Categories
Tulisan

Menjadi pengajar muda

Setelah bekerja sosial kurang lebih dua tahun, pikiran saya mengarah pada suatu solusi hulu. Bukan hilir yang hanya mengobati tanpa mengatasi akarnya. Disitulah saya mulai memperdalam tentang dunia pendidikan.

Hal itu muncul atas sebab obrolan dengan ibu saya, seorang guru Akidah Akhlak yang sangat keras pada anaknya, yang memberi pendidikan dan layanan konsultasi 24/7 utk hal apapun dalam hidup saya.

Saya belajar lebih jauh tentang dunia pendidikan dan menemukan suatu pencerahan. Saya percaya, semua tantangan yang kita hadapi dalam era modern ini, cara investasi terbaiknya adalah memperbaiki dunia pendidikan. Karena pendidikan melahirkan generasi, budaya, penemuan, pemenuhan, dan peradaban.

Saya bilang pada hati saya, saya tak ingin menjadi guru. Saya tak pantas, dan pasti ada jalan lain. Tak menjadi guru. Saya menjadi pengajar muda. Yah, sama saja dong?.

Enggak dong. Saya sangat menghormati dan membenarkan definisi dari KBBI tentang persamaan guru dan pengajar. Hanya saja, izinkan saya membuat definisi pribadi. Menurut saya, guru adalah seorang yang terhormat, amat mulia, dan ahli (tentu saja), sedangkan saya tak pantas untuk menjadi itu.

Saya lebih senang menjadi pengajar, yang selalu siap untuk lebih banyak belajar. Belajar dari murid dan orang tuanya, dari penggerak dan masyarakat, dari kalian, dan dari siapapun. Sehingga (mengutip kata-kata Mark Watney dari film The Martians), setidaknya saya bisa memberi lebih daripada apa yang saya terima.

Itulah ketika saya ngeklik dengan istilah pengajar muda, dan akhirnya menjadikan sebagai salah satu alasan utama saya untuk bergabung. Dalam memunculkan ikatan akar rumput yang luar biasa, bersama seantero lapisan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *