Menjadi pengajar muda

Menjadi guru adalah salah satu cita-cita yang saya hindari selain menjadi dokter dan ustadz. Alasannya mendasar, karena saya tak pandai dalam mengajar. Saya mudah bingung dengan apa yang saya katakan sendiri ketika berhadapan dengan mereka.

Walau faktanya, keluarga saya 98% adalah guru. Dari PAUD/TK, SD, SMP, SMA, dan dosen, semua ada. Dari mbah buyut hingga sepupu, dan bakal2 guru dari angkatan keponakan, termasuk adik saya.

Saya, kuliah bukan di jurusan keguruan, melainkan ilmu administrasi negara. Jurusan yang menyerempet manajemen, sosial politik, dan segala birokrasinya.

Bicara pembelaan, saya tak salah jurusan. Tidak, saya mencintai pilihan saya.

***

Selepas kuliah, saya bekerja di yayasan peduli kasih anak berkebutuhan khusus, dan juga di hermanto tanoko foundation.

Seharusnya apabila sesuai keahlian, saya bekerja di pemerintahan. Tetapi saya malah menjadi social worker.

Takdir serasa ga nyambung nih? Nyambung kok.

Begini,

Saya sepaham dengan Steve Jobs yang menyarankan: “Ikutilah kata hatimu, keberanian, takdir, apapun itu. Soal hidup, kamu hanya bisa menghubungkan titik-titiknya dengan melihat kebelakang”.

Dan saya melihat kebelakang.

Ketika saya terobsesi dengan kuliah, dengan niatan sukses karir dan kemapanan (seperti harapan orang awam), saya merasa ada korupsi di hati ini.

Semakin saya kejar dunia itu, semakin pula dijauhkan Allah dari beberapa kesempatan.

Berkali-kali ditolak kerja, saya mulai merenungkan apa maksud Nya.

Akhirnya:

Setelah berdoa dan memantapkan hati, saya yang waktu itu menjadi relawan, berani masuk kerja dalam ranah sosial.

Berkecimpung di ranah sosial merubah perspektif saya.

Ketenangan hati dan kebahagiaan saya terdefinisi lain. Semacam hati senang walaupun tak banyak uang.

Ahai, tapi bukan kere ya.

Saya penganut optimis bahwa menjadi pekerja sosial bisa kok baik secara finansial.

***

Setelah bekerja sosial kurang lebih dua tahun, pikiran saya mengarah pada suatu solusi hulu. Bukan hilir yang hanya mengobati tanpa mengatasi akarnya.

Disitulah saya mulai memperdalam tentang dunia pendidikan.

Hal itu muncul atas sebab obrolan dengan ibu saya, seorang guru Akidah Akhlak yang sangat keras pada anaknya, yang memberi pendidikan dan layanan konsultasi 24/7 utk hal apapun dalam hidup saya.

Saya belajar lebih jauh tentang dunia pendidikan dan menemukan suatu pencerahan.

Saya percaya, semua tantangan yang kita hadapi dalam era modern ini, cara investasi terbaiknya adalah memperbaiki dunia pendidikan.

Karena pendidikan melahirkan generasi, budaya, penemuan, pemenuhan, dan peradaban.

Tetapi…

Saya bilang pada hati saya, saya tak ingin menjadi guru. Saya tak pantas, dan pasti ada jalan lain.

Tak menjadi guru. Saya menjadi pengajar muda. Yah, sama saja dong?.

Enggak dong.

Saya sangat menghormati dan membenarkan definisi dari KBBI tentang persamaan guru dan pengajar. Hanya saja, izinkan saya membuat definisi pribadi.

Menurut saya, guru adalah seorang yang terhormat, amat mulia, dan ahli (tentu saja), sedangkan saya tak pantas untuk menjadi itu.

Saya lebih senang menjadi pengajar, yang selalu siap untuk lebih banyak belajar.

Belajar dari murid dan orang tuanya, dari penggerak dan masyarakat, dari kalian, dan dari siapapun.

Sehingga (mengutip kata-kata Mark Watney dari The Martians), saya bisa memberi lebih daripada apa yang saya terima.

***

Itulah ketika saya ngeklik dengan istilah pengajar muda, dan akhirnya menjadikan sebagai salah satu alasan utama saya untuk bergabung.

Dalam memunculkan ikatan akar rumput yang luar biasa, bersama seantero lapisan masyarakat.

Dalam Gerakan Indonesia Mengajar.

TB-HIV 2016 dan sekarang

Saya menemukan topik TB-HIV akibat rasa penasaran (dan kepuyengan) yang memuncak pada tahun 2016 lalu. Tahun penting dimana skripsi dan kelulusan harus terjadi!.

Sumringah karena semenjak tiga tahun ini, terdengar berita baik penanggunalan TB di kabupaten tercinta (Blitar), yaitu:

  1. Siap Terjun Ke Masyarakat, Puluhan Kader TB-HIV di Blitar Ikuti Pembekalan Informasi.
  2. Dalam Meningkatkan Penemuan Penderita TBC serta Penambahan Kader, Dinkes Kab Blitar Adakan RAD.

Orang-orang yang terlibat dulu, seperti Pak Wahyu dari P2MK Dinkes Kab Blitar, Pak Wijianto dari LKNU, Bu Ima penggerak dari Aisyiyah, Pak Adi dari KPAD, dan lainnya, sekarang masih dan sangat aktif bergerak.

Hanya saja, yang bikin agak galau adalah berita tentang HIV nya.