Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Yang saya tahu saya perlu belajar menjadi pembelajar

Begitu banyak pengalaman tak enak (jengkel) ketika berbagi pikiran dan ide ide yang menurut saya kreatif karena ada salah satu atau beberapa teman yang tak sepemikiran, atau menentangnya. Memang pepatah yang saya pegang adalah: “hargai pendapat orang lain”. Namun pada kenyataan yang saya jalani sebagai prinsip adalah “hargai saya dulu, karena bagimu, saya adalah orang lain, kan?”.

Cerita kali ini berbicara tentang kekeliruan pemahaman, dan percobaan berbagi pemahaman baru tentang menjadi pembelajar. Latar belakangnya adalah karena arogansi saya yang mendapuk diri sendiri sebagai “pembelajar” padahal state-of-realities-nya saya masih jauh, masih tingkat kroco (precil, atau masih kecil, jauh dari tingkat atas). Apalagi ternyata niat saya hanya ingin cap itu.

Saya perlu belajar lagi bagaimana menjadi pembelajar, dan setelah beberapa kali baca artikel dan pendapat para ahli (ahli benar, Insyallah), saya mendapat kesimpulan ini:

Pembelajar tak pernah menganggap dirinya pembelajar.

Ia menganggap dirinya selalu menjadi orang yang miskin, kekurangan, dan haus akan hal baru, perspektif berbeda, kesimpulan baru, perubahan dan kebenaran yang lebih dari prakiraan pikirannya, yang mana ia benar-benar sibuk mengurusi semua hal itu, sehingga klaim atas “saya adalah pembelajar” tak pernah mereka gaungkan.

Memang jika tak lihai, kita banyak menemukan diluar sana sudah terlalu banyak orang arogan (knower-sok tahu-sotoi) yang berkali-kali mengklaim diri mereka sebagai pembelajar. Kita seringkali tertipu, dan mereka yang benar-benar pembelajar-pun tak risau dengan hal itu.

Karena sang pembelajar akan selalu menemukan muara kebesaran Yang Maha Bijaksana, yang itu lebih nikmat dari pengakuan manusia.

Sungguh nikmat ketika membayangkan mereka berkali kali mendapat “nikmat” yang tak terkira sebagai pembelajar.

Nikmat yang saya dambakan, walau masih menjadi pembayang, tapi karena saya tahu, saya masih perlu belajar menjadi pembelajar (agar merasakan “nikmat” itu juga), maka lebih baik dan memang seharusnya, mari bersama-sama belajar menjadi pembelajar.

Mari, maksud saya benar-benar mari (bukan dalam Bahasa Jawa).

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Zona Belajar

Dua minggu dengan pekerjaan baru, atmosfer yang ada benar-benar keren. Maksud saya banyak hal yang bisa (harus) saya pelajari, yang telah lama saya tunggu ke-tidak-datangan-nya. Benar kata Pak Dahlan Iskan: “Jika membenci sesuatu yang bencinya ndak biasa, suatu saat malah jadi makanan sehari-hari”.

Saya membenci hal hal yang berhubungan dengan sosialisasi, kenalan dengan orang baru, mengajak dan memberdayakan mereka. Klise ! sangat klise saya katakan ini adalah keinginan banyak manusia. Saya juga membenci proses jadi wirausaha (karena inginnya cuma tiba-tiba jadi pengusaha sukses wahaha). Semua itu, saya punya kebencian yang tidak biasa.

Sekarang malah pekerjaan saya sangat erat dengan hal itu. Stress, mangkel, dan untungnya saya hanya melihat satu jawaban, yaitu:

Jawabannya di paragaraf bawah sendiri, biar kalian baca sampai habis.

Lanjut contoh nyata yang saya alami:

Saya masih ingat ketika saya secara tak sengaja jadi relawan Yayasan Peduli Kasih ABK karena mangkel dengan kontak person pendaftaran relawan yang tak bisa bisa saya hubungi.

Saya malah jadi ketua relawan disitu (setelah dijebak teman yang seharusnya bisa saya percaya). Sebenernya jauh sebelum itu saya adalah orang yang meremehkan relawan. Mereka itu titik-titik.*

*Karena sekarang saya pro relawan, jadi kejengkelan dulu saya sensor menjadi titik-titik.

Masih sadar diri, saya sangat benci dengan hal yang berhubungan kesehatan. Jurusan Kedokteran adalah yang paling saya hindari waktu mau lulus SMA. Alasan alibi saya adalah karena itu jurusannya orang-orang pintar, dan karena saya adalah orang bias-asa. Alasan sebenarnya adalah saya tidak melihat kebaikan dokter ketika sudah pegang jarum suntik.

Tapi malah saya dapat pengalaman kerja yang mana atasan saya, rekan kerja, teman-teman relawan, yang buanyak dari jurusan itu.

Khawatir juga nanti kalau-kalau, kalau semisal, misalkan saja, kalau misal saja ternyata pendamping hidup saya juga dari lulusan kedokteran. Ok, tidak, itu berat, entah Dilan berpikiran seperti itu juga atau tidak, tapi entah kalau Tuhan berkehendak.

Yang jelas entah ini karma, tes, atau ujian dari Allah SWT yang selalu membuat saya semleho dengan tantangan “dihadapkan dengan apa apa yang saya benci secara tampak dan mak jleb di depan mata”, hanya satu jawaban yang ada:

“Jalani kesulitan ini dengan baik, walau sampai merubahmu menjadi manusia setengah dewa”

Karena menghindari bukan hal yang tak mungkin, tapi sudah terlalu sering saya lakukan, selama berduapuluh tahun lalu lamanya.

Saya selalu menghindar, lari, putar balik–dan karena teman saya pernah bilang kalau putar balik itu bukan laki, makanya sekarang saya percaya kalau ini adalah zona belajar yang ditakdirkan Allah SWT untuk hambanya yang mempunyai kelebihan malas dan kekurangan berat badan ini.

Eit, untuk mengobati kalian stress membaca tulisan saya yang njelimet, sila tonton video yang menginspirasi saya menulias cerita ini:

Awesome Stories & Inspirations · Stories

Akan tiba saatnya…

Kalau saya saat ini sedang merasa suntuk dengan beban pekerjaan yang menumpuk. Itu bukan salah keadaan yang seakan memojokkan kesempatan saya untuk bahagia.

Kalau saya saat ini sedang kurang sehat dengan tubuh ringkih yang mudah terserang flu pancaroba. Itu bukan salah saya yang kurang olahraga, atau malah karena saya memaksakan untuk berolahraga.

Kalau saya saat ini sedang mudah galau dengan tingkat suasana hati yang tak menentu. Itu bukan salah mereka yang menarik hati ini dan membawa pahit bercampur dengan manis kedatangan-pergi dia.

Mengapa saya berpikiran seperti ini, karena akan tiba saatnya, masa dimana hidup saya akan bahagia berkepanjangan dan mulai bosan karena terlalu bahagia. Berharap dan merindukan keadaan-keadaan saat ini, kapankah akan terulang kembali?

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Mulai keteteran…

Cerita ini terkait tantangan 30 hari yang telah saya deklarasikan. Keadaan sekarang telah memasuki 10 hari terakhir dan saya merasa keteteran.

Keteteran membuat saya menjadi pesimis.

Mereka bilang apapun hal yang kita lalukan, tahap lepas landasnya adalah yang tersulit. Saya pikir prakiraan selanjutnya, ketika sudah lepas landas dan mulai membiasakan menulis setiap hari akan semakin mudah, dan eh, ternyata semakin sulit dan kebangetan.

Saya menjadi mulai berpikiran bahwa hal mudah mungkin hanyalah ilusi yang diperagakan demo produk pembersih lantai dan iklan lima detik di youtube. Kenyataannya, ketika menemui hal sulit, tahap selanjutnya akan semakin sulit, sulit kebangetan, dan mendekati mustahil. Akhirnya lambat atau cepat  “door!”… film pun berhenti–mati ditengah jalan karena listrik padam.

Tersirat niatan tidak menyerah…. tapi saya berpikir: bagaimana membuat film tetap berjalan walau listrik padam, dan kita tak punya genset atau bahkan aki?

Nah…. itu dia! Aha ha!

Jawabannya: walau proses tantangan menulis ini semakin sulit, kebangetan, atau nanti mendekati mustahil untuk ditaklukkan, bahkan nanti ada firasat mustahil sekalipun? jika saya tetap menulis saya akan tetap menaikkan presentase untuk menyelesaikan tantangan 30 hari ini.

Gak ngurus entah setiap hari semakin setress, dan berapa kali trik simpan cerita–untuk publikasi diwaktu malas, atau trik-trik berlabel abu-abu lainnya yang telah saya lakukan. Asalkan pada dasarnya saya tetap menulis untuk menyelesaikan tantangan ini! karena tidak ada cara lain untuk menyelesaikannya, selain menulis!.

Karena tantangan 30 hari edisi ini adalah menulis, dan untuk pertanyaan bagaimana membuat film tetap berjalan walau listrik padam, dan kita tak punya genset atau bahkan aki? sudahlah bin… kenapa menggunakan analogi itu? hmm…

 

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters

Pemikiran sejenak #2

Banyak khalayak bilang perubahan itu hal konstan di era ini, dan padahal faktanya adalah iya. Saya mengiyakan karena perubahan itu pagi-siang-sore-malam. Maksud saya: sekalipun kita mau atau tidak mau berubah, sekitar kita selalu berubah dengan konstannya.

Tinggal kita mau berubah, atau terpaksa berubah. Namun ketika saya terpaksa berubah, latar “terpaksanya” itu membuat suasana menjadi tidak keren.

Menerima perubahan seakan memiliki lawan arti dari memaksa untuk berubah. Kontradiksinya “terpaksa menerima” untuk berubah.

Saya tidak tahu, tapi yakin. Banyak alasan yang  dijelaskan dengan mudah untuk menjawab “apa yang membuatmu berubah?”, namun lebih banyak alasan yang penjelasannya rumit.

Dan ada alasan yang tidak masuk akal.

Sejenak berpikir, mengulas balik dari pengalaman saya:

Sering dalam keadaan-keadaan yang jarang, kebosanan adalah pendorong terkuat saya untuk berubah. Tapi sesekali, saya berubah… dan berubah… menjadi bosan untuk berubah.

Karena semua adalah perubahan, saya menyadari tidak ada jalan lari dari perubahan. Saya tidak memiliki kendali, dan sesekali hanya merasa menerima kendali untuk menolak terkendali.

Awesome Stories & Inspirations

Allah adalah Dzat Maha Penolong

Saya kira, kita selalu dirundung masalah… dan masalahnya bukan itu. Akan tetapi masalahnya, kita sering larinya ke arah yang salah. Sering curhat ke semua teman, mengeluh disana sini, dan apa yang saya rasakan justru tambah melebar-lebar permasalahan hidup saya.

Itu karena saya sering lupa bahwa Allah adalah Maha Penolong… Allah tidak pernah lupa.

Akhirnya, melihat diri saya dengan segenap kefakiran, kehinaan, kerendahan diri, cela pikiran dan kemunafikan yang bertahun-tahun saya pelihara. Hanya satu jalan kembali, yaitu dengan meminta pertolongan-Nya.

Semoga saya, dan anda semua semakin dekat dan menyadari betapa hakikinya pertolongan itu hanya dari Allah SWT.

Wallahu A’lam Bishawab….

Awesome Stories & Inspirations · Photography

Fotografi fantastis #2

Foto pada malam ini adalah salah satu dari sekian banyak foto mengagumkan dari proyek National Geographic yang berjudul “Out of Eden Walk”.

Mengapa proyek dari salah satu yayasan terbesar pada bidang non-profit scientific and educational institutions dinamakan demikian, memang karena latar belakang foto-foto yang diambil adalah hasil dari tapak tilas perjalanan Paul Salopek mulai tahun 2013 (dia sekarang sampai kota Jeddah, Saudi Arabia).

Kisah Paul menemukan cerita tentang alur migrasi nenek moyang manusia ini merupakan yang pertama paling lama dan mendalam, karena perjalanan paul menyusuri sejarah ini adalah dengan metode slow journalism, yaitu dengan berjalan kaki, dari Ethiopia sampai ujung paling selatan Chile, sepanjang 21.000 mil.

Belum tahu kapankah dia akan menyelesaikan perjalannya. Namun, beberapa cerita berkesan tentu telah didapatkan. Salah satunya adalah foto berikut:

Searching for Signals

Foto yang di atas adalah salah satu karya John Stanmeyer dari rangkaian foto-fotonya yang mengagumkan menangkap perjalanan Paul di kota Djibouti City. Beberapa orang yang merupakan imigran dari Afrika ini terlihat mengangkat tangan mereka yang memegani ponsel, untuk mencari sinyal yang dari negara tetangga mereka, yaitu Somalia. Tujuan mereka mendapat sinyal adalah untuk berhubungan dengan sanak kerabat mereka yang tinggal di negara itu.

Memang selama lebih dari 60.000 tahun manusia telah menjalin hubungan sosial yang erat untuk menjaga keberlangsungan mereka, bagaimanapun metode komunikasi yang digunakan telah berkembang.

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Menulis bukan terapi, tapi membuatku tidak berpikir berlebihan

Berpikir itu sulit, melelahkan, rumit, dan menjenuhkan. Berpikir dapat menguras energi dari hasil susah payah saya menambah porsi makan. Bagi saya, menambah porsi makan adalah salah satu dari tujuh penderitaan nyata di dunia (selain rasa sakit luka kena alkohol yang membuat saya tidak malu untuk menangis). Sedangkan lima penderitaan lainnya, jika kalian ingin tahu, jujur saya belum tahu juga karena saya memutuskan tujuh penderitaan ini ketika teringat tujuh keajaiaban dunia. Biar sama-sama tujuh-nya, udah gitu aja.

*… tadi sebenarnya ceritanya baru sampai menambah porsi makan ya? maaf keblabasan nambahin keterangan tidak penting.

Jadi lanjut dari nambah porsi makan. Hmm… saya (kalau anda ingin tahu) juga memaksa diri minum susu, karena nasehat (lebih pada paksaan) dari beberapa orang untuk minum susu 2 kali sehari, harus susu instant, kalau bisa yang full cream.*

*Beberapa orang tersebut yang dapat saya pastikan pada peringkat pertama adalah ibu saya (nanti ada cerita mengapa ibu saya selalu dalam peringkat pertama untuk masalah ini). Sedangkan pada peringkat kedua, dia adalah seorang yang sedang diet (katanya sih…), kepinginnya gak semakin gemuk (katanya lagi sih…), terus kalau makan ga banyak biar kurusan dikit (hahahahaha….). Mungkin dia… sudahlah. Peringkat ketiga dan seterusnya terisi orang-orang yang saling memperebutkan peringkat ketiga.

Maaf sekali lagi karena masih melanjutkan pada keterangan tidak penting. Tapi hal ini menunjukkan betapa mbuletnya saya dan gara-gara ini saya berpikir berlebihan. Huffh… pantas saja badan saya tetap kurus. Seyogyanya tidak ada suplai energi tambahan untuk berat badan, baik dari tambahan porsi makan atau susu, karena semuanya upaya itu terkuras untuk aktivitas saya berpikir (baik pada hal penting dan terutama pada hal remeh-remeh).

Memang, beberapa orang merasa tidak bisa mengontrol dirinya untuk memikirkan hal-hal sederhana dengan sangat rumit. Sedangkan beberapa yang lain secara woles mengatakan pada beberapa orang itu “santai…ndak usah dipikirin semuanya, wes ta….”.

Itu adalah nasehat yang sangat menyamankan.*

*tidak ada sangkalan dari saya bahwa nasehat itu memang menyamankan. Tapi karena terlalu sering mendengarnya menjadikan saya sendiri merasa kebal dan tidak berefek baik.

Beruntung ketika saya berjuang keras untuk berpikir senormalnya saja (yang sebenernya kata “ketika” masa waktunya adalah “ketika sedari duluuuu banget”), akhirnya saya menemukan jawaban bagus. Jawaban ini saya katakan bagus karena saya bisa mempraktekkannya. Saya tidak memungkiri banyak jawaban luar biasa yang membantu saya untuk tidak berpikir berlebihan. Tapi karena jawaban itu luar biasa… dan setelah berpikir berlebihan… hanya jawaban bagus lah yang saya cari.

***

Dalam bukunya yang berjudul Option B, Sheryl Shanberg menceritakan kegalauannya, kesedihan-kehilangannya, dan solusi mengatasinya–ketika suaminya tercinta Dave, meninggal dunia secara tiba-tiba.

Bagaimana tidak, pagi itu ketika mereka berwisata ke sebuah tempat wisata, bu Sheryl mencari-cari pak Dave untuk mengajaknya makan bersama. Setelah beberapa mencari, ia menemukan suaminya tercinta telah beristirahat selamanya (meninggal) dan bu Sheryl sontak kaget. Ketika itu ditempat latihan gym, dan diduga pak Dave meninggal karena… jawabannya ada di Buku Optioin B, sila cari di seluk-beluk halaman bukunya hehe.

Kehilangan seseorang yang kita cintai, betapa prosesnya yang tiba-tiba atau telah kita ketahui prediksinya sama-sama menyakitkan. Apalagi untuk seseorang yang ditinggalkannya adalah seorang yang berpikir berlebihan.

Termasuk saya.

Saya ketika ditinggal nenek (yang kami sangat dekat) baru menerima sepenuhnya kalau nenek saya telah tiada, setelah satu tahun saya ingat-lupa beliau telah tiada. Memang saya sadar kalau nenek telah meninggal, tapi sering seketika nenek hadir dalam pikiran saya, lebih jelasnya seperti “ada” pas saat saya ke rumahnya, pas ada acara hajatan, atau sekedar kumpul keluarga. Secara samar saya menganggap nenek ada.

Bu Sheryl juga merasakan demikian. Ia sering melihat pak Dave dalam pikirannya. Bahkan semacam ada augment reality suaminya, ketika dia dikantor, dirumah, dan pas di tempat-tempat dimana mereka menghabiskan waktu bersama.

Tapi beruntung bu Sheryl menemukan jawaban untuk masalah ini. Jawabannya dari cerita bu Chaterine.

Bu Chaterine sempat mengalami kehilangan dirinya ketika dia diceraikan suaminya. Keadaan sulit yang tak diterimanya ini kemudian membawanya terlibat masalah, karena menjalin hubungan (intim) dengan relawannya (yang adalah mantan narapidana) sebagai pelampiasan. Masalah ini menyebabkan ia mendapat larangan dari pemerintah untuk kegiatan yayasannya, tidak dipercaya publik, dan koran lokal sempat memuat berita hangat “skandal seks di penjara” yang berisi ceritanya.

Karena bu Chaterine adalah seorang yang berkeyakinan bahwa segala kesalahan hidup itu bisa dimaafkan dan sekarang ia mengalaminya sendiri. Ia yang mengajak orang pada jalan baik, tapi sekarang ia malah menuju jurang yang dikhawatirkannya. Kepercayaan terhadap dirinya hilang. Ia yang mengajak orang keluar dari dosa-dosanya masa lalu, tapi ketika ia mengalaminya, bu Chaterine merasakan perbedaanya.

Bu Chaterine kehilangan dirinya, dan pada masa-masa itu, kegiatan yang membuatnya secara kebetulan “meneruskan hidupnya” (karena sempat beberapa kali coba bunuh diri) hanya menulis jurnal yang berisi tentang kegalauannya. Ia menulis jurnal hampir setiap hari, dan secara tidak sadar kebiasaannya itu mampu mengontrol pikirannya.

Kebiasaannya itu pula yang membuat dirinya kemudian berani menulis jujur tentang masalahnya. Ia membuat tulisan curahan hatinya, yang ditujukan pada relawan di yayasannya dan seluruh publik. Ia menulis permohonan maaf dan terima kasihnya. Ia juga menulis tentang bagaimana keadaannya saat ini dan ketidaktahuan tentang–apa yang akan (dan sebaiknya) ia lakukan untuk dapat memaafkan dirinya.

Dari keberanian menulis itu, perlahan empati pun muncul. Bu Chaterine sedikit-demi-sedikit mendapat empati dari relawannya kembali. Berkembang dan berkembang, ia mendapat kepercayaan publik. Dari dukungan itu, ia mencoba berkomitmen untuk memaafkan dirinya. Ia memulai perjuangannya yang baru, yaitu membentuk Defy Ventures, sebuah usaha untuk mewadahi pembentukan para wirausaha dari mereka yang termarjinalkan.

Beberapa tahun kemudian, bu Chaterine berhasil kembali pada dirinya yang ia harapkan. Perusahannya mampu meluluskan 1700 wirausahawan, mendanai 160 starup, dan membantu mereka yang kesulitan mendapat pekerjaan, dengan kesuksesan 95% “mendapat pekerjaan”. Tambahan manis di akhir, ia mendapatkan suaminya kembali. Bukan mantan suaminya, tapi ia mendapat suami yang benar-benar ia cintai, yaitu pak Charles Hoke.

Inspirasi bu Chaterine ini lah yang ditirukan bu Sheryl. Dalam membiasakan menulis ini, bu Sherly mendapat manfaat yang sama luar biasanya. Sederhanya saja, ia hanya menulis curahan hatinya lewat jurnal, hampir setiap hari selama enam bulan kepergian suaminya.

Dampak dari kebiasaan itu pada awalnya membuat ia percaya diri untuk melangkah ke depan secara mandiri (tanpa berandai-andai jika suaminya masih ada). Kemudian ia berkomitmen menjadi seorang yang lebih baik, dan berbagi pengalamannya kepada mereka yang mengalami pengalaman serupa. Hasil nyata kemudian, kebiasaannya menulis ini membawa ia mampu mempublikasikan buku-bukunya yang best seller; seperti: Lean in dan Option B, dan membagikan pengalamannya pada konferensi paling keren, yaitu TED Conference!.

Cerita dampak menulis dari bu Chaterine dan bu Sheryl diatas, yang saya baca dari buku Option B, juga akan saya tularkan pada diri sendiri. Saya akan membiasakan menulis. Langkah sederhana yang saya laukan adalah menulis hampir setiap hari. Saya mengambil target 30 hari ke depan, dan nanti jikalau telah selesai, akan saya ceritakan dampak apa yang terjadi pada diri saya nanti.

Baik…. diakhir cerita ini saya simpulkan:

Jadi, jawaban untuk mengatasi terlalu berpikir adalah jawaban turun-temurun. Dari pengalaman bu Chaterine ke bu Sheryl, ke buku Option B, yang kebetulan saya baca, dan saya praktekkan.

Alhamdulillah…..

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Komunikasi dengan hati

Pengalaman awal menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK dapat saya gambarkan unik.

Begini:

Pertama berkunjung ke yayasan, saya dipertemukan dan berinteraksi dengan anak-anak spesial–bahkan dalam paket jumbo. Lima anak sekaligus!. Saya waktu itu hanya sendiri, satu ruangan dengan mereka.

Ada dua anak yang anteng duduk, dengan meja kecil dihadapannya lengkap dengan kertas dan crayon–tapi dia bingung mau gambar apa. Ada yang sedang merangkai puzzle di lantai. Ada juga yang suka main plorotan dan terus… plorotan dan terus… plorotan dan terus… Lalu ada yang muter-muter sambil bawa mainan bola-bola kecil. Nah, yang paling keren itu ada yang muter-muter, tidak bawa mainan apa-apa, tapi dia seneng banget naik meja loncat dari kursi ke kursi, ke meja lagi… ke kursi lagi… hmmm.

Saya gugup dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Yaudahlah yang penting niat saya pedekate ke mereka.

Dan hasilnya sudah terduga. Saya yang jarang pedekate ke cewek (*tidak ada keterangan lebih lanjut) sekarang mencoba pedekate ke anak, anak spesial. Hasilnya dicuekin. Banget.

Tapi… ya… , awalnya mereka cuek dan saya tidak menyerah. Terbukti lama kelamaan saya dapat menjalin komunikasi. Walaupun tidak intens.

Tapi jangan dibayangkan komunikasi saya dengan mereka layaknya gaya ke anak biasa. Saya masih ingat pada waktu itu adalah pengalaman pertama saya bisa belajar memahami komunikasi sejati. Dalam pengertian yang lebih luas, komunikasi dengan hati–kita menyebutnya.

Komunikasi dengan hati ini bukan berarti membuat saya buaper ya. Tidak dibutuhkan baper dalam cerita ini (maaf bagi teman saya yang tersummon boleh mengajukan banding).

Menurut saya berinteraksi dengan anak-anak spesial ini membuat saya terlatih untuk terbiasa dengan kenuikan gaya mereka. Hal lain adalah membuat saya berlatih fokus, karena makna pesan yang diberikan tidak melulu pada verbal yang mereka utarakan, namun juga melalui indera mereka, seperti gerakan tangan, sentuhan, ekspresi wajah, tindakan, dan lainnya.

Dari ini, saya belajar bahwa sebesar apapun hambatan kita berkomunikasi, kalau memang niatnya dari hati, akan bermakna dan akan sampai pesannya. Berbeda dengan keadaan dimana sekecil apapun hambatan kita berkomunkasi, kalau memang niatnya tidak dari hati, akan tidak bermakna. Tidak akan sampai pesannya.*

*premis ini berbeda konteks dengan kebiasaan saya yang luama balas chat. Itu saya klarifikasikan “bisa dijelaskan kok hehehe”.

Saya sering dapat wejangan–“ikuti dunia mereka”, “jangan disambi”. Nasehatan yang saya dapat dalam maksud lain adalah–“jadilah pendengar dan pengamat yang baik”, “jangan setengah-setengah dalam memahami mereka”.

Prinsip ini saya kira sangat bisa diterapkan dalam lingkup lebih luas. Kepada anak-anak spesial ini, orang tua mereka, teman kolega, teman relawan, teman pendamping hidup (pasti ada!), dan teman-teman yang lain. Prinsip ini juga bisa diterapkan pada musuh atau orang yang membenci kita. Kalau gak percaya coba lakuin aja, nanti cerita ke saya ya hasilnya kaya gimana.

Berinteraksi dengan anak-anak spesial ini menurut saya malah mereka yang memberikan pelajaran berharga. Saya dapat pelajaran cara berkomunikasi dengan benar-benar berkomunikasi.

Sedangkan bertemu dengan mereka, orang tuanya, serta teman-teman relawan dan staff di lingkungan ini memberi pengalaman yang tidak saya harapkan ada–di kehidupan saya yang datar-datar saja.

Karena pengalaman ini sangat mengagumkan, menjadi relawan ternyata lebih luas manfaatnya daripada persepsi pikiran saya.

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Spesial

Melihat pada cerita awal blog ini, kalau dikenang-kenang memang tidak ada yang kebetulan. Saya menemukan titik nyambung, dari membaca buku sampai berkesempatan berbagi dan berperan untuk mereka yang spesial–yang sampai saat ini masih tak menyangka.

Mengapa buku Life Without Limit karya Nick Vujinic terbaca oleh saya, kemudian saya tulis cerita tentang Nick dan copypaste puisinya: Unicorn Bersayap Plastik. Seperti kenyambungan, karena beberapa bulan setelah itu, saya masuk dalam lingkungan dimana anak-anak spesial berada.

Yang saya maksud spesial adalah mereka, anak kebutuhan khusus. Seperti autis, down syndrome, cerebral palsy, tuna grahita, gangguan pendengaran, tuna visual, dan lainnya. Penggunaan representasi kata yang tepat selain “berkebutuhan khusus” memang sulit dilakukan, karena pilihan kata lainnya adalah disabilitas, cacat, kurang mampu, yang menurut saya sendiri kurang berkenan di hati.

Sebenarnya ada kata “difabel” yang saya masih ingat disarankan oleh Mas Bayu (psikolog kami, dan orang keren yang sering mengucap kata yuhuuu). Difabel atau different ability kemudian yang saya pahami memang mirip-mirip lah dengan berkebutuhkan khusus.

Hmm….memang sampai saat ini pun penggunaan pemilihan kata masih belum ada yang fiks. Baik yang dipakai kita (yayasan), pemerintah, dan UNESCO.

Tapi tak usah ambil bingung, intinya saat itu saya bersyukur dapat bergabung menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK, tepatnya pada September 2016.

Titik awal inilah yang menghadirkan cerita-cerita diluar “biasa” pada selama setahun berikutnya, pada kehidupan saya.

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Badhan Idul Fitri

Badhan — saya tidak terlalu yakin penulisannya benar, tapi kata ini bermakna “Hari Raya” yang sering digunakan di masyarakat desa saya.

Tradisi Badhan Idul Fitri, di dalamnya ada berbagai kegiatan; seperti sholat ied, penerbangan balon raksasa, mainan petasan, dan yang wajib adalah silaturahim atau biasa disebut “nglencer” ke tetangga dan saudara seantero desa.

Silaturahim atau nglencer inilah yang  menurut saya kecil sangat menyenangkan, karena jadi ajang dan ladang pekerjaan baru selama 7 hari berturut-turut, sekedar untuk pembuktian banyak-banyakan pesangon dari rumah ke rumah. Yang paling banyak dapat, dinobatkan menjadi “Raja Badhan tahun ini” – penghargaan paling bergengsi bagi kalangan anak-anak waktu itu.

Saya berjuang mati-matian dari rumah ke rumah, biar dapat terbanyak sangu-nya. Karena ini kompetisi antar individu, teman-teman saya pun sebenarnya adalah saingan. Pengasahan dan praktek strategi yang mantap berpengaruh besar pada hasil akhir. Banyak dari kami yang berkoalisi, membentuk grup “pasukan golek duek” yang terdiri dari dua sampai lima anak.

Lima menjadi jumlah rata-rata anggota grup, karena di atas lima justru tidak memberi untung, mengakibatkan rata-rata pesangon yang diberikan menurun.

Misal: jika ada empat anak dalam suatu grup, masing-masing bisa dapat Rp. 5000 per rumah, penurunan akan terjadi jika enam anak yang nglencer – dengan perolehan masing-masing dapat Rp. 4000 atau bahkan hanya Rp. 2000. Hal ini terjadi berdasarkan alokasi anggaran tuan rumah rata-rata yang dikeluarkan untuk sangu per grup nglencer adalah Rp. 20.000 – 25.000 (munculnya angka ini berdasarkan hasil wawancara narasumber, yang mana itu adalah teman-teman saya dan temannya teman di berbagai dusun; serta melihat juga inflasi rata-rata per-rumah tangga untuk tahun ini & tren persentase anggaran pesangon dengan anggaran lain yang bisa mempengaruhi, seperti anggaran untuk renovasi rumah, beli ornamen, cat, dan petasan untuk menyambut hari raya).

Melihat analisis di atas, saya selalu ketat dalam mengatur jumlah anggota grup agar tetap sehat dan memberi produktivitas maksimal. Namun ternyata, selain jumlah anggota grup, ada hal lain yang mempengaruhi – yaitu timing atau waktu nglencer yang pas, networking atau luasnya pertemanan, serta seberapa kita mengenal tuan rumah yang dikunjungi.

Dalam hal ini, strategi terbaik yang sering berhasil saya terapkan adalah “quality over quantity” – saat itu saya tidak pakai istilah seribet ini sih. Jumlah anggota grup selalu dibatasi maksimal lima anak. Siasat nglencer pada pagi menjelang siang, karena tuan rumah masih mudah memberi sangu pada jam-jam itu. Sedangkan melihat perlunya jejaring dan mengenal tuan rumah, hal yang perlu diperhatikan sebenarnya hanyalah “siapa saja yang ada di dalam grup saya?”.

Jika anggota grup adalah anak para tokoh atau orang yang cukup dikenal di desa, maka berbagai keberuntungan bisa kami peroleh. Tidak usah susah payah perkenalan diri, cukup jawab “nggih” ketika ditanya “oalah, kamu ini anaknya pak…. ini to, ya ya ya… wes guede ya…?”. Tidak usah berpikir terlalu dalam tentang obrolan apa yang paling menarik bagi tuan rumah, cukup diam sopan dan makan jajan seperlunya, cukup sekitar lima menit bertamunya, pamitan dan pasti dapat sangu.

Bertahun-tahun selama masih jadi anak-anak, saya terapkan strategi ini dan pas akhir lebaran, setidaknya nama saya selalu jadi pembicaraan hangat di kalangan rumpi anak-anak. Namun untuk jadi juara Raja Badhan memang tidak mudah. Meskipun berbagai upaya yang telah saya terapkan, begitu juga perubahan dan inovasi strategi; masih saja sulit menembus juara satu. Banyak faktor tidak terduga, dan yang paling berpengaruh adalah pesangon dari saudara atau dari tuan rumah yang “tidak biasa”, yang bahkan bisa memberi nominal fantastis. Tapi pengalaman ini mengajarkan saya yang masih anak-anak untuk lebih tawakkal dan qanaah dalam model belajar yang agak aneh memang. Yah…. paling tidak masuk sepuluh besar lah setiap tahunnya, lipur saya.

Ceritanya sudah cukup panjang lebar, yang kurang hanya isinya mungkin. Tapi cerita ringan ini, saya yakin pengalaman lalu ini adalah pengalaman bersama yang pasti anda pernah alami juga. Memang kalau dipikir-pikir tradisi hari raya bermacam-macam di Indonesia,  dan Badhan Idul Fitri di masyarakat jawa adalah tradisi khas yang unik – memberi pesangon pada anak kecil yang notabene sering dikaitkan dengan budaya materialistis yang kok sudah diajarkan pada anak kecil memang dapat jadi kritik.

Ambil hikmahnya saja kalau begitu, daripada memenuhi pikiran dengan prasangka. Kalau saya sendiri yakin budaya ini lebih banyak manfaatnya. Bagi tuan rumah sebagai sarana sedekah, bagi anak-anak sebagai sarana hadiah. Memang ada sensitifitas mengapa kok harus pakai uang, dan tapi, disitulah peran kita yang sudah tidak anak-anak lagi sangat penting.

Kita mempunyai peran meluruskan tujuan mulia tradisi ini. Sangu sering menjadi pemicu utama eratnya silaturahim, karena berbagai cerita lucu yang dapat kita lontarkan pas waktu dewasa bertemu kembali dengan sanak saudara. Kita pun dapat semakin memperindahnnya. Kita sudah (ada yg hampir) memerankan menjadi “tuan rumah” yang memberi sangu.

Ketika anak-anak kita kasih sangu, baiknya kita sambil bisikan “ini nak nanti untuk sedekah atau buat beli buku ya…”,  “ini buat bantu ayahmu beli seragam sekolah ya” “ini buat kamu tabung biar bisa beli apaa saja yang baik, yang kamu inginkan ya…”, “ini buat ditabung beli hp, tapi hpnya buat bantu kamu belajar, oke!” atau kita bisa pakai cara kreatif lain. Untuk anak yang masih balita, kita bisikannya ke orang tuanya.

Kelihatannya sepele, tapi saya selalu ingat pesan bisikan ini ketika di beri uang sangu. Memang kalau pas bahagia kan kita lebih ingat detil apa yang kita rasakan, yang kita alami, termasuk nasehat yang kita terima. Tapi banyak bisikan yang saya terima adalah “ini nanti buat beli permen ya…”, “buat beli bakso”, “buat nanti beli minum di jalan” dan yang mirip-mirip.

Saya tidak suka membenarkan sepihak. Tapi saya mencoba nggedabrus, bersaran sesuai pengalaman ini, yaitu sebenarnya jika kita melakukan sedikit saja perubahan dalam tradisi Badhan ini (membubuhi nasehat atau saran yang baik pas ngasih sangu itu), saya yakin dampaknya akan luar biasa, bahkan sampai anak-anak itu nanti tidak jadi lagi anak-anak.

Apapun cerita ini, saya tidak memungkiri ada sisi negatif dari tradisi Badhan, terutama ketika saya kecil, motivasi biar dapat sangu banyak, biar jadi Raja Badhan selalu ada. Apapun pandangan anda juga, saya sangat menghargainya, dan yang jelas… saya sangat bersyukur dan bahagia mempunyai pengalaman seperti ini dulu, terlepas dari berbagai sisi positif dan negatifnya, sekarang saya lebih bisa belajar kembali, menjadi bagian untuk membuat tradisi ini lestari, semakin baik, dan barokahnya yang saya harapkan adalah tidak terputusnya tali silaturahim, bahkan sampai saya tua kelak, dan semoga anda pun juga… Allahumma Amin…

Awesome Stories & Inspirations · Stories

Menjadi seorang otaku

Cerita ini levelnya masih beginner & no necessary skills are required 

Oke. Sedikit nyeleweng, cerita menjadi seorang Otaku, barangkali bagi kalian (yang masih awam) akan membayangkan saya adalah seorang yang benar-benar aneh, berkacamata tebal, pandai menggambar komik, dan punya isi otak ensiklopedi berjalan seputar anime dan manga.

Itu tidak seluruhnya benar. Lihat foto profil saya.

Otaku menurut pengertian dari Pakde Wikipedia adalah sebagai berikut:

Arti Otaku

Ya, jadi seorang Otaku memang identik dengan anime dan manga, namun terlepas dari itu,  penyebutan istilah ini adalah untuk orang-orang gila yang benar-benar menekuni hobinya. Nah, ini sama saja dengan label “Geek” bagi penggila komputer dan teknologi.

Jika sekarang penyebutan Geek sudah mulai meluas pada banyak bidang,yaitu tidak hanya komputer dan teknologi, maka begitu juga dengan otaku.

Oleh karena itu, cerita kali ini pada intinya ingin meluruskan bahwa menjadi otaku tidak berarti kalian menjadi seorang pecinta anime dan mangan, namun termasuk apapun hobi yang kalian tekuni. Tapi istilah ini jangan diamantakan untuk hobi yang sakral ya… seperti jika kalian hobi Tarti dan Qiro’ah, maka kalian jangan menyebut Otaku Tartil dan Qiro’ah. Yoi.

Sebagai penutup cerita singkat dan kurang bermakna kali ini, saya menambahkan untuk penyebutan Otaku. Meski istilah ini telah meluas, namun label “orang gila” pada mereka para Otaku atau Geek masih melekat lho… jadi jika kalian sudah bosan menjadi orang yang waras-waras begitu saja, silahkan menjadi Otaku. Jos.

Akhir kata, jangan takut menjadi otaku, karena banyak diantara sedikit otaku yang telah mengubah dunia, setidaknya dunia mereka sendiri.

 

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters

Mulailah dengan basmallah

Cerita ini merupakan hasil kilasan dari salah satu tulisan M. Quraish Shihab, pada bukunya yang berjudul Lentera Al-Quran: Kisah dan Lentera Kehidupan.

Mulailah segala aktivitas kita dengan mengucap basmalah, yakni Bi Ism Allah Al-Rahman Al-Rahim, agar kita mendapatkan berkah serta membuat kita bersikap positif dan melahirkan karya yang bermanfaat. M. Quraish Shihab menjelaskan dengan detail setiap kata yang tertera dalam ucapan ini. Beliau lebih lanjut menegaskan bahwa setiap kata dalam basmalah memiliki makna yang sangat mendalam apabila kita renungkan dengan hati.

Kata bi dalam basmallah dapat menunjuk pada arti “dengan” yang dikaitkan dengan kata “memulai”. Selain itu, kata bi ini juga dikaitkan dengan “kekuasaan dan pertolongan”. Sehingga apabila dikaitkan dengan kata Allah dapat menunjukkan bahwa kita ketika akan memulai suatu aktivitas atau pekerjaan adalah karena-Nya, bukan dari ambisi dan keuntungan pribadi semata.

Sedangkan kata Al Rahman dan Al Rahim menunjukkan bahwa Allah yang kita sebut dalam basmallah mempunyai sifat pengasih lagi penyayang. Kita dapat meneladai sifat tersebut dengan berharap akan kasih sayang Allah, sehinga kita juga berharap untuk mampu memberikan kasih sayang dalam tujuan aktivitas kita. Kasih sayang ini akan memicu semangat dan memberikan kemudahan serta makna yang lebih luas dari pekerjaan yang kita lakukan.

Mengucap basmallah secara sungguh-sungguh, pada akhirnya membuat kita menjadi yakin bahwa apabila kita melakukan aktivitas dengan (demi) Allah SWT yang merupakan Dzat Rahman dan Rahim, memberi kita ketenangan hati, perasaan optimis dan semangat, serta berbuah hasil yang berkah, yakni yang diberikan manfaat berlebih, bukan hanya apabila kita melakukan satu berbuah satu, namun dapat juga berbuah lebih, bahkan melebihi apa yang kita perkirakan.

Semoga tulisan ini mengispirasi anda para pembaca untuk menyimak lebih lanjut tulisan-tulisan indah karya M. Quraish Shihab pada bukunya Lentera Al-Quran: Kisah dan Lentera Kehidupan

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters

Berpikir lebih luas

Segala sesuatu kejadian apapun di alam semesta ini tidak akan ada tanpa seizin-Nya. Menyadari hal tersebut, membuat kita mengagumi bahwa Allah SWT lah yang hanya mempunyai kekuatan untuk mengatur segala sesuatu, sekecil apapun dalam setiap detailnya. Insipari pembuka ini adalah dari tulisan indah dari Harun Yahya.

Manusia merupakan makhluk paling mulia, yang paling dicintai Allah. Namun manusia juga, merupakan makhluk yang paling mudah terkabur dan takabur pemikirannya. Kyai Syairozi dawuh bahwa makhluk satu ini dimodel bisa melakukan sesuatu, padahal sejatinya tidak bisa. Oleh karena itu kebanyakan dari mereka merasa bisa, sehingga sering lupa akan siapa Yang Maha Kuasa.

Sedangkan banyak dari manusia yang merasa menderita, kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan, merasa tidak bisa, pesimistis, sehingga berujung ke dalam pemikiran yang menyimpulkan bahwa kehidupan yang mereka alami tidak adil dan ada sesuatu yang salah. Walaupun keadaan berbalik dari yang saya ceritakan di atas, kaum manusia yang diranda masalah kesulitan ini, juga merupakan manusia yang lalai akan siapa Yang Maha Kuasa.

Pemikiran yang semakin sempit dan redup, kita alami ketika permasalahan hidup semakin tinggi. Pemikiran demikian pada akhirnya dapat berujung pada dua hal, yakni ia terus menerus menuju kegelapan dan kesempitan yang akhirnya menjepitnya, membuat ia melakukan hal yang ceroboh, yang akan ia sesali bahkan ketika sudah mati kemudian. Atau berujung pada adanya penemuan secercah harapan, akan sinar yang datang dari Allah SWT, sehingga tersadar, bahwa kejadian yang menimpa dirinya merupakan bentuk tali dari Allah agar ia tidak keluar dari kasih sayang-Nya.

Allah lebih senang jika hamba-hambanya dapat kembali lagi ke surga-Nya. Namun demikian, banyak dari kita yang sering khilaf, sehingga Allah memberi kebijakan dan pengingat agar kita tetap berada dalam jalur yang benar.

Setiap permasalahan dalam hidup kita, apabila dimaknai sebagai rambu-rambu dari Tuhan untuk mengarahkan, dan menaikkan derajat manusia, sehingga pada akhirnya akan membawa kebahagiaan sejati, tentu hal ini akan membuat hidup menjadi lebih tenang, dan berkah.

Menjadi pemikir yang demikian tidak mudah dalam prakteknya. Karena tidak seperti praktek yang ada yang dibuat manusia, praktek menjadi pemikir yang bijak membutuhkan waktu seumur hidup. Saya pun dalam hal ini masih belajar terus menerus, walaupun pada akhirnya saya masih tetap belajar, dan belajar. Kalian merupakan wadah belajar bagi saya.

Semoga Allah SWT menjadikan kita orang yang beruntung pada akhirnya.

Awesome Stories & Inspirations · Science & Knowledge

Lindungi pikiranku dan mu dari ketakutan

Baru-baru ini, saya menemukan channel YouTube yang sangat menarik, yaitu BigThink. Tidak ada ruginya kalian subscribe channel ini, karena betapapun merananya Bahasa Inggris kalian, Bibi YouTube sangat baik hati karena telah menambahkan caption atau subtitle (walaupun masih dalam bentuk Inggris juga).

Kali ini, saya bagikan salah satu video yang sangat bagus untuk kalian-kalian para penakut (kaya yang nulis nggak penakut aja). Oke, selamat menonton videonya di bawah ini dan santai karena tidak panjang kok durasinya:

Terima kasih pada Eyang Google, Bibi YouTube, BigThink, dan Bibi Susan David.