Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Komunikasi dengan hati

Pengalaman awal menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK dapat saya gambarkan unik.

Begini:

Pertama berkunjung ke yayasan, saya dipertemukan dan berinteraksi dengan anak-anak spesial–bahkan dalam paket jumbo. Lima anak sekaligus!. Saya waktu itu hanya sendiri, satu ruangan dengan mereka.

Ada dua anak yang anteng duduk, dengan meja kecil dihadapannya lengkap dengan kertas dan crayon–tapi dia bingung mau gambar apa. Ada yang sedang merangkai puzzle di lantai. Ada juga yang suka main plorotan dan terus… plorotan dan terus… plorotan dan terus… Lalu ada yang muter-muter sambil bawa mainan bola-bola kecil. Nah, yang paling keren itu ada yang muter-muter, tidak bawa mainan apa-apa, tapi dia seneng banget naik meja loncat dari kursi ke kursi, ke meja lagi… ke kursi lagi… hmmm.

Saya gugup dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Yaudahlah yang penting niat saya pedekate ke mereka.

Dan hasilnya sudah terduga. Saya yang jarang pedekate ke cewek (*tidak ada keterangan lebih lanjut) sekarang mencoba pedekate ke anak, anak spesial. Hasilnya dicuekin. Banget.

Tapi… ya… , awalnya mereka cuek dan saya tidak menyerah. Terbukti lama kelamaan saya dapat menjalin komunikasi. Walaupun tidak intens.

Tapi jangan dibayangkan komunikasi saya dengan mereka layaknya gaya ke anak biasa. Saya masih ingat pada waktu itu adalah pengalaman pertama saya bisa belajar memahami komunikasi sejati. Dalam pengertian yang lebih luas, komunikasi dengan hati–kita menyebutnya.

Komunikasi dengan hati ini bukan berarti membuat saya buaper ya. Tidak dibutuhkan baper dalam cerita ini (maaf bagi teman saya yang tersummon boleh mengajukan banding).

Menurut saya berinteraksi dengan anak-anak spesial ini membuat saya terlatih untuk terbiasa dengan kenuikan gaya mereka. Hal lain adalah membuat saya berlatih fokus, karena makna pesan yang diberikan tidak melulu pada verbal yang mereka utarakan, namun juga melalui indera mereka, seperti gerakan tangan, sentuhan, ekspresi wajah, tindakan, dan lainnya.

Dari ini, saya belajar bahwa sebesar apapun hambatan kita berkomunikasi, kalau memang niatnya dari hati, akan bermakna dan akan sampai pesannya. Berbeda dengan keadaan dimana sekecil apapun hambatan kita berkomunkasi, kalau memang niatnya tidak dari hati, akan tidak bermakna. Tidak akan sampai pesannya.*

*premis ini berbeda konteks dengan kebiasaan saya yang luama balas chat. Itu saya klarifikasikan “bisa dijelaskan kok hehehe”.

Saya sering dapat wejangan–“ikuti dunia mereka”, “jangan disambi”. Nasehatan yang saya dapat dalam maksud lain adalah–“jadilah pendengar dan pengamat yang baik”, “jangan setengah-setengah dalam memahami mereka”.

Prinsip ini saya kira sangat bisa diterapkan dalam lingkup lebih luas. Kepada anak-anak spesial ini, orang tua mereka, teman kolega, teman relawan, teman pendamping hidup (pasti ada!), dan teman-teman yang lain. Prinsip ini juga bisa diterapkan pada musuh atau orang yang membenci kita. Kalau gak percaya coba lakuin aja, nanti cerita ke saya ya hasilnya kaya gimana.

Berinteraksi dengan anak-anak spesial ini menurut saya malah mereka yang memberikan pelajaran berharga. Saya dapat pelajaran cara berkomunikasi dengan benar-benar berkomunikasi.

Sedangkan bertemu dengan mereka, orang tuanya, serta teman-teman relawan dan staff di lingkungan ini memberi pengalaman yang tidak saya harapkan ada–di kehidupan saya yang datar-datar saja.

Karena pengalaman ini sangat mengagumkan, menjadi relawan ternyata lebih luas manfaatnya daripada persepsi pikiran saya.

Quotes

Curiga

Kita hidup di masa yang penuh kecurigaan dan, saya pikir, itu perangkap besar yang bisa membuat kita tidak mampu berbuat apa-apa untuk orang lain. Kita cuma mau melakukan hal-hal tertentu demi kepentingan diri sendiri.

— Aan mansyur —

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Spesial

Melihat pada cerita awal blog ini, kalau dikenang-kenang memang tidak ada yang kebetulan. Saya menemukan titik nyambung, dari membaca buku sampai berkesempatan berbagi dan berperan untuk mereka yang spesial–yang sampai saat ini masih tak menyangka.

Mengapa buku Life Without Limit karya Nick Vujinic terbaca oleh saya, kemudian saya tulis cerita tentang Nick dan copypaste puisinya: Unicorn Bersayap Plastik. Seperti kenyambungan, karena beberapa bulan setelah itu, saya masuk dalam lingkungan dimana anak-anak spesial berada.

Yang saya maksud spesial adalah mereka, anak kebutuhan khusus. Seperti autis, down syndrome, cerebral palsy, tuna grahita, gangguan pendengaran, tuna visual, dan lainnya. Penggunaan representasi kata yang tepat selain “berkebutuhan khusus” memang sulit dilakukan, karena pilihan kata lainnya adalah disabilitas, cacat, kurang mampu, yang menurut saya sendiri kurang berkenan di hati.

Sebenarnya ada kata “difabel” yang saya masih ingat disarankan oleh Mas Bayu (psikolog kami, dan orang keren yang sering mengucap kata yuhuuu). Difabel atau different ability kemudian yang saya pahami memang mirip-mirip lah dengan berkebutuhkan khusus.

Hmm….memang sampai saat ini pun penggunaan pemilihan kata masih belum ada yang fiks. Baik yang dipakai kita (yayasan), pemerintah, dan UNESCO.

Tapi tak usah ambil bingung, intinya saat itu saya bersyukur dapat bergabung menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK, tepatnya pada September 2016.

Titik awal inilah yang menghadirkan cerita-cerita diluar “biasa” pada selama setahun berikutnya, pada kehidupan saya.

Quotes · Stories

You have to do it yourself

Nobody is going to do your life for you. You have to do it yourself, whether you’re rich or poor, out of money or making it, the beneficiary of ridiculous fortune or terrible injustice. And you have to do it no matter what is true. No matter what is hard. No matter what is unjust, sad, sucky things befall you. Self pity is a dead end road. You can make the choice to drive down it. It’s up to you to decide to stay parked there or to turn around and drive out – Cheryl Stryed.

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Badhan Idul Fitri

Badhan — saya tidak terlalu yakin penulisannya benar, tapi kata ini bermakna “Hari Raya” yang sering digunakan di masyarakat desa saya.

Tradisi Badhan Idul Fitri, di dalamnya ada berbagai kegiatan; seperti sholat ied, penerbangan balon raksasa, mainan petasan, dan yang wajib adalah silaturahim atau biasa disebut “nglencer” ke tetangga dan saudara seantero desa.

Silaturahim atau nglencer inilah yang  menurut saya kecil sangat menyenangkan, karena jadi ajang dan ladang pekerjaan baru selama 7 hari berturut-turut, sekedar untuk pembuktian banyak-banyakan pesangon dari rumah ke rumah. Yang paling banyak dapat, dinobatkan menjadi “Raja Badhan tahun ini” – penghargaan paling bergengsi bagi kalangan anak-anak waktu itu.

Saya berjuang mati-matian dari rumah ke rumah, biar dapat terbanyak sangu-nya. Karena ini kompetisi antar individu, teman-teman saya pun sebenarnya adalah saingan. Pengasahan dan praktek strategi yang mantap berpengaruh besar pada hasil akhir. Banyak dari kami yang berkoalisi, membentuk grup “pasukan golek duek” yang terdiri dari dua sampai lima anak.

Lima menjadi jumlah rata-rata anggota grup, karena di atas lima justru tidak memberi untung, mengakibatkan rata-rata pesangon yang diberikan menurun.

Misal: jika ada empat anak dalam suatu grup, masing-masing bisa dapat Rp. 5000 per rumah, penurunan akan terjadi jika enam anak yang nglencer – dengan perolehan masing-masing dapat Rp. 4000 atau bahkan hanya Rp. 2000. Hal ini terjadi berdasarkan alokasi anggaran tuan rumah rata-rata yang dikeluarkan untuk sangu per grup nglencer adalah Rp. 20.000 – 25.000 (munculnya angka ini berdasarkan hasil wawancara narasumber, yang mana itu adalah teman-teman saya dan temannya teman di berbagai dusun; serta melihat juga inflasi rata-rata per-rumah tangga untuk tahun ini & tren persentase anggaran pesangon dengan anggaran lain yang bisa mempengaruhi, seperti anggaran untuk renovasi rumah, beli ornamen, cat, dan petasan untuk menyambut hari raya).

Melihat analisis di atas, saya selalu ketat dalam mengatur jumlah anggota grup agar tetap sehat dan memberi produktivitas maksimal. Namun ternyata, selain jumlah anggota grup, ada hal lain yang mempengaruhi – yaitu timing atau waktu nglencer yang pas, networking atau luasnya pertemanan, serta seberapa kita mengenal tuan rumah yang dikunjungi.

Dalam hal ini, strategi terbaik yang sering berhasil saya terapkan adalah “quality over quantity” – saat itu saya tidak pakai istilah seribet ini sih. Jumlah anggota grup selalu dibatasi maksimal lima anak. Siasat nglencer pada pagi menjelang siang, karena tuan rumah masih mudah memberi sangu pada jam-jam itu. Sedangkan melihat perlunya jejaring dan mengenal tuan rumah, hal yang perlu diperhatikan sebenarnya hanyalah “siapa saja yang ada di dalam grup saya?”.

Jika anggota grup adalah anak para tokoh atau orang yang cukup dikenal di desa, maka berbagai keberuntungan bisa kami peroleh. Tidak usah susah payah perkenalan diri, cukup jawab “nggih” ketika ditanya “oalah, kamu ini anaknya pak…. ini to, ya ya ya… wes guede ya…?”. Tidak usah berpikir terlalu dalam tentang obrolan apa yang paling menarik bagi tuan rumah, cukup diam sopan dan makan jajan seperlunya, cukup sekitar lima menit bertamunya, pamitan dan pasti dapat sangu.

Bertahun-tahun selama masih jadi anak-anak, saya terapkan strategi ini dan pas akhir lebaran, setidaknya nama saya selalu jadi pembicaraan hangat di kalangan rumpi anak-anak. Namun untuk jadi juara Raja Badhan memang tidak mudah. Meskipun berbagai upaya yang telah saya terapkan, begitu juga perubahan dan inovasi strategi; masih saja sulit menembus juara satu. Banyak faktor tidak terduga, dan yang paling berpengaruh adalah pesangon dari saudara atau dari tuan rumah yang “tidak biasa”, yang bahkan bisa memberi nominal fantastis. Tapi pengalaman ini mengajarkan saya yang masih anak-anak untuk lebih tawakkal dan qanaah dalam model belajar yang agak aneh memang. Yah…. paling tidak masuk sepuluh besar lah setiap tahunnya, lipur saya.

Ceritanya sudah cukup panjang lebar, yang kurang hanya isinya mungkin. Tapi cerita ringan ini, saya yakin pengalaman lalu ini adalah pengalaman bersama yang pasti anda pernah alami juga. Memang kalau dipikir-pikir tradisi hari raya bermacam-macam di Indonesia,  dan Badhan Idul Fitri di masyarakat jawa adalah tradisi khas yang unik – memberi pesangon pada anak kecil yang notabene sering dikaitkan dengan budaya materialistis yang kok sudah diajarkan pada anak kecil memang dapat jadi kritik.

Ambil hikmahnya saja kalau begitu, daripada memenuhi pikiran dengan prasangka. Kalau saya sendiri yakin budaya ini lebih banyak manfaatnya. Bagi tuan rumah sebagai sarana sedekah, bagi anak-anak sebagai sarana hadiah. Memang ada sensitifitas mengapa kok harus pakai uang, dan tapi, disitulah peran kita yang sudah tidak anak-anak lagi sangat penting.

Kita mempunyai peran meluruskan tujuan mulia tradisi ini. Sangu sering menjadi pemicu utama eratnya silaturahim, karena berbagai cerita lucu yang dapat kita lontarkan pas waktu dewasa bertemu kembali dengan sanak saudara. Kita pun dapat semakin memperindahnnya. Kita sudah (ada yg hampir) memerankan menjadi “tuan rumah” yang memberi sangu.

Ketika anak-anak kita kasih sangu, baiknya kita sambil bisikan “ini nak nanti untuk sedekah atau buat beli buku ya…”,  “ini buat bantu ayahmu beli seragam sekolah ya” “ini buat kamu tabung biar bisa beli apaa saja yang baik, yang kamu inginkan ya…”, “ini buat ditabung beli hp, tapi hpnya buat bantu kamu belajar, oke!” atau kita bisa pakai cara kreatif lain. Untuk anak yang masih balita, kita bisikannya ke orang tuanya.

Kelihatannya sepele, tapi saya selalu ingat pesan bisikan ini ketika di beri uang sangu. Memang kalau pas bahagia kan kita lebih ingat detil apa yang kita rasakan, yang kita alami, termasuk nasehat yang kita terima. Tapi banyak bisikan yang saya terima adalah “ini nanti buat beli permen ya…”, “buat beli bakso”, “buat nanti beli minum di jalan” dan yang mirip-mirip.

Saya tidak suka membenarkan sepihak. Tapi saya mencoba nggedabrus, bersaran sesuai pengalaman ini, yaitu sebenarnya jika kita melakukan sedikit saja perubahan dalam tradisi Badhan ini (membubuhi nasehat atau saran yang baik pas ngasih sangu itu), saya yakin dampaknya akan luar biasa, bahkan sampai anak-anak itu nanti tidak jadi lagi anak-anak.

Apapun cerita ini, saya tidak memungkiri ada sisi negatif dari tradisi Badhan, terutama ketika saya kecil, motivasi biar dapat sangu banyak, biar jadi Raja Badhan selalu ada. Apapun pandangan anda juga, saya sangat menghargainya, dan yang jelas… saya sangat bersyukur dan bahagia mempunyai pengalaman seperti ini dulu, terlepas dari berbagai sisi positif dan negatifnya, sekarang saya lebih bisa belajar kembali, menjadi bagian untuk membuat tradisi ini lestari, semakin baik, dan barokahnya yang saya harapkan adalah tidak terputusnya tali silaturahim, bahkan sampai saya tua kelak, dan semoga anda pun juga… Allahumma Amin…

Giving Matters · Stories

Tanyakan pada dirimu, bukan itu permasalahannya

Sering dulu berpikir, aku telah menemukan hidup. Waktu itu, dengan mudah aku menjawab “Dewasa nanti aku menjadi dalang!” dalang pengatur persahabatan, peperangan, dan kemenangan. Dalang pagelaran kesatria beradu angkara, berlatar wayang nyanyian gamelan, lengkap suara merdu. Ini cita-citaku, walau tidak semua setuju. Namun, bukan itu permasalahannya. Mengapa ingin menjadi dalang, kalau presiden terlihat cemerlang? Bertahan cuma sewindu pun menjadi bimbang.

Selama waktu, cita-citaku bercabang. “Aku ingin menjadi masinis!” menggerakan barang besi itu menuju penjuru sampai berhenti di belakang rumahku. Sungguh impian tetapi sayang, lebaran tiba aku lupa, kalau masinis tetap bekerja, dan aku tidak rela kehilangan pendapatan berharga. Hanya sebagai anak kecil. Aneh namun, bukan itu permasalahannya. Aku anak-anak mengenal awam.

Sentilan guyonan, aku berpikir. Mereka mengejar cita-cita untuk uang, jadi ini gampang. “Aku akan mencari uang!” Mau berkata apa kalian? dan kupikir permasalahan selesai. Namun, bukan itu permasalahannya. Menjadi tidak serius, aku remaja terhanyut arus.

Sekian mendengar cerita ulung, halusinasi muncul melambung. Aku terjebak dunia khayalan begitu tenggelam. Benar, arus hidup guyonan bak persepsi mengikis tak realistis. Namun, bukan itu permasalahannya. Aku meluncur berkhayal mulus dan begitu saja terus, sampai jenuh mempertanyakan – Apa cita-citamu lagi? Sudah cukup? Aku dewasa terjebak, tersadar kenyataan, bukan itu permasalahannya.

Sudah lepaskan tabiat walau berat, dan cepat taubat cermati nubuat. Yang nyata, hidupku bukan khayalan-khayalan awam. Cepat sadar, karena memang bukan itu permasalahannya – dan apa aku sadar? Apa permasalahannya?

Setelah terhentak semua jelas. Permasalahan memang muara satu. Bukan temu tapi ingat, karena lupa ternyata dindingku. Sedari dulu, jauh sebelum pikiranku, sadarku, lahirku, aku sudah tahu. Tapi jangan sekali-kali salahkan cita-cita mengapa muncul, karena itu dari keyakinan. Mungkin mengapa keyakinan itu wujud iman. Namun tegaskan – sudahkah ku salahkan keyakinan? Curiga besar, karena keyakinanku hanya datang semu dari nafsu, sebentar segera pudar, lemah karena salah, goyah berganti-ganti karena keyakinan ini tidak datang dari yang Maha Pasti.

Sekarang aku tahu, karena itu permasalahannya.

Awesome Stories & Inspirations · Stories

Menjadi seorang otaku

Cerita ini levelnya masih beginner & no necessary skills are required 

Oke. Sedikit nyeleweng, cerita menjadi seorang Otaku, barangkali bagi kalian (yang masih awam) akan membayangkan saya adalah seorang yang benar-benar aneh, berkacamata tebal, pandai menggambar komik, dan punya isi otak ensiklopedi berjalan seputar anime dan manga.

Itu tidak seluruhnya benar. Lihat foto profil saya.

Otaku menurut pengertian dari Pakde Wikipedia adalah sebagai berikut:

Arti Otaku

Ya, jadi seorang Otaku memang identik dengan anime dan manga, namun terlepas dari itu,  penyebutan istilah ini adalah untuk orang-orang gila yang benar-benar menekuni hobinya. Nah, ini sama saja dengan label “Geek” bagi penggila komputer dan teknologi.

Jika sekarang penyebutan Geek sudah mulai meluas pada banyak bidang,yaitu tidak hanya komputer dan teknologi, maka begitu juga dengan otaku.

Oleh karena itu, cerita kali ini pada intinya ingin meluruskan bahwa menjadi otaku tidak berarti kalian menjadi seorang pecinta anime dan mangan, namun termasuk apapun hobi yang kalian tekuni. Tapi istilah ini jangan diamantakan untuk hobi yang sakral ya… seperti jika kalian hobi Tarti dan Qiro’ah, maka kalian jangan menyebut Otaku Tartil dan Qiro’ah. Yoi.

Sebagai penutup cerita singkat dan kurang bermakna kali ini, saya menambahkan untuk penyebutan Otaku. Meski istilah ini telah meluas, namun label “orang gila” pada mereka para Otaku atau Geek masih melekat lho… jadi jika kalian sudah bosan menjadi orang yang waras-waras begitu saja, silahkan menjadi Otaku. Jos.

Akhir kata, jangan takut menjadi otaku, karena banyak diantara sedikit otaku yang telah mengubah dunia, setidaknya dunia mereka sendiri.

 

Quotes

Unique of our magnificient brain

Learning is about doing the work that your brain requires. So the best strategies are going to vary between individuals…

You and your plastic brain are constantly being shaped by the world around you. Understand that everything you do, everything you encounter, and everything you experience is changing you brain. And that can be for better but it can also be for worse. So go out and build the brain you want.

– Lara Boyd –

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters

Mulailah dengan basmallah

Cerita ini merupakan hasil kilasan dari salah satu tulisan M. Quraish Shihab, pada bukunya yang berjudul Lentera Al-Quran: Kisah dan Lentera Kehidupan.

Mulailah segala aktivitas kita dengan mengucap basmalah, yakni Bi Ism Allah Al-Rahman Al-Rahim, agar kita mendapatkan berkah serta membuat kita bersikap positif dan melahirkan karya yang bermanfaat. M. Quraish Shihab menjelaskan dengan detail setiap kata yang tertera dalam ucapan ini. Beliau lebih lanjut menegaskan bahwa setiap kata dalam basmalah memiliki makna yang sangat mendalam apabila kita renungkan dengan hati.

Kata bi dalam basmallah dapat menunjuk pada arti “dengan” yang dikaitkan dengan kata “memulai”. Selain itu, kata bi ini juga dikaitkan dengan “kekuasaan dan pertolongan”. Sehingga apabila dikaitkan dengan kata Allah dapat menunjukkan bahwa kita ketika akan memulai suatu aktivitas atau pekerjaan adalah karena-Nya, bukan dari ambisi dan keuntungan pribadi semata.

Sedangkan kata Al Rahman dan Al Rahim menunjukkan bahwa Allah yang kita sebut dalam basmallah mempunyai sifat pengasih lagi penyayang. Kita dapat meneladai sifat tersebut dengan berharap akan kasih sayang Allah, sehinga kita juga berharap untuk mampu memberikan kasih sayang dalam tujuan aktivitas kita. Kasih sayang ini akan memicu semangat dan memberikan kemudahan serta makna yang lebih luas dari pekerjaan yang kita lakukan.

Mengucap basmallah secara sungguh-sungguh, pada akhirnya membuat kita menjadi yakin bahwa apabila kita melakukan aktivitas dengan (demi) Allah SWT yang merupakan Dzat Rahman dan Rahim, memberi kita ketenangan hati, perasaan optimis dan semangat, serta berbuah hasil yang berkah, yakni yang diberikan manfaat berlebih, bukan hanya apabila kita melakukan satu berbuah satu, namun dapat juga berbuah lebih, bahkan melebihi apa yang kita perkirakan.

Semoga tulisan ini mengispirasi anda para pembaca untuk menyimak lebih lanjut tulisan-tulisan indah karya M. Quraish Shihab pada bukunya Lentera Al-Quran: Kisah dan Lentera Kehidupan

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters

Berpikir lebih luas

Segala sesuatu kejadian apapun di alam semesta ini tidak akan ada tanpa seizin-Nya. Menyadari hal tersebut, membuat kita mengagumi bahwa Allah SWT lah yang hanya mempunyai kekuatan untuk mengatur segala sesuatu, sekecil apapun dalam setiap detailnya. Insipari pembuka ini adalah dari tulisan indah dari Harun Yahya.

Manusia merupakan makhluk paling mulia, yang paling dicintai Allah. Namun manusia juga, merupakan makhluk yang paling mudah terkabur dan takabur pemikirannya. Kyai Syairozi dawuh bahwa makhluk satu ini dimodel bisa melakukan sesuatu, padahal sejatinya tidak bisa. Oleh karena itu kebanyakan dari mereka merasa bisa, sehingga sering lupa akan siapa Yang Maha Kuasa.

Sedangkan banyak dari manusia yang merasa menderita, kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan, merasa tidak bisa, pesimistis, sehingga berujung ke dalam pemikiran yang menyimpulkan bahwa kehidupan yang mereka alami tidak adil dan ada sesuatu yang salah. Walaupun keadaan berbalik dari yang saya ceritakan di atas, kaum manusia yang diranda masalah kesulitan ini, juga merupakan manusia yang lalai akan siapa Yang Maha Kuasa.

Pemikiran yang semakin sempit dan redup, kita alami ketika permasalahan hidup semakin tinggi. Pemikiran demikian pada akhirnya dapat berujung pada dua hal, yakni ia terus menerus menuju kegelapan dan kesempitan yang akhirnya menjepitnya, membuat ia melakukan hal yang ceroboh, yang akan ia sesali bahkan ketika sudah mati kemudian. Atau berujung pada adanya penemuan secercah harapan, akan sinar yang datang dari Allah SWT, sehingga tersadar, bahwa kejadian yang menimpa dirinya merupakan bentuk tali dari Allah agar ia tidak keluar dari kasih sayang-Nya.

Allah lebih senang jika hamba-hambanya dapat kembali lagi ke surga-Nya. Namun demikian, banyak dari kita yang sering khilaf, sehingga Allah memberi kebijakan dan pengingat agar kita tetap berada dalam jalur yang benar.

Setiap permasalahan dalam hidup kita, apabila dimaknai sebagai rambu-rambu dari Tuhan untuk mengarahkan, dan menaikkan derajat manusia, sehingga pada akhirnya akan membawa kebahagiaan sejati, tentu hal ini akan membuat hidup menjadi lebih tenang, dan berkah.

Menjadi pemikir yang demikian tidak mudah dalam prakteknya. Karena tidak seperti praktek yang ada yang dibuat manusia, praktek menjadi pemikir yang bijak membutuhkan waktu seumur hidup. Saya pun dalam hal ini masih belajar terus menerus, walaupun pada akhirnya saya masih tetap belajar, dan belajar. Kalian merupakan wadah belajar bagi saya.

Semoga Allah SWT menjadikan kita orang yang beruntung pada akhirnya.

Awesome Stories & Inspirations · Science & Knowledge

Lindungi pikiranku dan mu dari ketakutan

Baru-baru ini, saya menemukan channel YouTube yang sangat menarik, yaitu BigThink. Tidak ada ruginya kalian subscribe channel ini, karena betapapun merananya Bahasa Inggris kalian, Bibi YouTube sangat baik hati karena telah menambahkan caption atau subtitle (walaupun masih dalam bentuk Inggris juga).

Kali ini, saya bagikan salah satu video yang sangat bagus untuk kalian-kalian para penakut (kaya yang nulis nggak penakut aja). Oke, selamat menonton videonya di bawah ini dan santai karena tidak panjang kok durasinya:

Terima kasih pada Eyang Google, Bibi YouTube, BigThink, dan Bibi Susan David.