Stories

Tanyakan pada dirimu, bukan itu permasalahannya

Sering dulu berpikir, aku telah menemukan hidup. Waktu itu, dengan mudah aku menjawab “Dewasa nanti aku menjadi dalang!” dalang pengatur persahabatan, peperangan, dan kemenangan. Dalang pagelaran kesatria beradu angkara, berlatar wayang nyanyian gamelan, lengkap suara merdu. Ini cita-citaku, walau tidak semua setuju. Namun, bukan itu permasalahannya. Mengapa ingin menjadi dalang, kalau presiden terlihat cemerlang? Bertahan cuma sewindu pun menjadi bimbang.

Selama waktu, cita-citaku bercabang. “Aku ingin menjadi masinis!” menggerakan barang besi itu menuju penjuru sampai berhenti di belakang rumahku. Sungguh impian tetapi sayang, lebaran tiba aku lupa, kalau masinis tetap bekerja, dan aku tidak rela kehilangan pendapatan berharga. Hanya sebagai anak kecil. Aneh namun, bukan itu permasalahannya. Aku anak-anak mengenal awam.

Sentilan guyonan, aku berpikir. Mereka mengejar cita-cita untuk uang, jadi ini gampang. “Aku akan mencari uang!” Mau berkata apa kalian? dan kupikir permasalahan selesai. Namun, bukan itu permasalahannya. Menjadi tidak serius, aku remaja terhanyut arus.

Sekian mendengar cerita ulung, halusinasi muncul melambung. Aku terjebak dunia khayalan begitu tenggelam. Benar, arus hidup guyonan bak persepsi mengikis tak realistis. Namun, bukan itu permasalahannya. Aku meluncur berkhayal mulus dan begitu saja terus, sampai jenuh mempertanyakan – Apa cita-citamu lagi? Sudah cukup? Aku dewasa terjebak, tersadar kenyataan, bukan itu permasalahannya.

Sudah lepaskan tabiat walau berat, dan cepat taubat cermati nubuat. Yang nyata, hidupku bukan khayalan-khayalan awam. Cepat sadar, karena memang bukan itu permasalahannya – dan apa aku sadar? Apa permasalahannya?

Setelah terhentak semua jelas. Permasalahan memang muara satu. Bukan temu tapi ingat, karena lupa ternyata dindingku. Sedari dulu, jauh sebelum pikiranku, sadarku, lahirku, aku sudah tahu. Tapi jangan sekali-kali salahkan cita-cita mengapa muncul, karena itu dari keyakinan. Mungkin mengapa keyakinan itu wujud iman. Namun tegaskan – sudahkah ku salahkan keyakinan? Curiga besar, karena keyakinanku hanya datang semu dari nafsu, sebentar segera pudar, lemah karena salah, goyah berganti-ganti karena keyakinan ini tidak datang dari yang Maha Pasti.

Sekarang aku tahu, karena itu permasalahannya.