Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Komunikasi dengan hati

Pengalaman awal menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK dapat saya gambarkan unik.

Begini:

Pertama berkunjung ke yayasan, saya dipertemukan dan berinteraksi dengan anak-anak spesial–bahkan dalam paket jumbo. Lima anak sekaligus!. Saya waktu itu hanya sendiri, satu ruangan dengan mereka.

Ada dua anak yang anteng duduk, dengan meja kecil dihadapannya lengkap dengan kertas dan crayon–tapi dia bingung mau gambar apa. Ada yang sedang merangkai puzzle di lantai. Ada juga yang suka main plorotan dan terus… plorotan dan terus… plorotan dan terus… Lalu ada yang muter-muter sambil bawa mainan bola-bola kecil. Nah, yang paling keren itu ada yang muter-muter, tidak bawa mainan apa-apa, tapi dia seneng banget naik meja loncat dari kursi ke kursi, ke meja lagi… ke kursi lagi… hmmm.

Saya gugup dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Yaudahlah yang penting niat saya pedekate ke mereka.

Dan hasilnya sudah terduga. Saya yang jarang pedekate ke cewek (*tidak ada keterangan lebih lanjut) sekarang mencoba pedekate ke anak, anak spesial. Hasilnya dicuekin. Banget.

Tapi… ya… , awalnya mereka cuek dan saya tidak menyerah. Terbukti lama kelamaan saya dapat menjalin komunikasi. Walaupun tidak intens.

Tapi jangan dibayangkan komunikasi saya dengan mereka layaknya gaya ke anak biasa. Saya masih ingat pada waktu itu adalah pengalaman pertama saya bisa belajar memahami komunikasi sejati. Dalam pengertian yang lebih luas, komunikasi dengan hati–kita menyebutnya.

Komunikasi dengan hati ini bukan berarti membuat saya buaper ya. Tidak dibutuhkan baper dalam cerita ini (maaf bagi teman saya yang tersummon boleh mengajukan banding).

Menurut saya berinteraksi dengan anak-anak spesial ini membuat saya terlatih untuk terbiasa dengan kenuikan gaya mereka. Hal lain adalah membuat saya berlatih fokus, karena makna pesan yang diberikan tidak melulu pada verbal yang mereka utarakan, namun juga melalui indera mereka, seperti gerakan tangan, sentuhan, ekspresi wajah, tindakan, dan lainnya.

Dari ini, saya belajar bahwa sebesar apapun hambatan kita berkomunikasi, kalau memang niatnya dari hati, akan bermakna dan akan sampai pesannya. Berbeda dengan keadaan dimana sekecil apapun hambatan kita berkomunkasi, kalau memang niatnya tidak dari hati, akan tidak bermakna. Tidak akan sampai pesannya.*

*premis ini berbeda konteks dengan kebiasaan saya yang luama balas chat. Itu saya klarifikasikan “bisa dijelaskan kok hehehe”.

Saya sering dapat wejangan–“ikuti dunia mereka”, “jangan disambi”. Nasehatan yang saya dapat dalam maksud lain adalah–“jadilah pendengar dan pengamat yang baik”, “jangan setengah-setengah dalam memahami mereka”.

Prinsip ini saya kira sangat bisa diterapkan dalam lingkup lebih luas. Kepada anak-anak spesial ini, orang tua mereka, teman kolega, teman relawan, teman pendamping hidup (pasti ada!), dan teman-teman yang lain. Prinsip ini juga bisa diterapkan pada musuh atau orang yang membenci kita. Kalau gak percaya coba lakuin aja, nanti cerita ke saya ya hasilnya kaya gimana.

Berinteraksi dengan anak-anak spesial ini menurut saya malah mereka yang memberikan pelajaran berharga. Saya dapat pelajaran cara berkomunikasi dengan benar-benar berkomunikasi.

Sedangkan bertemu dengan mereka, orang tuanya, serta teman-teman relawan dan staff di lingkungan ini memberi pengalaman yang tidak saya harapkan ada–di kehidupan saya yang datar-datar saja.

Karena pengalaman ini sangat mengagumkan, menjadi relawan ternyata lebih luas manfaatnya daripada persepsi pikiran saya.

Stories

Peta blog ini yang seharusnya saya berikan pada anda

Tapi, apakah anda percaya pada peta ini? karena permasalahannya saya yang membuatnya. 

* * *

Saya anggap anda percaya, dan saya perlu membuat peta, karena kalau tidak, blog ini rentan bertahan dengan kekhawatiran. Saya ilustrasikan kekhawatiran ini ketika saya dan anda ke kosan saya, pas kebetulan hujan deras, dan melihat kamar saya bocor, dengan kebocoran dari rembesan tembok yang ditambal no-drop tapi malah semakin melebar, tidak karuan.

Tidak, tidak.

Kekhawatiran sebenarnya adalah saya itu terlalu mbulet bingung maunya sendiri. 

Memikirkan ini membuat saya minder.

Jadi, peta blog ini yang seharusnya saya berikan pada anda, mungkin ini:

peta-blog-muqorrobinist

 

Stories

Saya, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Pak Ading bilang menulis adalah hal yang mudah. Pak Ading adalah seorang blogger, childhood trainer, dan mentor kami (di yayasan saya bekerja) yang keren menurut saya.

Ardy bilang menulis, meskipun di blog, itu sulit. Lebih mudah mengungkapkan pemikiran lewat video, katanya. Ardy adalah seorang teman nangkring saya di giras yang punya minat bikin video keren tentang apapun (walaupun masih proses, katanya).

Saya bilang di dalam hati, “alah mbuh ah” (maaf, bahasa di dalam hati yang sering saya pakai adalah bahasa jawa, terjemahannya adalah “ah saya nggak tahu”).

Saya adalah orang biasa, yang merasa anti mainstream di tengah orang-orang luar biasa. Saya adalah orang bias, yang mengenal asa. Dibilang suka menulis juga enggak, jago menulis…?hmm apalagi. Punya blog juga amatiran, bukan seorang trainer, atau bahkan mentor seperti Pak Ading, dan saya tidak suka membuat video seperti Ardy.

Saya hanya seorang yang terlalu mikir, dan saya pikir menulis adalah relatif.

Relatif mudah, kalau menulis pengalaman yang indah. Relatif sulit, menulis hal yang kita sukai–tapi berbelit-belit, karena topik itu belum terkuasai. Relatif enggan, tentang pengalaman pahit dan angan-angan balikan. Relatif bosan, tentang cerita sehari-hari–dan yang lainnya adalah relatif malas….(kalau ini memang yang saya alami, apapun, tidak hanya persoalan menulis). Akhirnya kesimpulan saya: relatif bingung untuk menyimpulkan ke-relatif-an menulis.

Hah, sudah kuduga kalau, saya, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Stories

Ketika berpikir atau terpikir, tulis !

Bepikir atau terpikir…

Saya lebih senang berpikir, dan lebih sering terpikirkan, terbesit suatu gabungan premis tentang kejadian apapun. Di sekitar saya ketika bersepeda motor ria. Saat menunggu hujan reda. Saat berjalan. Saat adzan (bahkan), karena opini saya, kita dimampukan multi-berpikir dalam satu saat itu.

Inilah anugrah terindah dari Allah SWT.

Sedang anugrah lain yang tak kalah indah adalah menulis. Kita tahu betapa hebatnya kekuatan menulis… dan apa-apa yang tertulis. Sebut saja perihal hukum, tentu lebih kuat yang tertulis, e.g: konstituensi, undang-undang, perjanjian tertulis. Perihal sastra dan yang enak dibaca, e.g: mahakarya novelis tersohor seperti Andrea Hirata, J.K Rowling, Dan Brown. Dan perihal utang-mengutang, tentu lebih kuat tertagih utang saya yang tertulis.

Dua anugrah berpikir dan menulis, tapi peleburan keduanya, justru yang terjadi adalah (malas) berpikir (apalagi) menulis.

Saya tahu, mengalami, dan anda juga, mungkin.

Solusi yang coba saya terapkan adalah: “Ketika berpikir atau terpikir, tulis !” dimanapun, kapanpun, nulisnya lewat apapun. Dan lagi, tambahan buat saya adalah #tantangan30hari menulis, yang telah saya deklarasi pada cerita sebelumnya. Saya tidak begitu menyukai paksaan, namun mencoba mengalami “jatuh cinta karena terpaksa” atau yang wong jowo bilang “witing tresno jalaran soko dipekso” (*dengan sedikit editan dari saya)

#tantangan30hari #ke-1 #tercapai #huyeh

Stories · Tantangan 30 Hari

Tantangan 30 hari: persisten menulis

Terinspirasi dari Paklik Matt Cuts, dalam cerita singkatnya tentang pengalaman susahnya menaklukan 30 hari melakukan sesuatu baru dan unik, namun menyenangkan karena ternyata buaanyaak yang kita bisa lakukan.

Bismillah….

Saya akan menulis setiap hari, selama 30 hari ke depan, tentang apapun, sesedikitpun rangakian kata-katanya, dan sejelek apapun cerita yang tertulis.

#tantangan30hari

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Spesial

Melihat pada cerita awal blog ini, kalau dikenang-kenang memang tidak ada yang kebetulan. Saya menemukan titik nyambung, dari membaca buku sampai berkesempatan berbagi dan berperan untuk mereka yang spesial–yang sampai saat ini masih tak menyangka.

Mengapa buku Life Without Limit karya Nick Vujinic terbaca oleh saya, kemudian saya tulis cerita tentang Nick dan copypaste puisinya: Unicorn Bersayap Plastik. Seperti kenyambungan, karena beberapa bulan setelah itu, saya masuk dalam lingkungan dimana anak-anak spesial berada.

Yang saya maksud spesial adalah mereka, anak kebutuhan khusus. Seperti autis, down syndrome, cerebral palsy, tuna grahita, gangguan pendengaran, tuna visual, dan lainnya. Penggunaan representasi kata yang tepat selain “berkebutuhan khusus” memang sulit dilakukan, karena pilihan kata lainnya adalah disabilitas, cacat, kurang mampu, yang menurut saya sendiri kurang berkenan di hati.

Sebenarnya ada kata “difabel” yang saya masih ingat disarankan oleh Mas Bayu (psikolog kami, dan orang keren yang sering mengucap kata yuhuuu). Difabel atau different ability kemudian yang saya pahami memang mirip-mirip lah dengan berkebutuhkan khusus.

Hmm….memang sampai saat ini pun penggunaan pemilihan kata masih belum ada yang fiks. Baik yang dipakai kita (yayasan), pemerintah, dan UNESCO.

Tapi tak usah ambil bingung, intinya saat itu saya bersyukur dapat bergabung menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK, tepatnya pada September 2016.

Titik awal inilah yang menghadirkan cerita-cerita diluar “biasa” pada selama setahun berikutnya, pada kehidupan saya.

Quotes · Stories

You have to do it yourself

Nobody is going to do your life for you. You have to do it yourself, whether you’re rich or poor, out of money or making it, the beneficiary of ridiculous fortune or terrible injustice. And you have to do it no matter what is true. No matter what is hard. No matter what is unjust, sad, sucky things befall you. Self pity is a dead end road. You can make the choice to drive down it. It’s up to you to decide to stay parked there or to turn around and drive out – Cheryl Stryed.

Awesome Stories & Inspirations · Giving Matters · Stories

Badhan Idul Fitri

Badhan — saya tidak terlalu yakin penulisannya benar, tapi kata ini bermakna “Hari Raya” yang sering digunakan di masyarakat desa saya.

Tradisi Badhan Idul Fitri, di dalamnya ada berbagai kegiatan; seperti sholat ied, penerbangan balon raksasa, mainan petasan, dan yang wajib adalah silaturahim atau biasa disebut “nglencer” ke tetangga dan saudara seantero desa.

