Stories

Mempelajari manusia

Keindahan wujud, intuisi, dan pikiran; kemampuan adaptasi, berinteraksi, dan membangun peradaban; kebutuhan religiusitas, altruisme, dan harapan. Semua itu adalah sedikit dari apa yang dimaksud manusia. Sedangkan per individu menjalaninya dengan sangat berbeda-beda — menjadikannya manusia, lebih manusia, atau kurang manusia. Membuatku tertarik mempelajari manusia.

William Barnhart 

Percampuran kebingungan dan penasaran. Semua hal bisa dikaitkan dengan manusia (setidaknya, semua hal yang aku tahu). Semua hal seakan untuk manusia. Kenyataannya begitu. Dari hal yang bermaterial maupun gaib. Tuhan menciptakan spesies ini dan menunjukkan kepedulian terhebat-Nya (pun juga kemurkaan terbesar-Nya).

Proses mempelajari manusia tak ada habisnya. Proses menyatukan pemahaman tentang manusia pun tak ada batasnya. Perlu segenap kolaborasi keilmuan, pengalaman, penelitian, dan obrolan berfaedah di warung kopi sampai seminar bergengsi. Aku menemukan diriku sendiri, ketika mempelajari diriku, sebagai manusia.

Sedangkan telah aku sadari betapa banyak jalan untuk mempelajari manusia, jalan paling menarik adalah memahami sifat alami manusia. Karena bagaimanapun, sifat alami ini seperti telah dikodratkan Tuhan. Mempelajarinya seperti menemukan kembali nilai sebenarnya menjadi manusia. Dalam pikiran bawah sadar, dalam kompleksitas, seperti pernyataan Edward O Wilson dalam bukunya On Human Nature: 

“Innate censors and motivators exist in the brain that deeply and unconsciously affect our ethical premises; from these roots, morality evolved as instinct. If that perception is correct, science may soon be in a position to investigate the very origin and meaning of human values, from which all ethical pronouncements and much of political practice flow.”

Tagged: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *