Stories

Aku ingin dekat denganmu

Keinginanku untuk menjelajah dunia berawal dari perkenalanku dengan atlas. Melihat betapa banyaknya kota-kota, kepulauan, pegunungan, dan pantai-pantai yang indah di berbagai belahan dunia. Aku ingin menjelajahinya. Aku ingin mencicipi sebagian keragaman dan pengalaman yang membuatku takjub akan ciptaan Tuhan atas dunia ini. 

Aku masih menyimpan keinginanku. Tapi sedikit berubah, aku ingin mengelilingi dunia bersama temanku. Dan sekarang, setelah kebetulan diberi kesempatan untuk mencoba pengalaman dua minggu pertama di Aceh Singkil (dari 52 minggu ke depan) aku merasakan ada hal yang lebih aku inginkan. Aku ingin mencoba lebih dekat dengan temanku. Entah teman baruku disini, atau temanku yang disana.

Aku mencoba berubah, dari seorang yang lebih senang menyendiri dan berbicara pada kucing, menjadi seorang yang memahami, mengagumi, dan merasakan betapa pentingnya kamu. Aku ingin dekat dengamu, teman.

Seperti lagu ini, yang beberapa hari ini aku sering dengarkan:

***

Stories

Berlatih latih dahulu dan berlatih kemudian

Tak ada lekang waktu yang membuatku pensiun dari berlatih. Aku tak mau berlatih dipaksa berlatih. Aku mau berlatih terpaksa berlatih. Ala bisa karena terpaksa. Tak apa. Positif pikiran saja, karena bisa saja dengan paksaan itu, kau akan jatuh cinta. Ala cinta karena terpaksa.

Ya, begitulah caraku membolak-balikkan percampuran kalimat negatif untuk menghasilkan sesuatu yang positif. Setidaknya begitu.

***

Khusus untuk cerita ini, aku akan berbagi pengalaman pelatihan terbaik yang aku pernah ikuti. Waktu lalu, dalam rangka sebagai Calon Pengajar Muda Angkatan XVII di Gerakan Indonesia Mengajar. Sekitar 6 minggu lamanya pelatihan, tapi sangat berasa–berbagi berbagai asa.

Aku hanya sedikit berbagi. Bukan karena aku tak punya beragam hal untuk di bagi. Tapi karena yang banyak tetap aku simpan sebagai hal indah untuk menjadi cerita nanti. Nanti ketika waktu telah tiba tepatnya.

Karena sedikit berbagi, jadi singkat ceritanya seperti ini:

Bagian awal, tahap perkenalan.

Punya teman baru. Seperti yang lalu-lalu, aku terlalu canggung dengan lebih banyak memaksakan diriku tersenyum sambil mengatasi gugup. Wah… teman baru, lingkungan baru. Aku ada dimana dan mengapa mereka semua hebat?. Ah, hanya aku saja, manusia super biasa yang terjebak disini. Aku harus bersyukur.

Mengalir saja, aku mulai merasakan ketidaknyamanan yang tertahan selama beberapa hari. Sampai seminggu kemudian, aku mulai pasrah–dalam artian menikmatinya saja walau mungkin pikiranku berkata tidak.

Bagian tengah, tahap mulai suka.

Rutinitas yang padat tapi beragam. Dari pagi lari-lari hingga malam sampai mengantuk pun khatam. Aku mulai menerima semua hal yang dijejalkan padaku: apa itu Gerakan Indonesia Mengajar, Pelibatan Masyarakat, Pedagogi, dan Kepemimpinan. Kondisiku pun juga mulai menerima rutinitas ini, pikiranku, ragaku, eh.. kecuali tadi, kantukku.

Materi yang silih berganti secara cepat dengan kupasan pada bagian nampaknya. Dari pagi hingga malam kembali mendekati pagi. Semua yang terjadi selama pelatihan adalah hal yang nampak dipermukaan ketika nanti aku di penempatan–pikirku. Jadi, aku akan menerima. Menerima dulu apa yang diberikan, sampai nanti ku perdalam kembali ketika di penempatan. Terima keadaanmu sekarang…biarkan pikiranmu kembali ke tempat sekarang, karena angan-angan yang terlampau panjang membuat kebahagian berkurang… begitulah kira-kira sepatah kata dari Mas Aji pada sesi berteman dengan stress. Beberapa teman-teman pun juga merasa begitu.

