Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Yang saya tahu saya perlu belajar menjadi pembelajar

Begitu banyak pengalaman tak enak (jengkel) ketika berbagi pikiran dan ide ide yang menurut saya kreatif karena ada salah satu atau beberapa teman yang tak sepemikiran, atau menentangnya. Memang pepatah yang saya pegang adalah: “hargai pendapat orang lain”. Namun pada kenyataan yang saya jalani sebagai prinsip adalah “hargai saya dulu, karena bagimu, saya adalah orang lain, kan?”.

Cerita kali ini berbicara tentang kekeliruan pemahaman, dan percobaan berbagi pemahaman baru tentang menjadi pembelajar. Latar belakangnya adalah karena arogansi saya yang mendapuk diri sendiri sebagai “pembelajar” padahal state-of-realities-nya saya masih jauh, masih tingkat kroco (precil, atau masih kecil, jauh dari tingkat atas). Apalagi ternyata niat saya hanya ingin cap itu.

Saya perlu belajar lagi bagaimana menjadi pembelajar, dan setelah beberapa kali baca artikel dan pendapat para ahli (ahli benar, Insyallah), saya mendapat kesimpulan ini:

Pembelajar tak pernah menganggap dirinya pembelajar.

Ia menganggap dirinya selalu menjadi orang yang miskin, kekurangan, dan haus akan hal baru, perspektif berbeda, kesimpulan baru, perubahan dan kebenaran yang lebih dari prakiraan pikirannya, yang mana ia benar-benar sibuk mengurusi semua hal itu, sehingga klaim atas “saya adalah pembelajar” tak pernah mereka gaungkan.

Memang jika tak lihai, kita banyak menemukan diluar sana sudah terlalu banyak orang arogan (knower-sok tahu-sotoi) yang berkali-kali mengklaim diri mereka sebagai pembelajar. Kita seringkali tertipu, dan mereka yang benar-benar pembelajar-pun tak risau dengan hal itu.

Karena sang pembelajar akan selalu menemukan muara kebesaran Yang Maha Bijaksana, yang itu lebih nikmat dari pengakuan manusia.

Sungguh nikmat ketika membayangkan mereka berkali kali mendapat “nikmat” yang tak terkira sebagai pembelajar.

Nikmat yang saya dambakan, walau masih menjadi pembayang, tapi karena saya tahu, saya masih perlu belajar menjadi pembelajar (agar merasakan “nikmat” itu juga), maka lebih baik dan memang seharusnya, mari bersama-sama belajar menjadi pembelajar.

Mari, maksud saya benar-benar mari (bukan dalam Bahasa Jawa).

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Zona Belajar

Dua minggu dengan pekerjaan baru, atmosfer yang ada benar-benar keren. Maksud saya banyak hal yang bisa (harus) saya pelajari, yang telah lama saya tunggu ke-tidak-datangan-nya. Benar kata Pak Dahlan Iskan: “Jika membenci sesuatu yang bencinya ndak biasa, suatu saat malah jadi makanan sehari-hari”.

Saya membenci hal hal yang berhubungan dengan sosialisasi, kenalan dengan orang baru, mengajak dan memberdayakan mereka. Klise ! sangat klise saya katakan ini adalah keinginan banyak manusia. Saya juga membenci proses jadi wirausaha (karena inginnya cuma tiba-tiba jadi pengusaha sukses wahaha). Semua itu, saya punya kebencian yang tidak biasa.

Sekarang malah pekerjaan saya sangat erat dengan hal itu. Stress, mangkel, dan untungnya saya hanya melihat satu jawaban, yaitu:

Jawabannya di paragaraf bawah sendiri, biar kalian baca sampai habis.

Lanjut contoh nyata yang saya alami:

Saya masih ingat ketika saya secara tak sengaja jadi relawan Yayasan Peduli Kasih ABK karena mangkel dengan kontak person pendaftaran relawan yang tak bisa bisa saya hubungi.

Saya malah jadi ketua relawan disitu (setelah dijebak teman yang seharusnya bisa saya percaya). Sebenernya jauh sebelum itu saya adalah orang yang meremehkan relawan. Mereka itu titik-titik.*

*Karena sekarang saya pro relawan, jadi kejengkelan dulu saya sensor menjadi titik-titik.

Masih sadar diri, saya sangat benci dengan hal yang berhubungan kesehatan. Jurusan Kedokteran adalah yang paling saya hindari waktu mau lulus SMA. Alasan alibi saya adalah karena itu jurusannya orang-orang pintar, dan karena saya adalah orang bias-asa. Alasan sebenarnya adalah saya tidak melihat kebaikan dokter ketika sudah pegang jarum suntik.

Tapi malah saya dapat pengalaman kerja yang mana atasan saya, rekan kerja, teman-teman relawan, yang buanyak dari jurusan itu.

Khawatir juga nanti kalau-kalau, kalau semisal, misalkan saja, kalau misal saja ternyata pendamping hidup saya juga dari lulusan kedokteran. Ok, tidak, itu berat, entah Dilan berpikiran seperti itu juga atau tidak, tapi entah kalau Tuhan berkehendak.

Yang jelas entah ini karma, tes, atau ujian dari Allah SWT yang selalu membuat saya semleho dengan tantangan “dihadapkan dengan apa apa yang saya benci secara tampak dan mak jleb di depan mata”, hanya satu jawaban yang ada:

“Jalani kesulitan ini dengan baik, walau sampai merubahmu menjadi manusia setengah dewa”

Karena menghindari bukan hal yang tak mungkin, tapi sudah terlalu sering saya lakukan, selama berduapuluh tahun lalu lamanya.

Saya selalu menghindar, lari, putar balik–dan karena teman saya pernah bilang kalau putar balik itu bukan laki, makanya sekarang saya percaya kalau ini adalah zona belajar yang ditakdirkan Allah SWT untuk hambanya yang mempunyai kelebihan malas dan kekurangan berat badan ini.

Eit, untuk mengobati kalian stress membaca tulisan saya yang njelimet, sila tonton video yang menginspirasi saya menulias cerita ini:

Stories

Pentol penantian

Penantian pentol tak dapat dielak kan dan penjual pentol masih bertebaran.

Mereka menjamur daripada jajanan jamur. Masih dan bahkan ketemu salah satunya di gang kuburan.

Penantian pentol tak dapat dielak kan dan rasa pentol masih penuh kenikmatan.

Melihat bagaimana mereka dibuat ala trasidi kepalan tangan. Masih dan bahkan kenikmatan pentol semakin terasa rasa angan.

Penantian pentol tak dapat dielak kan dan harga pentol masih jauh terjangkau jangkauan.

Setiap anak kecil yang minta uang saku pada ayahnya untuk beli pentol pasti diberikan. Masih dan bahkan setiap orang dewasa beli pentol dengan anggapan harga ringan.

Penantian pentol tak dapat dielak kan dan bukan karena keadaan di atas yang menyebabkan.

Karena bagaimanapun, pentol yang dibelikan adalah idaman, lebih dari sekedar fakta penjual pentol yang bertebaran, kenikmatannya, atau murahnya harga mereka, karena dibelikan menaikkan rasa akan segalanya, sampai akhirnya, penantian saya sudah terlalu lama, seperti bait terakhir ini yang terlalu panjang, hingga penantian pentol berubah nestapa menjadi pentol penantian.

Pentol penantian – puisi untuk seorang yang menantikan pentol dengan harapan dibelikan.

Stories · Tantangan 30 Hari

Tantangan 30 hari: nadzar sholat subuh

Sebelumnya, meleset dari perkiraan awal, baru tanggal 2 saya memutuskan untuk menjalankan tantangan 30 hari kedua, yaitu sholat subuh. Mengapa? karena itu sholat yang paling keteteran bagi saya (dan mungkin banyak khalayak yang juga seperti itu). 

Dengan niatan sekaligus, yaitu ingin memperbaiki sholat subuh saya, juga ingin membuktikan keberkahan dari solat subuh  Karena ibu saya sering menasehati: subuhan itu penting bagi orang muslim, untuk membentuk karakter, dan biar tidak lumuh (malas berlebihan yang tidak jelas penyebabya> dan sering dilabelkan pada saya -_-).

Saya ingin berubah… mumpung dalam momen tahun baru, karena semangat saya terdorong oleh kehangatan nasi goreng. 

Tantangan 30 hari kedua ini saya rasa lebih berat, karena tantangannya adalah waktu. Saya akan terbiasa bangun subuh…. yeah! 

Semoga anda juga dapat berubah lebih keren dari saya, dan semoga tantangan ini tidak menjadikan riya’ (karena soal kesombongan, saya adalah pribadi yang beusaha sombong sampai sombing). Benar lagi kata ibu saya, kalau batuk itu harus dikeluarkan riyak-nya biar cepet sembuh, begitu juga kalau beribadah, harus dikeluarkan riya’ nya biar cepet tumbuh (istiqomahnya).

Amin….

Stories

Segelas air galon terakhir dari tahun 2017

Pergantian tahun beberapa jam yang lalu dapat saya simpulkan dengan tiga kejadian: 1) kembang api dimana-mana, 2) instastory, dan 3) minum-minum.

Satu: Kembang api selalu menjadi komposisi wajib dalam merayakan tahun baru. Banyak disana sini kembang api dan yang paling membuat saya tahu itu kembang api adalah dari suaranya. 

Memang yang indah adalah nyala warni cahayanya. Namun suara duarr-nya yang terlampau nyaring menganggaung di gang kos pada pukul 23.50 sampai 00.15 membuat hati ini sedikit mangkel dan mata ini terbelalak terjaga dari tidur.

Dua: Momen tahun baru tentu jadi ajang update instastory siapapun, dengan pesan apapun. Saya juga ikutan, tapi dengan story berbeda. Bukan tentang momen tahun baru ala bakar bakar dan kumpul bersama yang dicinta. Story saya memang tentang cinta, tapi sangat murni tentang konsep cinta, tidak ada tokoh orang didalamnya.

Bukan saya jadi baper karena hanya di kos, dan sendirian… (anggap saja sendirian). Namun kebetulan saja sedang baca artikel dan eh nemu quote itu.

Tiga: Minum-minum. Mungkin ini yang menjadi pembeda peristiwa tahun baru kali ini. Saya kira anda semua tahu lah kalau seorang lagi minum-minum, berarti dia memang sedang minum-minum. Saya ingin menjernihkan makna ini dari kemabukan, karena minum adalah salah satu tindakan dasar dari manusia untuk melanjutkan hidup. 

Saya tidak mengatakan juga bahwa minum-minum pada pergantian tahun inu adalah cara saya merayakan tahun baru. Benar, hanya kebetulan saja haus saat itu, dan keadaannya, kebetulan yang tersisa hanya segelas air galon yang kemudian saya minum dan masih menyisakan dahaga ditenggorokan. 

Seperti iklan yakult, saat itu saya ingin minum dua (gelas). Tapi tersisa dicerek hanya cukup menampung satu gelas (itu pun tidak penuh), sehingga kejadian minum-minum pada pukul 00.02 di tanggal 1 januari 2018 membuat saya teringat betapa pentingnya air untuk minum-minum, tak terkecuali di malam tahun baru.

Stories

Yeah akhirnya…

Hari ini… setelah sekian lama menunggu, akhirnya saya terbebas dari “harus menulis setiap hari…yeah!”, hati jahat saya berkata seperti itu. Tapi sebelum menyadarinya–mengapa saya tetap menulis ini? mengapa tak dipikirkan saja, tanpa ditulis? Sungguh hari ini seharusnya saya tak menulis.

– bukan kutipan –

Stories

(Bukan) perayaan tantangan 30 hari

Cerita pemikiran sejenak edisi ke 3 kemarin adalah hari terakhir dari serangkaian perjalanan menulis dalam tantangan 30 hari yang saya deklarasikan. Memang tak terasa sudah, dan tantangan ini akhirnya selesai.

Ini yang saya rasakan:

  1. Bahagia? ehm… ya bisa, ya tidak. Karena selama ini saya memang bukan penulis, dan dipaksa menulis selama 30 hari adalah sesuatu yang gado-gado. Kadang bersemangat, menyenangkan, menjenuhkan, menyedihkan, dan akhirnya membiasakan.
  2. Terbiasa? ehm… ya mungkin. Karena saat ini saya merasa lebih percaya diri (lebih tepatnya tidak mikir terlalu mbulet) apa-apa yang akan saya tulis.
  3. Penulisan? ehm… tidak cukup peduli. Hehe, saya tidak peduli apapun tulisan saya, sejelek atau sebagus apapun, dan haruskah ikut peraturan harus fokus pada satu topik, aturan SEO penulisan atau yang semacam kawan-kawannya? saya memakai plugin Yoast SEO yang menilai hampir setiap tulisan saya adalah: Readibility: Not Good; SEO: Not available > gak tak pikirin.
  4. Tergugah? ehm… baru terbangun. Karena kemudian saya menjadi lebih suka untuk menuangkan pemikiran dan cerita dalam tulisan, yang sebelumnya saya tuangkan dalam dialog-dialog imajinasi pikiran saya.
  5. Terus? ehm… Insyallah. Karena ke depan saya akan tetap menulis, tapi ya nggak setiap hari lah ya. Setidaknya akan lebih sering dari apa-apa yang saya tulis pada sebelum tantangan ini.

Lima poin di atas adalah yang saya rasakan selama menjalani tantangan menulis 30 hari ini. Walau masih banyak dari standar kebagusan menulis yang belum tercapai. Karena standar itu sangat subyektif, jikalau saya boleh membela diri hehe. Tapi yang terpenting adalah dampaknya.

Dampak awal yang saya harapkan adalah agar saya tidak berpikir berlebihan, lebih konsisten, dan persisten.

Dampak nyata yang saya terima adalah “Alhamdulillah”, yang artinya ada kemajuan pada tiga harapan tersebut.

Yang paling utama adalah: pada pikiran saya semakin terarah. Menulis memperkosa pikiran saya agar tidak ngelantur dan bergumam negatif kemana-mana. Menulis membuat saya mudah fokus untuk mencurahkan isi dari pikiran ini. Dan selama 30 hari ini, saya belajar konsisten dengan segala cara (entah menulis lewat laptop, hp, atau tulisan tangan…, yang penting setiap hari menulis).

Yang paling seru adalah: menulis, atau saya katakan secara luas tantangan 30 hari membiasakan hal baik ini membuat saya mendapat pengalaman tak terduga sebelumnya. Seperti menata paving dalam jalanan yang lebar nan panjang, tantangan 30 hari membuat saya semakin pede untuk mencapai hal-hal besar, dengan langkah-langkah kecil.

Namun, permainan baru dimulai. Pada akhirnya ini adalah awalan. Tantangan 30 hari akan saya jalani kembali dengan membiasakan hal baik lain. Saya akan deklarasikan lagi tanggal 1 Januari 2018. Ya… mengapa harus menunggu tanggal itu? biar dikata punya resolusi tahun baru lah. gitu.

Sebagai penutup, menulis tentu akan tetap menjadi kebiasaan saya. Ibarat 30 hari adalah masa roket lepas landas, nanti akan ada cerita “Kebiasaan 60 hari” sebagai masa roket menembus langit, sebagai lanjutannya.

Jadi, Alhamdulillah…

Stories

Pemikiran sejenak #3

Cerita ini berbeda dengan pemikiran sejenak sebelumnya. Karena ini berasal dari beberapa orang yang menurut saya telah mempunyai pengalaman yang pantas untuk mengatakannya.

Ini adalah kutipan yang saya peroleh dari artikel ataupun video dari mereka.

Terpilih tiga kutipan yang saya bagikan kali ini, dan berasal dari latar yang berbeda-beda. Dari pemikiran sejenak orang tua (yang sekaligus menjadi peneliti orang tua) anak-anak berkebutuhan khusus; dari pemikir dua arah yang bijak lagi energik; dan dari penulis bestseller yang berbagi pengalamannya tentang boss.

You lose touch with what is ideal and start accepting what is, for better or worse. – Seth Meyers

People might hear what you say, but they always remember what you do.- Seth Godin

Let’s never forget … that whatever brilliant ideas you have or hear, that the opposite may also be true. – Derek Sivers

*link rujukan untuk membaca lebih lanjut dapat anda klik pada tautan nama beliau-beliau di atas.

Awesome Stories & Inspirations · Stories

Akan tiba saatnya…

Kalau saya saat ini sedang merasa suntuk dengan beban pekerjaan yang menumpuk. Itu bukan salah keadaan yang seakan memojokkan kesempatan saya untuk bahagia.

Kalau saya saat ini sedang kurang sehat dengan tubuh ringkih yang mudah terserang flu pancaroba. Itu bukan salah saya yang kurang olahraga, atau malah karena saya memaksakan untuk berolahraga.

Kalau saya saat ini sedang mudah galau dengan tingkat suasana hati yang tak menentu. Itu bukan salah mereka yang menarik hati ini dan membawa pahit bercampur dengan manis kedatangan-pergi dia.

Mengapa saya berpikiran seperti ini, karena akan tiba saatnya, masa dimana hidup saya akan bahagia berkepanjangan dan mulai bosan karena terlalu bahagia. Berharap dan merindukan keadaan-keadaan saat ini, kapankah akan terulang kembali?

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Mulai keteteran…

Cerita ini terkait tantangan 30 hari yang telah saya deklarasikan. Keadaan sekarang telah memasuki 10 hari terakhir dan saya merasa keteteran.

Keteteran membuat saya menjadi pesimis.

Mereka bilang apapun hal yang kita lalukan, tahap lepas landasnya adalah yang tersulit. Saya pikir prakiraan selanjutnya, ketika sudah lepas landas dan mulai membiasakan menulis setiap hari akan semakin mudah, dan eh, ternyata semakin sulit dan kebangetan.

Saya menjadi mulai berpikiran bahwa hal mudah mungkin hanyalah ilusi yang diperagakan demo produk pembersih lantai dan iklan lima detik di youtube. Kenyataannya, ketika menemui hal sulit, tahap selanjutnya akan semakin sulit, sulit kebangetan, dan mendekati mustahil. Akhirnya lambat atau cepat  “door!”… film pun berhenti–mati ditengah jalan karena listrik padam.

Tersirat niatan tidak menyerah…. tapi saya berpikir: bagaimana membuat film tetap berjalan walau listrik padam, dan kita tak punya genset atau bahkan aki?

Nah…. itu dia! Aha ha!

Jawabannya: walau proses tantangan menulis ini semakin sulit, kebangetan, atau nanti mendekati mustahil untuk ditaklukkan, bahkan nanti ada firasat mustahil sekalipun? jika saya tetap menulis saya akan tetap menaikkan presentase untuk menyelesaikan tantangan 30 hari ini.

Gak ngurus entah setiap hari semakin setress, dan berapa kali trik simpan cerita–untuk publikasi diwaktu malas, atau trik-trik berlabel abu-abu lainnya yang telah saya lakukan. Asalkan pada dasarnya saya tetap menulis untuk menyelesaikan tantangan ini! karena tidak ada cara lain untuk menyelesaikannya, selain menulis!.

Karena tantangan 30 hari edisi ini adalah menulis, dan untuk pertanyaan bagaimana membuat film tetap berjalan walau listrik padam, dan kita tak punya genset atau bahkan aki? sudahlah bin… kenapa menggunakan analogi itu? hmm…

 

Stories

Jerman dan mittelstand-nya

Dulu… negara ini mendapat perlawanan dari negara-negara eropa dan Amerika Serikat karena ideologi nazi-nya yang melahirkan perang dunia ke-dua. Sekarang negara ini mendapat tekanan dari negara yang sama gara-gara perkembangan perekonomiannya yang sangat baik dan dituduh terlalu kuat untuk uni eropa.

Terlepas dari jadi buruk dimusuhi dan jadi baik membuat iri, memang Jerman merupakan negara yang keren karena keunikan dan the-german-ways nya yang selalu membuat iri seluruh dunia.

Mereka menyebutnya model bisnis mittelstand. Walau pengertian dari istilah ini masih banyak menimbulkan kebingungan karena terlalu khas Jerman baik nama dan cara prakteknya. Dalam negara kita, model mittelstand ini dapat dikatakan UKM (Usaha Kecil dan Menengah).

Memang dari dulu jenis usaha ini yang diprediksi paling mampu membawa kemajuan perekonomian suatu negara. Dan sekarang terbukti.

Karena saya tidak punya pengetahuan mendalam tentang bisnis (tapi sangat tertarik dengannya), maka cerita ini akan lebih berbagi cerita dari ulasan yang menurut saya dapat dipercaya (Harian Telegraph, The Economist, Harvard Business Review 1 dan 2). Sila anda baca dengan meng-klik laman web tersebut, dan mari berbagi pemikiran disini.

Untuk yang lebih tertarik melihat video, ada dua yang saya pillih karena ke-singkat-an videonya dan menarik (karena membuat saya tidak mengantuk):

 

Stories

Reprise

Lama tidak membuat cerita sharing lagu, kali ini saya memilih karya sang maestro Joe Hisaishi dari Jepang. Lagu Reprise merupakan soundtrack dari film legendaris “Spirited Away” tahun 2001. Saya akui film karya Hayao Miyazaki ini memang keren, begitu juga dengan lagu-lagu pengiringnya.

Karya Joe Hisaishi memang banyak yang keren. Saya menemukan beberapa koleksi dalam salah satu albumnya, yaitu “Super Sound Collection” dan “The Tokyo Concert” yang memang sering saya jadikan playlist istimewa di spotify.

Semoga nanti ada cerita tersendiri tentang koleksi-koleksi terbaik Joe Hisaishi tersebut.

Stories

Gintama

Dari anda yang sudah kenyang dengan suguhan anime satu ini, pasti tahu betapa campur aduk antara serius-lelucon-vulgar-kehidupan menjadikan anime gintama adalah salah satu anime terbaik sepanjang masa.

Saya sendiri sangat suka dengan pernyataan tokoh utama Sakata Gintoki kalau anime ini tidak punya tujuan akhir yang jelas.

Sebenarnya banyak dari pernyataan tokoh utama ini yang saya kagumi, karena ketidak-dan-kejelasannya.

Sudahlah….

Bagi anda yang belum kenyang atau yang masih mencoba dan mencicip-cicipi anime ini, mohon segera mawas diri. Karena resiko untuk menontonnya lebih lanjut dalam jangka pendek dan panjang sangat nyata bagi diri anda.

Saya merasakan twist dampak baik dan buruk dari anime ini.

Yang penting don~dake!

Stories

2th ICSEN

Saya bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk turut serta dalam 2th International Conference on Special Educational Needs di Univesitas Pendidikan Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih pada Yayasan Peduli Kasih ABK karena telah mewadahi A-Z kebutuhan dan dukungan selama ini.

Saya juga berterima kasih pada dokter Taat Tigore, dengan kerendahaan hati beliau dan bantuan berlimpah yang beliau berikan pada saya, juga pada Pak Iwan dan Bu Ernie Siregar. Tak lupa terima kasih saya pada mas dan bapak ojek online yang selalu setia menemai saya berduaan di sepanjang jalan Kota Bandung,.

Pengalaman ini sungguh luar biasa.

Seminar ini mengundang pembicara inti Prof. Kawaii dari Hiroshima University, Dr. Bari dari SEAMO SEN, dan Dr. Seto Mulyadi (Kak Seto-nya kita).

Beliau-beliau ini membawakan materi yang menarik, mengusung fokus pada: 1) pendidikan untuk ABK dengan metode peer-to-peer, 2) bagaimana ABK juga mempunyai kesempatan yang sama dalam dunia kerja, dan 3) bagaimana membuat ABK tumbuh subur, mengeluarkan potensinya yang unik dalam lingkungan yang ramah. Hemat saya, memang sesi simposium ini memberikan pencerahan, penyemangat, dan merilekskan, tanpa menghilangkan kenyataan bahwa betapapun kompleksnya masalah ABK, kita tidak sendiri. Banyak dari kita yang peduli.

Saya dan rekan-rekan (terima kasih pada mbak Yaya, mas Bayu, dan Dr. Sawitri) turut serta dalam seminar ini dalam rangka menyampaikan hasil awal PKABM (Program Peduli Kasih ABK Berbasis Masyarakat) melalui paper yang berjudul “Penerimaan Orang Tua sebagai bagian dari Penanganan ABK Melalui Kerjasama Orang Tua, Keluarga, dan Masyarakat Sekitar”.*

*ingin tahu lebih lanjut sila kunjungi web yayasan kami ya….

Saya bahagia dapat mewakili rekan-rekan untuk mempresentasikan ketertarikan yayasan. Saya juga senang karena dapat saling berbagi, bertanya, dan saling memberi dukungan kepada seluruh presenter dalam sesi diskusi paralel. Meskipun keterbatasan dari saya yang tidak mampu menyerap seluruh pembelajaran dari sekian banyaknya presenter yang membawakan ide, solusi, dan fokus masalah yang berbeda-beda dari sisi anak berkebutuhan khusus dan lingkungannya.

Intinya:

Bagi saya adanya seminar salah satu tujuan yang diharapkan adalah menyemarakkan isu. Isu penting, seperti pendidikan bagi anak berkebutuhkan khusus (ABK). Selain itu, seminar juga wadah berbagai peneliti dan inisiator untuk menyuarakan solusi-solusi kreatifnya atas permasalahan ABK yang kompleks. Tentunya, menyuarakan dalam pengertiannya telah ada tindakan-tindakan kecil yang kita lakukan, untuk selanjutnya disatukan, dipadukan, sehingga menghasilkan kumpulan dampak yang meluas.

Semoga kita terus dapat fokus memuliakan ABK dengan melihat peran pribadi kita masing-masing > seperti pada saya sendiri > bahwa dimanapun dan kapanpun selalu terdapat peran saya pada mereka, selalu terdapat peran kita terhadap mereka. Karena saya sadari, peran mereka terhadap kita pun juga selalu ada. Mereka selalu membuat kita menjadi seorang manusia yang lebih baik, dengan keluruhan dan keunikan mereka.

Stories

Hidup pada usia 20-an

Banyak bukit-bukit yang harus kita capai pada kehidupan ini. Entah itu bukit yang benar-benar anda impikan, atau anda terpaksa menaiki puncaknya, karena keinginan orang lain. Bukit karir, cinta, kekayaan, kebahagiaan, menikah, punya anak, cucu, dan bukit-bukit lain yang setiap orang mungkin punya referensi bukit berbeda yang ingin dituju.

Banyak dari kita yang percaya dengan asumsi “di usia 30-an lah kita akan menaiki bukit-bukit itu”. Tanpa menunjukkan rasa memihak secara sepihak, karena yang dikatakan bu Meg Jay adalah fakta, bahwa “usia 30-an anda bukan sebaru usia 20-an”. Artinya, masa penting dalam hidup anda adalah di usia 20-an > untuk menemukan jati diri siapa sebenarnya anda, dan bukit mana yang memang anda sangat ingin capai.

Cobalah hal baru, lihat dan rasakan berada dalam luar lingkaran “pakem” anda, alami pengalaman diatas perkiraan anda, kegagalan yang banyak akan menuntun anda lebih mudah belajar > untuk menemukan diri anda pada kehidupan 30-an, 40-an, 50-an, 60-an, dan seterusnya masa depan anda.

20-an bukanlah usia untuk bagaimana melewatkan masa ini untuk bersenang-senang. Semua tergantung anda. Saya sendiri menyadari banyak hal yang belum saya coba dan lakukan dengan 100% bernyali hati penasaran dan yakin. Saya akan menggunakan sisa delapan tahun di usia 20-an ini untuk benar-benar menemukan siapa diri saya. Semua tergantung saya.

Karena usia 30-an yang diperkirakan akan menjadi awal hidup ini, bukanlah hal sebaru pada usia 20-an.

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Menulis bukan terapi, tapi membuatku tidak berpikir berlebihan

Berpikir itu sulit, melelahkan, rumit, dan menjenuhkan. Berpikir dapat menguras energi dari hasil susah payah saya menambah porsi makan. Bagi saya, menambah porsi makan adalah salah satu dari tujuh penderitaan nyata di dunia (selain rasa sakit luka kena alkohol yang membuat saya tidak malu untuk menangis). Sedangkan lima penderitaan lainnya, jika kalian ingin tahu, jujur saya belum tahu juga karena saya memutuskan tujuh penderitaan ini ketika teringat tujuh keajaiaban dunia. Biar sama-sama tujuh-nya, udah gitu aja.

*… tadi sebenarnya ceritanya baru sampai menambah porsi makan ya? maaf keblabasan nambahin keterangan tidak penting.

Jadi lanjut dari nambah porsi makan. Hmm… saya (kalau anda ingin tahu) juga memaksa diri minum susu, karena nasehat (lebih pada paksaan) dari beberapa orang untuk minum susu 2 kali sehari, harus susu instant, kalau bisa yang full cream.*

*Beberapa orang tersebut yang dapat saya pastikan pada peringkat pertama adalah ibu saya (nanti ada cerita mengapa ibu saya selalu dalam peringkat pertama untuk masalah ini). Sedangkan pada peringkat kedua, dia adalah seorang yang sedang diet (katanya sih…), kepinginnya gak semakin gemuk (katanya lagi sih…), terus kalau makan ga banyak biar kurusan dikit (hahahahaha….). Mungkin dia… sudahlah. Peringkat ketiga dan seterusnya terisi orang-orang yang saling memperebutkan peringkat ketiga.

Maaf sekali lagi karena masih melanjutkan pada keterangan tidak penting. Tapi hal ini menunjukkan betapa mbuletnya saya dan gara-gara ini saya berpikir berlebihan. Huffh… pantas saja badan saya tetap kurus. Seyogyanya tidak ada suplai energi tambahan untuk berat badan, baik dari tambahan porsi makan atau susu, karena semuanya upaya itu terkuras untuk aktivitas saya berpikir (baik pada hal penting dan terutama pada hal remeh-remeh).

Memang, beberapa orang merasa tidak bisa mengontrol dirinya untuk memikirkan hal-hal sederhana dengan sangat rumit. Sedangkan beberapa yang lain secara woles mengatakan pada beberapa orang itu “santai…ndak usah dipikirin semuanya, wes ta….”.

Itu adalah nasehat yang sangat menyamankan.*

*tidak ada sangkalan dari saya bahwa nasehat itu memang menyamankan. Tapi karena terlalu sering mendengarnya menjadikan saya sendiri merasa kebal dan tidak berefek baik.

Beruntung ketika saya berjuang keras untuk berpikir senormalnya saja (yang sebenernya kata “ketika” masa waktunya adalah “ketika sedari duluuuu banget”), akhirnya saya menemukan jawaban bagus. Jawaban ini saya katakan bagus karena saya bisa mempraktekkannya. Saya tidak memungkiri banyak jawaban luar biasa yang membantu saya untuk tidak berpikir berlebihan. Tapi karena jawaban itu luar biasa… dan setelah berpikir berlebihan… hanya jawaban bagus lah yang saya cari.

***

Dalam bukunya yang berjudul Option B, Sheryl Shanberg menceritakan kegalauannya, kesedihan-kehilangannya, dan solusi mengatasinya–ketika suaminya tercinta Dave, meninggal dunia secara tiba-tiba.

Bagaimana tidak, pagi itu ketika mereka berwisata ke sebuah tempat wisata, bu Sheryl mencari-cari pak Dave untuk mengajaknya makan bersama. Setelah beberapa mencari, ia menemukan suaminya tercinta telah beristirahat selamanya (meninggal) dan bu Sheryl sontak kaget. Ketika itu ditempat latihan gym, dan diduga pak Dave meninggal karena… jawabannya ada di Buku Optioin B, sila cari di seluk-beluk halaman bukunya hehe.

Kehilangan seseorang yang kita cintai, betapa prosesnya yang tiba-tiba atau telah kita ketahui prediksinya sama-sama menyakitkan. Apalagi untuk seseorang yang ditinggalkannya adalah seorang yang berpikir berlebihan.

Termasuk saya.

Saya ketika ditinggal nenek (yang kami sangat dekat) baru menerima sepenuhnya kalau nenek saya telah tiada, setelah satu tahun saya ingat-lupa beliau telah tiada. Memang saya sadar kalau nenek telah meninggal, tapi sering seketika nenek hadir dalam pikiran saya, lebih jelasnya seperti “ada” pas saat saya ke rumahnya, pas ada acara hajatan, atau sekedar kumpul keluarga. Secara samar saya menganggap nenek ada.

Bu Sheryl juga merasakan demikian. Ia sering melihat pak Dave dalam pikirannya. Bahkan semacam ada augment reality suaminya, ketika dia dikantor, dirumah, dan pas di tempat-tempat dimana mereka menghabiskan waktu bersama.

Tapi beruntung bu Sheryl menemukan jawaban untuk masalah ini. Jawabannya dari cerita bu Chaterine.

Bu Chaterine sempat mengalami kehilangan dirinya ketika dia diceraikan suaminya. Keadaan sulit yang tak diterimanya ini kemudian membawanya terlibat masalah, karena menjalin hubungan (intim) dengan relawannya (yang adalah mantan narapidana) sebagai pelampiasan. Masalah ini menyebabkan ia mendapat larangan dari pemerintah untuk kegiatan yayasannya, tidak dipercaya publik, dan koran lokal sempat memuat berita hangat “skandal seks di penjara” yang berisi ceritanya.

Karena bu Chaterine adalah seorang yang berkeyakinan bahwa segala kesalahan hidup itu bisa dimaafkan dan sekarang ia mengalaminya sendiri. Ia yang mengajak orang pada jalan baik, tapi sekarang ia malah menuju jurang yang dikhawatirkannya. Kepercayaan terhadap dirinya hilang. Ia yang mengajak orang keluar dari dosa-dosanya masa lalu, tapi ketika ia mengalaminya, bu Chaterine merasakan perbedaanya.

Bu Chaterine kehilangan dirinya, dan pada masa-masa itu, kegiatan yang membuatnya secara kebetulan “meneruskan hidupnya” (karena sempat beberapa kali coba bunuh diri) hanya menulis jurnal yang berisi tentang kegalauannya. Ia menulis jurnal hampir setiap hari, dan secara tidak sadar kebiasaannya itu mampu mengontrol pikirannya.

Kebiasaannya itu pula yang membuat dirinya kemudian berani menulis jujur tentang masalahnya. Ia membuat tulisan curahan hatinya, yang ditujukan pada relawan di yayasannya dan seluruh publik. Ia menulis permohonan maaf dan terima kasihnya. Ia juga menulis tentang bagaimana keadaannya saat ini dan ketidaktahuan tentang–apa yang akan (dan sebaiknya) ia lakukan untuk dapat memaafkan dirinya.

Dari keberanian menulis itu, perlahan empati pun muncul. Bu Chaterine sedikit-demi-sedikit mendapat empati dari relawannya kembali. Berkembang dan berkembang, ia mendapat kepercayaan publik. Dari dukungan itu, ia mencoba berkomitmen untuk memaafkan dirinya. Ia memulai perjuangannya yang baru, yaitu membentuk Defy Ventures, sebuah usaha untuk mewadahi pembentukan para wirausaha dari mereka yang termarjinalkan.

Beberapa tahun kemudian, bu Chaterine berhasil kembali pada dirinya yang ia harapkan. Perusahannya mampu meluluskan 1700 wirausahawan, mendanai 160 starup, dan membantu mereka yang kesulitan mendapat pekerjaan, dengan kesuksesan 95% “mendapat pekerjaan”. Tambahan manis di akhir, ia mendapatkan suaminya kembali. Bukan mantan suaminya, tapi ia mendapat suami yang benar-benar ia cintai, yaitu pak Charles Hoke.

Inspirasi bu Chaterine ini lah yang ditirukan bu Sheryl. Dalam membiasakan menulis ini, bu Sherly mendapat manfaat yang sama luar biasanya. Sederhanya saja, ia hanya menulis curahan hatinya lewat jurnal, hampir setiap hari selama enam bulan kepergian suaminya.

Dampak dari kebiasaan itu pada awalnya membuat ia percaya diri untuk melangkah ke depan secara mandiri (tanpa berandai-andai jika suaminya masih ada). Kemudian ia berkomitmen menjadi seorang yang lebih baik, dan berbagi pengalamannya kepada mereka yang mengalami pengalaman serupa. Hasil nyata kemudian, kebiasaannya menulis ini membawa ia mampu mempublikasikan buku-bukunya yang best seller; seperti: Lean in dan Option B, dan membagikan pengalamannya pada konferensi paling keren, yaitu TED Conference!.

Cerita dampak menulis dari bu Chaterine dan bu Sheryl diatas, yang saya baca dari buku Option B, juga akan saya tularkan pada diri sendiri. Saya akan membiasakan menulis. Langkah sederhana yang saya laukan adalah menulis hampir setiap hari. Saya mengambil target 30 hari ke depan, dan nanti jikalau telah selesai, akan saya ceritakan dampak apa yang terjadi pada diri saya nanti.

Baik…. diakhir cerita ini saya simpulkan:

Jadi, jawaban untuk mengatasi terlalu berpikir adalah jawaban turun-temurun. Dari pengalaman bu Chaterine ke bu Sheryl, ke buku Option B, yang kebetulan saya baca, dan saya praktekkan.

Alhamdulillah…..