Stories

Spesial

Melihat pada cerita awal blog ini, kalau dikenang-kenang memang tidak ada yang kebetulan. Aku menemukan titik nyambung, dari membaca buku sampai berkesempatan berbagi dan berperan untuk mereka yang spesial–yang sampai saat ini masih tak menyangka.

Mengapa buku Life Without Limit karya Nick Vujinic terbaca oleh saya, kemudian saya tulis cerita tentang Nick dan copypaste puisinya: Unicorn Bersayap Plastik. Seperti kenyambungan, karena beberapa bulan setelah itu, saya masuk dalam lingkungan dimana anak-anak spesial berada.

Yang aku maksud spesial adalah mereka, anak kebutuhan khusus. Seperti autis, down syndrome, cerebral palsy, tuna grahita, gangguan pendengaran, tuna visual, dan lainnya. Penggunaan representasi kata yang tepat selain “berkebutuhan khusus” memang sulit dilakukan, karena pilihan kata lainnya adalah disabilitas, cacat, kurang mampu, yang menurutku sendiri kurang berkenan di hati.

Sebenarnya ada kata “difabel” yang saya masih ingat disarankan oleh Mas Bayu (psikolog kami, dan orang keren yang sering mengucap kata yuhuuu). Difabel atau different ability kemudian yang saya pahami memang mirip-mirip lah dengan berkebutuhkan khusus.

Hmm….memang sampai saat ini pun penggunaan pemilihan kata masih belum ada yang fiks. Baik yang dipakai kita (yayasan), pemerintah, dan UNESCO.

Tapi tak usah ambil bingung, intinya saat itu saya bersyukur dapat bergabung menjadi relawan di Yayasan Peduli Kasih ABK, tepatnya pada September 2016.

Titik awal inilah yang menghadirkan cerita-cerita diluar “biasa” pada selama setahun berikutnya, pada kehidupanku.

Stories

2th ICSEN

Aku bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk turut serta dalam 2th International Conference on Special Educational Needs di Univesitas Pendidikan Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih pada Yayasan Peduli Kasih ABK karena telah mewadahi A-Z kebutuhan dan dukungan selama ini.

Terima kasih pada dokter Taat Tigore, dengan kerendahaan hati beliau dan bantuan berlimpah yang beliau berikan pada saya, juga pada Pak Iwan dan Bu Ernie Siregar. Tak lupa terima kasih saya pada mas dan bapak ojek online yang selalu setia menemai saya berduaan di sepanjang jalan Kota Bandung,.

Pengalaman ini sungguh luar biasa.

Seminar ini mengundang pembicara inti Prof. Kawaii dari Hiroshima University, Dr. Bari dari SEAMO SEN, dan Dr. Seto Mulyadi (Kak Seto-nya kita).

Beliau-beliau ini membawakan materi yang menarik, mengusung fokus pada: 1) pendidikan untuk ABK dengan metode peer-to-peer, 2) bagaimana ABK juga mempunyai kesempatan yang sama dalam dunia kerja, dan 3) bagaimana membuat ABK tumbuh subur, mengeluarkan potensinya yang unik dalam lingkungan yang ramah. Hemat saya, memang sesi simposium ini memberikan pencerahan, penyemangat, dan merilekskan, tanpa menghilangkan kenyataan bahwa betapapun kompleksnya masalah ABK, kita tidak sendiri. Banyak dari kita yang peduli.

Aku dan rekan-rekan (terima kasih pada mbak Yaya, mas Bayu, dan Dr. Sawitri) turut serta dalam seminar ini dalam rangka menyampaikan hasil awal PKABM (Program Peduli Kasih ABK Berbasis Masyarakat) melalui paper yang berjudul “Penerimaan Orang Tua sebagai bagian dari Penanganan ABK Melalui Kerjasama Orang Tua, Keluarga, dan Masyarakat Sekitar”.*

*ingin tahu lebih lanjut sila kunjungi web yayasan.