Hal yang menyenangkan adalah ketika materi yang diberikan selalu ada praktek di dalamnya. Entah simulasi, akting role play, imajinasi dari studi kasus yang nyata, sampai presentasi. Di sela waktu materi pun juga pasti ada yang namanya ice breaking, dari tepuk yang mengusir kantuk (sementara) hingga kondisi julid yang menguak gosip cinlok yang beredar diantara kami.

Hal menyenangkan lainnya adalah ketika candaanku mulai bisa satu frekuensi dengan mereka. Aku sedikit berubah dengan berkata dalam hati “yaudah maju dulu daripada dipikirkan terus–kemudian”. Keadaan inilah yang membuatku mulai suka.

Bagian akhir, tahap suka duka terasa.

Menghitung hari… aku mulai merasakan semakin dekatnya pengalaman berpisah dengan teman, yang dari pagi ke pagi bersamaku. Bagaimana nanti tetiba aku menjadi sunyi karena tak lagi risih mendengar dengkuran tak berirama dari dalam barak yang cenderung pengap karena AC yang dengan nakalnya sering mati sendiri? Tak lagi melihat beberapa teman yang ahli ngantuk (aku ikut dalam kelompok mereka) saat sepuluh sekian menit materi dimulai? Tak lagi melihat kebersamaan di aula tempat menerima ilmu, tertawa, menangis, dan menggeremeng. Tak lagi mendengar “jam 11, matikan lampu”. Tak lagi mendengar “teman-teman, waktunya kelas, beserta teriakan-teriakan tak jelas, 1 menit lagi lah tidurnya”. 

Ah, sudahlah, ini adalah tahap wajar dimana suka duka mulai terasa. Satu prinsip yang aku pegang saat itu adalah mencoba tidak menangis, dan menunjukkan sikap ceriaku pada mereka. Soal nanti aku bersedih ketika sendiri, itu hak ku. Tapi dengan sungguh-sungguh, aku berharap kau baik-baik saja disana, di Bumi Pertiwi tempat kau mengabdi, teman.

pelatihan pm xvii

Bagian selantutnya, cerita baru dimulai.

Bismillah, Alhamdulillah wa Syukurillah. Amanat menjadi Pengajar Muda telah aku terima. Aku bertugas satu tahun di SD Lentong Baru, Desa Danau Bungara, Kabupaten Aceh Singkil, meneruskan pengabdian Pengajar Muda XV. Tentunya, banyak tantangan dan potensi yang mulai terlihat. Pikiran sudah mulai bingung tapi berharap, dan kembali, dengan mengucap dan melakukan tindakan yang mencerminkan kata Bismillah…, ingatkan aku jika lupa akan niat awal.

Aku ingin merubah ambisi pribadi menjadi mengabdi, kalau kata Pak Anies, ini bukan tentang kita, ini tentang mereka. Aku akan bercerita tentang kehebatan mereka, murid-muridku, para guru, orang tua, dan seluruh masyarakat disini, di Aceh Singkil.

*Insyallah bersambung…

Stories

Tak ada yang bisa membendung kolaborasi, termasuk kamu

Setelah sekian kali melihat tulisan pendek skripsiku dalam bentuk jurnal yang terpublikasikan dalam Jurnal Kebijakan dan Manajemen Publik, ada rasa “ingin” untuk memaknai kembali arti kolaborasi, yang sekarang ini, menjadi fondasi ku untuk belajar hal baru, dan mengawinkannya.

Masih terpukau dengan insitatif Ansell & Gash, Agranoff, Donahue & Zeckhauser, dan Kirk Emerson, dkk,  aku yakin di masa depan, tak akan ada satu arang pun yang mampu membendung kolaborasi. Antar disiplin keilmuan, bidang, kepentingan, dan keahlian.

Kolaborasi menjadi solusi dalam setiap kebuntuan persoalan pelik manusia. Tak ada lagi fanatisme ahli ilmu yang bangga akan ke-jomblo-an terhadap keahliannya–seperti kata O. Wilson. Tak ada lagi bidang itu, yang tak berhubungan dengan bidang ini–seperti kata Ahmed Hulusi. Tak ada lagi. Semua menyatu, mengarah pada pencarian solusi efektif menyeluruh.

Aku sendiri masih bersyukur mengapa dulu menemukan topik ini. Berawal dari wejangan Prof Jusuf, aku meng-khatami setiap detil halaman index, di buku tebal Oxford Handbook of Public Policy, di dalam kereta, dengan tak menghiraukan perbincangan sepasang pengantin baru yang berbulan madu tepat didepan tempat duduk ku.

Aku terhenti sejenak pada kata: Collaborative–Collaborative Partnership–Collaborative Governance–Collaboration & Networking–Collaborative Management. Kata depan dari semua itu menunjukkan sifat anti-jomblo. Ya, pikirku, semua memang indah bila dikolaborasikan. Dan beberapa hal memang harus dikolaborasikan. Lalu beberapa literatur lain yang aku cari terkait topik kolaborasi, semakin membuatku tertarik.

Apa-apa bisa ditilik lebih runtut dan luas, bila keberagaman perspektif dikolaborasikan. Inovasi, penemuan, dan akar permasalahan (berikut solusinya) lebih bisa diwujudkan dengan sikap saling belajar, berbagi motivasi, saling melengkapi, dan memberi.

Seperti kompleksnya permasalahan penyakit TB-HIV, mengatasinya lebih efektif bila dilakukan dengan kolaborasi antar bidang: budaya, agama, pemerintah, pendidikan, dan kesehatan.

Budaya ramah tak mengucilkan akan mengecilkan pupusnya harapan. Sang Kiayi memberi siraman qalbu yang menyegarkan, membuat segenap umatnya bahu membahu membantu menyebarkan informasi yang benar, menepis desas sesus kutukan. Pemerintah membuka jalan seluas-luasnya bagi komunitas, stakeholder, dan pasien untuk mudah berobat, berinteraksi, dan tetap menjadi warga yang bermartabat. Pendidikan berjuang untuk menghapus pemikiran pragmatis, diskriminasi, dan sikap saling menghakimi. Fasilitas kesehatan berikut para dokter terbantu dengan dukungan berbagai pihak, sehingga tak ada lagi miris penolakan karena tak ada biaya dan tak ada sanak kerabat yang menanggung. Tak ada lagi kejadian meninggalnya penderita karena tekanan psikis, tak mau minum obat, dan pengucilan. Semua bekerja sama demi mewujudkan zero death, infection, & suffering.

Semua akan bahagia.

Jadi terlampau naif untuk menyelesaikan masalah dengan kolaborasi? sayangnya tidak, bagiku. Walau tidak semua masalah pasti terselesaikan dengan kolaborasi, tapi aku yakin, semua masalah akan lebih mudah dihadapi, berkat kolaborasi.

Ya, semua masalah, termasuk masalah mengkolaborasikan antara aku, kamu, dan keluarga kita nanti.

Stories

Surat cinta yang ganjil

1. cintaku yang besar, cintaku yang tulus,
2. telah hilang, menguap, dan kini rasa benciku
3. berkembang setiap hari. ketika melihatmu,
4. aku tak ingin lagi melihat wajahmu sedikitpun;
5. satu hal yang sungguh ingin aku lakukan adalah
6. mengalihkan mata ke gadis lain. aku tak lagi mau
7. menikahkan aku-kau. percakapan terakhir kita
8. sungguh, sungguh amat membosankan dan tak
9. membuat aku ingin bertemu kau sekali lagi.
10. selama ini, kau selalu memikirkan diri sendiri.
11. jika kita menikah, aku tahu aku akan menemu
12. hidupku jadi sulit, dan kita tak akan menemu
13. bahagia hidup bersama. aku punya satu hati
14. untuk kuberikan, tapi itu bukan sesuatu
15. yang ingin aku beri buatmu. tiada yang lebih
16. bodoh dan egois dari kau, kau tak pernah
17. memerhatikan, merawat dan mengerti aku.
18. aku sungguh berharap kau mau mengerti
19. aku berkata jujur. kau akan baik sekali jika
20. kau anggap inilah akhirnya. tidak perlulah
21. membalas surat ini. surat-suratmu dipenuhi
22. hal-hal tak menarik bagiku. kau tak punya
23. cinta yang tulus. sampai jumpa. percayalah,
24. aku tak peduli padamu. jangan pernah berpikir
25. aku masih dan akan terus menjadi kekasihmu.

catatan:
tiap baris surat ini sengaja diberi angka, agar kau
bisa membedakan baris ganjil dan baris genap.
baca baris-baris ganjil saja, hapus baris selebihnya.
sesungguhnya, ini sehelai surat cinta yang ganjil

Karya: Aan Mansyur

Book Reviews

Ayah yang kaya (memang) mengajarimu jadi kaya

Pertama lihat buku ini di perpustakaan, awalnya tak begitu tertarik, karena di covernya terpampang seorang Robert Kiyosaki. Aku tak begitu suka dengan cover buku yang ada foto orangnya. Mending karikatur atau setidaknya desain abstrak lebih ok. Karena foto si pengarang pun dapat dan lebih bagus ditempatkan di lembar akhir saja.

Memang subyektif menilai buku dari covernya. Tapi pembelaanku sah saja. Cover menarik membuatu berprasangka baik terhadap isinya. Walau tak 100% valid, tapi setidaknya banyak yang selaras, sepengalamanku. Kalau mengikuti pepatah “jangan hakimi dari covernya”, sebenarnya, pun banyak yang lebih parah, bahkan tak hanya buku, seluruh kehidupan orang lain banyak kok yang ter-nilai dari covernya. 

Lalu, setelah aku skip di perpustakaan, beberapa bulan kemudian, takdir berkata lain. Waktu bersih-bersih lemari ruang tamu di rumah nenek, aku menemukan buku ini dalam versi cetakan lawas, tak ada gambar Robert-nya. Hanya tulisan “Rich dad, Poor dad”, dengan desain simple berlatar putih. Ya, begini ini yang seharusnya, kan?, jadi aku tak sungkan melihatnya, tipis-tipis melihat halaman-halamannya secara acak dan batinku, ah…, pantaslah kalau jadi bacaan selingan diwaktu senggang.

Book Review Rich Dad Poor Dad

 

Pertama baca, hal menarik yang aku dapat adalah alur ceritanya. Tentang masa lalu Robert. Aku suka buku yang bercerita tentang pengalaman nyata, walau dipoles atau apalah, itu lebih baik daripada teorika kurang nyata, walau itu juga baik, tapi kurang saja. Gaya penceritaan apa adanya, tak dilebihkan, walau terkesan kepercayaan diri Robet agaknya membuat dia tampak selalu benar dan sombong haha.

Masa kecil Robert di Hawaii penuh pemberontakan. Ia pintar dan kebanyakan orang pintar memang pemberontak. Ia sering bersilang pendapat dengan ayahnya yang miskin. Lihat, ia berani mengatakan ayahnya sebagai ayah miskin (bukan karena kekurang-kaya-nya–tetapi karena cara pandang ayahnya terhadap kekayaan tak sejalan dengan Robert).

Ayahnya yang miskin menganggap seorang anak harus melalui pendidikan yang berkualitas, dibangku sekolah berkualitas, sehingga nanti dapat kerjaan yang berkualitas, hidup berkualitas. Robert menganggap jalan seperti itu tak ada menariknya. Tetap saja ayahnya yang sudah bergelar doktor, harus pusing dengan beberapa pinjaman dan pajak yang kian hari kian tinggi. Robert pun diam-diam membandingkan ayahnya yang miskin itu dengan ayahnya temannya (seorang wirausahan top di Hawaii). Robert banyak belajar ilmu dan pengalaman tentang kepandaian finansial dari ayah temannya ini. Tak hanya itu, ia sering mendapat pemikiran-pemikiran yang luar biasa diluar ortodoks. Diam-diam ia sangat mengagumi ayah temannya itu, dan secara terang-terangan menganggap ayah temannya itu, sebagai ayahnya yang kaya. Ya, ia punya dua ayah, ayah kandungnya yang ia anggap ayah miskin, ayahnya temannya yang ia anggap ayah kaya.

Buku ini tak mengajarkanmu supaya durhaka pada ayah (kandung) mu. Membacanya lebih melihat kepada kejadian yang benar terjadi, konsekuensi, pola pikir, dan apa yang kamu inginkan, dari curahan pengalaman, dan doktrin dari Robert Kiyosaki ini. Tetap ia berhubungan baik dengan ayah kandungnya dan ayahnya temannya yang ia spesialkan itu. Tetap tak ada riuh keluarga, malah yang ada pembelajaran luar biasa. Kamu akan mengerti setelah membaca buku ini. 

Buku ini punya nilai-nilai keren. Seperti review dan banyaknya pujian yang diberikan, sampai-sampai ada yang menobatkannya sebagai salah satu buku pendidikan finansial terbaik. Prinsip jangan konsumtif, bedakan kebutuhan dan keinginan, pintar ketika membeli, jangan mau dibodohi oleh pajak dan doktrin umum tentang kekayaan, biarlah uang bekerja untukmu, tabur benih yang bagus dan berpanenlah sebanyak-banyaknya, dan jadilah orang kaya yang baik–setidaknya tanpa menyusahkan orang-orang yang kamu cintai, walau kamu tahu mereka baik.

Nasehat yang diberikan bukan dari Robert (langsung) untuk para pembaca. Melainkan dari Robert untuk Robert, untuk keluarganya, dan baru pembaca. Banyak contoh adalah dari dirinya, atau istrinya, dan sedikit dari orang lain. Aku suka contoh yang seperti ini, karena banyak buku lain yang juga bestseller sekalipun, di dalamnya hanyalah sekumpulan contoh-contoh dari orang lain, dibumbui tulisan-tulisan yang hiper, yang membuat kita termotivasi bak anget-anget nasi goreng.

Jadi, hematku, membaca buku ini membuatmu jadi manusia yang lebih bijak. Terutama dalam pandangan kerja, supaya terhindar dari lingkaran kerja bagai kuda, dengan gaji tak seberapa, tanggal satu foya-foya, tanggal dua terasa tua. Mulai harus lebih pintar dan bijak tentang finansial! (tanda seru itu, khususnya nasehatku untukku). Harus lebih menerapkan kebiasaan finansial yang baik, lewat cara-cara praktikal, yang bisa dimulai setiap hari, oleh setiap kamu, dari wejangan Robert tentang ayahnya yang kaya dan miskin, meski dia bukan ayahmu.

Book Reviews

Perjalanan mengagumi sampai menjadi ayah

Siapa yang mengenal Andrea Hirata, bolehlah curiga, dari sekian novel laris manisnya mungkin terdapat bumbu ajian tertentu tuk buat kalut para pembacanya. Sehingga tersenyum, lalu termurung, kemudian tertawa– di dalam kereta, di dalam bis malam, di pinggir taman yang penuh sesak orang pacaran, di perpustakaan balai kota yang ramai gara-gara suara staffnya yang terlalu nyaring dan sering untuk memaksa pengunjungnya supaya diam senyap.

Book Reviews Ayah

Aku membaca novel Ayah karena menarik. Menarik dari covernya yang elegan penuh kasih dan wibawa. Entah beberapa novel dan buku yang punya cover bagus cenderung lebih menarik untuk dibaca, menurutku. Selain itu, novel ini tak begitu tebal, walau yang lalu-lalu seperti Laskar Pelangi dan Padang Bulan, diakali dengan seriesnya: dwi, tri, tetra-logi-nya. Tapi Ayah tidak, atau setidaknya aku tak tahu. Cover menarik dan tak begitu tebal, cukuplah untuk dihabiskan sehari saja. Sehari untuk jadi orang senyum, murung, dan tertawa sendiri. Dan jangan sampai menangis.

Masih mempertahankan khas, cerita yang disuguhkan berasal dari kisah nyata, dialami oleh orang  lokal (belitong), disajikan apa adanya namun apik, mudah dipahami, dengan micin pemikiran modern dan nuansa mendidik, yang seakan semua tokohnya punya hasrat tinggi akan pengetahuan. Satu lagi, kelucuan dan keluguan para tokoh tetap jadi primadona untuk membuat para pembaca tak jenuh.

Ayah, awalnya aku kira akan menampilkan sisi ayah dengan segala prahara ceritanya, dan ternyata benar. Iyalah, yang benar saja, kesimpulan macam ini semua anak negeri akhirat pun tahu. Maafkan. Tapi, sisi ayah dinaikkan, sisi ibu sedikit diturunkan. Sedikit (biar tak dikira durhaka), atau setidaknya tak banyak diceritakan. Tersirat juga beberapa sisi jahat si Ibu pada sebagian kecilnya. Bagian besarnya sila kalian cari tahu, yang jelas tak ada prahara dengan ibu (dengan istri, mungkin), karena yang jelas memang fokusnya di ayah. Ayah, dan hubungannya dengan anak-nya tersayang.

Jadi, siapa sebenarnya Ayah yang dimaksud dalam novel ini? (sedikit spoiler), ia adalah Sabari. Tapi ia juga Insyafi, Markoni, Amirza, Jonpijareli, Manikam, Tukang Vespa, Tukang antar surat, dan Toharun setelah punya tiga anak. Ayah juga adalah semua ayah di belitong dan seluruh Indonesia, serta dunia semesta, yang mempunyai kasih dan sayang pada mereka yang bernama anak. Jadi itu Ayah yang dimaksud dalam novel ini.

Haha. Maafkan. Jawaban itu terinspirasi dari salah satu paragraf serupa dalam novel ini. Maka bacalah, dan kamu akan tahu adegan-adegan yang membuatmu tersenyum, termurung, dan tertawa. Kamu juga disuguhkan dengan laga para puisi dan beberapa istilah asing yang kegunaannya jelas, serta plesetan-nya yang cukup memutar perut. Rasa ketika baca novel ini, seperti dikisahkan Amiru kepada Andrea Hirata.

Stories

Mempelajari manusia

Keindahan wujud, intuisi, dan pikiran; kemampuan adaptasi, berinteraksi, dan membangun peradaban; kebutuhan religiusitas, altruisme, dan harapan. Semua itu adalah sedikit dari apa yang dimaksud manusia. Sedangkan per individu menjalaninya dengan sangat berbeda-beda — menjadikannya manusia, lebih manusia, atau kurang manusia. Membuatku tertarik mempelajari manusia.

William Barnhart 

Percampuran kebingungan dan penasaran. Semua hal bisa dikaitkan dengan manusia (setidaknya, semua hal yang aku tahu). Semua hal seakan untuk manusia. Kenyataannya begitu. Dari hal yang bermaterial maupun gaib. Tuhan menciptakan spesies ini dan menunjukkan kepedulian terhebat-Nya (pun juga kemurkaan terbesar-Nya).

Proses mempelajari manusia tak ada habisnya. Proses menyatukan pemahaman tentang manusia pun tak ada batasnya. Perlu segenap kolaborasi keilmuan, pengalaman, penelitian, dan obrolan berfaedah di warung kopi sampai seminar bergengsi. Aku menemukan diriku sendiri, ketika mempelajari diriku, sebagai manusia.

Sedangkan telah aku sadari betapa banyak jalan untuk mempelajari manusia, jalan paling menarik adalah memahami sifat alami manusia. Karena bagaimanapun, sifat alami ini seperti telah dikodratkan Tuhan. Mempelajarinya seperti menemukan kembali nilai sebenarnya menjadi manusia. Dalam pikiran bawah sadar, dalam kompleksitas, seperti pernyataan Edward O Wilson dalam bukunya On Human Nature: 

“Innate censors and motivators exist in the brain that deeply and unconsciously affect our ethical premises; from these roots, morality evolved as instinct. If that perception is correct, science may soon be in a position to investigate the very origin and meaning of human values, from which all ethical pronouncements and much of political practice flow.”

Book Reviews · Stories

Bung CT: si anak singkong

Seorang yang punya perjalanan hidup keras. Terdidik keras. Di lingkungan yang sangat keras. Terpental keras. Tapi tak henti kerja keras. Memutar otak supaya tak keras. Melembutkan hati dengan berbagi. Dulu ia anak singkong, sekarang ia buka ladang emas.

bung-ct

Kedewasaan sikap,  tanggung jawab, dan kepandaian seorang pebisnis yang sekaligus bisa mencabut gigimu yang kerowak. Ialah Chairul Tanjung.

Buku Si Anak Singkong ini bukan biografi bak Wikipedia, yang mengulas seseorang dalam satu laman,  lengkap jejak karir dan pendidikan, tapi minim cerita-cerita menarik. Laman Wikipedia memang bukan buku, jadi merujuk pada buku tetap jadi petuah yang harus digalakkan. Di era pembaca judul nan jadul. Di era pemakan mie instan yang terlalu malas tuk merebusnya.

Si Anak Singkong: berusaha sebaik mungkin menggambarkan Bung CT, sebagai seorang yang dari tak ada apa-apa menjadi apa-apa ada. Ia benci kemiskinan. Ia akan menjadi kaya dan benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Tak lazim dizaman sekarang ada seorang seperti itu. Aku pun jarang (dan semoga semakin sering) melakukan apa yang kukatakan. Kalian juga.

Perjalanan 15-ribu pertama dari bisnis fotokopi saat kuliah adalah momen a-ha dari bakat bisnisnya. Karena sudah bersikukuh tak mau menerima uang lagi dari ibunya, alias harus mandiri. Perjalanan selanjutnya lebih menarik. Tak dipungkiri ia berada dalam dua pilihan yang prestis, menjadi pebisnis atau menjadi dokter gigi. Ia menjadi dua-duanya. 

Berawal dari bisnis fotokopi kecil-kecilan, berlanjut pada menjaga kepercayaan dan meluaskan jaringan, kemudian usahanya berkembang dari bidang A, B, C, D, sampai huruf-huruf berikutnya. Sampai besar jaring yang ia bentangkan. Sungguh menarik cerita perjalannya, bacalah.

