Stories

Aku ingin dekat denganmu

Keinginanku untuk menjelajah dunia berawal dari perkenalanku dengan atlas. Melihat betapa banyaknya kota-kota, kepulauan, pegunungan, dan pantai-pantai yang indah di berbagai belahan dunia. Aku ingin menjelajahinya. Aku ingin mencicipi sebagian keragaman dan pengalaman yang membuatku takjub akan ciptaan Tuhan atas dunia ini. 

Aku masih menyimpan keinginanku. Tapi sedikit berubah, aku ingin mengelilingi dunia bersama temanku. Dan sekarang, setelah kebetulan diberi kesempatan untuk mencoba pengalaman dua minggu pertama di Aceh Singkil (dari 52 minggu ke depan) aku merasakan ada hal yang lebih aku inginkan. Aku ingin mencoba lebih dekat dengan temanku. Entah teman baruku disini, atau temanku yang disana.

Aku mencoba berubah, dari seorang yang lebih senang menyendiri dan berbicara pada kucing, menjadi seorang yang memahami, mengagumi, dan merasakan betapa pentingnya kamu. Aku ingin dekat dengamu, teman.

Seperti lagu ini, yang beberapa hari ini aku sering dengarkan:

***

Stories

Berlatih latih dahulu dan berlatih kemudian

Tak ada lekang waktu yang membuatku pensiun dari berlatih. Aku tak mau berlatih dipaksa berlatih. Aku mau berlatih terpaksa berlatih. Ala bisa karena terpaksa. Tak apa. Positif pikiran saja, karena bisa saja dengan paksaan itu, kau akan jatuh cinta. Ala cinta karena terpaksa.

Ya, begitulah caraku membolak-balikkan percampuran kalimat negatif untuk menghasilkan sesuatu yang positif. Setidaknya begitu.

***

Khusus untuk cerita ini, aku akan berbagi pengalaman pelatihan terbaik yang aku pernah ikuti. Waktu lalu, dalam rangka sebagai Calon Pengajar Muda Angkatan XVII di Gerakan Indonesia Mengajar. Sekitar 6 minggu lamanya pelatihan, tapi sangat berasa–berbagi berbagai asa.

Aku hanya sedikit berbagi. Bukan karena aku tak punya beragam hal untuk di bagi. Tapi karena yang banyak tetap aku simpan sebagai hal indah untuk menjadi cerita nanti. Nanti ketika waktu telah tiba tepatnya.

Karena sedikit berbagi, jadi singkat ceritanya seperti ini:

Bagian awal, tahap perkenalan.

Punya teman baru. Seperti yang lalu-lalu, aku terlalu canggung dengan lebih banyak memaksakan diriku tersenyum sambil mengatasi gugup. Wah… teman baru, lingkungan baru. Aku ada dimana dan mengapa mereka semua hebat?. Ah, hanya aku saja, manusia super biasa yang terjebak disini. Aku harus bersyukur.

Mengalir saja, aku mulai merasakan ketidaknyamanan yang tertahan selama beberapa hari. Sampai seminggu kemudian, aku mulai pasrah–dalam artian menikmatinya saja walau mungkin pikiranku berkata tidak.

Bagian tengah, tahap mulai suka.

Rutinitas yang padat tapi beragam. Dari pagi lari-lari hingga malam sampai mengantuk pun khatam. Aku mulai menerima semua hal yang dijejalkan padaku: apa itu Gerakan Indonesia Mengajar, Pelibatan Masyarakat, Pedagogi, dan Kepemimpinan. Kondisiku pun juga mulai menerima rutinitas ini, pikiranku, ragaku, eh.. kecuali tadi, kantukku.

Materi yang silih berganti secara cepat dengan kupasan pada bagian nampaknya. Dari pagi hingga malam kembali mendekati pagi. Semua yang terjadi selama pelatihan adalah hal yang nampak dipermukaan ketika nanti aku di penempatan–pikirku. Jadi, aku akan menerima. Menerima dulu apa yang diberikan, sampai nanti ku perdalam kembali ketika di penempatan. Terima keadaanmu sekarang…biarkan pikiranmu kembali ke tempat sekarang, karena angan-angan yang terlampau panjang membuat kebahagian berkurang… begitulah kira-kira sepatah kata dari Mas Aji pada sesi berteman dengan stress. Beberapa teman-teman pun juga merasa begitu.

Hal yang menyenangkan adalah ketika materi yang diberikan selalu ada praktek di dalamnya. Entah simulasi, akting role play, imajinasi dari studi kasus yang nyata, sampai presentasi. Di sela waktu materi pun juga pasti ada yang namanya ice breaking, dari tepuk yang mengusir kantuk (sementara) hingga kondisi julid yang menguak gosip cinlok yang beredar diantara kami.

Hal menyenangkan lainnya adalah ketika candaanku mulai bisa satu frekuensi dengan mereka. Aku sedikit berubah dengan berkata dalam hati “yaudah maju dulu daripada dipikirkan terus–kemudian”. Keadaan inilah yang membuatku mulai suka.

Bagian akhir, tahap suka duka terasa.

Menghitung hari… aku mulai merasakan semakin dekatnya pengalaman berpisah dengan teman, yang dari pagi ke pagi bersamaku. Bagaimana nanti tetiba aku menjadi sunyi karena tak lagi risih mendengar dengkuran tak berirama dari dalam barak yang cenderung pengap karena AC yang dengan nakalnya sering mati sendiri? Tak lagi melihat beberapa teman yang ahli ngantuk (aku ikut dalam kelompok mereka) saat sepuluh sekian menit materi dimulai? Tak lagi melihat kebersamaan di aula tempat menerima ilmu, tertawa, menangis, dan menggeremeng. Tak lagi mendengar “jam 11, matikan lampu”. Tak lagi mendengar “teman-teman, waktunya kelas, beserta teriakan-teriakan tak jelas, 1 menit lagi lah tidurnya”. 

Ah, sudahlah, ini adalah tahap wajar dimana suka duka mulai terasa. Satu prinsip yang aku pegang saat itu adalah mencoba tidak menangis, dan menunjukkan sikap ceriaku pada mereka. Soal nanti aku bersedih ketika sendiri, itu hak ku. Tapi dengan sungguh-sungguh, aku berharap kau baik-baik saja disana, di Bumi Pertiwi tempat kau mengabdi, teman.

pelatihan pm xvii

Bagian selantutnya, cerita baru dimulai.

Bismillah, Alhamdulillah wa Syukurillah. Amanat menjadi Pengajar Muda telah aku terima. Aku bertugas satu tahun di SD Lentong Baru, Desa Danau Bungara, Kabupaten Aceh Singkil, meneruskan pengabdian Pengajar Muda XV. Tentunya, banyak tantangan dan potensi yang mulai terlihat. Pikiran sudah mulai bingung tapi berharap, dan kembali, dengan mengucap dan melakukan tindakan yang mencerminkan kata Bismillah…, ingatkan aku jika lupa akan niat awal.

Aku ingin merubah ambisi pribadi menjadi mengabdi, kalau kata Pak Anies, ini bukan tentang kita, ini tentang mereka. Aku akan bercerita tentang kehebatan mereka, murid-muridku, para guru, orang tua, dan seluruh masyarakat disini, di Aceh Singkil.

*Insyallah bersambung…