca, dan saya praktekkan.

Alhamdulillah…..