Kategori
Tulisan

Penyesuaian tambahan untuk kolaborasi

Praktek kolaborasi memang kian mencuat sebagai solusi konkrit masa kini.

Pemerintah, non-profit, dan bisnis. Semua berlomba untuk kolaborasi. Tetapi saya merasa terlampau ada pujian yang membuat kolaborasi menjadi harapan menjanjikan padahal palsu.

Bukan salah kolaborasinya. Saya berargumen tentang input-nya.

Anggaplah kita sedang berusaha mengatasi terumbu karang di sepanjang pulau kecil indah bagian Sumatra yang mengalami pemutihan.

Mereka memutih bukan karena gembira, tapi karena sekarat. Karena dampak peningkatakn suhu air laut akibat pemanasan global.

Solusinya jelas. Harus kolaborasi!. Antara pemerintah (lagi-lagi ya), penyedia tur dan pegiat wisata, komunitas terkait, serta masyarakat lokalnya.

Semua bergerak semarak di awal pembentukan kelompok kerja. Eh tak sampai setahun, bubar. Atau kalau masih ada, dampaknya yang tak ada.

Terumbu karang semakin putih dan mati. Ikan-ikan kehilangan tempat persusuannya.

Saya tak menyalahkan kolaborasi itu sia-sia. Karena kolaborasi punya seabrek metode yang diambil dari segudang teori dan sekian rumpun displin ilmu.

Bisa saja metode fasilitatif yang dirasa moncer malah kurang tepat. Metode yang lebih sederhana, yaitu lewat pengajian dan event olahraga.

Bisa saja ranah sains, teknologi, lingkungan, dan sosial saja tak cukup. Ternyata malah yang perlu lewat pendekatan potilik yang jitu.

Bisa saja. Kata itu tak cukup untuk menentukan model suatu kolaborasi.

Kita butuh suatu argumen yang reliable dan memang bisa untuk landasan penerapan tindakan-tindakan kolaborasi. Butuh banyak masukan yang relevan, pertimbangan yang perlu, dan kearifan lokal yang—semua itu data punya peran banyak dan penting.

Mendapat data yang baik adalah fondasi.

Tapi, walau data telah diolah melalui metode efektif dan efisien, sehingga menampilkan suatu saran yang obyektif, pembuat keputusannya tetaplah sekumpulan manusia yang subyektif, rasional bias, dan sarat kepentingan.

Lalu, apakah kemudian kecerdasan mesin akan lebih baik menggantikan peran pembuat keputusan ini? Dimulai dari sekarang atau masa depan?.

Tidak dan maaf. Saya mengkritik keterbatasan manusia bukan untuk menjatuhkannya dan mengagungkan mesin. Saya manusia, dan saya subjektif tentang itu.

Data memang bisa difungsikan secara logis dan akurat dengan mesin, tetapi manusia masih punya Tuhan, Sang Pencipta data, mesin, dan manusia.

Sikap religius manusia akan membuat setidaknya lebih bijak dan bisa memanfaatkan kecerdasan mesin dan data.

Setidaknya jika ia keliru, Tuhan akan menjewernya.

Sehingga tindakan maaf serta itikad memperbaiki itulah yang membuat manusia tetap layak menjadi pembuat keputusan menjadi kebijakan.

Kategori
Tulisan

Semerbak bungara

Bungara, sesuai keindahannya untuk nama sebuah danau dan desa tempat saya tinggal selama bertugas menjadi pengajar muda setahun ini.

Selidik punya selidik, setelah saya ngobrol dengan sesepuh desa dan pemuda pegiat wisata danau, saya mendapatkan arti nama Bungara.

Diambil dari gabungan dua kata, yaitu Bunga dan Ra. Bunga bermakna secantik bunga, dan Ra merujuk pada Ratu.

Saya merasakan betul kecantikan danau ini ketika menikmati pagi dingin yang berkabut. Sedangkan kesyahduannya pada sore hari menjadikan danau ini seperti ratu yang agung mengayomi masyarakat disekitarnya.

Tetapi semerbak yang menyengat harum di hati saya adalah orang-orangnya. Mereka adalah penggerak yang peduli dengan pendidikan desanya.

Mereka juga adalah murid-murid saya yang begitu cerdas dengan apa yang menjadi kelebihannya.

Semuanya akan berkembang menjadi semerbak yang menular. Tak hanya pada saya, lebih luas nantinya akan bertemu dengan yang serupa harumnya, di seluruh Indonesia.

Kategori
Tulisan

Oke, saya lihat komitmenmu

Ini adalah tentang dilema kerja tim.

Jika bertanya pada seseorang tentang kurangnya peran mereka dalam tim, kemungkinan besar akan cenderung menutupi. Entah dengan kelaziman atau mendadak bersikap sebagai korban.

Setiap kita pasti punya kekurangan dan menutupinya adalah hal alami. Agaknya memang sungkan untuk merasa dan dirasa “kurang” berkontribusi.

Hal itu tak sepenuhnya bisa dipaksa salahkan. Karena menjadi benar adalah harapan tak kasat hati yang ingin orang lain atau diri kita berikan pada kita sendiri.

Dengan execuse jika ada kurangnya mohonlah dimaklumi serta dimaafkan, ini alasan logisnya, memang begini keadaannya, dan jangan permalukan saya. Karena saya adalah orang baik yang memenuhi harapan.

Gak papa mengaku, saya juga begitu.

Sebab mengakui kekurangan memang butuh keberanian diluar nyali lur. Untuk dihadapkan mendengar nasehat kecut itu seperti meneguk jeruk nipis perasan.

Singkatnya kamu akan ditantang berani untuk terlihat bodoh.

Padahal besar menerima resiko terlihat bodoh dan benar-benar belajar adalah jauh lebih baik daripada menggaungkan praktek lama yang membuat kita berputar pada level kematangan itu-itu saja.

Selanjutnya, jika ditanya tentang komitmen untuk benar-benar memperbaikinya? Hmm… itu adalah tantangan terbesarnya. Syaiton Nirrojim pun sudah stand by untuk siap mengganggu.