Stories

Amal

*مِنْ عَلَا مَاتِ الْإِعْتِمَادِعَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَوُجُوْدِ الزَّلَلِ.*

“Diantara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya adalah merosotnya rasa harap (kepada rahmat Allah) manakala mengalami kegagalan”.

*-Ibnu Athoillah As Sakandari-*

Stories

Komunikasi dengan hati

Pengalaman awal menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK dapat ku gambarkan unik.

Pertama berkunjung ke yayasan, dipertemukan dan berinteraksi dengan anak-anak spesial–bahkan dalam paket jumbo. Lima anak sekaligus!. Aku waktu itu hanya sendiri, satu ruangan dengan mereka.

Ada dua anak yang anteng duduk, dengan meja kecil dihadapannya lengkap dengan kertas dan crayon–tapi dia bingung mau gambar apa. Ada yang sedang merangkai puzzle di lantai. Ada juga yang suka main plorotan dan terus… plorotan dan terus… plorotan dan terus… Lalu ada yang muter-muter sambil bawa mainan bola-bola kecil. Nah, yang paling keren itu ada yang muter-muter, tidak bawa mainan apa-apa, tapi dia seneng banget naik meja loncat dari kursi ke kursi, ke meja lagi… ke kursi lagi… hmmm.

Aku gugup dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Yaudahlah yang penting niat pedekate ke mereka.

Dan hasilnya sudah terduga. Aku yang jarang pedekate ke cewek (*tidak ada keterangan lebih lanjut) sekarang mencoba pedekate ke anak, anak spesial. Hasilnya dicuekin.

Tapi… ya… , awalnya mereka cuek dan saya tidak menyerah. Terbukti lama kelamaan aku dapat menjalin komunikasi. Walaupun tidak intens.

Tapi jangan dibayangkan komunikasi dengan mereka layaknya gaya ke anak biasa. Aku masih ingat pada waktu itu adalah pengalaman pertama bisa belajar memahami komunikasi sejati. Dalam pengertian yang lebih luas, komunikasi dengan hati–kita menyebutnya.

Komunikasi dengan hati ini bukan berarti membuat  baper ya. Tidak dibutuhkan baper dalam cerita ini.

Menurutku berinteraksi dengan anak-anak spesial ini membuat ku terlatih untuk terbiasa dengan kenuikan gaya mereka. Hal lain adalah membuat ku berlatih fokus, karena makna pesan yang diberikan tidak melulu pada verbal yang mereka utarakan, namun juga melalui indera mereka, seperti gerakan tangan, sentuhan, ekspresi wajah, tindakan, dan lainnya.

Dari ini, aku belajar bahwa sebesar apapun hambatan kita berkomunikasi, kalau memang niatnya dari hati, akan bermakna dan akan sampai pesannya. Berbeda dengan keadaan dimana sekecil apapun hambatan kita berkomunkasi, kalau memang niatnya tidak dari hati, akan tidak bermakna. Tidak akan sampai pesannya.

Aku sering dapat wejangan–“ikuti dunia mereka”, “jangan disambi”. Nasehat yang ku dapat dalam maksud lain adalah–“jadilah pendengar dan pengamat yang baik”, “jangan setengah-setengah dalam memahami mereka”.

Prinsip ini aku kira sangat bisa diterapkan dalam lingkup lebih luas. Kepada anak-anak spesial ini, orang tua mereka, teman kolega, teman relawan, teman pendamping hidup (pasti ada!), dan teman-teman yang lain. Prinsip ini juga bisa diterapkan pada musuh atau orang yang membenci kita. Kalau gak percaya coba lakuin aja, nanti cerita ke aku ya hasilnya kaya gimana.

Berinteraksi dengan anak-anak spesial ini menurut saya malah mereka yang memberikan pelajaran berharga. Aku dapat pelajaran cara berkomunikasi dengan benar-benar berkomunikasi.

Sedangkan bertemu dengan mereka, orang tuanya, serta teman-teman relawan dan staff di lingkungan ini memberi pengalaman yang tidak aku harapkan ada–di kehidupan aku yang datar-datar saja.

Karena pengalaman ini sangat mengagumkan, menjadi relawan ternyata lebih luas manfaatnya daripada persepsi pikiran aku.

Stories

Aku, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Pak Ading bilang menulis adalah hal yang mudah. Pak Ading adalah seorang blogger, childhood trainer, dan mentor kami (di yayasan saya bekerja) yang keren menurutku.

Ardy bilang menulis, meskipun di blog, itu sulit. Lebih mudah mengungkapkan pemikiran lewat video, katanya. Ardy adalah seorang teman nangkringku di giras yang punya minat bikin video keren tentang apapun (walaupun masih proses, katanya).

Aku bilang di dalam hati, “alah mbuh ah” (maaf, bahasa di dalam hati yang sering aku pakai adalah bahasa jawa, terjemahannya adalah “ah saya nggak tahu”).

Aku adalah orang biasa, yang merasa anti mainstream di tengah orang-orang luar biasa. Aku adalah orang bias, yang mengenal asa. Dibilang suka menulis juga enggak, jago menulis…?hmm apalagi. Punya blog juga amatiran, bukan seorang trainer, atau bahkan mentor seperti Pak Ading, dan saya tidak suka membuat video seperti Ardy.

Aku hanya seorang yang terlalu mikir, dan ku pikir menulis adalah relatif.

Relatif mudah, kalau menulis pengalaman yang indah. Relatif sulit, menulis hal yang kita sukai–tapi berbelit-belit, karena topik itu belum terkuasai. Relatif enggan, tentang pengalaman pahit dan angan-angan balikan. Relatif bosan, tentang cerita sehari-hari–dan yang lainnya adalah relatif malas….(kalau ini memang yang saya alami, apapun, tidak hanya persoalan menulis). Akhirnya kesimpulan saya: relatif bingung untuk menyimpulkan ke-relatif-an menulis.

Hah, sudah kuduga kalau, aku, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Stories

Curiga

Kita hidup di masa yang penuh kecurigaan dan, saya pikir, itu perangkap besar yang bisa membuat kita tidak mampu berbuat apa-apa untuk orang lain. Kita cuma mau melakukan hal-hal tertentu demi kepentingan diri sendiri.

— Aan mansyur —

Stories

Spesial

Melihat pada cerita awal blog ini, kalau dikenang-kenang memang tidak ada yang kebetulan. Aku menemukan titik nyambung, dari membaca buku sampai berkesempatan berbagi dan berperan untuk mereka yang spesial–yang sampai saat ini masih tak menyangka.

Mengapa buku Life Without Limit karya Nick Vujinic terbaca oleh saya, kemudian saya tulis cerita tentang Nick dan copypaste puisinya: Unicorn Bersayap Plastik. Seperti kenyambungan, karena beberapa bulan setelah itu, saya masuk dalam lingkungan dimana anak-anak spesial berada.

Yang aku maksud spesial adalah mereka, anak kebutuhan khusus. Seperti autis, down syndrome, cerebral palsy, tuna grahita, gangguan pendengaran, tuna visual, dan lainnya. Penggunaan representasi kata yang tepat selain “berkebutuhan khusus” memang sulit dilakukan, karena pilihan kata lainnya adalah disabilitas, cacat, kurang mampu, yang menurutku sendiri kurang berkenan di hati.

Sebenarnya ada kata “difabel” yang saya masih ingat disarankan oleh Mas Bayu (psikolog kami, dan orang keren yang sering mengucap kata yuhuuu). Difabel atau different ability kemudian yang saya pahami memang mirip-mirip lah dengan berkebutuhkan khusus.

Hmm….memang sampai saat ini pun penggunaan pemilihan kata masih belum ada yang fiks. Baik yang dipakai kita (yayasan), pemerintah, dan UNESCO.

Tapi tak usah ambil bingung, intinya saat itu saya bersyukur dapat bergabung menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK, tepatnya pada September 2016.

Titik awal inilah yang menghadirkan cerita-cerita diluar “biasa” pada selama setahun berikutnya, pada kehidupanku.

Stories

Akan tiba saatnya…

Kalau aku saat ini sedang merasa suntuk dengan beban pekerjaan yang menumpuk. Itu bukan salah keadaan yang seakan memojokkan kesempatan aku untuk bahagia.

Kalau aku saat ini sedang kurang sehat dengan tubuh ringkih yang mudah terserang flu pancaroba. Itu bukan salah aku yang kurang olahraga, atau malah karena aku memaksakan untuk berolahraga.

Kalau aku saat ini sedang mudah galau dengan tingkat suasana hati yang tak menentu. Itu bukan salah mereka yang menarik hati ini dan membawa pahit bercampur dengan manis kedatangan-pergi dia.

Mengapa aku berpikiran seperti ini, karena akan tiba saatnya, masa dimana hidup ku akan bahagia berkepanjangan dan mulai bosan karena terlalu bahagia. Berharap dan merindukan keadaan-keadaan saat ini, kapankah akan terulang kembali?

Stories

You have to do it yourself

Nobody is going to do your life for you. You have to do it yourself, whether you’re rich or poor, out of money or making it, the beneficiary of ridiculous fortune or terrible injustice. And you have to do it no matter what is true. No matter what is hard. No matter what is unjust, sad, sucky things befall you. Self pity is a dead end road. You can make the choice to drive down it. It’s up to you to decide to stay parked there or to turn around and drive out – Cheryl Stryed.

Stories

Auto pilot

Thinking is a high energy activity; is takes a lot of energy to think. So whenever we think, we try to think as short as possible, and then we return to auto pilot. Over 95% of our life, we run on auto pilot.  – Paul Rulkens –

Cerita kali ini lebih berbagi video TEDx Maastricht tentang bagaimana menjadi mayoritas itu adalah baik dan membuat kita “normal”. Pesan yang ingin disampaikan oleh Rulkens adalah betapa banyak orang normal yang membentuk norma mereka sendiri di dunia ini.

Kita menjadi berpikir di dalam kotak, yang bahkan kotak itu sangat kecil, tanpa kita sadari, sehingga banyak dari hidup kita ternyata berlajan dengan mode auto pilot. Mode ini diibaratkan bahwa kita seperti tidak memegang kendali penuh dalam hidup kita sendiri.

Jadi…

Jadilah seperti yang kalian inginkan. Jadilah dari bagian kaum 97% yang “normal” atau memilih kaum 3% yang tidak normal, yaitu mereka yang benar-benar diluar kotak.

Stories

Charity

For me, charity is practical. It’s sometimes easy, more often inconvenient, but always necessary. It’s the ability to use one’s position of influence, relative wealth and power to affect lives for the better. charity is singular and achievable.

There’s a biblical parable about a man beaten near death by robbers. He’s stripped naked and lying roadside. Most people pass him by, but one man stops. He picks him up and bandages his wounds. He puts him on his horse and walks alongside until they reach an inn. He checks him in and throws down his Amex. “Whatever he needs until he gets better.”

Because he could.

– Scott Harrison – from charity:water

Stories

Saling mendoakan

Alhamdulillah, aku merasakan benar menanti datangnya bulan Ramadhan tahun ini. Rasa yang berbeda, melihat lebih mudahnya kita merenung, memikirkan betapa indahnya susana pagi, siang, sore, dan malam yang penuh syahdu iman.

Yang biasanya aku, dengan mudahnya melalaikan setiap detik bersama Tuhan, menjadi lebih sulit, dan semakin sering terngiang. Tapi aku bersyukur melihat perubahan hati ini. Walaupun masih ada niatan “jika saja keminuman es teh mantap di siang hari”. Ya tapi… semoga (kemungkinan terjadi masih ada, dan Amin…), karena barangkali akan menambah rasa syukur aku dengan cara yang berbeda, sebagai seorang yang berusaha puasa (tapi semoga juga tidak keblinger).

Yang biasanya aku, dengan mudahnya melihat masjid sebagai tempat yang hanya lewat, sekarang semakin banyak orang yang mengerumuni. Hati ini menjadi iri sekaligus sungkan, apakah masih layak berkerumun?. Tapi nafsu baik jangan dilawan, dan entah apa kata nafsu yang lain, entah apa nafsu dari orang lain.

Memang keberkahan Ramadhan hanya Tuhan yang Maha Tahu, sedang manusia menerka-nerka. Apa keberkahan —  dan siapa yang dapat? Sayang sekali lagi mereka hanya menerka dan seringnya hanya menerka orang lain, apakah kamu mendapat — apa keberkahan?

Larilah dari terkaan. Hayati penuh Ramadhan ini, dan mari saling mendoakan. Karena itu merupakan anugerah terindah, cinta manusia dari mencintai pencipta-Nya.

Allahumma Ya Allah… berikanlah keberkahan dan keridhaan yang baik, dari bulan Ramadhan-Mu yang indah ini. Berikanlah kepada kami semua, orang tua kami, saudara kami, dan umat muslim di seluruh dunia.

Amin.

Stories

Storylistening

Beberapa hari ini, aku mencoba lebih kritis terhadap pribadi ini untuk kemajuan, karena merasa semakin berkurangnya orang yang menjengkelkan di dekatku (atau sebenarnya aku sudah terbiasa dengan mereka), sehingga kelenaan ini membuat jembatan menuju kebosanan dan pembenaran terhadap pribadi sudah terlalu berlebihan.

Ya, akhirnya hari ini aku menemukan sesuatu yang mencerahkan (sedikit banyak) karena sudah lama tak melihat dan mendengar gaya bicaranya Bapak Maeda yang kharismatik (unik dan mengintimidasi, namun tidak radikal dengan kelucuan alami mimik wajah dan gestur beliau).

“From Storytelling to Storylistening” mengingatkan aku untuk lebih melihat — bahkan lebih — memahami kelebihan “superioritas” setiap orang yang aku temui, sehingga aku akan lebih menerapkan storylistening, yang memang sangat berguna untuk mengkritisi diri aku, yang kemudian berguna bagi perkembangan “belajar lebih banyak” dan “bertindak lebih baik”.

 

Stories

Isu

Hai Isu.. bagaimana tanggapan atas benturan keyakinan dan keadaanmu sekarang? Sudahlah, jangan terlalu serius. Jadilah penganut ide baru dengan pemahaman ideologi lama. Jadilah orang biasa yang mengagumi seni, dan tanyakan apakah kamu bisa memikirkan sesuatu yang tidak bisa kamu pikirkan? Sudahlah jangan terlalu serius, ini hanya cerita isu.

Stories

2th ICSEN

Aku bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk turut serta dalam 2th International Conference on Special Educational Needs di Univesitas Pendidikan Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih pada Yayasan Peduli Kasih ABK karena telah mewadahi A-Z kebutuhan dan dukungan selama ini.

Terima kasih pada dokter Taat Tigore, dengan kerendahaan hati beliau dan bantuan berlimpah yang beliau berikan pada saya, juga pada Pak Iwan dan Bu Ernie Siregar. Tak lupa terima kasih saya pada mas dan bapak ojek online yang selalu setia menemai saya berduaan di sepanjang jalan Kota Bandung,.

Pengalaman ini sungguh luar biasa.

Seminar ini mengundang pembicara inti Prof. Kawaii dari Hiroshima University, Dr. Bari dari SEAMO SEN, dan Dr. Seto Mulyadi (Kak Seto-nya kita).

Beliau-beliau ini membawakan materi yang menarik, mengusung fokus pada: 1) pendidikan untuk ABK dengan metode peer-to-peer, 2) bagaimana ABK juga mempunyai kesempatan yang sama dalam dunia kerja, dan 3) bagaimana membuat ABK tumbuh subur, mengeluarkan potensinya yang unik dalam lingkungan yang ramah. Hemat saya, memang sesi simposium ini memberikan pencerahan, penyemangat, dan merilekskan, tanpa menghilangkan kenyataan bahwa betapapun kompleksnya masalah ABK, kita tidak sendiri. Banyak dari kita yang peduli.

Aku dan rekan-rekan (terima kasih pada mbak Yaya, mas Bayu, dan Dr. Sawitri) turut serta dalam seminar ini dalam rangka menyampaikan hasil awal PKABM (Program Peduli Kasih ABK Berbasis Masyarakat) melalui paper yang berjudul “Penerimaan Orang Tua sebagai bagian dari Penanganan ABK Melalui Kerjasama Orang Tua, Keluarga, dan Masyarakat Sekitar”.*

*ingin tahu lebih lanjut sila kunjungi web yayasan.

Stories

Tanyakan pada dirimu, bukan itu permasalahannya

Sering dulu berpikir, aku telah menemukan hidup. Waktu itu, dengan mudah aku menjawab “Dewasa nanti aku menjadi dalang!” dalang pengatur persahabatan, peperangan, dan kemenangan. Dalang pagelaran kesatria beradu angkara, berlatar wayang nyanyian gamelan, lengkap suara merdu. Ini cita-citaku, walau tidak semua setuju. Namun, bukan itu permasalahannya. Mengapa ingin menjadi dalang, kalau presiden terlihat cemerlang? Bertahan cuma sewindu pun menjadi bimbang.

Selama waktu, cita-citaku bercabang. “Aku ingin menjadi masinis!” menggerakan barang besi itu menuju penjuru sampai berhenti di belakang rumahku. Sungguh impian tetapi sayang, lebaran tiba aku lupa, kalau masinis tetap bekerja, dan aku tidak rela kehilangan pendapatan berharga. Hanya sebagai anak kecil. Aneh namun, bukan itu permasalahannya. Aku anak-anak mengenal awam.

Sentilan guyonan, aku berpikir. Mereka mengejar cita-cita untuk uang, jadi ini gampang. “Aku akan mencari uang!” Mau berkata apa kalian? dan kupikir permasalahan selesai. Namun, bukan itu permasalahannya. Menjadi tidak serius, aku remaja terhanyut arus.

Sekian mendengar cerita ulung, halusinasi muncul melambung. Aku terjebak dunia khayalan begitu tenggelam. Benar, arus hidup guyonan bak persepsi mengikis tak realistis. Namun, bukan itu permasalahannya. Aku meluncur berkhayal mulus dan begitu saja terus, sampai jenuh mempertanyakan – Apa cita-citamu lagi? Sudah cukup? Aku dewasa terjebak, tersadar kenyataan, bukan itu permasalahannya.

Sudah lepaskan tabiat walau berat, dan cepat taubat cermati nubuat. Yang nyata, hidupku bukan khayalan-khayalan awam. Cepat sadar, karena memang bukan itu permasalahannya – dan apa aku sadar? Apa permasalahannya?

Setelah terhentak semua jelas. Permasalahan memang muara satu. Bukan temu tapi ingat, karena lupa ternyata dindingku. Sedari dulu, jauh sebelum pikiranku, sadarku, lahirku, aku sudah tahu. Tapi jangan sekali-kali salahkan cita-cita mengapa muncul, karena itu dari keyakinan. Mungkin mengapa keyakinan itu wujud iman. Namun tegaskan – sudahkah ku salahkan keyakinan? Curiga besar, karena keyakinanku hanya datang semu dari nafsu, sebentar segera pudar, lemah karena salah, goyah berganti-ganti karena keyakinan ini tidak datang dari yang Maha Pasti.

Sekarang aku tahu, karena itu permasalahannya.

Stories

Duolingo

Aku telah belajar Bahasa Inggris semenjak kanak-kanak dan sampai sekarang tidak ada kemajuan berarti. Memang memalukan, namun apa daya jika telah terjebak kebosanan belajar yang namanya “bab grammar”. Padahal belajar bagian itu saja tidak cukup, masih ada yang namanya speaking, writing, idiom dan kawan-kawannya.

Aku menemukan aplikasi yang mengurangi stereotipeku tentang belajar Bahasa Inggris.

Duolingo, semenjak marak dibicarakan si maya tahun lalu. Rasa penasaran menjadi tinggi semenjak rumor Angela Merkel juga menggunakan aplikasi ini. Aku ikut menjajal Duolingo, dan hasilnya… lumayan.

Aku tetap tidak mengerti apa itu grammar, tapi tiba-tiba nilai TOEFL-ku naik begitu saja. Naik tipis.

Duel_Owls

*tidak ada unsur iklan dibalik cerita ini.

Stories

Menjadi seorang otaku

Cerita ini levelnya masih beginner & no necessary skills are required 

Cerita menjadi seorang Otaku, barangkali bagi kalian (yang masih awam) akan membayangkan saya adalah seorang yang benar-benar aneh, berkacamata tebal, pandai menggambar komik, dan punya isi otak ensiklopedi berjalan seputar anime dan manga.

Itu tidak seluruhnya benar. Lihat foto profilku.

Otaku menurut pengertian dari Pakde Wikipedia adalah sebagai berikut:

Arti Otaku

Ya, jadi seorang Otaku memang identik dengan anime dan manga, namun terlepas dari itu,  penyebutan istilah ini adalah untuk orang-orang gila yang benar-benar menekuni hobinya. Nah, ini sama saja dengan label “Geek” bagi penggila komputer dan teknologi.

Jika sekarang penyebutan Geek sudah mulai meluas pada banyak bidang,yaitu tidak hanya komputer dan teknologi, maka begitu juga dengan otaku.

Oleh karena itu, cerita kali ini pada intinya ingin meluruskan bahwa menjadi otaku tidak berarti kalian menjadi seorang pecinta anime dan mangan, namun termasuk apapun hobi yang kalian tekuni. Tapi istilah ini jangan diamantakan untuk hobi yang sakral ya… seperti jika kalian hobi Tarti dan Qiro’ah, maka kalian jangan menyebut Otaku Tartil dan Qiro’ah. Yoi.

Sebagai penutup cerita singkat dan kurang bermakna kali ini, saya menambahkan untuk penyebutan Otaku. Meski istilah ini telah meluas, namun label “orang gila” pada mereka para Otaku atau Geek masih melekat lho… jadi jika kalian sudah bosan menjadi orang yang waras-waras begitu saja, silahkan menjadi Otaku. Jos.

Akhir kata, jangan takut menjadi otaku, karena banyak diantara sedikit otaku yang telah mengubah dunia, setidaknya dunia mereka sendiri.

 

Stories

Siapapun aku boleh belajar coding

Intinya lagi ingin menjelajahi skills baru, aku berselancar ria menjelajahi banyaknya kursus online yang lagi marak akhir-akhir ini. Banyak dari mereka yang menawarkan sertifikat dan menjanjikan menambah kesempatan kita untuk lebih berkembang dan mendapatkan tawaran kerja yang lebih banyak.

Tapi itu semua sulit aku jangkau karena; 1) Biaya yang mahal, 2) Biaya yang semakin mahal karena pake dollar, 3) Biaya cetak sertifikat, 4) Biaya lagi untuk ngirim sertifikat ke rumah, 4) Bahasa Enggris (Inggris Kejawen) saya yang pas-pasan, 5) Dan yang paling mengkhawatirkan adalah tidak ada jaminan akan kelulusan kita serta rumor sulitnya capstone project di akhir kursus. Jadi ya… itu.

Berawal dari kesadaran skills saya yang ternyata masih sedikit dan kacau, jadinya kemarin itu saya nemu website berupa kursus interaktif yang namanya Codecademy.

Codecademy-Muqorrobinist