Nurmas si Anak Cahaya

Karya Tere Liye satu ini memang bukan bertema roman. Tokohnya masih anak kelas 5 sekolah dasar. Tetapi ceritanya mampu membuat saya terpaku lama duduk di teras rumah dinas sekolah tempat saya bertugas sebagai pengajar muda yang sempit dan seadanya.

Tak peduli dengan riuhnya kokok ayam maupun bau tahinya yang masih hangat dan berserakan, atau dengan panasnya Aceh Singkil yang membuat keringat seperti habis mandi.

Saya menikmati lantunan cerita yang sederhana namun bersahaja, dari penulis yang terkenal dengan kesyahduannya ini.

si anak cahaya

Si Anak Cahaya, adalah serial pertama dari lima novel anak nusantara yang dikemas untuk menjawab tantangan bacaan anak yang menarik, khas Indonesia. Tanpa memamerkan kemewahan dan ketenaran yang menjadi primadona semua kalangan di masa now.

Cerita mengambil latar pada masa 60’an. Membawakan suasana masa itu dengan kehidupan masyarakat yang masih hangat kemerdekaan (setelah agresi militer belanda.

Merupakan ide bagus untuk menularkan kecintaan sejarah pada anak masa now.

Selain itu, budaya lokal khas sumatra yang kental, mampu menghanyutkan pembaca untuk mengikuti logat dan alur berpikir para tokoh di dalamnya, seraya mengagumi keberagaman budaya di Indonesia.

Dari sisi plot cerita, seyogyanya tak terlalu campur aduk. Jalan cerita yang dibuat mudah diikuti baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Lebih tepatnya, mudah ditebak, tapi tak membuat bosan.

Terdapat bumbu lucu dan misteri yang membuat pembaca tak kehabisan rasa tertawa dan berdegup sampai akhir.

Kejenakaan sehari-hari dari tokoh yang ada di dalamnya membuat kita tahu bahwa bercanda itu bisa sesederhana Bang Topa berbicara pada Kibo kerbaunya, atau Jamilah yang polosnya minta ampun ketika ditanya soal si Puyang, harimau.

Setelah membaca novel ini, saya sadar akan kekayaan cerita sehari-hari di pelosok nusantara. Cerita seperti Nurmas ini saya yakin banyak ditemukan di berbagai daerah, bahkan dilingkungan sekitar kita, tanpa kita sadari selama ini karena terlalu terpaku dengan gemerlapnya dunia luar.

Saya pikir, novel ini membantah alasan naif kita untuk enggan membiasakan budaya bercerita pada anak-anak, dengan dalih gadget lebih penting, atau cerita rakyat hanya itu itu saja.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *