Uncategorized

Hasil menabung selama 3 tahun

Niatnya karena iri lihat si Ipin membedah tabungan recehannya dalam botol aqua kecil, mulai hari itu saya mengikuti langkahnya. 

Tapi gengsi lah kalau hanya nabung dalam aqua kecil. 

Kebetulan ada bekas botol Big Cola guede hasil pesta hura-hura bersama si Ardy, Adit, dan Hatta yang saya jadikan sebagai wadah, sekaligus target nabung recehan disitu. Biar nanti ganti si Ipin yang iri ngeliat saya pesta koin recehan yang lebih keren darinya. Biar dia nanti saya kasih sangu 100 x 100 rupiah.

*Ipin adalah teman kamar sebelah. Nama aslinya Barmawi Arifin. Hal paling menarik dari kita adalah: ketika saya dibonceng sepeda motor sama dia. Kaya angka 0 dan 1. Dia terlalu gemuk, dan saya terlalu kurus. Bahkan tangan saya tak sampai saling ketemu ketika nyabuk pas dibonceng. 

Waktu itu masih semester 4, juli 2014, koin pertama masuk dan saya begitu senangnya. Kemudian hari-hari berikutnya keadaan tetap menyenangkan, setiap kali habis dari indom*ret dapat susuk, langsung saya ceburkan dalam botol.

Ya… begitulah…

Dan hari-hari berlalu, hingga tiga bulan kemudian, hmm… saya merasakan betul perihnya pepatah sedikit demi sedikit lama lama… lama lama… lamaaa sekali… dan bahkan belum menjadi bukit, recehan dalam botol Big Cola pun separo tak terpenuhi.

Ada sih niat jahat menukar uang kertas dengan recehan, supaya lebih cepet. Tapi itu (hampir saja) saya lakukan. Untungnya keadaan saat itu saya fakir harta, menukar jatah makan untuk ditabung sama saja dengan harakiri.

Dendam saya, nanti kalau sudah terkumpul banyak, akan saya gunakan sebagai modal nikah, jalan-jalan, beli laptop gaming, beli hp anti air, beli tamiya dengan dinamo lilitan sendiri, dengan hanya sebotol Big Cola guede yang penuh recehan.

Mulai lagi berkhayal yang aneh-aneh, dan saya mulai lupa masalah nabung recehan ini, karena beban skripsi dan kawan-kawannya. 

Tapi setiap ada gemericik koin di saku, masih saya cemplungkan ke botol ~ yang kemudian saya juluki botol lubang hitam ~ karena setiap kali recehan masuk, saya amati tak naik-naik para koin dalam botol itu. 

Hingga tak terasa tiga tahun lebih, bulan Januari 2018, saya bedah botol yang sudah terisi penuh. Bedahnya pakai teknik el nido, haha, gausah lebar-lebar yang penting bisa buat keluar uang recehnya. Karena itu botol sakti, betapapun menyebalkannya, dia lah yang menjaga uang tabungan saya. Jadi selanjutnya akan saya pakai lagi untuk menabung yang batch 2, periode 2018-2021.

Jadi panen recehan ini ternyata sangat membuat saya senang. Ya… khayalana aneh2 (buat modal nikah atau apalah itu) sudah saya hiraukan. Berapapun hasilnya saya syukuri, dan tercatat 512.640 ribu rupiah*.

*Karena banyak kepingan seratus dan dua ratusnya.

Jadi tugas selanjutnya adalah menukar recehan itu di Indom*ret untum dapat uang kertas yang akan saya tabung di Jenius!. 

Saya memilih indom*ret, karena saya sering belanja disitu, dan dapat uang receh paling banyak juha dari situ. Jadi nanti mungkin… mungkin ya… nanti kalau dapat susuk, mungkin… itu adalah uang receh lama saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *