Stories

Segelas air galon terakhir dari tahun 2017

Pergantian tahun beberapa jam yang lalu dapat saya simpulkan dengan tiga kejadian: 1) kembang api dimana-mana, 2) instastory, dan 3) minum-minum.

Satu: Kembang api selalu menjadi komposisi wajib dalam merayakan tahun baru. Banyak disana sini kembang api dan yang paling membuat saya tahu itu kembang api adalah dari suaranya. 

Memang yang indah adalah nyala warni cahayanya. Namun suara duarr-nya yang terlampau nyaring menganggaung di gang kos pada pukul 23.50 sampai 00.15 membuat hati ini sedikit mangkel dan mata ini terbelalak terjaga dari tidur.

Dua: Momen tahun baru tentu jadi ajang update instastory siapapun, dengan pesan apapun. Saya juga ikutan, tapi dengan story berbeda. Bukan tentang momen tahun baru ala bakar bakar dan kumpul bersama yang dicinta. Story saya memang tentang cinta, tapi sangat murni tentang konsep cinta, tidak ada tokoh orang didalamnya.

Bukan saya jadi baper karena hanya di kos, dan sendirian… (anggap saja sendirian). Namun kebetulan saja sedang baca artikel dan eh nemu quote itu.

Tiga: Minum-minum. Mungkin ini yang menjadi pembeda peristiwa tahun baru kali ini. Saya kira anda semua tahu lah kalau seorang lagi minum-minum, berarti dia memang sedang minum-minum. Saya ingin menjernihkan makna ini dari kemabukan, karena minum adalah salah satu tindakan dasar dari manusia untuk melanjutkan hidup. 

Saya tidak mengatakan juga bahwa minum-minum pada pergantian tahun inu adalah cara saya merayakan tahun baru. Benar, hanya kebetulan saja haus saat itu, dan keadaannya, kebetulan yang tersisa hanya segelas air galon yang kemudian saya minum dan masih menyisakan dahaga ditenggorokan. 

Seperti iklan yakult, saat itu saya ingin minum dua (gelas). Tapi tersisa dicerek hanya cukup menampung satu gelas (itu pun tidak penuh), sehingga kejadian minum-minum pada pukul 00.02 di tanggal 1 januari 2018 membuat saya teringat betapa pentingnya air untuk minum-minum, tak terkecuali di malam tahun baru.