Nurmas si Anak Cahaya

Karya Tere Liye satu ini memang bukan bertema roman. Tokohnya masih anak kelas 5 sekolah dasar. Tetapi ceritanya mampu membuat saya terpaku lama duduk di teras rumah dinas sekolah tempat saya bertugas sebagai pengajar muda yang sempit dan seadanya.

Saya menikmati lantunan cerita yang sederhana namun bersahaja, dari penulis yang terkenal dengan kesyahduannya ini.

Si Anak Cahaya, adalah serial pertama dari lima novel anak nusantara yang dikemas untuk menjawab tantangan bacaan anak yang menarik, khas Indonesia. Tanpa memamerkan kemewahan dan ketenaran yang menjadi primadona semua kalangan di masa now.

Setelah membaca novel ini, saya sadar akan kekayaan cerita sehari-hari di pelosok nusantara. Cerita seperti Nurmas ini saya yakin banyak ditemukan di berbagai daerah, bahkan di lingkungan sekitar kita, tanpa kita sadari selama ini karena terlalu terpaku dengan gemerlapnya dunia luar.

Menjadi pengajar muda

Menjadi guru adalah salah satu cita-cita yang saya hindari selain menjadi dokter dan ustadz. Alasannya mendasar, karena saya tak pandai dalam mengajar. Saya mudah bingung dengan apa yang saya katakan sendiri ketika berhadapan dengan mereka.

Walau faktanya, keluarga saya 98% adalah guru. Dari PAUD/TK, SD, SMP, SMA, dan dosen, semua ada. Dari mbah buyut hingga sepupu, dan bakal2 guru dari angkatan keponakan, termasuk adik saya.

Saya, kuliah bukan di jurusan keguruan, melainkan ilmu administrasi negara. Jurusan yang menyerempet manajemen, sosial politik, dan segala birokrasinya. Bicara pembelaan, saya tak salah jurusan. Tidak, saya mencintai pilihan saya.

***

Selepas kuliah, saya bekerja di yayasan peduli kasih anak berkebutuhan khusus, dan juga di hermanto tanoko foundation. Seharusnya apabila sesuai keahlian, saya bekerja di pemerintahan. Tetapi saya malah menjadi social worker.

Takdir serasa ga nyambung nih? Nyambung kok. Begini,

Saya sepaham dengan Steve Jobs yang menyarankan: “Ikutilah kata hatimu, keberanian, takdir, apapun itu. Soal hidup, kamu hanya bisa menghubungkan titik-titiknya dengan melihat kebelakang”. Dan saya melihat kebelakang.

Ketika saya terobsesi dengan kuliah, dengan niatan sukses karir dan kemapanan (seperti harapan orang awam), saya merasa ada korupsi di hati ini. Semakin saya kejar dunia itu, semakin pula dijauhkan Allah dari beberapa kesempatan. Berkali-kali ditolak kerja, saya mulai merenungkan apa maksud Nya.

Akhirnya:

Setelah berdoa dan memantapkan hati, saya yang waktu itu menjadi relawan, berani masuk kerja dalam ranah sosial.

Berkecimpung di ranah sosial merubah perspektif saya. Ketenangan hati dan kebahagiaan saya terdefinisi lain. Semacam hati senang walaupun tak banyak uang. Ahai, tapi bukan kere ya. Saya penganut optimis bahwa menjadi pekerja sosial bisa kok baik secara finansial.

***

Setelah bekerja sosial kurang lebih dua tahun, pikiran saya mengarah pada suatu solusi hulu. Bukan hilir yang hanya mengobati tanpa mengatasi akarnya. Disitulah saya mulai memperdalam tentang dunia pendidikan.

Hal itu muncul atas sebab obrolan dengan ibu saya, seorang guru Akidah Akhlak yang sangat keras pada anaknya, yang memberi pendidikan dan layanan konsultasi 24/7 utk hal apapun dalam hidup saya.

Saya belajar lebih jauh tentang dunia pendidikan dan menemukan suatu pencerahan. Saya percaya, semua tantangan yang kita hadapi dalam era modern ini, cara investasi terbaiknya adalah memperbaiki dunia pendidikan. Karena pendidikan melahirkan generasi, budaya, penemuan, pemenuhan, dan peradaban.

Saya bilang pada hati saya, saya tak ingin menjadi guru. Saya tak pantas, dan pasti ada jalan lain.

Tak menjadi guru. Saya menjadi pengajar muda. Yah, sama saja dong?.

Enggak dong. Saya sangat menghormati dan membenarkan definisi dari KBBI tentang persamaan guru dan pengajar. Hanya saja, izinkan saya membuat definisi pribadi.

Menurut saya, guru adalah seorang yang terhormat, amat mulia, dan ahli (tentu saja), sedangkan saya tak pantas untuk menjadi itu.

Saya lebih senang menjadi pengajar, yang selalu siap untuk lebih banyak belajar. Belajar dari murid dan orang tuanya, dari penggerak dan masyarakat, dari kalian, dan dari siapapun. Sehingga (mengutip kata-kata Mark Watney dari The Martians), saya bisa memberi lebih daripada apa yang saya terima.

Itulah ketika saya ngeklik dengan istilah pengajar muda, dan akhirnya menjadikan sebagai salah satu alasan utama saya untuk bergabung. Dalam memunculkan ikatan akar rumput yang luar biasa, bersama seantero lapisan masyarakat.