Stories

Tak ada yang bisa membendung kolaborasi, termasuk kamu

Setelah sekian kali melihat tulisan pendek skripsiku dalam bentuk jurnal yang terpublikasikan dalam Jurnal Kebijakan dan Manajemen Publik, ada rasa “ingin” untuk memaknai kembali arti kolaborasi, yang sekarang ini, menjadi fondasi ku untuk belajar hal baru, dan mengawinkannya.

Masih terpukau dengan insitatif Ansell & Gash, Agranoff, Donahue & Zeckhauser, dan Kirk Emerson, dkk,  aku yakin di masa depan, tak akan ada satu arang pun yang mampu membendung kolaborasi. Antar disiplin keilmuan, bidang, kepentingan, dan keahlian.

Kolaborasi menjadi solusi dalam setiap kebuntuan persoalan pelik manusia. Tak ada lagi fanatisme ahli ilmu yang bangga akan ke-jomblo-an terhadap keahliannya–seperti kata O. Wilson. Tak ada lagi bidang itu, yang tak berhubungan dengan bidang ini–seperti kata Ahmed Hulusi. Tak ada lagi. Semua menyatu, mengarah pada pencarian solusi efektif menyeluruh.

Aku sendiri masih bersyukur mengapa dulu menemukan topik ini. Berawal dari wejangan Prof Jusuf, aku meng-khatami setiap detil halaman index, di buku tebal Oxford Handbook of Public Policy, di dalam kereta, dengan tak menghiraukan perbincangan sepasang pengantin baru yang berbulan madu tepat didepan tempat duduk ku.

Aku terhenti sejenak pada kata: Collaborative–Collaborative Partnership–Collaborative Governance–Collaboration & Networking–Collaborative Management. Kata depan dari semua itu menunjukkan sifat anti-jomblo. Ya, pikirku, semua memang indah bila dikolaborasikan. Dan beberapa hal memang harus dikolaborasikan. Lalu beberapa literatur lain yang aku cari terkait topik kolaborasi, semakin membuatku tertarik.

Apa-apa bisa ditilik lebih runtut dan luas, bila keberagaman perspektif dikolaborasikan. Inovasi, penemuan, dan akar permasalahan (berikut solusinya) lebih bisa diwujudkan dengan sikap saling belajar, berbagi motivasi, saling melengkapi, dan memberi.

Seperti kompleksnya permasalahan penyakit TB-HIV, mengatasinya lebih efektif bila dilakukan dengan kolaborasi antar bidang: budaya, agama, pemerintah, pendidikan, dan kesehatan.

Budaya ramah tak mengucilkan akan mengecilkan pupusnya harapan. Sang Kiayi memberi siraman qalbu yang menyegarkan, membuat segenap umatnya bahu membahu membantu menyebarkan informasi yang benar, menepis desas sesus kutukan. Pemerintah membuka jalan seluas-luasnya bagi komunitas, stakeholder, dan pasien untuk mudah berobat, berinteraksi, dan tetap menjadi warga yang bermartabat. Pendidikan berjuang untuk menghapus pemikiran pragmatis, diskriminasi, dan sikap saling menghakimi. Fasilitas kesehatan berikut para dokter terbantu dengan dukungan berbagai pihak, sehingga tak ada lagi miris penolakan karena tak ada biaya dan tak ada sanak kerabat yang menanggung. Tak ada lagi kejadian meninggalnya penderita karena tekanan psikis, tak mau minum obat, dan pengucilan. Semua bekerja sama demi mewujudkan zero death, infection, & suffering.

Semua akan bahagia.

Jadi terlampau naif untuk menyelesaikan masalah dengan kolaborasi? sayangnya tidak, bagiku. Walau tidak semua masalah pasti terselesaikan dengan kolaborasi, tapi aku yakin, semua masalah akan lebih mudah dihadapi, berkat kolaborasi.

Ya, semua masalah, termasuk masalah mengkolaborasikan antara aku, kamu, dan keluarga kita nanti.

Stories

Aku, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Pak Ading bilang menulis adalah hal yang mudah. Pak Ading adalah seorang blogger, childhood trainer, dan mentor kami (di yayasan saya bekerja) yang keren menurutku.

Ardy bilang menulis, meskipun di blog, itu sulit. Lebih mudah mengungkapkan pemikiran lewat video, katanya. Ardy adalah seorang teman nangkringku di giras yang punya minat bikin video keren tentang apapun (walaupun masih proses, katanya).

Aku bilang di dalam hati, “alah mbuh ah” (maaf, bahasa di dalam hati yang sering aku pakai adalah bahasa jawa, terjemahannya adalah “ah saya nggak tahu”).

Aku adalah orang biasa, yang merasa anti mainstream di tengah orang-orang luar biasa. Aku adalah orang bias, yang mengenal asa. Dibilang suka menulis juga enggak, jago menulis…?hmm apalagi. Punya blog juga amatiran, bukan seorang trainer, atau bahkan mentor seperti Pak Ading, dan saya tidak suka membuat video seperti Ardy.

Aku hanya seorang yang terlalu mikir, dan ku pikir menulis adalah relatif.

Relatif mudah, kalau menulis pengalaman yang indah. Relatif sulit, menulis hal yang kita sukai–tapi berbelit-belit, karena topik itu belum terkuasai. Relatif enggan, tentang pengalaman pahit dan angan-angan balikan. Relatif bosan, tentang cerita sehari-hari–dan yang lainnya adalah relatif malas….(kalau ini memang yang saya alami, apapun, tidak hanya persoalan menulis). Akhirnya kesimpulan saya: relatif bingung untuk menyimpulkan ke-relatif-an menulis.

Hah, sudah kuduga kalau, aku, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Stories

Menerima

Memang masalah selalu saja menjadi musuh bebuyutanku sebagai manusia, dan ia selalu datang.

Dalam menghadapi masalah terdapat dua sikap: 1) menganggap  sebagai peluang, 2) menggerutu sebagai beban.

Kalau pun aku, manusia yang menganggap masalah sebagai peluang dalam perjalanannya sedikit demi sedikit mendapatkan sinar cahaya penerimaan. Pun pemikiran dan tindakanku seperti ini membuat pengejaran diri untuk berkembang, tapi dengan benalu yang masih aku bawa–yaitu menggerutu sebagai beban menggembol di tubuh kurusku.

Allah SWT mengetahui sedang kamu tidak mengetahui (QS 2: 216)

Pada akhir dan seterusnya, meski tak pernah sempurna, aku menerima, yang semoga banyak condongnya ke pilihan sikap satu dalam menghadapi masalah.