Kolaborasi perlu saran dari data

Anggap saja kita sedang berdiskusi tentang masalah terumbu karang yang mengalami pemutihan di pinggir pantai pulau-pulau kecil di Sumatra. Kemudian, muncul ide bahwa masalah rumit ini akan lebih baik jika diselesaikan dengan jalan kolaborasi, dari berbagai pihak pemerintah, penyedia jasa, dan masyarakat tentunya.

Pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana cara  kolaborasi–yang efektif, yang lebih berhasil, secara berkelanjutan?.

Kolaborasi punya beragam metode sesuai khas permasalahannya. Salah memilih akan memberi dampak lain yang tak sesuai harapan. Sedangkan dalam proses memilih, kita butuh masukan yang banyak, reliable, dan relevan. Dengan kata lain, kita butuh data.

Mendapatkan data merupakan modal awal. Ini hanyalah proses memilih metode kolaborasi. Sedangkan proses perencanaan dan pelaksanaannya, tentu akan membutuhkan data yang lebih beragam.

Hanya saja, yang perlu jadi fondasi berpikir adalah: walau data diolah seobjektif mungkin, pembuat keputusannya adalah manusia yang punya keterbatasan rasional. Lalu, apakah kemudian mesin akan lebih baik untuk membuat keputusan di masa depan?.

Maaf, saya bukan pemuja gila kecerdasan buatan. Data memang bisa diputuskan secara logis dan akurat dengan mesin, tetapi manusia masih lebih bijak dan bisa memanfaatkan kecerdasan mesin. Dengan dan jika manusia itu tetap sesuai pada tempatnya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *