Kategori
Tulisan

Berubah

Ryotaro Nogami adalah seorang pemuda lugu dan banyak sial. Tapi ia punya kemauan kuat untuk membantu orang lain. Walau, ia sering dianggap tak berguna.

Hal ini lah yang membuat imajin baik merasukinya, dan membuat ia menjadi Kamen Rider Den-O. Sangat ajib dan keren. Ryotaro adalah karakter idaman saya jika menyoal idola dalam tokusatsu.

Kategori
Tulisan

Menjadi pengajar muda

Setelah bekerja sosial kurang lebih dua tahun, pikiran saya mengarah pada suatu solusi hulu. Bukan hanya lagi solusi hilir yang hanya mengobati tanpa mengatasi akarnya.

Disitulah saya mulai memperdalam tentang dunia pendidikan.

Hal itu muncul atas sebab obrolan dengan ibu saya, seorang guru Akidah Akhlak yang sangat keras pada anaknya. Ibu memberi pendidikan dan layanan konsultasi 24/7 utk hal apapun dalam hidup saya.

Saya belajar lebih jauh tentang dunia pendidikan dan menemukan suatu pencerahan.

Saya percaya, semua tantangan yang kita hadapi dalam era modern ini, cara investasi terbaiknya adalah memperbaiki dunia pendidikan. Karena pendidikan melahirkan generasi, budaya, penemuan, pemenuhan, dan peradaban.

Saya bilang pada hati saya, saya tak ingin menjadi guru. Saya tak pantas, dan pasti ada jalan lain. Tak menjadi guru. Saya menjadi pengajar muda. Yah, sama saja dong?.

Enggak dong. Saya sangat menghormati dan membenarkan definisi dari KBBI tentang persamaan guru dan pengajar. Hanya saja, izinkan saya membuat definisi pribadi.

Menurut saya, guru adalah seorang yang terhormat, amat mulia, dan ahli (tentu saja), sedangkan saya tak pantas untuk menjadi itu.

Saya lebih senang menjadi pengajar, yang selalu siap untuk lebih banyak belajar. Belajar dari murid dan orang tuanya, dari penggerak dan masyarakat, dari kalian, dan dari siapapun.

Sehingga mengutip kata-kata Mark Watney dari film The Martians, setidaknya saya bisa memberi lebih daripada apa yang saya terima.

Itulah ketika saya ngeklik dengan istilah pengajar muda, dan akhirnya menjadikan sebagai salah satu alasan utama saya untuk bergabung dengan gerakan ini.

Dalam memunculkan ikatan akar rumput yang luar biasa, bersama seantero lapisan masyarakat.

Kategori
Tulisan

Berkecimpung di kegiatan sosial

Selepas kuliah, saya bekerja di yayasan peduli kasih anak berkebutuhan khusus, dan juga di hermanto tanoko foundation. Seharusnya apabila sesuai keahlian, saya bekerja di pemerintahan. Tetapi saya malah menjadi social worker.

Takdir serasa ga nyambung nih? Alhamdulillah nyambung kok.

Izinkan saya menjelaskannya. Saya sepaham dengan Steve Jobs yang menyarankan: “Ikutilah kata hatimu, keberanian, takdir, apapun itu. Soal hidup, kamu hanya bisa menghubungkan titik-titiknya dengan melihat kebelakang”. Dan saya melihat kebelakang.

Ketika saya terobsesi dengan kuliah, dengan niatan sukses karir dan kemapanan (seperti harapan orang awam), saya merasa ada korupsi di hati ini.

Semakin saya kejar dunia itu, semakin pula dijauhkan Allah dari beberapa kesempatan. Berkali-kali ditolak kerja, saya mulai merenungkan apa maksud Nya.

Akhirnya, setelah berdoa dan memantapkan hati, saya yang waktu itu menjadi relawan, berani masuk kerja dalam ranah sosial.

Berkecimpung di ranah sosial merubah perspektif saya. Ketenangan hati dan kebahagiaan saya terdefinisi lain. Semacam hati senang walaupun tak banyak uang. Ahai, tapi bukan kere ya.

Saya penganut optimis bahwa menjadi pekerja sosial bisa kok baik secara finansial.