Categories
Tulisan

Oke, saya lihat komitmenmu

Ini adalah tentang dilema kerja tim. Jika bertanya pada seseorang tentang kurangnya peran mereka dalam tim, kemungkinan besar akan cenderung menutupi. Entah dengan kelaziman atau mendadak bersikap sebagai korban.

Setiap kita pasti punya kekurangan dan menutupinya adalah hal alami. Agaknya memang sungkan untuk merasa dan dirasa “kurang” berkontribusi. Hal itu tak sepenuhnya bisa dipaksa salahkan. Karena menjadi benar adalah harapan tak kasat hati yang ingin orang lain atau diri kita berikan pada kita sendiri.

Dengan execuse, jika ada kurangnya mohonlah dimaklumi serta dimaafkan, ini alasan logisnya, memang begini keadaannya, dan jangan permalukan saya. Karena saya adalah orang baik yang memenuhi harapan.

Gak papa mengaku, saya yang pertama.

Sebab mengakui kekurangan butuh keberanian diluar nyali. Untuk dihadapkan mendengar nasehat kecut itu seperti meneguk jeruk nipis perasan. Singkatnya kamu terlihat terlibat bodoh. Padahal besar menerima resiko terlihat bodoh dan benar-benar belajar adalah jauh lebih baik daripada menggaungkan praktek lama yang membuat kita berputar pada level kematangan itu-itu saja.

Selanjutnya, jika ditanya tentang komitmen untuk benar-benar memperbaikinya? Hmm… itu adalah tantangan terbesarnya. Syaitan ada untuk siap mengganggu.