Stories

You have to do it yourself

Nobody is going to do your life for you. You have to do it yourself, whether you’re rich or poor, out of money or making it, the beneficiary of ridiculous fortune or terrible injustice. And you have to do it no matter what is true. No matter what is hard. No matter what is unjust, sad, sucky things befall you. Self pity is a dead end road. You can make the choice to drive down it. It’s up to you to decide to stay parked there or to turn around and drive out – Cheryl Stryed.

Stories

Auto pilot

Thinking is a high energy activity; is takes a lot of energy to think. So whenever we think, we try to think as short as possible, and then we return to auto pilot. Over 95% of our life, we run on auto pilot.  – Paul Rulkens –

Cerita kali ini lebih berbagi video TEDx Maastricht tentang bagaimana menjadi mayoritas itu adalah baik dan membuat kita “normal”. Pesan yang ingin disampaikan oleh Rulkens adalah betapa banyak orang normal yang membentuk norma mereka sendiri di dunia ini.

Kita menjadi berpikir di dalam kotak, yang bahkan kotak itu sangat kecil, tanpa kita sadari, sehingga banyak dari hidup kita ternyata berlajan dengan mode auto pilot. Mode ini diibaratkan bahwa kita seperti tidak memegang kendali penuh dalam hidup kita sendiri.

Jadi…

Jadilah seperti yang kalian inginkan. Jadilah dari bagian kaum 97% yang “normal” atau memilih kaum 3% yang tidak normal, yaitu mereka yang benar-benar diluar kotak.

Stories

Charity

For me, charity is practical. It’s sometimes easy, more often inconvenient, but always necessary. It’s the ability to use one’s position of influence, relative wealth and power to affect lives for the better. charity is singular and achievable.

There’s a biblical parable about a man beaten near death by robbers. He’s stripped naked and lying roadside. Most people pass him by, but one man stops. He picks him up and bandages his wounds. He puts him on his horse and walks alongside until they reach an inn. He checks him in and throws down his Amex. “Whatever he needs until he gets better.”

Because he could.

– Scott Harrison – from charity:water

Stories

Saling mendoakan

Alhamdulillah, aku merasakan benar menanti datangnya bulan Ramadhan tahun ini. Rasa yang berbeda, melihat lebih mudahnya kita merenung, memikirkan betapa indahnya susana pagi, siang, sore, dan malam yang penuh syahdu iman.

Yang biasanya aku, dengan mudahnya melalaikan setiap detik bersama Tuhan, menjadi lebih sulit, dan semakin sering terngiang. Tapi aku bersyukur melihat perubahan hati ini. Walaupun masih ada niatan “jika saja keminuman es teh mantap di siang hari”. Ya tapi… semoga (kemungkinan terjadi masih ada, dan Amin…), karena barangkali akan menambah rasa syukur aku dengan cara yang berbeda, sebagai seorang yang berusaha puasa (tapi semoga juga tidak keblinger).

Yang biasanya aku, dengan mudahnya melihat masjid sebagai tempat yang hanya lewat, sekarang semakin banyak orang yang mengerumuni. Hati ini menjadi iri sekaligus sungkan, apakah masih layak berkerumun?. Tapi nafsu baik jangan dilawan, dan entah apa kata nafsu yang lain, entah apa nafsu dari orang lain.

Memang keberkahan Ramadhan hanya Tuhan yang Maha Tahu, sedang manusia menerka-nerka. Apa keberkahan —  dan siapa yang dapat? Sayang sekali lagi mereka hanya menerka dan seringnya hanya menerka orang lain, apakah kamu mendapat — apa keberkahan?

Larilah dari terkaan. Hayati penuh Ramadhan ini, dan mari saling mendoakan. Karena itu merupakan anugerah terindah, cinta manusia dari mencintai pencipta-Nya.

Allahumma Ya Allah… berikanlah keberkahan dan keridhaan yang baik, dari bulan Ramadhan-Mu yang indah ini. Berikanlah kepada kami semua, orang tua kami, saudara kami, dan umat muslim di seluruh dunia.

Amin.

Stories

Storylistening

Beberapa hari ini, aku mencoba lebih kritis terhadap pribadi ini untuk kemajuan, karena merasa semakin berkurangnya orang yang menjengkelkan di dekatku (atau sebenarnya aku sudah terbiasa dengan mereka), sehingga kelenaan ini membuat jembatan menuju kebosanan dan pembenaran terhadap pribadi sudah terlalu berlebihan.

Ya, akhirnya hari ini aku menemukan sesuatu yang mencerahkan (sedikit banyak) karena sudah lama tak melihat dan mendengar gaya bicaranya Bapak Maeda yang kharismatik (unik dan mengintimidasi, namun tidak radikal dengan kelucuan alami mimik wajah dan gestur beliau).

“From Storytelling to Storylistening” mengingatkan aku untuk lebih melihat — bahkan lebih — memahami kelebihan “superioritas” setiap orang yang aku temui, sehingga aku akan lebih menerapkan storylistening, yang memang sangat berguna untuk mengkritisi diri aku, yang kemudian berguna bagi perkembangan “belajar lebih banyak” dan “bertindak lebih baik”.

 

Stories

Isu

Hai Isu.. bagaimana tanggapan atas benturan keyakinan dan keadaanmu sekarang? Sudahlah, jangan terlalu serius. Jadilah penganut ide baru dengan pemahaman ideologi lama. Jadilah orang biasa yang mengagumi seni, dan tanyakan apakah kamu bisa memikirkan sesuatu yang tidak bisa kamu pikirkan? Sudahlah jangan terlalu serius, ini hanya cerita isu.

Stories

2th ICSEN

Aku bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk turut serta dalam 2th International Conference on Special Educational Needs di Univesitas Pendidikan Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih pada Yayasan Peduli Kasih ABK karena telah mewadahi A-Z kebutuhan dan dukungan selama ini.

Terima kasih pada dokter Taat Tigore, dengan kerendahaan hati beliau dan bantuan berlimpah yang beliau berikan pada saya, juga pada Pak Iwan dan Bu Ernie Siregar. Tak lupa terima kasih saya pada mas dan bapak ojek online yang selalu setia menemai saya berduaan di sepanjang jalan Kota Bandung,.

Pengalaman ini sungguh luar biasa.

Seminar ini mengundang pembicara inti Prof. Kawaii dari Hiroshima University, Dr. Bari dari SEAMO SEN, dan Dr. Seto Mulyadi (Kak Seto-nya kita).

Beliau-beliau ini membawakan materi yang menarik, mengusung fokus pada: 1) pendidikan untuk ABK dengan metode peer-to-peer, 2) bagaimana ABK juga mempunyai kesempatan yang sama dalam dunia kerja, dan 3) bagaimana membuat ABK tumbuh subur, mengeluarkan potensinya yang unik dalam lingkungan yang ramah. Hemat saya, memang sesi simposium ini memberikan pencerahan, penyemangat, dan merilekskan, tanpa menghilangkan kenyataan bahwa betapapun kompleksnya masalah ABK, kita tidak sendiri. Banyak dari kita yang peduli.

Aku dan rekan-rekan (terima kasih pada mbak Yaya, mas Bayu, dan Dr. Sawitri) turut serta dalam seminar ini dalam rangka menyampaikan hasil awal PKABM (Program Peduli Kasih ABK Berbasis Masyarakat) melalui paper yang berjudul “Penerimaan Orang Tua sebagai bagian dari Penanganan ABK Melalui Kerjasama Orang Tua, Keluarga, dan Masyarakat Sekitar”.*

*ingin tahu lebih lanjut sila kunjungi web yayasan.

Stories

Tanyakan pada dirimu, bukan itu permasalahannya

Sering dulu berpikir, aku telah menemukan hidup. Waktu itu, dengan mudah aku menjawab “Dewasa nanti aku menjadi dalang!” dalang pengatur persahabatan, peperangan, dan kemenangan. Dalang pagelaran kesatria beradu angkara, berlatar wayang nyanyian gamelan, lengkap suara merdu. Ini cita-citaku, walau tidak semua setuju. Namun, bukan itu permasalahannya. Mengapa ingin menjadi dalang, kalau presiden terlihat cemerlang? Bertahan cuma sewindu pun menjadi bimbang.

Selama waktu, cita-citaku bercabang. “Aku ingin menjadi masinis!” menggerakan barang besi itu menuju penjuru sampai berhenti di belakang rumahku. Sungguh impian tetapi sayang, lebaran tiba aku lupa, kalau masinis tetap bekerja, dan aku tidak rela kehilangan pendapatan berharga. Hanya sebagai anak kecil. Aneh namun, bukan itu permasalahannya. Aku anak-anak mengenal awam.

Sentilan guyonan, aku berpikir. Mereka mengejar cita-cita untuk uang, jadi ini gampang. “Aku akan mencari uang!” Mau berkata apa kalian? dan kupikir permasalahan selesai. Namun, bukan itu permasalahannya. Menjadi tidak serius, aku remaja terhanyut arus.

Sekian mendengar cerita ulung, halusinasi muncul melambung. Aku terjebak dunia khayalan begitu tenggelam. Benar, arus hidup guyonan bak persepsi mengikis tak realistis. Namun, bukan itu permasalahannya. Aku meluncur berkhayal mulus dan begitu saja terus, sampai jenuh mempertanyakan – Apa cita-citamu lagi? Sudah cukup? Aku dewasa terjebak, tersadar kenyataan, bukan itu permasalahannya.

Sudah lepaskan tabiat walau berat, dan cepat taubat cermati nubuat. Yang nyata, hidupku bukan khayalan-khayalan awam. Cepat sadar, karena memang bukan itu permasalahannya – dan apa aku sadar? Apa permasalahannya?

Setelah terhentak semua jelas. Permasalahan memang muara satu. Bukan temu tapi ingat, karena lupa ternyata dindingku. Sedari dulu, jauh sebelum pikiranku, sadarku, lahirku, aku sudah tahu. Tapi jangan sekali-kali salahkan cita-cita mengapa muncul, karena itu dari keyakinan. Mungkin mengapa keyakinan itu wujud iman. Namun tegaskan – sudahkah ku salahkan keyakinan? Curiga besar, karena keyakinanku hanya datang semu dari nafsu, sebentar segera pudar, lemah karena salah, goyah berganti-ganti karena keyakinan ini tidak datang dari yang Maha Pasti.

Sekarang aku tahu, karena itu permasalahannya.

Stories

Duolingo

Aku telah belajar Bahasa Inggris semenjak kanak-kanak dan sampai sekarang tidak ada kemajuan berarti. Memang memalukan, namun apa daya jika telah terjebak kebosanan belajar yang namanya “bab grammar”. Padahal belajar bagian itu saja tidak cukup, masih ada yang namanya speaking, writing, idiom dan kawan-kawannya.

Aku menemukan aplikasi yang mengurangi stereotipeku tentang belajar Bahasa Inggris.

Duolingo, semenjak marak dibicarakan si maya tahun lalu. Rasa penasaran menjadi tinggi semenjak rumor Angela Merkel juga menggunakan aplikasi ini. Aku ikut menjajal Duolingo, dan hasilnya… lumayan.

Aku tetap tidak mengerti apa itu grammar, tapi tiba-tiba nilai TOEFL-ku naik begitu saja. Naik tipis.

Duel_Owls

*tidak ada unsur iklan dibalik cerita ini.

Stories

Menjadi seorang otaku

Cerita ini levelnya masih beginner & no necessary skills are required 

Cerita menjadi seorang Otaku, barangkali bagi kalian (yang masih awam) akan membayangkan saya adalah seorang yang benar-benar aneh, berkacamata tebal, pandai menggambar komik, dan punya isi otak ensiklopedi berjalan seputar anime dan manga.

Itu tidak seluruhnya benar. Lihat foto profilku.

Otaku menurut pengertian dari Pakde Wikipedia adalah sebagai berikut:

Arti Otaku

Ya, jadi seorang Otaku memang identik dengan anime dan manga, namun terlepas dari itu,  penyebutan istilah ini adalah untuk orang-orang gila yang benar-benar menekuni hobinya. Nah, ini sama saja dengan label “Geek” bagi penggila komputer dan teknologi.

Jika sekarang penyebutan Geek sudah mulai meluas pada banyak bidang,yaitu tidak hanya komputer dan teknologi, maka begitu juga dengan otaku.

Oleh karena itu, cerita kali ini pada intinya ingin meluruskan bahwa menjadi otaku tidak berarti kalian menjadi seorang pecinta anime dan mangan, namun termasuk apapun hobi yang kalian tekuni. Tapi istilah ini jangan diamantakan untuk hobi yang sakral ya… seperti jika kalian hobi Tarti dan Qiro’ah, maka kalian jangan menyebut Otaku Tartil dan Qiro’ah. Yoi.

Sebagai penutup cerita singkat dan kurang bermakna kali ini, saya menambahkan untuk penyebutan Otaku. Meski istilah ini telah meluas, namun label “orang gila” pada mereka para Otaku atau Geek masih melekat lho… jadi jika kalian sudah bosan menjadi orang yang waras-waras begitu saja, silahkan menjadi Otaku. Jos.

Akhir kata, jangan takut menjadi otaku, karena banyak diantara sedikit otaku yang telah mengubah dunia, setidaknya dunia mereka sendiri.

 

Stories

Siapapun aku boleh belajar coding

Intinya lagi ingin menjelajahi skills baru, aku berselancar ria menjelajahi banyaknya kursus online yang lagi marak akhir-akhir ini. Banyak dari mereka yang menawarkan sertifikat dan menjanjikan menambah kesempatan kita untuk lebih berkembang dan mendapatkan tawaran kerja yang lebih banyak.

Tapi itu semua sulit aku jangkau karena; 1) Biaya yang mahal, 2) Biaya yang semakin mahal karena pake dollar, 3) Biaya cetak sertifikat, 4) Biaya lagi untuk ngirim sertifikat ke rumah, 4) Bahasa Enggris (Inggris Kejawen) saya yang pas-pasan, 5) Dan yang paling mengkhawatirkan adalah tidak ada jaminan akan kelulusan kita serta rumor sulitnya capstone project di akhir kursus. Jadi ya… itu.

Berawal dari kesadaran skills saya yang ternyata masih sedikit dan kacau, jadinya kemarin itu saya nemu website berupa kursus interaktif yang namanya Codecademy.

Codecademy-Muqorrobinist

Stories

Lindungi pikiranku dan mu dari ketakutan

Baru-baru ini, aku menemukan channel YouTube yang sangat menarik, yaitu BigThink. Tidak ada ruginya kalian subscribe channel ini, karena betapapun merananya Bahasa Inggris kalian, Bibi YouTube sangat baik hati karena telah menambahkan caption atau subtitle (walaupun masih dalam bentuk Inggris juga).

Kali ini, aku bagikan salah satu video yang sangat bagus untuk kalian-kalian para penakut (kaya yang nulis nggak penakut aja). Oke, selamat menonton videonya di bawah ini dan santai karena tidak panjang kok durasinya:

 

Stories

Tsubasa wo kudasai

Aku secara sengaja mendengar lagu ini dari laptop teman. Ini merupakan lagu favorit jika galau melanda. Lagu ini penyemangat dan pemberi perasaan yang haru. Jadi kalian akan dibuat semangat tanpa menghilangkan rasa galau. Hebat.

Tsubasa wo kudasai yang aku share merupakan versi soundtrack dari  Evangelion 2.0. Belum pernah lihat animenya, tapi kebiasaan mendengarkan soundtrack dari anime, dorama, tv series, dan film yang belum pernah tonton merupakan kebiasaan.

 

Tsubasa wo kudasai (dalam huruf jepang 翼をください) berarti please give me wings atau berikan saya sayap. Lagu diciptakan oleh Michio Yamagami, dan pertama kali diperkenalkan pada Nemu Popular Festival ’70.

Kemudian, lagu tsubasa wo kudasai dijadikan single oleh grup Akaitori, pada tahun 1971 dan menjadi terkenal seantero Jepang. Cover pertama dari lagu ini dibawakan oleh Sumiko Yamagata, tahun 1973.

Popularitas tsubasa wo kudasai terus berkembang. Bahkan pada tahun 1998, lagu ini dijadikan official theme dari timnas sepakbola Jepang di FIFA World Cup tahun 1998. Sampai sekarang, lagu ini terus dijadikan cover dan single oleh beberapa artis terkenal di Jepang.

Stories

Meditation

If we calm our mind, we’re somehow able to pick up things better in our environment, which also make sense in terms of how divided our mind is with regards to multitasking and so forth when our mind is very settled then we’re able to literally see more things, register more.

– Emma Seppala –