Mimpi besar, kerja keras, fokus, dan jangan cengeng. Menjadi wirausaha memang seharusnya seperti itu, seharusnya seperti Bung CT. Kalau gagal tak apa, belajar, dan coba lagi. Kalau gagal lagi tak apa, belajar lagi, dan coba terus. Sampai keberhasilan Bung CT mampu menutupi sederet kegagalannya. 

Yang menurut saya unik, Bung CT seperti tak pernah kehabisan energi. Ia adalah pelari marathon yang tangguh. Sedangkan banyak dari kita yang terpukau dengan para pelari sprint (yang karena kita, lagi-lagi ingin serba instan, maunya lihat, amati, dan berilusi mengalami sukses satu malam). Fokus untuk memberi yang lebih baik, walau harus kerja larut malam. Tak ada jalan pintas. Kalau mau cepat pantaskan diri supaya menemukan jalan tol.

Buku ini lebih tepat jika dibaca baca tak terlalu cepat. Karena petuah/cerita yang ada di dalam buku ini akan muncul sebagai pengingat kala kamu bergulat dengan keadaan yang sok bikin baper. Aku sendiri merasakannya.

Menurutku, membacanya lebih baik jangan di perpustakaan. Buku ini aku baca ketika di pinggir jalan, di warung kopi, di pelataran masjid, di bawah meja kantor, dan di pasar-pasar tradisional, sambil melihat lalu lalang orang-orangan yang mencari uang.

Satu bab atau satu cerita, lalu cukupkan dulu. Hayati, renungi pelajarannya, dan pakai sebagai bahan bakar semangat atas beban hidupmu. Karena dampak terbaik dari buku ini adalah: penularan sikap optimis, realistis, dan berani bermimpi besar yang disertai sikap tak lupa singkong (asal kita) seperti Bung CT.

Jangan khawatir soal penulis buku ini yang bukan Bung CT sendiri. Penyusun Tjahja Gunawan Diredja, sahabat dekat Bung CT, mampu menghadirkan sosok Bung CT (yang seakan-akan bercerita dengan mulutnya sendiri) langsung pada para pembaca. Sederhana, menarik, dan bersahaja. Tulisannya tak membuat bingung.

***

Bung CT tetaplah seorang yang sederhana. Sebagai lulusan dokter gigi, pebisnis, ketua PBSI, atau jabatan lainnya, yang utamanya Bung CT sebagai manusia, pasti punya sisi lain dan kekurangan. Menurutku tak usah diperbedatkan, terutama menyangkut bidang politik. Mengapa ada buku ini, aku berprasangka baik saja, tentunya untuk berbagi inspirasi pada Indonesia.

Note: kabar baik bagi kamu yang mau beli buku Si Anak Singkong, sekarang harganya murah sekali. Sekitar Rp. 20.000-an.

 

Stories

Sudah kuputuskan dengan payah

Menjaga jarak adalah jalanku
menjaga hati
supaya bahagia
dengan kehendak-Nya
dan kehendaknya,
semoga aku
Untuk-Mu ku berpasrah
doa tentang perasaan dan
kebingungan yang menjalar sampai
nanti menjadi baik
Aku adalah lelaki yang
setia memelukku sampai pahit lidah,
dan asin keringat
kurasakan untuk
menemukan manismu
Keridhaan yang baik
dari-Nya
untukku padamu
Stories

Kisah cinta

Kisah cinta ini menunggu bertahun-tahun memendam rasa, dengan terus memantaskan diri karena bukan siapa-siapa. Hanyalah pemuda yang memperbaiki akhlaknya, sedang kekayaan bukanlah miliknya.

Bertahun-tahun menunggu, walau sudah saling menahu, kalau cintanya juga mencintainya. Namun kisah cinta ini telah siap untuk akhir yang pasrah. Beberapa kali mencoba mengikhlaskan, jikalau memang dia bukan pendampingnya.

Kisah cinta ini bukanlah saling diam memendam rasa, tanpa mengadukan pada yang Kuasa. Benar, sungguh mereka telah dinikahkan di langit, sebelum akhirnya dipersatukan di bumi.

Rasulullah SAW pun tersenyum bahagia, menunggu keponakannya datang, untuk meminang putrinya.

Inilah sepenggal kisah cinta Sayyidina Ali dan Fatimah Az-Zahra.

Stories

The Paradoxical Commandments

People are illogical, unreasonable, and self-centered.
Love them anyway.

If you do good, people will accuse you of selfish ulterior motives.
Do good anyway.

If you are successful, you will win false friends and true enemies.
Succeed anyway.

The good you do today will be forgotten tomorrow.
Do good anyway.

Honesty and frankness make you vulnerable.
Be honest and frank anyway.

The biggest men and women with the biggest ideas can be shot down by the smallest men and women with the smallest minds.
Think big anyway.

People favor underdogs but follow only top dogs.
Fight for a few underdogs anyway.

What you spend years building may be destroyed overnight.
Build anyway.

People really need help but may attack you if you do help them.
Help people anyway.

Give the world the best you have and you’ll get kicked in the teeth.
Give the world the best you have anyway.”
Kent M. Keith

Stories

Jerman dan mittelstand-nya

Dulu negara ini mendapat perlawanan dari negara-negara eropa dan Amerika Serikat karena ideologi nazi-nya yang melahirkan perang dunia ke-dua. Sekarang negara ini mendapat tekanan dari negara yang sama, gara-gara perkembangan perekonomiannya yang sangat baik dan terlalu kuat untuk Uni Eropa.

Terlepas dari jadi buruk dimusuhi atau jadi baik membuat iri. Memang Jerman merupakan negara yang hebat. The-german-ways nya yang selalu membuat iri seluruh dunia, terutama soal bisnis.

Mereka menyebutnya model bisnis mittelstand. Walau pengertian dari istilah ini masih banyak menimbulkan kebingungan, dalam negara kita, model mittelstand ini dapat dikatakan UKM (Usaha Kecil dan Menengah).

Memang dari dulu jenis usaha ini yang diprediksi paling mampu membawa kemajuan perekonomian suatu negara. Dan sekarang terbukti.

Karena aku tak punya pengetahuan mendalam tentang bisnis (tapi sangat tertarik dengannya), maka cerita ini akan lebih berbagi cerita dari ulasan yang menurut ku dapat dipercaya (Harian Telegraph, The Economist, Harvard Business Review 1 dan 2). Sila anda baca.

Ulasan dari tiga artikel tersebut menarik, cukup lengkap, dan tentunya penyajiannya masing-masing berusaha menampilkan argumen dengan data.

Sila anda baca. Jika lebih suka baca. Jika ingin alternatif lain, ada dua video bagus tentang Mittelstand ini:

Stories

Yang ku tahu aku perlu belajar menjadi pembelajar

Begitu banyak pengalaman tak enak (jengkel) ketika berbagi pikiran dan ide ide yang menurut ku kreatif karena ada salah satu atau beberapa teman yang tak sepemikiran, atau menentangnya. Memang pepatahnya adalah: “hargai pendapat orang lain”. Namun pada kenyataannya “hargai aku dulu, karena bagimu, aku adalah orang lain, kan?”.

Cerita kali ini berbicara tentang kekeliruan pemahaman, dan percobaan berbagi pemahaman baru tentang menjadi pembelajar. Latar belakangnya adalah karena arogansi ku yang mendapuk diri sendiri sebagai “pembelajar”. Padahal state-of-realities-nya masih jauh, masih tingkat kroco dan precil.

Pembelajar tak pernah menganggap dirinya pembelajar.

Pembelajar menganggap dirinya selalu menjadi orang yang miskin, kekurangan, dan haus akan hal baru, perspektif berbeda, kesimpulan baru, perubahan dan kebenaran yang lebih dari prakiraan pikirannya, yang mana ia benar-benar sibuk mengurusi semua hal itu, sehingga klaim atas “aku adalah pembelajar” tak pernah mereka gaungkan.

Memang jika tak lihai, kita banyak menemukan diluar sana sudah terlalu banyak orang arogan (knower-sok tahu-sotoi) yang berkali-kali mengklaim diri mereka sebagai pembelajar. Kita seringkali tertipu, dan mereka yang benar-benar pembelajar-pun tak risau dengan hal itu.

Karena sang pembelajar akan selalu menemukan muara kebesaran Yang Maha Bijaksana, yang itu lebih nikmat dari pengakuan manusia.

Sungguh nikmat ketika membayangkan mereka berkali kali mendapat “nikmat” yang tak terkira sebagai pembelajar.

Nikmat yang ku dambakan, walau masih menjadi pembayang, tapi karena aku tahu, aku masih perlu belajar menjadi pembelajar (agar merasakan “nikmat” itu juga), maka lebih baik dan memang seharusnya, mari bersama-sama belajar menjadi pembelajar.