Categories
Tulisan

Rencana jangka panjang

Setiap yang merasakan aktualisasi diri tentunya berusaha untuk mencapai tahap demi tahap mewujudkan impiannya. Halangan rintangan sudah pasti ada. Tak terlalu gusar, menerjang, dan membuat lompatan-lompatan. Seakan semua jalan itu lurus kedepan dan menanjak. Padahal bisa saja ada belokan, putar balik, turunan, yang terkadang pula disertai polisi tidur berbaris berantakan.

Untuk rencana jangka panjang (biar selamat dunia akhirat), saya berserah diri ini supaya di tolong Tuhan. Soal kebutuhan, kemapanan, dan harapan. Dan untungnya, Dia menitipkan pertolongannya pada terkabulnya doa ibuku.

Categories
Tulisan

Oke, saya lihat komitmenmu

Jika bertanya pada seseorang tentang kekurangan mereka dalam bekerja tim, selalu ada dua sikap. Yang pertama cenderung menutupi, yang kedua mengakui.

Menutupi kekurangan adalah sifat alami yang tak sepenuhnya bisa dipaksa-salahkan. Karena menjadi benar adalah hal yang diinginkan setiap manusia. Jika ada kekurangan, seakan ingin mengatakan untuk harap dimaklumi, ini alasan logisnya, dan jangan permalukan saya.

Sedangkan mengakui kesalahan memang membutuhkan keberanian. Untuk mendengarkan, mengendalikan emosi, dan menghindari sikap bias. Terlihat bodoh adalah resikonya.

Padahal, lebih penting untuk mengambil resiko tersebut dan menemukan pembelajaran baru, daripada menggaungkan praktek lama yang membuat kita berputar pada level kematangan itu itu saja.

Selanjutnya, jika ditanya tentang “komitmen” untuk memperbaikinya? Hmm, itulah tantangan terbesarnya.

Categories
Tulisan

Kolaborasi perlu saran dari data

Anggap saja kita sedang berdiskusi tentang masalah terumbu karang yang mengalami pemutihan di pinggir pantai pulau-pulau kecil di Sumatra. Kemudian, muncul ide bahwa masalah rumit ini akan lebih baik jika diselesaikan dengan jalan kolaborasi, dari berbagai pihak pemerintah, penyedia jasa, dan masyarakat tentunya.

Pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana cara  kolaborasi–yang efektif, yang lebih berhasil, secara berkelanjutan?.

Kolaborasi punya beragam metode sesuai khas permasalahannya. Salah memilih akan memberi dampak lain yang tak sesuai harapan. Sedangkan dalam proses memilih, kita butuh masukan yang banyak, reliable, dan relevan. Dengan kata lain, kita butuh data.

Mendapatkan data merupakan modal awal. Ini hanyalah proses memilih metode kolaborasi. Sedangkan proses perencanaan dan pelaksanaannya, tentu akan membutuhkan data yang lebih beragam.

Hanya saja, yang perlu jadi fondasi berpikir adalah: walau data diolah seobjektif mungkin, pembuat keputusannya adalah manusia yang punya keterbatasan rasional. Lalu, apakah kemudian mesin akan lebih baik untuk membuat keputusan di masa depan?.

Maaf, saya bukan pemuja gila kecerdasan buatan. Data memang bisa diputuskan secara logis dan akurat dengan mesin, tetapi manusia masih lebih bijak dan bisa memanfaatkan kecerdasan mesin. Dengan dan jika manusia itu tetap sesuai pada tempatnya.

Categories
Tulisan

Semerbak bungara

Senja di Danau Bungara, Aceh Singkil

Bungara, sesuai keindahannya untuk nama sebuah danau dan desa tempat saya tinggal selama bertugas menjadi pengajar muda setahun ini.

Selidik punya selidik, setelah saya ngobrol dengan sesepuh desa dan pemuda pegiat wisata danau, saya mendapatkan arti nama Bungara. Diambil dari gabungan dua kata, yaitu Bunga dan Ra. Bunga bermakna secantik bunga, dan Ra merujuk pada Ratu.

Saya merasakan betul kecantikan danau ini ketika menikmati pagi dingin yang berkabut. Sedangkan kesyahduannya pada sore hari menjadikan danau ini seperti ratu yang agung mengayomi masyarakat disekitarnya.

Masyarakat desa Danau Bungara cukup terbuka dengan pendatang. Mereka tak sungkan untuk bertukar cerita, dan percaya diri menampilkan budaya aslinya, termasuk watak keras mereka dalam berkehidupan sehari-hari.

Tampaknya, mereka ingin menjadi cerminan dari bunga yang cantik yang terus bermekaran dalam cuaca apapun. Untuk menampakkan ketangguhannya.

Categories
Tulisan

Belajar menghargai setiap detik dari Randy Pausch

Buku autobiografi dari seorang professor komputer di Carnegie Mellon University, Randy Pausch. The Last Lecture, membacanya memberi arti baru dalam menjalani setiap detik kehidupan. Saya merasakan inspirasi dan semangat dari Randy tentang perjuangannya melawan kanker dan jalan yang ia pilih untuk memberi pelajaran abadi pada keluarga dan teman-temannya.

Ketika membaca bab-bab dalam buku ini, saya mengamati betul apa yang ingin disampaikan Randy bukanlah mengenai suatu hal yang sempurna. Ia memang tak ingin seperi itu. Tetapi lewat cerita sederhana dan beberapa kekonyolan yang selama ini tidak diketahui keluarganya, Randy ingin menitipkan pesan-pesan. Tergantung dari cara kita memaknainya.