Silaturahim atau nglencer inilah yang  menurut saya kecil sangat menyenangkan, karena jadi ajang dan ladang pekerjaan baru selama 7 hari berturut-turut, sekedar untuk pembuktian banyak-banyakan pesangon dari rumah ke rumah. Yang paling banyak dapat, dinobatkan menjadi “Raja Badhan tahun ini” – penghargaan paling bergengsi bagi kalangan anak-anak waktu itu.

Saya berjuang mati-matian dari rumah ke rumah, biar dapat terbanyak sangu-nya. Karena ini kompetisi antar individu, teman-teman saya pun sebenarnya adalah saingan. Pengasahan dan praktek strategi yang mantap berpengaruh besar pada hasil akhir. Banyak dari kami yang berkoalisi, membentuk grup “pasukan golek duek” yang terdiri dari dua sampai lima anak.

Lima menjadi jumlah rata-rata anggota grup, karena di atas lima justru tidak memberi untung, mengakibatkan rata-rata pesangon yang diberikan menurun.

Misal: jika ada empat anak dalam suatu grup, masing-masing bisa dapat Rp. 5000 per rumah, penurunan akan terjadi jika enam anak yang nglencer – dengan perolehan masing-masing dapat Rp. 4000 atau bahkan hanya Rp. 2000. Hal ini terjadi berdasarkan alokasi anggaran tuan rumah rata-rata yang dikeluarkan untuk sangu per grup nglencer adalah Rp. 20.000 – 25.000 (munculnya angka ini berdasarkan hasil wawancara narasumber, yang mana itu adalah teman-teman saya dan temannya teman di berbagai dusun; serta melihat juga inflasi rata-rata per-rumah tangga untuk tahun ini & tren persentase anggaran pesangon dengan anggaran lain yang bisa mempengaruhi, seperti anggaran untuk renovasi rumah, beli ornamen, cat, dan petasan untuk menyambut hari raya).

Melihat analisis di atas, saya selalu ketat dalam mengatur jumlah anggota grup agar tetap sehat dan memberi produktivitas maksimal. Namun ternyata, selain jumlah anggota grup, ada hal lain yang mempengaruhi – yaitu timing atau waktu nglencer yang pas, networking atau luasnya pertemanan, serta seberapa kita mengenal tuan rumah yang dikunjungi.

Dalam hal ini, strategi terbaik yang sering berhasil saya terapkan adalah “quality over quantity” – saat itu saya tidak pakai istilah seribet ini sih. Jumlah anggota grup selalu dibatasi maksimal lima anak. Siasat nglencer pada pagi menjelang siang, karena tuan rumah masih mudah memberi sangu pada jam-jam itu. Sedangkan melihat perlunya jejaring dan mengenal tuan rumah, hal yang perlu diperhatikan sebenarnya hanyalah “siapa saja yang ada di dalam grup saya?”.

Jika anggota grup adalah anak para tokoh atau orang yang cukup dikenal di desa, maka berbagai keberuntungan bisa kami peroleh. Tidak usah susah payah perkenalan diri, cukup jawab “nggih” ketika ditanya “oalah, kamu ini anaknya pak…. ini to, ya ya ya… wes guede ya…?”. Tidak usah berpikir terlalu dalam tentang obrolan apa yang paling menarik bagi tuan rumah, cukup diam sopan dan makan jajan seperlunya, cukup sekitar lima menit bertamunya, pamitan dan pasti dapat sangu.

Bertahun-tahun selama masih jadi anak-anak, saya terapkan strategi ini dan pas akhir lebaran, setidaknya nama saya selalu jadi pembicaraan hangat di kalangan rumpi anak-anak. Namun untuk jadi juara Raja Badhan memang tidak mudah. Meskipun berbagai upaya yang telah saya terapkan, begitu juga perubahan dan inovasi strategi; masih saja sulit menembus juara satu. Banyak faktor tidak terduga, dan yang paling berpengaruh adalah pesangon dari saudara atau dari tuan rumah yang “tidak biasa”, yang bahkan bisa memberi nominal fantastis. Tapi pengalaman ini mengajarkan saya yang masih anak-anak untuk lebih tawakkal dan qanaah dalam model belajar yang agak aneh memang. Yah…. paling tidak masuk sepuluh besar lah setiap tahunnya, lipur saya.

Ceritanya sudah cukup panjang lebar, yang kurang hanya isinya mungkin. Tapi cerita ringan ini, saya yakin pengalaman lalu ini adalah pengalaman bersama yang pasti anda pernah alami juga. Memang kalau dipikir-pikir tradisi hari raya bermacam-macam di Indonesia,  dan Badhan Idul Fitri di masyarakat jawa adalah tradisi khas yang unik – memberi pesangon pada anak kecil yang notabene sering dikaitkan dengan budaya materialistis yang kok sudah diajarkan pada anak kecil memang dapat jadi kritik.

Ambil hikmahnya saja kalau begitu, daripada memenuhi pikiran dengan prasangka. Kalau saya sendiri yakin budaya ini lebih banyak manfaatnya. Bagi tuan rumah sebagai sarana sedekah, bagi anak-anak sebagai sarana hadiah. Memang ada sensitifitas mengapa kok harus pakai uang, dan tapi, disitulah peran kita yang sudah tidak anak-anak lagi sangat penting.

Kita mempunyai peran meluruskan tujuan mulia tradisi ini. Sangu sering menjadi pemicu utama eratnya silaturahim, karena berbagai cerita lucu yang dapat kita lontarkan pas waktu dewasa bertemu kembali dengan sanak saudara. Kita pun dapat semakin memperindahnnya. Kita sudah (ada yg hampir) memerankan menjadi “tuan rumah” yang memberi sangu.

Ketika anak-anak kita kasih sangu, baiknya kita sambil bisikan “ini nak nanti untuk sedekah atau buat beli buku ya…”,  “ini buat bantu ayahmu beli seragam sekolah ya” “ini buat kamu tabung biar bisa beli apaa saja yang baik, yang kamu inginkan ya…”, “ini buat ditabung beli hp, tapi hpnya buat bantu kamu belajar, oke!” atau kita bisa pakai cara kreatif lain. Untuk anak yang masih balita, kita bisikannya ke orang tuanya.

Kelihatannya sepele, tapi saya selalu ingat pesan bisikan ini ketika di beri uang sangu. Memang kalau pas bahagia kan kita lebih ingat detil apa yang kita rasakan, yang kita alami, termasuk nasehat yang kita terima. Tapi banyak bisikan yang saya terima adalah “ini nanti buat beli permen ya…”, “buat beli bakso”, “buat nanti beli minum di jalan” dan yang mirip-mirip.

Saya tidak suka membenarkan sepihak. Tapi saya mencoba nggedabrus, bersaran sesuai pengalaman ini, yaitu sebenarnya jika kita melakukan sedikit saja perubahan dalam tradisi Badhan ini (membubuhi nasehat atau saran yang baik pas ngasih sangu itu), saya yakin dampaknya akan luar biasa, bahkan sampai anak-anak itu nanti tidak jadi lagi anak-anak.

Apapun cerita ini, saya tidak memungkiri ada sisi negatif dari tradisi Badhan, terutama ketika saya kecil, motivasi biar dapat sangu banyak, biar jadi Raja Badhan selalu ada. Apapun pandangan anda juga, saya sangat menghargainya, dan yang jelas… saya sangat bersyukur dan bahagia mempunyai pengalaman seperti ini dulu, terlepas dari berbagai sisi positif dan negatifnya, sekarang saya lebih bisa belajar kembali, menjadi bagian untuk membuat tradisi ini lestari, semakin baik, dan barokahnya yang saya harapkan adalah tidak terputusnya tali silaturahim, bahkan sampai saya tua kelak, dan semoga anda pun juga… Allahumma Amin…

Stories

.ist

Sebagaimana kalian ada yang tahu, .ist (dot ist) adalah penamaan domain kategori New gTLD Program / berbasis wilayah. Diajukan oleh Istanbul Metropolitan Municipality, domain .ist atau alternatif .istanbul resmi muncul pada 11 Juli 2015.

ist-domain

Meski ditujukan untuk wilayah Istanbul, Turki, namun ICANN menganggap tidak menunjuk batasan wilayah untuk pendaftarannya (lihat aturan Geographic Names Panel untuk domain .ist, .ryukyu, .scot, .vegas, .frl, .zulu. Kevin Murphy). Alhamdulillah, karena sudah lama menginginkan domain ini (kalian tahu alasannya) dan setelah mencari-cari penyedia registrasinya >> terima kasih pada GoDaddy , akhirnya saya pindahan dari wordpress.com ke wordpress.org dengan bahagia.

Selamat datang di muqorrobin.ist — rumah baru bagi cerita-cerita saya selama dua tahun ini ke depan, nggedabrus tentang pendapat kehidupan-ku, dia (– siapa dia?), dan mereka, orang-orang baik yang saya temui, topik keyakinan dan keresahan hati, quotes dari suhu, review buku, dan cerita lain yang masih mempunyai rasa bak nutrisari buah sayur.

Saya mengakui kelemahan terbesar masih seperti di tempat lama — tidak bisa membuat cerita sebanyak harapkan sendiri (menghitung jumlah post…), tapi dengan semangat .ist dan gerakan #antinasigoreng yang hanya nikmat ketika hangat, Bismillah saya akan berlatih lebih sering dan langsung nuliiisss ajaa… apapun cerita dan ide-ide nanti.

Jadi kalian ingatkan… !

Stories

Charity

For me, charity is practical. It’s sometimes easy, more often inconvenient, but always necessary. It’s the ability to use one’s position of influence, relative wealth and power to affect lives for the better. charity is singular and achievable.

There’s a biblical parable about a man beaten near death by robbers. He’s stripped naked and lying roadside. Most people pass him by, but one man stops. He picks him up and bandages his wounds. He puts him on his horse and walks alongside until they reach an inn. He checks him in and throws down his Amex. “Whatever he needs until he gets better.”

Because he could.

– Scott Harrison – from charity:water

Stories

Saling mendoakan

Alhamdulillah, saya merasakan benar menanti datangnya bulan Ramadhan tahun ini. Rasa yang berbeda, melihat lebih mudahnya kita merenung, memikirkan betapa indahnya susana pagi, siang, sore, dan malam yang penuh syahdu iman.

Yang biasanya saya, dengan mudahnya melalaikan setiap detik bersama Tuhan, menjadi lebih sulit, dan semakin sering terngiang. Tapi saya bersyukur melihat perubahan hati ini. Walaupun masih ada niatan “jika saja keminuman es teh mantap di siang hari”. Ya tapi… semoga (kemungkinan terjadi masih ada, dan Amin…), karena barangkali akan menambah rasa syukur saya dengan cara yang berbeda, sebagai seorang yang berusaha puasa (tapi semoga juga tidak keblinger).

Yang biasanya saya, dengan mudahnya melihat masjid sebagai tempat yang hanya lewat, sekarang semakin banyak orang yang mengerumuni. Hati ini menjadi iri sekaligus sungkan, apakah masih layak berkerumun?. Tapi nafsu baik jangan dilawan, dan entah apa kata nafsu yang lain, entah apa nafsu dari orang lain.

Memang keberkahan Ramadhan hanya Tuhan yang Maha Tahu, sedang manusia menerka-nerka. Apa keberkahan —  dan siapa yang dapat? Sayang sekali lagi mereka hanya menerka dan seringnya hanya menerka orang lain, apakah kamu mendapat — apa keberkahan?

Larilah dari terkaan. Hayati penuh Ramadhan ini, dan mari saling mendoakan. Karena itu merupakan anugerah terindah, cinta manusia dari mencintai pencipta-Nya.

Allahumma Ya Allah… berikanlah keberkahan dan keridhaan yang baik, dari bulan Ramadhan-Mu yang indah ini. Berikanlah kepada kami semua, orang tua kami, saudara kami, dan umat muslim di seluruh dunia.

Amin.

Giving Matters · Stories

Tanyakan pada dirimu, bukan itu permasalahannya

Sering dulu berpikir, aku telah menemukan hidup. Waktu itu, dengan mudah aku menjawab “Dewasa nanti aku menjadi dalang!” dalang pengatur persahabatan, peperangan, dan kemenangan. Dalang pagelaran kesatria beradu angkara, berlatar wayang nyanyian gamelan, lengkap suara merdu. Ini cita-citaku, walau tidak semua setuju. Namun, bukan itu permasalahannya. Mengapa ingin menjadi dalang, kalau presiden terlihat cemerlang? Bertahan cuma sewindu pun menjadi bimbang.

Selama waktu, cita-citaku bercabang. “Aku ingin menjadi masinis!” menggerakan barang besi itu menuju penjuru sampai berhenti di belakang rumahku. Sungguh impian tetapi sayang, lebaran tiba aku lupa, kalau masinis tetap bekerja, dan aku tidak rela kehilangan pendapatan berharga. Hanya sebagai anak kecil. Aneh namun, bukan itu permasalahannya. Aku anak-anak mengenal awam.

Sentilan guyonan, aku berpikir. Mereka mengejar cita-cita untuk uang, jadi ini gampang. “Aku akan mencari uang!” Mau berkata apa kalian? dan kupikir permasalahan selesai. Namun, bukan itu permasalahannya. Menjadi tidak serius, aku remaja terhanyut arus.

Sekian mendengar cerita ulung, halusinasi muncul melambung. Aku terjebak dunia khayalan begitu tenggelam. Benar, arus hidup guyonan bak persepsi mengikis tak realistis. Namun, bukan itu permasalahannya. Aku meluncur berkhayal mulus dan begitu saja terus, sampai jenuh mempertanyakan – Apa cita-citamu lagi? Sudah cukup? Aku dewasa terjebak, tersadar kenyataan, bukan itu permasalahannya.

Sudah lepaskan tabiat walau berat, dan cepat taubat cermati nubuat. Yang nyata, hidupku bukan khayalan-khayalan awam. Cepat sadar, karena memang bukan itu permasalahannya – dan apa aku sadar? Apa permasalahannya?

Setelah terhentak semua jelas. Permasalahan memang muara satu. Bukan temu tapi ingat, karena lupa ternyata dindingku. Sedari dulu, jauh sebelum pikiranku, sadarku, lahirku, aku sudah tahu. Tapi jangan sekali-kali salahkan cita-cita mengapa muncul, karena itu dari keyakinan. Mungkin mengapa keyakinan itu wujud iman. Namun tegaskan – sudahkah ku salahkan keyakinan? Curiga besar, karena keyakinanku hanya datang semu dari nafsu, sebentar segera pudar, lemah karena salah, goyah berganti-ganti karena keyakinan ini tidak datang dari yang Maha Pasti.

Sekarang aku tahu, karena itu permasalahannya.

Stories · Tech Design

Belajar jadi programmer tidak harus karena jurusanmu!

Intinya lagi ingin menjelajahi skills baru, saya berselancar ria menjelajahi banyaknnya kursus online yang lagi marak akhir-akhir ini. Banyak dari mereka yang menawarkan sertifikat dan menjanjikan menambah kesempatan kita untuk lebih berkembang dan mendapatkan tawaran kerja yang lebih banyak.

Tapi itu semua sulit saya jangkau karena; 1) Biaya yang mahal, 2) Biaya yang semakin mahal karena pake dollar, 3) Biaya cetak sertifikat, 4) Biaya lagi untuk ngirim sertifikat ke rumah, 4) Bahasa Enggris (Inggris Kejawen) saya yang pas-pasan, 5) Dan yang paling mengkhawatirkan adalah tidak ada jaminan akan kelulusan kita serta rumor sulitnya capstone project di akhir kursus. Jadi ya… itu.

Berawal dari kesadaran skills saya yang ternyata masih sedikit dan kacau, jadinya kemarin itu saya nemu website berupa kursus interaktif yang namanya Codecademy.

Codecademy merupakan web yang menawarkan kita belajar gratis tis tis untuk bidang pemrograman. Memang sih, kalau dilihat dari jurusan si penulis ini yang berbau-bau pemerintahan tidak ada hubungannya. Tapi jangan salah, semua itu berhubungan dengan kembali kepada-Nya. Kata temen saya yakin aja. Tapi saya percaya Tuhan.

Ini adalah pengalaman awal belajar programming yang ternyata sungguh mengasikkan.

Bagi kalian yang tertarik, ataupun yang telah menjadi learner di Codecademy, ayo tantang saya, ungguli saya, dan kita bersaing menjadi programmer yang apa ya, ya itu.

Codecademy-Muqorrobinist

Awesome Stories & Inspirations · Stories

Menjadi seorang otaku

Cerita ini levelnya masih beginner & no necessary skills are required 

Oke. Sedikit nyeleweng, cerita menjadi seorang Otaku, barangkali bagi kalian (yang masih awam) akan membayangkan saya adalah seorang yang benar-benar aneh, berkacamata tebal, pandai menggambar komik, dan punya isi otak ensiklopedi berjalan seputar anime dan manga.

Itu tidak seluruhnya benar. Lihat foto profil saya.

Otaku menurut pengertian dari Pakde Wikipedia adalah sebagai berikut:

Arti Otaku

Ya, jadi seorang Otaku memang identik dengan anime dan manga, namun terlepas dari itu,  penyebutan istilah ini adalah untuk orang-orang gila yang benar-benar menekuni hobinya. Nah, ini sama saja dengan label “Geek” bagi penggila komputer dan teknologi.

Jika sekarang penyebutan Geek sudah mulai meluas pada banyak bidang,yaitu tidak hanya komputer dan teknologi, maka begitu juga dengan otaku.

Oleh karena itu, cerita kali ini pada intinya ingin meluruskan bahwa menjadi otaku tidak berarti kalian menjadi seorang pecinta anime dan mangan, namun termasuk apapun hobi yang kalian tekuni. Tapi istilah ini jangan diamantakan untuk hobi yang sakral ya… seperti jika kalian hobi Tarti dan Qiro’ah, maka kalian jangan menyebut Otaku Tartil dan Qiro’ah. Yoi.

Sebagai penutup cerita singkat dan kurang bermakna kali ini, saya menambahkan untuk penyebutan Otaku. Meski istilah ini telah meluas, namun label “orang gila” pada mereka para Otaku atau Geek masih melekat lho… jadi jika kalian sudah bosan menjadi orang yang waras-waras begitu saja, silahkan menjadi Otaku. Jos.

Akhir kata, jangan takut menjadi otaku, karena banyak diantara sedikit otaku yang telah mengubah dunia, setidaknya dunia mereka sendiri.

 

Science & Knowledge · Stories

Duolingo

Saya telah belajar Bahasa Inggris semenjak kanak-kanak dan sampai sekarang tidak ada kemajuan berarti. Memang memalukan, namun apa daya jika telah terjebak kebosanan belajar yang namanya “bab grammar”. Padahal belajar bagian itu saja tidak cukup, masih ada yang namanya speaking, writing, idiom dan kawan-kawannya. Kali ini saya menemukan aplikasi yang mengurangi stereotipe kita tentang belajar bahasa.

Saya menemukan Duolingo semenjak marak dibicarakan media maya tahun lalu. Rasa penasaran menjadi tinggi semenjak rumor Angela Merkel juga menggunakan aplikasi ini, dan tanpa berpikir lagi, yowes oke, saya mulai menggunakan Duolingo semenjak itu.

Dan hasilnya… lumayan.

Saya tetap tidak mengerti apa itu “grammar” dan tetek bengeknya, tapi tiba-tiba nilai TOEFL saya naik begitu saja. Maaf koreksi, naik tipis maksud saya. Ajaib, padahal baru 20% fasih Bahasa Inggris di Duolingo.

Ini meyenangkan, tapi juga membosankan karena saya tidak punya teman di Duolingo.

Maka itu: Ayo jadi teman @muqorrobinist di Duolingo, dan mari lekas saling memamerkan, menyombongkan capaian kita.*

Duel_Owls

*tidak ada unsur iklan dibalik cerita ini.