Stories

Yang ku tahu aku perlu belajar menjadi pembelajar

Begitu banyak pengalaman tak enak (jengkel) ketika berbagi pikiran dan ide ide yang menurut ku kreatif karena ada salah satu atau beberapa teman yang tak sepemikiran, atau menentangnya. Memang pepatahnya adalah: “hargai pendapat orang lain”. Namun pada kenyataannya “hargai aku dulu, karena bagimu, aku adalah orang lain, kan?”.

Cerita kali ini berbicara tentang kekeliruan pemahaman, dan percobaan berbagi pemahaman baru tentang menjadi pembelajar. Latar belakangnya adalah karena arogansi ku yang mendapuk diri sendiri sebagai “pembelajar”. Padahal state-of-realities-nya masih jauh, masih tingkat kroco dan precil.

Pembelajar tak pernah menganggap dirinya pembelajar.

Pembelajar menganggap dirinya selalu menjadi orang yang miskin, kekurangan, dan haus akan hal baru, perspektif berbeda, kesimpulan baru, perubahan dan kebenaran yang lebih dari prakiraan pikirannya, yang mana ia benar-benar sibuk mengurusi semua hal itu, sehingga klaim atas “aku adalah pembelajar” tak pernah mereka gaungkan.

Memang jika tak lihai, kita banyak menemukan diluar sana sudah terlalu banyak orang arogan (knower-sok tahu-sotoi) yang berkali-kali mengklaim diri mereka sebagai pembelajar. Kita seringkali tertipu, dan mereka yang benar-benar pembelajar-pun tak risau dengan hal itu.

Karena sang pembelajar akan selalu menemukan muara kebesaran Yang Maha Bijaksana, yang itu lebih nikmat dari pengakuan manusia.

Sungguh nikmat ketika membayangkan mereka berkali kali mendapat “nikmat” yang tak terkira sebagai pembelajar.

Nikmat yang ku dambakan, walau masih menjadi pembayang, tapi karena aku tahu, aku masih perlu belajar menjadi pembelajar (agar merasakan “nikmat” itu juga), maka lebih baik dan memang seharusnya, mari bersama-sama belajar menjadi pembelajar.