Stories

Komunikasi dengan hati

Pengalaman awal menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK dapat ku gambarkan unik.

Pertama berkunjung ke yayasan, dipertemukan dan berinteraksi dengan anak-anak spesial–bahkan dalam paket jumbo. Lima anak sekaligus!. Aku waktu itu hanya sendiri, satu ruangan dengan mereka.

Ada dua anak yang anteng duduk, dengan meja kecil dihadapannya lengkap dengan kertas dan crayon–tapi dia bingung mau gambar apa. Ada yang sedang merangkai puzzle di lantai. Ada juga yang suka main plorotan dan terus… plorotan dan terus… plorotan dan terus… Lalu ada yang muter-muter sambil bawa mainan bola-bola kecil. Nah, yang paling keren itu ada yang muter-muter, tidak bawa mainan apa-apa, tapi dia seneng banget naik meja loncat dari kursi ke kursi, ke meja lagi… ke kursi lagi… hmmm.

Aku gugup dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Yaudahlah yang penting niat pedekate ke mereka.

Dan hasilnya sudah terduga. Aku yang jarang pedekate ke cewek (*tidak ada keterangan lebih lanjut) sekarang mencoba pedekate ke anak, anak spesial. Hasilnya dicuekin.

Tapi… ya… , awalnya mereka cuek dan saya tidak menyerah. Terbukti lama kelamaan aku dapat menjalin komunikasi. Walaupun tidak intens.

Tapi jangan dibayangkan komunikasi dengan mereka layaknya gaya ke anak biasa. Aku masih ingat pada waktu itu adalah pengalaman pertama bisa belajar memahami komunikasi sejati. Dalam pengertian yang lebih luas, komunikasi dengan hati–kita menyebutnya.

Komunikasi dengan hati ini bukan berarti membuatĀ  baper ya. Tidak dibutuhkan baper dalam cerita ini.

Menurutku berinteraksi dengan anak-anak spesial ini membuat ku terlatih untuk terbiasa dengan kenuikan gaya mereka. Hal lain adalah membuat ku berlatih fokus, karena makna pesan yang diberikan tidak melulu pada verbal yang mereka utarakan, namun juga melalui indera mereka, seperti gerakan tangan, sentuhan, ekspresi wajah, tindakan, dan lainnya.

Dari ini, aku belajar bahwa sebesar apapun hambatan kita berkomunikasi, kalau memang niatnya dari hati, akan bermakna dan akan sampai pesannya. Berbeda dengan keadaan dimana sekecil apapun hambatan kita berkomunkasi, kalau memang niatnya tidak dari hati, akan tidak bermakna. Tidak akan sampai pesannya.

Aku sering dapat wejangan–“ikuti dunia mereka”, “jangan disambi”. Nasehat yang ku dapat dalam maksud lain adalah–“jadilah pendengar dan pengamat yang baik”, “jangan setengah-setengah dalam memahami mereka”.

Prinsip ini aku kira sangat bisa diterapkan dalam lingkup lebih luas. Kepada anak-anak spesial ini, orang tua mereka, teman kolega, teman relawan, teman pendamping hidup (pasti ada!), dan teman-teman yang lain. Prinsip ini juga bisa diterapkan pada musuh atau orang yang membenci kita. Kalau gak percaya coba lakuin aja, nanti cerita ke aku ya hasilnya kaya gimana.

Berinteraksi dengan anak-anak spesial ini menurut saya malah mereka yang memberikan pelajaran berharga. Aku dapat pelajaran cara berkomunikasi dengan benar-benar berkomunikasi.

Sedangkan bertemu dengan mereka, orang tuanya, serta teman-teman relawan dan staff di lingkungan ini memberi pengalaman yang tidak aku harapkan ada–di kehidupan aku yang datar-datar saja.

Karena pengalaman ini sangat mengagumkan, menjadi relawan ternyata lebih luas manfaatnya daripada persepsi pikiran aku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *