Stories

Aku, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Pak Ading bilang menulis adalah hal yang mudah. Pak Ading adalah seorang blogger, childhood trainer, dan mentor kami (di yayasan saya bekerja) yang keren menurutku.

Ardy bilang menulis, meskipun di blog, itu sulit. Lebih mudah mengungkapkan pemikiran lewat video, katanya. Ardy adalah seorang teman nangkringku di giras yang punya minat bikin video keren tentang apapun (walaupun masih proses, katanya).

Aku bilang di dalam hati, “alah mbuh ah” (maaf, bahasa di dalam hati yang sering aku pakai adalah bahasa jawa, terjemahannya adalah “ah saya nggak tahu”).

Aku adalah orang biasa, yang merasa anti mainstream di tengah orang-orang luar biasa. Aku adalah orang bias, yang mengenal asa. Dibilang suka menulis juga enggak, jago menulis…?hmm apalagi. Punya blog juga amatiran, bukan seorang trainer, atau bahkan mentor seperti Pak Ading, dan saya tidak suka membuat video seperti Ardy.

Aku hanya seorang yang terlalu mikir, dan ku pikir menulis adalah relatif.

Relatif mudah, kalau menulis pengalaman yang indah. Relatif sulit, menulis hal yang kita sukai–tapi berbelit-belit, karena topik itu belum terkuasai. Relatif enggan, tentang pengalaman pahit dan angan-angan balikan. Relatif bosan, tentang cerita sehari-hari–dan yang lainnya adalah relatif malas….(kalau ini memang yang saya alami, apapun, tidak hanya persoalan menulis). Akhirnya kesimpulan saya: relatif bingung untuk menyimpulkan ke-relatif-an menulis.

Hah, sudah kuduga kalau, aku, seseorang yang masih bermasalah untuk menulis.

Stories

Menerima

Memang masalah selalu saja menjadi musuh bebuyutanku sebagai manusia, dan ia selalu datang.

Dalam menghadapi masalah terdapat dua sikap: 1) menganggap  sebagai peluang, 2) menggerutu sebagai beban.

Kalau pun aku, manusia yang menganggap masalah sebagai peluang dalam perjalanannya sedikit demi sedikit mendapatkan sinar cahaya penerimaan. Pun pemikiran dan tindakanku seperti ini membuat pengejaran diri untuk berkembang, tapi dengan benalu yang masih aku bawa–yaitu menggerutu sebagai beban menggembol di tubuh kurusku.

Allah SWT mengetahui sedang kamu tidak mengetahui (QS 2: 216)

Pada akhir dan seterusnya, meski tak pernah sempurna, aku menerima, yang semoga banyak condongnya ke pilihan sikap satu dalam menghadapi masalah.