Categories
Tulisan

Oke, saya lihat komitmenmu

Ini adalah tentang dilema kerja tim. Jika bertanya pada seseorang tentang kurangnya peran mereka dalam tim, kemungkinan besar akan cenderung menutupi. Entah dengan kelaziman atau mendadak bersikap sebagai korban.

Setiap kita pasti punya kekurangan dan menutupinya adalah hal alami. Agaknya memang sungkan untuk merasa dan dirasa “kurang” berkontribusi. Hal itu tak sepenuhnya bisa dipaksa salahkan. Karena menjadi benar adalah harapan tak kasat hati yang ingin orang lain atau diri kita berikan pada kita sendiri.

Dengan execuse, jika ada kurangnya mohonlah dimaklumi serta dimaafkan, ini alasan logisnya, memang begini keadaannya, dan jangan permalukan saya. Karena saya adalah orang baik yang memenuhi harapan.

Gak papa mengaku, saya yang pertama.

Sebab mengakui kekurangan butuh keberanian diluar nyali. Untuk dihadapkan mendengar nasehat kecut itu seperti meneguk jeruk nipis perasan. Singkatnya kamu terlihat terlibat bodoh. Padahal besar menerima resiko terlihat bodoh dan benar-benar belajar adalah jauh lebih baik daripada menggaungkan praktek lama yang membuat kita berputar pada level kematangan itu-itu saja.

Selanjutnya, jika ditanya tentang komitmen untuk benar-benar memperbaikinya? Hmm… itu adalah tantangan terbesarnya. Syaitan ada untuk siap mengganggu.

Categories
Tulisan

Cerek Banda Aceh

Jika kamu kehausan dan menemukan cerek di meja warung makan, tahan dulu. Sadari bahwa kamu telah memasuki wilayah Kota Banda Aceh. Jangan buru-buru minta gelas pada pelayannya dan langsung menuang minum dari cerek tersebut. Percaya saja sama saya, demi kebaikan kamu sendiri.

Memang, umumnya cerek adalah tempat menyimpan air minum. Umumnya.

Categories
Review Buku

Belajar menghargai setiap detik dari Randy Pausch

Review ini adalah tentang buku autobiografi dari seorang professor komputer di Universitas Carnegie Mellon, Randy Pausch. The Last Lecture, membacanya memberi arti baru dalam menjalani setiap detik kehidupan. Saya merasakan inspirasi dan semangat dari Randy tentang perjuangannya melawan kanker dan jalan yang ia pilih untuk memberi pelajaran abadi pada keluarga dan teman-temannya.

Ketika membaca bab demi bab dalam buku ini, saya mengamati betul apa yang ingin disampaikan Randy bukanlah mengenai suatu hal yang sempurna. Ia memang tak ingin seperti itu.

Lewat cerita sederhana dan beberapa kekonyolan yang selama ini tidak diketahui keluarganya, Randy ingin menitipkan pesan-pesan. Memang, tak semuanya seperti petuah bijak. Tergantung dari cara kita memaknainya. Yang jelas, segala cerita dari buku ini menurut saya mengajarkan keseharian sederhana, kesalahan, dan cara kita mengenangnya adalah jalan terbaik untuk sebuah warisan. Terkhusus Randy, ia ingin menjadikan ceritanya sebagai kuliah terakhir untuk anaknya.